23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 3, 2026
in Esai
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SEBUAH piring makan tiba-tiba menjadi ruang tafsir. Bukan karena porsinya yang kurang atau rasanya yang mengecewakan, melainkan karena lahirnya satu keputusan sederhana: nasi diganti ubi. Dari ruang dapur, isu ini menjalar ke ruang publik serta memantik perdebatan panjang. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa urusan makanan tidak pernah sesederhana soal lapar dan kenyang—melainkan ia selalu membawa cara pandang, nilai, bahkan ideologi.

Di tengah riuhnya pro dan kontra, kita sering lupa berhenti sejenak untuk mengajukan pertanyaan paling mendasar: sebenarnya apa yang kita maksud dengan penganekaragaman pangan? Apakah konsep ini sesederhana mengganti nasi dengan sumber karbohidrat lain?, atau justru menuntut perubahan cara pandang yang lebih menyeluruh tentang bagaimana, apa, dan mengapa kita makan? Soalnya, kalau penganekaragaman pangan dimaknai sekadar “asal bukan nasi”, maka makan ubi rebus pagi, siang, dan malam pun bisa dianggap sudah beragam. Padahal, pola makan seperti itu tak ubahnya mengganti seragam sekolah tanpa mengganti isi tasnya—kelihatannya beda, tapi fungsinya tetap sama. Penganekaragaman pangan sejatinya bukan soal menukar satu bahan dengan bahan lain, melainkan tentang membangun komposisi makan yang lebih kaya: ada variasi sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang tentunya saling melengkapi di atas satu piring.

Selama bertahun-tahun, penganekaragaman pangan digaungkan sebagai jawaban atas berbagai persoalan: ketahanan pangan, ketergantungan pada beras, hingga masalah gizi. Badan Pangan Dunia (FAO) sejak lama menekankan bahwa keberagaman pangan adalah kunci untuk memastikan kecukupan zat gizi dan ketahanan sistem pangan. Namun, pesan besar ini kerap diterjemahkan terlalu sederhana di tingkat praktik.

Dalam ilmu gizi, para ahli sepakat bahwa tidak ada satu jenis pangan pun yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi manusia. Berulangkali juga sudah digaungkan bahwa gizi seimbang hanya dapat dicapai melalui konsumsi makanan yang beragam, seimbang, dan berkelanjutan. Artinya, penganekaragaman pangan bukan soal mengganti satu bahan dengan bahan lain, melainkan soal membangun pola makan yang kaya variasi.

Kita kembali pada si Ubi. Ubi, dalam konteks ini, jelas bukan masalah. Ia adalah pangan lokal bernilai gizi, sumber energi yang baik, mengandung serat, serta beragam vitamin dan mineral. Banyak ahli pangan menyebut umbi-umbian sebagai aset strategis pangan lokal. Bahkan FAO kerap mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan. Namun, dorongan ini selalu disertai satu catatan penting: pangan lokal harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam, bukan berdiri sendiri sebagai solusi tunggal.

Seorang ahli gizi masyarakat pernah mengingatkan dengan kalimat yang sederhana namun mengena: “Masalah gizi jarang disebabkan oleh satu makanan yang salah, tetapi oleh pola makan yang miskin variasi.” Kalimat ini penting untuk melihat polemik nasi dan ubi secara lebih jernih. Ketika nasi diganti ubi, tetapi dalam menu tetap minim lauk, sayur, dan buah, maka kualitas gizinya tidak akan otomatis membaik. Yang berubah hanyalah bahan pokoknya, bukan keragamannya.

Di sinilah kesalahpahaman sering terjadi. Diversifikasi pangan kerap disamakan dengan substitusi pangan. Padahal keduanya berbeda. Substitusi hanya mengganti satu elemen, sementara penganekaragaman memperluas spektrum. Jika sebelumnya menu bertumpu pada nasi, lalu berpindah bertumpu pada ubi, maka kita hanya memindahkan titik berat, bukan memperkaya pola makan.

WHO dalam berbagai publikasinya menekankan bahwa kualitas diet ditentukan oleh keberagaman kelompok pangan, bukan oleh satu bahan yang dianggap “lebih sehat”. Pesan ini sebenarnya sederhana, tetapi sering tenggelam oleh narasi populer yang gemar mencari kambing hitam atau pahlawan baru dalam pangan. Hari ini nasi dipersoalkan, besok mungkin giliran bahan lain.

Cara komunikasi gizi yang seringkali terlalu disederhanakan turut memperparah keadaan. Demi pesan yang mudah diingat, gizi kerap direduksi menjadi slogan: “kurangi nasi”, “ganti dengan umbi”, “hindari karbohidrat putih”. Pesan seperti ini memang terdengar tegas, tetapi tanpa penjelasan utuh, ia mudah disalahartikan. Masyarakat akhirnya memahami gizi sebagai daftar larangan dan pengganti, bukan sebagai upaya membangun keseimbangan.

Dampaknya terasa nyata di lapangan. Pelaksana program didorong untuk berinovasi dan memanfaatkan pangan lokal, namun sering kali tanpa panduan konseptual yang memadai. Ketika inovasi tidak dibingkai oleh prinsip gizi yang jelas, yang muncul bukan perbaikan mutu, melainkan perdebatan dan kebingungan.

Dalam konteks makanan institusional—seperti makanan sekolah atau program sosial—isu ini menjadi semakin penting. Para ahli perilaku makan menyebut bahwa kebiasaan makan anak dibentuk oleh paparan berulang. Dengan kata lain, anak belajar lebih banyak belajar tentang gizi bukan dari ceramah, melainkan dari apa yang rutin ada di piringnya. “Piring makan adalah buku pelajaran gizi yang paling efektif.”

Jika piring yang disajikan monoton, meskipun berbahan pangan lokal, maka pesan yang sampai pun terbatas. Anak-anak tidak belajar tentang keberagaman, melainkan tentang penggantian. Mereka tidak belajar bahwa makan sehat itu beragam, melainkan bahwa ada bahan yang naik dan turun pamornya.

Menafsir ulang penganekaragaman pangan berarti menggeser fokus dari bahan ke pola. Nasi tidak harus selalu hadir, tetapi juga tidak perlu diposisikan sebagai musuh. Ubi, jagung, singkong, dan pangan lokal lain layak mendapat ruang, bukan sebagai simbol perlawanan terhadap nasi, melainkan sebagai bagian dari rotasi dan variasi menu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap piring mencerminkan keberagaman kelompok pangan.

Gizi yang baik jarang lahir dari keputusan ekstrem, ia justru tumbuh dari konsistensi: menu yang bervariasi, porsi yang seimbang, dan kebiasaan makan yang berkelanjutan. Dalam kerangka ini, penganekaragaman pangan bukan tindakan heroik, melainkan proses yang tenang namun terencana.

Kontroversi nasi dan ubi seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Ia menunjukkan bahwa persoalan gizi sering kali bukan terletak pada pangannya, melainkan pada cara kita memaknainya. Ketika gizi direduksi menjadi pilihan “benar” atau “salah”, kita akan kehilangan esensinya.

Pada akhirnya, penganekaragaman pangan menuntut lebih dari sekadar niat baik, membutuhkan pemahaman yang utuh, komunikasi yang jernih, dan kebijakan yang memberi ruang konteks tanpa mengorbankan prinsip. Sudah saatnya kita berhenti bertanya, “pangan apa yang harus diganti?”, namun mulai bertanya secara lebih mendalam: apakah pola makan yang kita bangun sudah benar-benar mencerminkan makna penganekaragaman pangan? Karena inti penganekaragaman bukan terletak pada apa yang kita singkirkan dari piring, melainkan pada seberapa beragam isi piring itu sendiri. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: gizipangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Next Post

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Pijat Tradisional dan Therapy Healing Jadi Primadona dalam Pameran Kearifan Lokal Bulan Bahasa Bali VIII

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co