23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 3, 2026
in Esai
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEBUAH piring makan tiba-tiba menjadi ruang tafsir. Bukan karena porsinya yang kurang atau rasanya yang mengecewakan, melainkan karena lahirnya satu keputusan sederhana: nasi diganti ubi. Dari ruang dapur, isu ini menjalar ke ruang publik serta memantik perdebatan panjang. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa urusan makanan tidak pernah sesederhana soal lapar dan kenyang—melainkan ia selalu membawa cara pandang, nilai, bahkan ideologi.

Di tengah riuhnya pro dan kontra, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan paling mendasar: sebenarnya apa yang kita maksud dengan penganekaragaman pangan? Apakah konsep ini sesederhana mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain?, atau justru menuntut perubahan cara pandang yang lebih menyeluruh tentang bagaimana, apa, dan mengapa kita makan? Soalnya, kalau penganekaragaman pangan dimaknai sekadar “asal bukan nasi”, maka makan ubi rebus pagi, siang, dan malam pun bisa dianggap sudah beragam. Padahal, pola makan seperti itu tak ubahnya mengganti seragam sekolah tanpa mengganti isi tasnya—kelihatannya beda, tapi fungsinya tetap sama. Penganekaragaman pangan sejatinya bukan soal menukar satu bahan dengan bahan lain, melainkan tentang membangun komposisi makan yang lebih kaya: ada variasi sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang tentunya saling melengkapi di atas satu piring.

Selama bertahun-tahun, penganekaragaman pangan digaungkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan: ketahanan pangan, ketergantungan pada beras, hingga masalah gizi. Badan Pangan Dunia (FAO) sejak lama menekankan bahwa keberagaman pangan adalah kunci untuk memastikan kecukupan zat gizi dan ketahanan sistem pangan. Namun, pesan besar ini kerap diterjemahkan terlalu sederhana di tingkat praktik.

Dalam ilmu gizi, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi manusia. Berulangkali juga sudah digaungkan bahwa gizi seimbang hanya dapat dicapai melalui konsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan. Artinya, penganekaragaman pangan bukan soal mengganti satu bahan dengan bahan lain, melainkan soal membangun pola makan yang kaya variasi.

Kita kembali pada si Ubi. Ubi, dalam konteks ini, jelas bukan masalah. Ia adalah pangan lokal bernilai gizi, sumber energi yang baik, mengandung serat, serta beragam vitamin dan mineral. Banyak ahli pangan menyebut umbi-umbian sebagai aset strategis pangan lokal. Bahkan FAO kerap mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun, dorongan ini selalu disertai satu catatan penting: pangan lokal harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan berdiri sendiri sebagai solusi tunggal.

Seorang ahli gizi masyarakat pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengena: “Masalah gizi jarang disebabkan oleh satu makanan yang salah, tetapi oleh pola makan yang miskin variasi.” Kalimat ini penting untuk melihat polemik nasi dan ubi secara lebih jernih. Ketika nasi diganti ubi, tetapi dalam menu tetap minim lauk, sayur, dan buah, maka kualitas gizinya tidak akan otomatis membaik. Yang berubah hanyalah bahan pokoknya, bukan keragamannya.

Di sinilah kesalahpahaman sering terjadi. Diversifikasi pangan kerap disamakan dengan substitusi pangan. Padahal keduanya berbeda. Substitusi hanya mengganti satu elemen, sementara penganekaragaman memperluas spektrum. Jika sebelumnya menu bertumpu pada nasi, lalu berpindah bertumpu pada ubi, maka kita hanya memindahkan titik berat, bukan memperkaya pola makan.

WHO dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa kualitas diet ditentukan oleh keberagaman kelompok pangan, bukan oleh satu bahan yang dianggap “lebih sehat”. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering tenggelam oleh narasi populer yang gemar mencari kambing hitam atau pahlawan baru dalam pangan. Hari ini nasi dipersoalkan, besok mungkin giliran bahan lain.

Cara komunikasi gizi yang seringkali terlalu disederhanakan turut memperparah keadaan. Demi pesan yang mudah diingat, gizi kerap direduksi menjadi slogan: “kurangi nasi”, “ganti dengan umbi”, “hindari karbohidrat putih”. Pesan seperti ini memang terdengar tegas, tetapi tanpa penjelasan utuh, ia mudah disalahartikan. Masyarakat akhirnya memahami gizi sebagai daftar larangan dan pengganti, bukan sebagai upaya membangun keseimbangan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Pelaksana program didorong untuk berinovasi dan memanfaatkan pangan lokal, namun sering kali tanpa panduan konseptual yang memadai. Ketika inovasi tidak dibingkai oleh prinsip gizi yang jelas, yang muncul bukan perbaikan mutu, melainkan perdebatan dan kebingungan.

Dalam konteks makanan institusional—seperti makanan sekolah atau program sosial—isu ini menjadi semakin penting. Para ahli perilaku makan menyebut bahwa kebiasaan makan anak dibentuk oleh paparan berulang. Dengan kata lain, anak belajar lebih banyak belajar tentang gizi bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang rutin ada di piringnya. “Piring makan adalah buku pelajaran gizi yang paling efektif.”

Jika piring yang disajikan monoton, meskipun berbahan pangan lokal, maka pesan yang sampai pun terbatas. Anak-anak tidak belajar tentang keberagaman, melainkan tentang penggantian. Mereka tidak belajar bahwa makan sehat itu beragam, melainkan bahwa ada bahan yang naik dan turun pamornya.

Menafsir ulang penganekaragaman pangan berarti menggeser fokus dari bahan ke pola. Nasi tidak harus selalu hadir, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Ubi, jagung, singkong, dan pangan lokal lain layak mendapat ruang, bukan sebagai simbol perlawanan terhadap nasi, melainkan sebagai bagian dari rotasi dan variasi menu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap piring mencerminkan keberagaman kelompok pangan.

Gizi yang baik jarang lahir dari keputusan ekstrem, ia justru tumbuh dari konsistensi: menu yang bervariasi, porsi yang seimbang, dan kebiasaan makan yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, penganekaragaman pangan bukan tindakan heroik, melainkan proses yang tenang namun terencana.

Kontroversi nasi dan ubi seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Ia menunjukkan bahwa persoalan gizi sering kali bukan terletak pada pangannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika gizi direduksi menjadi pilihan “benar” atau “salah”, kita akan kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, penganekaragaman pangan menuntut lebih dari sekadar niat baik, membutuhkan pemahaman yang utuh, komunikasi yang jernih, dan kebijakan yang memberi ruang konteks tanpa mengorbankan prinsip. Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “pangan apa yang harus diganti?”, namun mulai bertanya secara lebih mendalam: apakah pola makan yang kita bangun sudah benar-benar mencerminkan makna penganekaragaman pangan? Karena inti penganekaragaman bukan terletak pada apa yang kita singkirkan dari piring, melainkan pada seberapa beragam isi piring itu sendiri. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Next Post

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co