24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 3, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Pendahuluan

Sejarah kebangkitan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran ulama, intelektual, dan gerakan keagamaan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama pembebasan dari kolonialisme. Penjajahan Belanda bukan hanya menghadirkan eksploitasi ekonomi dan dominasi politik, tetapi juga menanamkan bentuk penjajahan yang lebih halus dan berjangka panjang, yakni penjajahan epistemik. Melalui sistem pendidikan yang diskriminatif dan eksklusif, kolonialisme secara sadar memelihara kebodohan struktural di kalangan rakyat pribumi, terutama umat Islam.

Dalam konteks inilah muncul tokoh-tokoh pembaru Islam yang tidak sekadar melakukan perlawanan simbolik, tetapi merumuskan strategi pencerahan jangka panjang. Salah satu figur paling penting dalam lintasan sejarah tersebut adalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia hadir bukan sebagai revolusioner bersenjata, melainkan sebagai pendidik visioner yang memahami bahwa kebodohan adalah akar dari segala bentuk penindasan.

Namun, perjuangan Ahmad Dahlan tidak hanya berhadapan dengan kekuatan kolonial. Ironisnya, tantangan terberat justru datang dari kalangan umat Islam sendiri. Upaya pembaruan yang ia lakukan sering kali ditafsirkan sebagai ancaman terhadap tradisi. Ia dicap kafir, Wahabi, dan perusak tatanan keagamaan. Langgar dan sekolah yang didirikannya dibakar, bukan oleh penjajah, melainkan oleh sesama Muslim yang merasa terusik oleh perubahan.

Esai ini bertujuan mengkaji secara ilmiah perjuangan Ahmad Dahlan dalam membebaskan umat dari kebodohan kolonial melalui pendidikan modern dan praksis etika Surah Al-Ma’un. Selain itu, esai ini membandingkan pendekatan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), yang memilih jalur pelestarian pendidikan tradisional pesantren sambil tetap membuka diri terhadap pendidikan formal. Perbandingan ini penting untuk menunjukkan bahwa perbedaan metode pendidikan Islam di Indonesia bukanlah pertentangan ideologis, melainkan dialektika historis dalam tujuan yang sama: mencerdaskan bangsa.

Kolonialisme dan Krisis Pendidikan Umat Islam

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem kolonial Belanda membangun struktur sosial yang sangat hierarkis. Pendidikan modern diselenggarakan secara selektif melalui sekolah-sekolah seperti Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS), yang hanya dapat diakses oleh orang Eropa dan segelintir priyayi pribumi. Rakyat jelata dibiarkan hidup dalam ketertinggalan intelektual dan ekonomi.

Bagi umat Islam, kondisi ini semakin diperparah oleh kebijakan kolonial yang mencurigai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dibiarkan hidup dalam keterbatasan, tanpa dukungan sarana dan tanpa pengakuan formal. Akibatnya, terjadi dikotomi tajam antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Ilmu agama dipersepsikan sebagai urusan akhirat semata, sementara ilmu pengetahuan modern dianggap asing, bahkan berbahaya bagi iman.

Krisis ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Banyak ulama saat itu memandang pendidikan modern sebagai produk Barat yang berpotensi merusak akidah. Sikap defensif ini, meskipun dapat dipahami secara historis, justru mempersempit ruang dialog antara Islam dan modernitas.

Ahmad Dahlan membaca kondisi tersebut sebagai krisis epistemologis umat. Baginya, kebodohan bukanlah takdir ilahi, melainkan hasil dari sistem sosial-politik yang menyingkirkan umat Islam dari akses ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, solusi yang ia tawarkan bukan sekadar dakwah moral, tetapi reformasi pendidikan.

Ahmad Dahlan: Biografi Intelektual Seorang Pembaru

Kiai Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan struktural dengan Keraton Yogyakarta. Sejak kecil, Dahlan mendapatkan pendidikan Islam tradisional, mempelajari Al-Qur’an, fikih, dan ilmu-ilmu keislaman klasik.

Transformasi intelektual Dahlan terjadi ketika ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah. Di kota suci ini, ia berinteraksi dengan wacana pembaruan Islam yang berkembang di dunia Muslim, terutama gagasan Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Dari mereka, Dahlan menyerap semangat tajdid, rasionalitas, dan penekanan pada pentingnya memahami teks keagamaan secara kontekstual.

Sekembalinya ke Jawa, Dahlan melihat kesenjangan besar antara ideal Islam sebagai agama pembebasan dan realitas umat yang terbelakang. Ia menyimpulkan bahwa stagnasi pemikiran keagamaan dan ketertinggalan pendidikan adalah dua sisi dari masalah yang sama. Karena itu, pembaruan agama harus dimulai dari pembaruan cara berpikir dan sistem pendidikan.

Stigmatisasi dan Kekerasan Simbolik terhadap Pembaruan

Upaya pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan tidak diterima secara luas. Praktik-praktik yang ia perkenalkan—seperti pelurusan arah kiblat, penggunaan bangku dan papan tulis, serta kurikulum terstruktur—dianggap menyimpang dari tradisi. Ulama-ulama sepuh di lingkungan Keraton Yogyakarta menuduhnya kafir dan perusak adat.

Dalam perspektif sosiologi, penolakan ini dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Otoritas keagamaan digunakan untuk mempertahankan status quo dan menyingkirkan gagasan yang dianggap mengancam tatanan lama. Pembakaran langgar dan sekolah Dahlan menjadi simbol resistensi terhadap perubahan.

Namun, Dahlan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia memilih jalan keteguhan moral dan konsistensi praksis. Bagi Dahlan, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kesesuaian antara ajaran Islam dan realitas sosial umat.

Surah Al-Ma’un dan Etika Pendidikan Sosial

Kontribusi paling khas Ahmad Dahlan adalah menjadikan Surah Al-Ma’un sebagai fondasi etika gerakan Muhammadiyah. Ia mengajarkan surah ini secara berulang-ulang kepada murid-muridnya, bukan untuk dihafalkan semata, tetapi untuk diamalkan.

Al-Ma’un menegaskan bahwa pendustaan agama bukan terletak pada kekeliruan akidah, melainkan pada pengabaian terhadap kaum miskin, yatim, dan tertindas. Dari sinilah Dahlan merumuskan konsep pendidikan sebagai praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial.

Etika Al-Ma’un melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga kesejahteraan sosial. Pendidikan diposisikan sebagai sarana pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan, bukan sekadar peningkatan status sosial.

Ahmad Dahlan dan Budi Utomo: Nasionalisme Inklusif

Keputusan Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo sering disalahpahami sebagai kompromi dengan nasionalisme sekuler. Padahal, langkah ini menunjukkan visi kebangsaan yang inklusif. Dahlan memahami bahwa perjuangan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan.

Budi Utomo membuka ruang diskursus tentang pendidikan dan kebangkitan nasional. Dengan terlibat di dalamnya, Dahlan membawa nilai-nilai etika Islam ke dalam gerakan kebangsaan, sekaligus memperluas jaringan perjuangan umat. Pengalaman ini menjadi landasan penting bagi pendirian Muhammadiyah pada tahun 1912.

Nahdlatul Ulama dan Pendidikan Tradisional yang Dinamis

Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada 1926, lahir dalam konteks yang berbeda. Jika Muhammadiyah merespons stagnasi tradisi, NU merespons ancaman marginalisasi tradisi oleh modernisasi yang tidak terkendali.

NU mempertahankan pendidikan pesantren sebagai pusat transmisi ilmu keislaman klasik. Kitab kuning, sanad keilmuan, dan etika adab menjadi fondasi pendidikan NU. Namun, NU tidak menolak pendidikan formal. Sebaliknya, NU mendorong umatnya untuk mengakses pendidikan modern tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Strategi NU dapat disebut sebagai konservasi kreatif, yakni mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran sosial.

Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam Mencerdaskan Bangsa

Muhammadiyah dan NU sering diposisikan secara dikotomis: modern versus tradisional. Padahal, keduanya merupakan dua strategi historis yang saling melengkapi. Muhammadiyah unggul dalam sistematisasi pendidikan modern dan pelayanan sosial, sementara NU unggul dalam pelestarian tradisi keilmuan dan pembentukan etos budaya.

Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari memiliki perbedaan pendekatan, tetapi kesamaan visi: Islam sebagai kekuatan pembebas dan pencerdas bangsa. Dialektika ini justru memperkaya khazanah pendidikan Islam di Indonesia.

Penutup

Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan adalah kisah tentang keberanian intelektual dan keteguhan moral dalam menghadapi kolonialisme dan resistensi internal umat. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan utama pembebasan, dan Islam adalah agama yang berpihak pada ilmu, kemanusiaan, dan keadilan sosial.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dengan segala perbedaannya, telah menjadi pilar utama pencerdasan bangsa Indonesia. Dalam dialektika keduanya, kita menemukan pelajaran berharga: bahwa melawan kebodohan kolonial membutuhkan keberagaman strategi, kesabaran historis, dan komitmen etis yang kuat.[]

Referensi:

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1987.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII–XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.

Dahlan, Ahmad. Tuntunan Ibadah dan Akhlak. Yogyakarta: Muhammadiyah Press.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES, 1996.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES, 1986.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Next Post

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co