2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 3, 2026
in Esai
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEBUAH piring makan tiba-tiba menjadi ruang tafsir. Bukan karena porsinya yang kurang atau rasanya yang mengecewakan, melainkan karena lahirnya satu keputusan sederhana: nasi diganti ubi. Dari ruang dapur, isu ini menjalar ke ruang publik serta memantik perdebatan panjang. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa urusan makanan tidak pernah sesederhana soal lapar dan kenyang—melainkan ia selalu membawa cara pandang, nilai, bahkan ideologi.

Di tengah riuhnya pro dan kontra, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan paling mendasar: sebenarnya apa yang kita maksud dengan penganekaragaman pangan? Apakah konsep ini sesederhana mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain?, atau justru menuntut perubahan cara pandang yang lebih menyeluruh tentang bagaimana, apa, dan mengapa kita makan? Soalnya, kalau penganekaragaman pangan dimaknai sekadar “asal bukan nasi”, maka makan ubi rebus pagi, siang, dan malam pun bisa dianggap sudah beragam. Padahal, pola makan seperti itu tak ubahnya mengganti seragam sekolah tanpa mengganti isi tasnya—kelihatannya beda, tapi fungsinya tetap sama. Penganekaragaman pangan sejatinya bukan soal menukar satu bahan dengan bahan lain, melainkan tentang membangun komposisi makan yang lebih kaya: ada variasi sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang tentunya saling melengkapi di atas satu piring.

Selama bertahun-tahun, penganekaragaman pangan digaungkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan: ketahanan pangan, ketergantungan pada beras, hingga masalah gizi. Badan Pangan Dunia (FAO) sejak lama menekankan bahwa keberagaman pangan adalah kunci untuk memastikan kecukupan zat gizi dan ketahanan sistem pangan. Namun, pesan besar ini kerap diterjemahkan terlalu sederhana di tingkat praktik.

Dalam ilmu gizi, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi manusia. Berulangkali juga sudah digaungkan bahwa gizi seimbang hanya dapat dicapai melalui konsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan. Artinya, penganekaragaman pangan bukan soal mengganti satu bahan dengan bahan lain, melainkan soal membangun pola makan yang kaya variasi.

Kita kembali pada si Ubi. Ubi, dalam konteks ini, jelas bukan masalah. Ia adalah pangan lokal bernilai gizi, sumber energi yang baik, mengandung serat, serta beragam vitamin dan mineral. Banyak ahli pangan menyebut umbi-umbian sebagai aset strategis pangan lokal. Bahkan FAO kerap mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun, dorongan ini selalu disertai satu catatan penting: pangan lokal harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan berdiri sendiri sebagai solusi tunggal.

Seorang ahli gizi masyarakat pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengena: “Masalah gizi jarang disebabkan oleh satu makanan yang salah, tetapi oleh pola makan yang miskin variasi.” Kalimat ini penting untuk melihat polemik nasi dan ubi secara lebih jernih. Ketika nasi diganti ubi, tetapi dalam menu tetap minim lauk, sayur, dan buah, maka kualitas gizinya tidak akan otomatis membaik. Yang berubah hanyalah bahan pokoknya, bukan keragamannya.

Di sinilah kesalahpahaman sering terjadi. Diversifikasi pangan kerap disamakan dengan substitusi pangan. Padahal keduanya berbeda. Substitusi hanya mengganti satu elemen, sementara penganekaragaman memperluas spektrum. Jika sebelumnya menu bertumpu pada nasi, lalu berpindah bertumpu pada ubi, maka kita hanya memindahkan titik berat, bukan memperkaya pola makan.

WHO dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa kualitas diet ditentukan oleh keberagaman kelompok pangan, bukan oleh satu bahan yang dianggap “lebih sehat”. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering tenggelam oleh narasi populer yang gemar mencari kambing hitam atau pahlawan baru dalam pangan. Hari ini nasi dipersoalkan, besok mungkin giliran bahan lain.

Cara komunikasi gizi yang seringkali terlalu disederhanakan turut memperparah keadaan. Demi pesan yang mudah diingat, gizi kerap direduksi menjadi slogan: “kurangi nasi”, “ganti dengan umbi”, “hindari karbohidrat putih”. Pesan seperti ini memang terdengar tegas, tetapi tanpa penjelasan utuh, ia mudah disalahartikan. Masyarakat akhirnya memahami gizi sebagai daftar larangan dan pengganti, bukan sebagai upaya membangun keseimbangan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Pelaksana program didorong untuk berinovasi dan memanfaatkan pangan lokal, namun sering kali tanpa panduan konseptual yang memadai. Ketika inovasi tidak dibingkai oleh prinsip gizi yang jelas, yang muncul bukan perbaikan mutu, melainkan perdebatan dan kebingungan.

Dalam konteks makanan institusional—seperti makanan sekolah atau program sosial—isu ini menjadi semakin penting. Para ahli perilaku makan menyebut bahwa kebiasaan makan anak dibentuk oleh paparan berulang. Dengan kata lain, anak belajar lebih banyak belajar tentang gizi bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang rutin ada di piringnya. “Piring makan adalah buku pelajaran gizi yang paling efektif.”

Jika piring yang disajikan monoton, meskipun berbahan pangan lokal, maka pesan yang sampai pun terbatas. Anak-anak tidak belajar tentang keberagaman, melainkan tentang penggantian. Mereka tidak belajar bahwa makan sehat itu beragam, melainkan bahwa ada bahan yang naik dan turun pamornya.

Menafsir ulang penganekaragaman pangan berarti menggeser fokus dari bahan ke pola. Nasi tidak harus selalu hadir, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Ubi, jagung, singkong, dan pangan lokal lain layak mendapat ruang, bukan sebagai simbol perlawanan terhadap nasi, melainkan sebagai bagian dari rotasi dan variasi menu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap piring mencerminkan keberagaman kelompok pangan.

Gizi yang baik jarang lahir dari keputusan ekstrem, ia justru tumbuh dari konsistensi: menu yang bervariasi, porsi yang seimbang, dan kebiasaan makan yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, penganekaragaman pangan bukan tindakan heroik, melainkan proses yang tenang namun terencana.

Kontroversi nasi dan ubi seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Ia menunjukkan bahwa persoalan gizi sering kali bukan terletak pada pangannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika gizi direduksi menjadi pilihan “benar” atau “salah”, kita akan kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, penganekaragaman pangan menuntut lebih dari sekadar niat baik, membutuhkan pemahaman yang utuh, komunikasi yang jernih, dan kebijakan yang memberi ruang konteks tanpa mengorbankan prinsip. Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “pangan apa yang harus diganti?”, namun mulai bertanya secara lebih mendalam: apakah pola makan yang kita bangun sudah benar-benar mencerminkan makna penganekaragaman pangan? Karena inti penganekaragaman bukan terletak pada apa yang kita singkirkan dari piring, melainkan pada seberapa beragam isi piring itu sendiri. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Next Post

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co