4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 3, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Pendahuluan

Sejarah kebangkitan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran ulama, intelektual, dan gerakan keagamaan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama pembebasan dari kolonialisme. Penjajahan Belanda bukan hanya menghadirkan eksploitasi ekonomi dan dominasi politik, tetapi juga menanamkan bentuk penjajahan yang lebih halus dan berjangka panjang, yakni penjajahan epistemik. Melalui sistem pendidikan yang diskriminatif dan eksklusif, kolonialisme secara sadar memelihara kebodohan struktural di kalangan rakyat pribumi, terutama umat Islam.

Dalam konteks inilah muncul tokoh-tokoh pembaru Islam yang tidak sekadar melakukan perlawanan simbolik, tetapi merumuskan strategi pencerahan jangka panjang. Salah satu figur paling penting dalam lintasan sejarah tersebut adalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia hadir bukan sebagai revolusioner bersenjata, melainkan sebagai pendidik visioner yang memahami bahwa kebodohan adalah akar dari segala bentuk penindasan.

Namun, perjuangan Ahmad Dahlan tidak hanya berhadapan dengan kekuatan kolonial. Ironisnya, tantangan terberat justru datang dari kalangan umat Islam sendiri. Upaya pembaruan yang ia lakukan sering kali ditafsirkan sebagai ancaman terhadap tradisi. Ia dicap kafir, Wahabi, dan perusak tatanan keagamaan. Langgar dan sekolah yang didirikannya dibakar, bukan oleh penjajah, melainkan oleh sesama Muslim yang merasa terusik oleh perubahan.

Esai ini bertujuan mengkaji secara ilmiah perjuangan Ahmad Dahlan dalam membebaskan umat dari kebodohan kolonial melalui pendidikan modern dan praksis etika Surah Al-Ma’un. Selain itu, esai ini membandingkan pendekatan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), yang memilih jalur pelestarian pendidikan tradisional pesantren sambil tetap membuka diri terhadap pendidikan formal. Perbandingan ini penting untuk menunjukkan bahwa perbedaan metode pendidikan Islam di Indonesia bukanlah pertentangan ideologis, melainkan dialektika historis dalam tujuan yang sama: mencerdaskan bangsa.

Kolonialisme dan Krisis Pendidikan Umat Islam

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem kolonial Belanda membangun struktur sosial yang sangat hierarkis. Pendidikan modern diselenggarakan secara selektif melalui sekolah-sekolah seperti Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS), yang hanya dapat diakses oleh orang Eropa dan segelintir priyayi pribumi. Rakyat jelata dibiarkan hidup dalam ketertinggalan intelektual dan ekonomi.

Bagi umat Islam, kondisi ini semakin diperparah oleh kebijakan kolonial yang mencurigai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dibiarkan hidup dalam keterbatasan, tanpa dukungan sarana dan tanpa pengakuan formal. Akibatnya, terjadi dikotomi tajam antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Ilmu agama dipersepsikan sebagai urusan akhirat semata, sementara ilmu pengetahuan modern dianggap asing, bahkan berbahaya bagi iman.

Krisis ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Banyak ulama saat itu memandang pendidikan modern sebagai produk Barat yang berpotensi merusak akidah. Sikap defensif ini, meskipun dapat dipahami secara historis, justru mempersempit ruang dialog antara Islam dan modernitas.

Ahmad Dahlan membaca kondisi tersebut sebagai krisis epistemologis umat. Baginya, kebodohan bukanlah takdir ilahi, melainkan hasil dari sistem sosial-politik yang menyingkirkan umat Islam dari akses ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, solusi yang ia tawarkan bukan sekadar dakwah moral, tetapi reformasi pendidikan.

Ahmad Dahlan: Biografi Intelektual Seorang Pembaru

Kiai Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan struktural dengan Keraton Yogyakarta. Sejak kecil, Dahlan mendapatkan pendidikan Islam tradisional, mempelajari Al-Qur’an, fikih, dan ilmu-ilmu keislaman klasik.

Transformasi intelektual Dahlan terjadi ketika ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah. Di kota suci ini, ia berinteraksi dengan wacana pembaruan Islam yang berkembang di dunia Muslim, terutama gagasan Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Dari mereka, Dahlan menyerap semangat tajdid, rasionalitas, dan penekanan pada pentingnya memahami teks keagamaan secara kontekstual.

Sekembalinya ke Jawa, Dahlan melihat kesenjangan besar antara ideal Islam sebagai agama pembebasan dan realitas umat yang terbelakang. Ia menyimpulkan bahwa stagnasi pemikiran keagamaan dan ketertinggalan pendidikan adalah dua sisi dari masalah yang sama. Karena itu, pembaruan agama harus dimulai dari pembaruan cara berpikir dan sistem pendidikan.

Stigmatisasi dan Kekerasan Simbolik terhadap Pembaruan

Upaya pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan tidak diterima secara luas. Praktik-praktik yang ia perkenalkan—seperti pelurusan arah kiblat, penggunaan bangku dan papan tulis, serta kurikulum terstruktur—dianggap menyimpang dari tradisi. Ulama-ulama sepuh di lingkungan Keraton Yogyakarta menuduhnya kafir dan perusak adat.

Dalam perspektif sosiologi, penolakan ini dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Otoritas keagamaan digunakan untuk mempertahankan status quo dan menyingkirkan gagasan yang dianggap mengancam tatanan lama. Pembakaran langgar dan sekolah Dahlan menjadi simbol resistensi terhadap perubahan.

Namun, Dahlan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia memilih jalan keteguhan moral dan konsistensi praksis. Bagi Dahlan, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kesesuaian antara ajaran Islam dan realitas sosial umat.

Surah Al-Ma’un dan Etika Pendidikan Sosial

Kontribusi paling khas Ahmad Dahlan adalah menjadikan Surah Al-Ma’un sebagai fondasi etika gerakan Muhammadiyah. Ia mengajarkan surah ini secara berulang-ulang kepada murid-muridnya, bukan untuk dihafalkan semata, tetapi untuk diamalkan.

Al-Ma’un menegaskan bahwa pendustaan agama bukan terletak pada kekeliruan akidah, melainkan pada pengabaian terhadap kaum miskin, yatim, dan tertindas. Dari sinilah Dahlan merumuskan konsep pendidikan sebagai praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial.

Etika Al-Ma’un melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga kesejahteraan sosial. Pendidikan diposisikan sebagai sarana pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan, bukan sekadar peningkatan status sosial.

Ahmad Dahlan dan Budi Utomo: Nasionalisme Inklusif

Keputusan Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo sering disalahpahami sebagai kompromi dengan nasionalisme sekuler. Padahal, langkah ini menunjukkan visi kebangsaan yang inklusif. Dahlan memahami bahwa perjuangan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan.

Budi Utomo membuka ruang diskursus tentang pendidikan dan kebangkitan nasional. Dengan terlibat di dalamnya, Dahlan membawa nilai-nilai etika Islam ke dalam gerakan kebangsaan, sekaligus memperluas jaringan perjuangan umat. Pengalaman ini menjadi landasan penting bagi pendirian Muhammadiyah pada tahun 1912.

Nahdlatul Ulama dan Pendidikan Tradisional yang Dinamis

Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada 1926, lahir dalam konteks yang berbeda. Jika Muhammadiyah merespons stagnasi tradisi, NU merespons ancaman marginalisasi tradisi oleh modernisasi yang tidak terkendali.

NU mempertahankan pendidikan pesantren sebagai pusat transmisi ilmu keislaman klasik. Kitab kuning, sanad keilmuan, dan etika adab menjadi fondasi pendidikan NU. Namun, NU tidak menolak pendidikan formal. Sebaliknya, NU mendorong umatnya untuk mengakses pendidikan modern tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Strategi NU dapat disebut sebagai konservasi kreatif, yakni mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran sosial.

Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam Mencerdaskan Bangsa

Muhammadiyah dan NU sering diposisikan secara dikotomis: modern versus tradisional. Padahal, keduanya merupakan dua strategi historis yang saling melengkapi. Muhammadiyah unggul dalam sistematisasi pendidikan modern dan pelayanan sosial, sementara NU unggul dalam pelestarian tradisi keilmuan dan pembentukan etos budaya.

Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari memiliki perbedaan pendekatan, tetapi kesamaan visi: Islam sebagai kekuatan pembebas dan pencerdas bangsa. Dialektika ini justru memperkaya khazanah pendidikan Islam di Indonesia.

Penutup

Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan adalah kisah tentang keberanian intelektual dan keteguhan moral dalam menghadapi kolonialisme dan resistensi internal umat. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan utama pembebasan, dan Islam adalah agama yang berpihak pada ilmu, kemanusiaan, dan keadilan sosial.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dengan segala perbedaannya, telah menjadi pilar utama pencerdasan bangsa Indonesia. Dalam dialektika keduanya, kita menemukan pelajaran berharga: bahwa melawan kebodohan kolonial membutuhkan keberagaman strategi, kesabaran historis, dan komitmen etis yang kuat.[]

Referensi:

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1987.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII–XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.

Dahlan, Ahmad. Tuntunan Ibadah dan Akhlak. Yogyakarta: Muhammadiyah Press.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES, 1996.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES, 1986.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Next Post

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co