23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
February 7, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk menghormati, memuliakan, dan mensyukuri keberadaan hewan atau ubuh-ubuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan Hindu (Bali), Tumpek Uye juga dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati. Pasupati dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berperan sebagai penggembala segala makhluk hidup, khususnya binatang. Dalam konteks Tumpek Uye, Pasupati sering disebut dengan gelar Rare Angon,yang berarti “penggembala yang agung” Melalui perayaan Tumpek Uye, manusia diingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan sesama ciptaan Tuhan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Hindu, pemaknaan Tumpek Uye bukanlah sebatas ungkapan rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah dianugerahi hewan ternak atau binatang peliharaan (ubuh-ubuhan). Hewan-hewan tersebut juga memiliki peran penting sebagai piranti sembah bakti dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Dalam konteks ini, hewan ditempatkan secara sakral sebagai bagian dari laku spiritual umat Hindu.

Di sisi lain, hewan ternak juga menjadi penyangga kehidupan ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Beternak tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bidang usaha dan bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masyarakat Hindu Bali mampu menyelaraskan dimensi ekonomi dan spiritual tersebut secara harmonis.

Meskipun dalam kehidupan modern hewan ternak telah menjadi komoditas komersial, keyakinan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga. Ketika ada upacara yadnya, baik di lingkungan keluarga maupun adat yang lebih luas, masyarakat tetap berpegang pada tradisi ngaturang wewalungan sebagai bentuk bakti dan pengabdian. Bahkan tidak jarang, hewan ternak dipersembahkan (kaaturang) dengan penuh keikhlasan tanpa menuntut imbalan, meskipun hewan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kalaupun dalam praktiknya dilakukan pembayaran, biasanya berlangsung tanpa tawar-menawar. Semua dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bakti-asih, karena hewan tersebut digunakan sebagai perlengkapan upakara yadnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dalam budaya Bali, kepentingan spiritual dan solidaritas sosial sering ditempatkan di atas pertimbangan ekonomi semata.

Makna Tumpek Uye dengan demikian menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menghilangkan nilai-nilai luhur. Melalui Tumpek Uye, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, kelangsungan usaha, dan tanggung jawab spiritual terhadap alam dan sesama makhluk hidup.

Di Bali, Tumpek Uye (sering juga disebut Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan). Hari ini memiliki pijakan mitologis dan ajaran spiritual yang tidak sekadar ritual semata, tetapi berasal dari lontar dan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kitab suci yang sering dirujuk dalam menjelaskan Tumpek Uye adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini konon disebutkan bahwa Saniscara Kliwon Wuku Uye dipandang sebagai prakerti ning sarwa sato (waktu/masa yang ditetapkan bagi segala jenis binatang). Artinya, hari ini merupakan tonggak untuk melestarikan dan memuliakan hewan, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.

Makna lain yang dikutip dari tradisi tersebut adalah, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Kalimat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut keseimbangan kosmis dan kode etik hidup yang luhur.

Oleh karenanya, perayaan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan bukan kepada hewan itu sendiri, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Rare Angon. Ini adalah bentuk sradha (keyakinan dan pengabdian spiritual) yang menjembatani kehidupan manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Menurut para pakar budaya dan agama Hindu, konsep Tumpek Uye juga dilandasi dengan pemahaman filosofi yang lebih luas bahwa manusia dilahirkan tidak eksis sendirian di dunia. Keberadaannya bergantung kepada makhluk lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dalam pandangan ini, hewan bukan “objek” yang dikuasai melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi (BaliPost.Com., 14 Desember 2024).

Dalam struktur kosmis Hindu, tumbuhan disebut sebagai makhluk dengan elemen bayu (untuk pertumbuhan), hewan sebagai makhluk dengan bayu dan sabda (bergerak dan bersuara), sedangkan manusia memiliki bayu, sabda, dan idep (pikiran). Hubungan yang harmonis antar-unsur inilah yang diharapkan dalam aplikasi ajaran Tri Hita Karana, menjaga hubungan yang baik antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Secara etika, Tumpek Uye mengajarkan compassion (welas asih) terhadap makhluk hidup, bukan sekadar menghadirkan ritual. Nilai itu juga tercermin dalam praktik seperti ngaturang wewalungan, di mana hewan yang dipersembahkan menjadi bagian dari perayaan upacara yadnya dengan pertimbangan spiritual, bukan komersial.

Dari sudut pandang pendidikan vokasi, terutama SMK dengan Prohram keahlian pertanian, peternakan dan perikanan, Tumpek Uye memiliki makna edukatif yang sangat kuat. Upacara ini menanamkan kesadaran bahwa hewan bukan sekadar objek produksi. Hewan adalah mitra kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat. Nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan selaras dengan tujuan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga terampil di bidang pertanian, peternakan. dan perikanan. Mereka diharapkan yang tidak hanya kompeten secara teknis akademis, tetapi juga beretika dan berkarakter.

Melalui pemaknaan Tumpek Uye inilah peserta didik vokasi diajak memahami bahwa praktik usaha yang baik harus seimbang antara produktivitas, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan. Kearifan lokal ini menjadi pembelajaran kontekstual yang menguatkan sikap profesional, etos kerja, dan rasa welas-asih dalam bekerja. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang relevan dalam membentuk lulusan vokasi yang terampil, bertanggung jawab, dan berakar pada budaya Bali.

Menurut beberapa sumber keagamaan, perayaan Tumpek Uye tidak berarti “menyembah hewan”. Umat Hindu lebih mengekspresikan hubungan antara manusia dan hewan peliharaan (ubuh-ubuhan) sebagai ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap kesejahteraan makhluk lain (Bimashindu.Kemenag.go.id., 22 Juli 2025).

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye merupakan pengingat etis bahwa keharmonisan hidup hanya dapat terwujud apabila manusia mampu memperlakukan alam dan satwa dengan rasa hormat, welas asih, dan tanggung jawab. Inilah esensi Tumpek Uye sebagai perayaan spiritual sekaligus cermin kearifan lokal Bali yang tetap relevan sepanjang zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Balitumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

0411 | Cerpen Yuditeha

Next Post

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co