13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 3, 2026
in Esai
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEBUAH piring makan tiba-tiba menjadi ruang tafsir. Bukan karena porsinya yang kurang atau rasanya yang mengecewakan, melainkan karena lahirnya satu keputusan sederhana: nasi diganti ubi. Dari ruang dapur, isu ini menjalar ke ruang publik serta memantik perdebatan panjang. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa urusan makanan tidak pernah sesederhana soal lapar dan kenyang—melainkan ia selalu membawa cara pandang, nilai, bahkan ideologi.

Di tengah riuhnya pro dan kontra, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan paling mendasar: sebenarnya apa yang kita maksud dengan penganekaragaman pangan? Apakah konsep ini sesederhana mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain?, atau justru menuntut perubahan cara pandang yang lebih menyeluruh tentang bagaimana, apa, dan mengapa kita makan? Soalnya, kalau penganekaragaman pangan dimaknai sekadar “asal bukan nasi”, maka makan ubi rebus pagi, siang, dan malam pun bisa dianggap sudah beragam. Padahal, pola makan seperti itu tak ubahnya mengganti seragam sekolah tanpa mengganti isi tasnya—kelihatannya beda, tapi fungsinya tetap sama. Penganekaragaman pangan sejatinya bukan soal menukar satu bahan dengan bahan lain, melainkan tentang membangun komposisi makan yang lebih kaya: ada variasi sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang tentunya saling melengkapi di atas satu piring.

Selama bertahun-tahun, penganekaragaman pangan digaungkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan: ketahanan pangan, ketergantungan pada beras, hingga masalah gizi. Badan Pangan Dunia (FAO) sejak lama menekankan bahwa keberagaman pangan adalah kunci untuk memastikan kecukupan zat gizi dan ketahanan sistem pangan. Namun, pesan besar ini kerap diterjemahkan terlalu sederhana di tingkat praktik.

Dalam ilmu gizi, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi manusia. Berulangkali juga sudah digaungkan bahwa gizi seimbang hanya dapat dicapai melalui konsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan. Artinya, penganekaragaman pangan bukan soal mengganti satu bahan dengan bahan lain, melainkan soal membangun pola makan yang kaya variasi.

Kita kembali pada si Ubi. Ubi, dalam konteks ini, jelas bukan masalah. Ia adalah pangan lokal bernilai gizi, sumber energi yang baik, mengandung serat, serta beragam vitamin dan mineral. Banyak ahli pangan menyebut umbi-umbian sebagai aset strategis pangan lokal. Bahkan FAO kerap mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun, dorongan ini selalu disertai satu catatan penting: pangan lokal harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan berdiri sendiri sebagai solusi tunggal.

Seorang ahli gizi masyarakat pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengena: “Masalah gizi jarang disebabkan oleh satu makanan yang salah, tetapi oleh pola makan yang miskin variasi.” Kalimat ini penting untuk melihat polemik nasi dan ubi secara lebih jernih. Ketika nasi diganti ubi, tetapi dalam menu tetap minim lauk, sayur, dan buah, maka kualitas gizinya tidak akan otomatis membaik. Yang berubah hanyalah bahan pokoknya, bukan keragamannya.

Di sinilah kesalahpahaman sering terjadi. Diversifikasi pangan kerap disamakan dengan substitusi pangan. Padahal keduanya berbeda. Substitusi hanya mengganti satu elemen, sementara penganekaragaman memperluas spektrum. Jika sebelumnya menu bertumpu pada nasi, lalu berpindah bertumpu pada ubi, maka kita hanya memindahkan titik berat, bukan memperkaya pola makan.

WHO dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa kualitas diet ditentukan oleh keberagaman kelompok pangan, bukan oleh satu bahan yang dianggap “lebih sehat”. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering tenggelam oleh narasi populer yang gemar mencari kambing hitam atau pahlawan baru dalam pangan. Hari ini nasi dipersoalkan, besok mungkin giliran bahan lain.

Cara komunikasi gizi yang seringkali terlalu disederhanakan turut memperparah keadaan. Demi pesan yang mudah diingat, gizi kerap direduksi menjadi slogan: “kurangi nasi”, “ganti dengan umbi”, “hindari karbohidrat putih”. Pesan seperti ini memang terdengar tegas, tetapi tanpa penjelasan utuh, ia mudah disalahartikan. Masyarakat akhirnya memahami gizi sebagai daftar larangan dan pengganti, bukan sebagai upaya membangun keseimbangan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Pelaksana program didorong untuk berinovasi dan memanfaatkan pangan lokal, namun sering kali tanpa panduan konseptual yang memadai. Ketika inovasi tidak dibingkai oleh prinsip gizi yang jelas, yang muncul bukan perbaikan mutu, melainkan perdebatan dan kebingungan.

Dalam konteks makanan institusional—seperti makanan sekolah atau program sosial—isu ini menjadi semakin penting. Para ahli perilaku makan menyebut bahwa kebiasaan makan anak dibentuk oleh paparan berulang. Dengan kata lain, anak belajar lebih banyak belajar tentang gizi bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang rutin ada di piringnya. “Piring makan adalah buku pelajaran gizi yang paling efektif.”

Jika piring yang disajikan monoton, meskipun berbahan pangan lokal, maka pesan yang sampai pun terbatas. Anak-anak tidak belajar tentang keberagaman, melainkan tentang penggantian. Mereka tidak belajar bahwa makan sehat itu beragam, melainkan bahwa ada bahan yang naik dan turun pamornya.

Menafsir ulang penganekaragaman pangan berarti menggeser fokus dari bahan ke pola. Nasi tidak harus selalu hadir, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Ubi, jagung, singkong, dan pangan lokal lain layak mendapat ruang, bukan sebagai simbol perlawanan terhadap nasi, melainkan sebagai bagian dari rotasi dan variasi menu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap piring mencerminkan keberagaman kelompok pangan.

Gizi yang baik jarang lahir dari keputusan ekstrem, ia justru tumbuh dari konsistensi: menu yang bervariasi, porsi yang seimbang, dan kebiasaan makan yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, penganekaragaman pangan bukan tindakan heroik, melainkan proses yang tenang namun terencana.

Kontroversi nasi dan ubi seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Ia menunjukkan bahwa persoalan gizi sering kali bukan terletak pada pangannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika gizi direduksi menjadi pilihan “benar” atau “salah”, kita akan kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, penganekaragaman pangan menuntut lebih dari sekadar niat baik, membutuhkan pemahaman yang utuh, komunikasi yang jernih, dan kebijakan yang memberi ruang konteks tanpa mengorbankan prinsip. Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “pangan apa yang harus diganti?”, namun mulai bertanya secara lebih mendalam: apakah pola makan yang kita bangun sudah benar-benar mencerminkan makna penganekaragaman pangan? Karena inti penganekaragaman bukan terletak pada apa yang kita singkirkan dari piring, melainkan pada seberapa beragam isi piring itu sendiri. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Next Post

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co