24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 3, 2026
in Esai
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEBUAH piring makan tiba-tiba menjadi ruang tafsir. Bukan karena porsinya yang kurang atau rasanya yang mengecewakan, melainkan karena lahirnya satu keputusan sederhana: nasi diganti ubi. Dari ruang dapur, isu ini menjalar ke ruang publik serta memantik perdebatan panjang. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa urusan makanan tidak pernah sesederhana soal lapar dan kenyang—melainkan ia selalu membawa cara pandang, nilai, bahkan ideologi.

Di tengah riuhnya pro dan kontra, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan paling mendasar: sebenarnya apa yang kita maksud dengan penganekaragaman pangan? Apakah konsep ini sesederhana mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain?, atau justru menuntut perubahan cara pandang yang lebih menyeluruh tentang bagaimana, apa, dan mengapa kita makan? Soalnya, kalau penganekaragaman pangan dimaknai sekadar “asal bukan nasi”, maka makan ubi rebus pagi, siang, dan malam pun bisa dianggap sudah beragam. Padahal, pola makan seperti itu tak ubahnya mengganti seragam sekolah tanpa mengganti isi tasnya—kelihatannya beda, tapi fungsinya tetap sama. Penganekaragaman pangan sejatinya bukan soal menukar satu bahan dengan bahan lain, melainkan tentang membangun komposisi makan yang lebih kaya: ada variasi sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang tentunya saling melengkapi di atas satu piring.

Selama bertahun-tahun, penganekaragaman pangan digaungkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan: ketahanan pangan, ketergantungan pada beras, hingga masalah gizi. Badan Pangan Dunia (FAO) sejak lama menekankan bahwa keberagaman pangan adalah kunci untuk memastikan kecukupan zat gizi dan ketahanan sistem pangan. Namun, pesan besar ini kerap diterjemahkan terlalu sederhana di tingkat praktik.

Dalam ilmu gizi, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi manusia. Berulangkali juga sudah digaungkan bahwa gizi seimbang hanya dapat dicapai melalui konsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan. Artinya, penganekaragaman pangan bukan soal mengganti satu bahan dengan bahan lain, melainkan soal membangun pola makan yang kaya variasi.

Kita kembali pada si Ubi. Ubi, dalam konteks ini, jelas bukan masalah. Ia adalah pangan lokal bernilai gizi, sumber energi yang baik, mengandung serat, serta beragam vitamin dan mineral. Banyak ahli pangan menyebut umbi-umbian sebagai aset strategis pangan lokal. Bahkan FAO kerap mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun, dorongan ini selalu disertai satu catatan penting: pangan lokal harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan berdiri sendiri sebagai solusi tunggal.

Seorang ahli gizi masyarakat pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengena: “Masalah gizi jarang disebabkan oleh satu makanan yang salah, tetapi oleh pola makan yang miskin variasi.” Kalimat ini penting untuk melihat polemik nasi dan ubi secara lebih jernih. Ketika nasi diganti ubi, tetapi dalam menu tetap minim lauk, sayur, dan buah, maka kualitas gizinya tidak akan otomatis membaik. Yang berubah hanyalah bahan pokoknya, bukan keragamannya.

Di sinilah kesalahpahaman sering terjadi. Diversifikasi pangan kerap disamakan dengan substitusi pangan. Padahal keduanya berbeda. Substitusi hanya mengganti satu elemen, sementara penganekaragaman memperluas spektrum. Jika sebelumnya menu bertumpu pada nasi, lalu berpindah bertumpu pada ubi, maka kita hanya memindahkan titik berat, bukan memperkaya pola makan.

WHO dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa kualitas diet ditentukan oleh keberagaman kelompok pangan, bukan oleh satu bahan yang dianggap “lebih sehat”. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering tenggelam oleh narasi populer yang gemar mencari kambing hitam atau pahlawan baru dalam pangan. Hari ini nasi dipersoalkan, besok mungkin giliran bahan lain.

Cara komunikasi gizi yang seringkali terlalu disederhanakan turut memperparah keadaan. Demi pesan yang mudah diingat, gizi kerap direduksi menjadi slogan: “kurangi nasi”, “ganti dengan umbi”, “hindari karbohidrat putih”. Pesan seperti ini memang terdengar tegas, tetapi tanpa penjelasan utuh, ia mudah disalahartikan. Masyarakat akhirnya memahami gizi sebagai daftar larangan dan pengganti, bukan sebagai upaya membangun keseimbangan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Pelaksana program didorong untuk berinovasi dan memanfaatkan pangan lokal, namun sering kali tanpa panduan konseptual yang memadai. Ketika inovasi tidak dibingkai oleh prinsip gizi yang jelas, yang muncul bukan perbaikan mutu, melainkan perdebatan dan kebingungan.

Dalam konteks makanan institusional—seperti makanan sekolah atau program sosial—isu ini menjadi semakin penting. Para ahli perilaku makan menyebut bahwa kebiasaan makan anak dibentuk oleh paparan berulang. Dengan kata lain, anak belajar lebih banyak belajar tentang gizi bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang rutin ada di piringnya. “Piring makan adalah buku pelajaran gizi yang paling efektif.”

Jika piring yang disajikan monoton, meskipun berbahan pangan lokal, maka pesan yang sampai pun terbatas. Anak-anak tidak belajar tentang keberagaman, melainkan tentang penggantian. Mereka tidak belajar bahwa makan sehat itu beragam, melainkan bahwa ada bahan yang naik dan turun pamornya.

Menafsir ulang penganekaragaman pangan berarti menggeser fokus dari bahan ke pola. Nasi tidak harus selalu hadir, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Ubi, jagung, singkong, dan pangan lokal lain layak mendapat ruang, bukan sebagai simbol perlawanan terhadap nasi, melainkan sebagai bagian dari rotasi dan variasi menu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap piring mencerminkan keberagaman kelompok pangan.

Gizi yang baik jarang lahir dari keputusan ekstrem, ia justru tumbuh dari konsistensi: menu yang bervariasi, porsi yang seimbang, dan kebiasaan makan yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, penganekaragaman pangan bukan tindakan heroik, melainkan proses yang tenang namun terencana.

Kontroversi nasi dan ubi seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Ia menunjukkan bahwa persoalan gizi sering kali bukan terletak pada pangannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika gizi direduksi menjadi pilihan “benar” atau “salah”, kita akan kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, penganekaragaman pangan menuntut lebih dari sekadar niat baik, membutuhkan pemahaman yang utuh, komunikasi yang jernih, dan kebijakan yang memberi ruang konteks tanpa mengorbankan prinsip. Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “pangan apa yang harus diganti?”, namun mulai bertanya secara lebih mendalam: apakah pola makan yang kita bangun sudah benar-benar mencerminkan makna penganekaragaman pangan? Karena inti penganekaragaman bukan terletak pada apa yang kita singkirkan dari piring, melainkan pada seberapa beragam isi piring itu sendiri. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Next Post

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co