24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tumpek Uye: Menguatkan Harmoni dan Kearifan Lokal

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
February 7, 2026
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Tumpek Uye merupakan salah satu hari suci dalam kalender Bali yang diperingati setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Uye. Hari suci ini memiliki makna yang sangat penting karena menjadi momentum bagi umat Hindu di Bali untuk menghormati, memuliakan, dan mensyukuri keberadaan hewan atau ubuh-ubuhan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Dalam kepercayaan Hindu (Bali), Tumpek Uye juga dikenal sebagai hari pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati. Pasupati dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berperan sebagai penggembala segala makhluk hidup, khususnya binatang. Dalam konteks Tumpek Uye, Pasupati sering disebut dengan gelar Rare Angon,yang berarti “penggembala yang agung” Melalui perayaan Tumpek Uye, manusia diingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek pemanfaatan, melainkan sesama ciptaan Tuhan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Bagi masyarakat Hindu, pemaknaan Tumpek Uye bukanlah sebatas ungkapan rasa syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah dianugerahi hewan ternak atau binatang peliharaan (ubuh-ubuhan). Hewan-hewan tersebut juga memiliki peran penting sebagai piranti sembah bakti dalam pelaksanaan berbagai upacara yadnya. Dalam konteks ini, hewan ditempatkan secara sakral sebagai bagian dari laku spiritual umat Hindu.

Di sisi lain, hewan ternak juga menjadi penyangga kehidupan ekonomi dan sumber penghidupan bagi masyarakat. Beternak tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas tradisional, tetapi juga berkembang menjadi bidang usaha dan bisnis yang bernilai ekonomi tinggi. Namun demikian, masyarakat Hindu Bali mampu menyelaraskan dimensi ekonomi dan spiritual tersebut secara harmonis.

Meskipun dalam kehidupan modern hewan ternak telah menjadi komoditas komersial, keyakinan dan nilai-nilai spiritual tetap dijaga. Ketika ada upacara yadnya, baik di lingkungan keluarga maupun adat yang lebih luas, masyarakat tetap berpegang pada tradisi ngaturang wewalungan sebagai bentuk bakti dan pengabdian. Bahkan tidak jarang, hewan ternak dipersembahkan (kaaturang) dengan penuh keikhlasan tanpa menuntut imbalan, meskipun hewan tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Kalaupun dalam praktiknya dilakukan pembayaran, biasanya berlangsung tanpa tawar-menawar. Semua dilandasi oleh keikhlasan dan rasa bakti-asih, karena hewan tersebut digunakan sebagai perlengkapan upakara yadnya. Nilai ini menunjukkan bahwa dalam budaya Bali, kepentingan spiritual dan solidaritas sosial sering ditempatkan di atas pertimbangan ekonomi semata.

Makna Tumpek Uye dengan demikian menjadi sangat relevan di tengah kehidupan modern. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus menghilangkan nilai-nilai luhur. Melalui Tumpek Uye, masyarakat diingatkan untuk tetap menjaga keseimbangan antara kebutuhan hidup, kelangsungan usaha, dan tanggung jawab spiritual terhadap alam dan sesama makhluk hidup.

Di Bali, Tumpek Uye (sering juga disebut Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan). Hari ini memiliki pijakan mitologis dan ajaran spiritual yang tidak sekadar ritual semata, tetapi berasal dari lontar dan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu kitab suci yang sering dirujuk dalam menjelaskan Tumpek Uye adalah Lontar Sundarigama. Dalam lontar ini konon disebutkan bahwa Saniscara Kliwon Wuku Uye dipandang sebagai prakerti ning sarwa sato (waktu/masa yang ditetapkan bagi segala jenis binatang). Artinya, hari ini merupakan tonggak untuk melestarikan dan memuliakan hewan, baik yang dipelihara maupun yang hidup bebas di alam.

Makna lain yang dikutip dari tradisi tersebut adalah, “Ayuwa tan masih ring sarwa prani, apan prani ngaran prana” Jangan tidak sayang kepada binatang, karena binatang atau makhluk adalah kekuatan alam. Kalimat ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan hewan tidak hanya bersifat material, tetapi juga menyangkut keseimbangan kosmis dan kode etik hidup yang luhur.

Oleh karenanya, perayaan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan bukan kepada hewan itu sendiri, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Rare Angon. Ini adalah bentuk sradha (keyakinan dan pengabdian spiritual) yang menjembatani kehidupan manusia dan seluruh ciptaan Tuhan.

Menurut para pakar budaya dan agama Hindu, konsep Tumpek Uye juga dilandasi dengan pemahaman filosofi yang lebih luas bahwa manusia dilahirkan tidak eksis sendirian di dunia. Keberadaannya bergantung kepada makhluk lain termasuk tumbuhan dan hewan. Dalam pandangan ini, hewan bukan “objek” yang dikuasai melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi (BaliPost.Com., 14 Desember 2024).

Dalam struktur kosmis Hindu, tumbuhan disebut sebagai makhluk dengan elemen bayu (untuk pertumbuhan), hewan sebagai makhluk dengan bayu dan sabda (bergerak dan bersuara), sedangkan manusia memiliki bayu, sabda, dan idep (pikiran). Hubungan yang harmonis antar-unsur inilah yang diharapkan dalam aplikasi ajaran Tri Hita Karana, menjaga hubungan yang baik antara manusia, Tuhan, dan alam semesta.

Secara etika, Tumpek Uye mengajarkan compassion (welas asih) terhadap makhluk hidup, bukan sekadar menghadirkan ritual. Nilai itu juga tercermin dalam praktik seperti ngaturang wewalungan, di mana hewan yang dipersembahkan menjadi bagian dari perayaan upacara yadnya dengan pertimbangan spiritual, bukan komersial.

Dari sudut pandang pendidikan vokasi, terutama SMK dengan Prohram keahlian pertanian, peternakan dan perikanan, Tumpek Uye memiliki makna edukatif yang sangat kuat. Upacara ini menanamkan kesadaran bahwa hewan bukan sekadar objek produksi. Hewan adalah mitra kerja yang menopang kehidupan dan ekonomi masyarakat. Nilai penghormatan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kesejahteraan hewan selaras dengan tujuan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga terampil di bidang pertanian, peternakan. dan perikanan. Mereka diharapkan yang tidak hanya kompeten secara teknis akademis, tetapi juga beretika dan berkarakter.

Melalui pemaknaan Tumpek Uye inilah peserta didik vokasi diajak memahami bahwa praktik usaha yang baik harus seimbang antara produktivitas, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan. Kearifan lokal ini menjadi pembelajaran kontekstual yang menguatkan sikap profesional, etos kerja, dan rasa welas-asih dalam bekerja. Dengan demikian, Tumpek Uye bukan hanya tradisi keagamaan, tetapi juga ruang pendidikan karakter yang relevan dalam membentuk lulusan vokasi yang terampil, bertanggung jawab, dan berakar pada budaya Bali.

Menurut beberapa sumber keagamaan, perayaan Tumpek Uye tidak berarti “menyembah hewan”. Umat Hindu lebih mengekspresikan hubungan antara manusia dan hewan peliharaan (ubuh-ubuhan) sebagai ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan tanggung jawab moral manusia terhadap kesejahteraan makhluk lain (Bimashindu.Kemenag.go.id., 22 Juli 2025).

Lebih dari sekadar ritual, Tumpek Uye merupakan pengingat etis bahwa keharmonisan hidup hanya dapat terwujud apabila manusia mampu memperlakukan alam dan satwa dengan rasa hormat, welas asih, dan tanggung jawab. Inilah esensi Tumpek Uye sebagai perayaan spiritual sekaligus cermin kearifan lokal Bali yang tetap relevan sepanjang zaman. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hindu Balitumpek uye
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

0411 | Cerpen Yuditeha

Next Post

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Tribute 70 Tahun Kadek Suardana, Mengenang Empat Dekade Kreativitas Teater Bali: “Sing Melah Sing Masolah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co