4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 3, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Pendahuluan

Sejarah kebangkitan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran ulama, intelektual, dan gerakan keagamaan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama pembebasan dari kolonialisme. Penjajahan Belanda bukan hanya menghadirkan eksploitasi ekonomi dan dominasi politik, tetapi juga menanamkan bentuk penjajahan yang lebih halus dan berjangka panjang, yakni penjajahan epistemik. Melalui sistem pendidikan yang diskriminatif dan eksklusif, kolonialisme secara sadar memelihara kebodohan struktural di kalangan rakyat pribumi, terutama umat Islam.

Dalam konteks inilah muncul tokoh-tokoh pembaru Islam yang tidak sekadar melakukan perlawanan simbolik, tetapi merumuskan strategi pencerahan jangka panjang. Salah satu figur paling penting dalam lintasan sejarah tersebut adalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia hadir bukan sebagai revolusioner bersenjata, melainkan sebagai pendidik visioner yang memahami bahwa kebodohan adalah akar dari segala bentuk penindasan.

Namun, perjuangan Ahmad Dahlan tidak hanya berhadapan dengan kekuatan kolonial. Ironisnya, tantangan terberat justru datang dari kalangan umat Islam sendiri. Upaya pembaruan yang ia lakukan sering kali ditafsirkan sebagai ancaman terhadap tradisi. Ia dicap kafir, Wahabi, dan perusak tatanan keagamaan. Langgar dan sekolah yang didirikannya dibakar, bukan oleh penjajah, melainkan oleh sesama Muslim yang merasa terusik oleh perubahan.

Esai ini bertujuan mengkaji secara ilmiah perjuangan Ahmad Dahlan dalam membebaskan umat dari kebodohan kolonial melalui pendidikan modern dan praksis etika Surah Al-Ma’un. Selain itu, esai ini membandingkan pendekatan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), yang memilih jalur pelestarian pendidikan tradisional pesantren sambil tetap membuka diri terhadap pendidikan formal. Perbandingan ini penting untuk menunjukkan bahwa perbedaan metode pendidikan Islam di Indonesia bukanlah pertentangan ideologis, melainkan dialektika historis dalam tujuan yang sama: mencerdaskan bangsa.

Kolonialisme dan Krisis Pendidikan Umat Islam

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem kolonial Belanda membangun struktur sosial yang sangat hierarkis. Pendidikan modern diselenggarakan secara selektif melalui sekolah-sekolah seperti Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS), yang hanya dapat diakses oleh orang Eropa dan segelintir priyayi pribumi. Rakyat jelata dibiarkan hidup dalam ketertinggalan intelektual dan ekonomi.

Bagi umat Islam, kondisi ini semakin diperparah oleh kebijakan kolonial yang mencurigai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dibiarkan hidup dalam keterbatasan, tanpa dukungan sarana dan tanpa pengakuan formal. Akibatnya, terjadi dikotomi tajam antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Ilmu agama dipersepsikan sebagai urusan akhirat semata, sementara ilmu pengetahuan modern dianggap asing, bahkan berbahaya bagi iman.

Krisis ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Banyak ulama saat itu memandang pendidikan modern sebagai produk Barat yang berpotensi merusak akidah. Sikap defensif ini, meskipun dapat dipahami secara historis, justru mempersempit ruang dialog antara Islam dan modernitas.

Ahmad Dahlan membaca kondisi tersebut sebagai krisis epistemologis umat. Baginya, kebodohan bukanlah takdir ilahi, melainkan hasil dari sistem sosial-politik yang menyingkirkan umat Islam dari akses ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, solusi yang ia tawarkan bukan sekadar dakwah moral, tetapi reformasi pendidikan.

Ahmad Dahlan: Biografi Intelektual Seorang Pembaru

Kiai Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan struktural dengan Keraton Yogyakarta. Sejak kecil, Dahlan mendapatkan pendidikan Islam tradisional, mempelajari Al-Qur’an, fikih, dan ilmu-ilmu keislaman klasik.

Transformasi intelektual Dahlan terjadi ketika ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah. Di kota suci ini, ia berinteraksi dengan wacana pembaruan Islam yang berkembang di dunia Muslim, terutama gagasan Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Dari mereka, Dahlan menyerap semangat tajdid, rasionalitas, dan penekanan pada pentingnya memahami teks keagamaan secara kontekstual.

Sekembalinya ke Jawa, Dahlan melihat kesenjangan besar antara ideal Islam sebagai agama pembebasan dan realitas umat yang terbelakang. Ia menyimpulkan bahwa stagnasi pemikiran keagamaan dan ketertinggalan pendidikan adalah dua sisi dari masalah yang sama. Karena itu, pembaruan agama harus dimulai dari pembaruan cara berpikir dan sistem pendidikan.

Stigmatisasi dan Kekerasan Simbolik terhadap Pembaruan

Upaya pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan tidak diterima secara luas. Praktik-praktik yang ia perkenalkan—seperti pelurusan arah kiblat, penggunaan bangku dan papan tulis, serta kurikulum terstruktur—dianggap menyimpang dari tradisi. Ulama-ulama sepuh di lingkungan Keraton Yogyakarta menuduhnya kafir dan perusak adat.

Dalam perspektif sosiologi, penolakan ini dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Otoritas keagamaan digunakan untuk mempertahankan status quo dan menyingkirkan gagasan yang dianggap mengancam tatanan lama. Pembakaran langgar dan sekolah Dahlan menjadi simbol resistensi terhadap perubahan.

Namun, Dahlan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia memilih jalan keteguhan moral dan konsistensi praksis. Bagi Dahlan, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kesesuaian antara ajaran Islam dan realitas sosial umat.

Surah Al-Ma’un dan Etika Pendidikan Sosial

Kontribusi paling khas Ahmad Dahlan adalah menjadikan Surah Al-Ma’un sebagai fondasi etika gerakan Muhammadiyah. Ia mengajarkan surah ini secara berulang-ulang kepada murid-muridnya, bukan untuk dihafalkan semata, tetapi untuk diamalkan.

Al-Ma’un menegaskan bahwa pendustaan agama bukan terletak pada kekeliruan akidah, melainkan pada pengabaian terhadap kaum miskin, yatim, dan tertindas. Dari sinilah Dahlan merumuskan konsep pendidikan sebagai praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial.

Etika Al-Ma’un melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga kesejahteraan sosial. Pendidikan diposisikan sebagai sarana pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan, bukan sekadar peningkatan status sosial.

Ahmad Dahlan dan Budi Utomo: Nasionalisme Inklusif

Keputusan Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo sering disalahpahami sebagai kompromi dengan nasionalisme sekuler. Padahal, langkah ini menunjukkan visi kebangsaan yang inklusif. Dahlan memahami bahwa perjuangan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan.

Budi Utomo membuka ruang diskursus tentang pendidikan dan kebangkitan nasional. Dengan terlibat di dalamnya, Dahlan membawa nilai-nilai etika Islam ke dalam gerakan kebangsaan, sekaligus memperluas jaringan perjuangan umat. Pengalaman ini menjadi landasan penting bagi pendirian Muhammadiyah pada tahun 1912.

Nahdlatul Ulama dan Pendidikan Tradisional yang Dinamis

Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada 1926, lahir dalam konteks yang berbeda. Jika Muhammadiyah merespons stagnasi tradisi, NU merespons ancaman marginalisasi tradisi oleh modernisasi yang tidak terkendali.

NU mempertahankan pendidikan pesantren sebagai pusat transmisi ilmu keislaman klasik. Kitab kuning, sanad keilmuan, dan etika adab menjadi fondasi pendidikan NU. Namun, NU tidak menolak pendidikan formal. Sebaliknya, NU mendorong umatnya untuk mengakses pendidikan modern tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Strategi NU dapat disebut sebagai konservasi kreatif, yakni mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran sosial.

Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam Mencerdaskan Bangsa

Muhammadiyah dan NU sering diposisikan secara dikotomis: modern versus tradisional. Padahal, keduanya merupakan dua strategi historis yang saling melengkapi. Muhammadiyah unggul dalam sistematisasi pendidikan modern dan pelayanan sosial, sementara NU unggul dalam pelestarian tradisi keilmuan dan pembentukan etos budaya.

Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari memiliki perbedaan pendekatan, tetapi kesamaan visi: Islam sebagai kekuatan pembebas dan pencerdas bangsa. Dialektika ini justru memperkaya khazanah pendidikan Islam di Indonesia.

Penutup

Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan adalah kisah tentang keberanian intelektual dan keteguhan moral dalam menghadapi kolonialisme dan resistensi internal umat. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan utama pembebasan, dan Islam adalah agama yang berpihak pada ilmu, kemanusiaan, dan keadilan sosial.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dengan segala perbedaannya, telah menjadi pilar utama pencerdasan bangsa Indonesia. Dalam dialektika keduanya, kita menemukan pelajaran berharga: bahwa melawan kebodohan kolonial membutuhkan keberagaman strategi, kesabaran historis, dan komitmen etis yang kuat.[]

Referensi:

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1987.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII–XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.

Dahlan, Ahmad. Tuntunan Ibadah dan Akhlak. Yogyakarta: Muhammadiyah Press.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES, 1996.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES, 1986.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Next Post

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co