25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Al-Ma’un dan Pendidikan Pembebasan: Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Dialektika Pendidikan Islam di Masa Kolonial

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
February 3, 2026
in Esai
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

Khairul A. El Maliky

Pendahuluan

Sejarah kebangkitan bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran ulama, intelektual, dan gerakan keagamaan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama pembebasan dari kolonialisme. Penjajahan Belanda bukan hanya menghadirkan eksploitasi ekonomi dan dominasi politik, tetapi juga menanamkan bentuk penjajahan yang lebih halus dan berjangka panjang, yakni penjajahan epistemik. Melalui sistem pendidikan yang diskriminatif dan eksklusif, kolonialisme secara sadar memelihara kebodohan struktural di kalangan rakyat pribumi, terutama umat Islam.

Dalam konteks inilah muncul tokoh-tokoh pembaru Islam yang tidak sekadar melakukan perlawanan simbolik, tetapi merumuskan strategi pencerahan jangka panjang. Salah satu figur paling penting dalam lintasan sejarah tersebut adalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ia hadir bukan sebagai revolusioner bersenjata, melainkan sebagai pendidik visioner yang memahami bahwa kebodohan adalah akar dari segala bentuk penindasan.

Namun, perjuangan Ahmad Dahlan tidak hanya berhadapan dengan kekuatan kolonial. Ironisnya, tantangan terberat justru datang dari kalangan umat Islam sendiri. Upaya pembaruan yang ia lakukan sering kali ditafsirkan sebagai ancaman terhadap tradisi. Ia dicap kafir, Wahabi, dan perusak tatanan keagamaan. Langgar dan sekolah yang didirikannya dibakar, bukan oleh penjajah, melainkan oleh sesama Muslim yang merasa terusik oleh perubahan.

Esai ini bertujuan mengkaji secara ilmiah perjuangan Ahmad Dahlan dalam membebaskan umat dari kebodohan kolonial melalui pendidikan modern dan praksis etika Surah Al-Ma’un. Selain itu, esai ini membandingkan pendekatan Muhammadiyah dengan Nahdlatul Ulama (NU), yang memilih jalur pelestarian pendidikan tradisional pesantren sambil tetap membuka diri terhadap pendidikan formal. Perbandingan ini penting untuk menunjukkan bahwa perbedaan metode pendidikan Islam di Indonesia bukanlah pertentangan ideologis, melainkan dialektika historis dalam tujuan yang sama: mencerdaskan bangsa.

Kolonialisme dan Krisis Pendidikan Umat Islam

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, sistem kolonial Belanda membangun struktur sosial yang sangat hierarkis. Pendidikan modern diselenggarakan secara selektif melalui sekolah-sekolah seperti Europeesche Lagere School (ELS) dan Hogere Burger School (HBS), yang hanya dapat diakses oleh orang Eropa dan segelintir priyayi pribumi. Rakyat jelata dibiarkan hidup dalam ketertinggalan intelektual dan ekonomi.

Bagi umat Islam, kondisi ini semakin diperparah oleh kebijakan kolonial yang mencurigai lembaga pendidikan keagamaan. Pesantren dibiarkan hidup dalam keterbatasan, tanpa dukungan sarana dan tanpa pengakuan formal. Akibatnya, terjadi dikotomi tajam antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Ilmu agama dipersepsikan sebagai urusan akhirat semata, sementara ilmu pengetahuan modern dianggap asing, bahkan berbahaya bagi iman.

Krisis ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kultural. Banyak ulama saat itu memandang pendidikan modern sebagai produk Barat yang berpotensi merusak akidah. Sikap defensif ini, meskipun dapat dipahami secara historis, justru mempersempit ruang dialog antara Islam dan modernitas.

Ahmad Dahlan membaca kondisi tersebut sebagai krisis epistemologis umat. Baginya, kebodohan bukanlah takdir ilahi, melainkan hasil dari sistem sosial-politik yang menyingkirkan umat Islam dari akses ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, solusi yang ia tawarkan bukan sekadar dakwah moral, tetapi reformasi pendidikan.

Ahmad Dahlan: Biografi Intelektual Seorang Pembaru

Kiai Ahmad Dahlan lahir dengan nama Muhammad Darwis pada tahun 1868 di Kauman, Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga ulama yang memiliki kedekatan struktural dengan Keraton Yogyakarta. Sejak kecil, Dahlan mendapatkan pendidikan Islam tradisional, mempelajari Al-Qur’an, fikih, dan ilmu-ilmu keislaman klasik.

Transformasi intelektual Dahlan terjadi ketika ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah. Di kota suci ini, ia berinteraksi dengan wacana pembaruan Islam yang berkembang di dunia Muslim, terutama gagasan Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Dari mereka, Dahlan menyerap semangat tajdid, rasionalitas, dan penekanan pada pentingnya memahami teks keagamaan secara kontekstual.

Sekembalinya ke Jawa, Dahlan melihat kesenjangan besar antara ideal Islam sebagai agama pembebasan dan realitas umat yang terbelakang. Ia menyimpulkan bahwa stagnasi pemikiran keagamaan dan ketertinggalan pendidikan adalah dua sisi dari masalah yang sama. Karena itu, pembaruan agama harus dimulai dari pembaruan cara berpikir dan sistem pendidikan.

Stigmatisasi dan Kekerasan Simbolik terhadap Pembaruan

Upaya pembaruan yang dilakukan Ahmad Dahlan tidak diterima secara luas. Praktik-praktik yang ia perkenalkan—seperti pelurusan arah kiblat, penggunaan bangku dan papan tulis, serta kurikulum terstruktur—dianggap menyimpang dari tradisi. Ulama-ulama sepuh di lingkungan Keraton Yogyakarta menuduhnya kafir dan perusak adat.

Dalam perspektif sosiologi, penolakan ini dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik, sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Otoritas keagamaan digunakan untuk mempertahankan status quo dan menyingkirkan gagasan yang dianggap mengancam tatanan lama. Pembakaran langgar dan sekolah Dahlan menjadi simbol resistensi terhadap perubahan.

Namun, Dahlan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia memilih jalan keteguhan moral dan konsistensi praksis. Bagi Dahlan, kebenaran tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kesesuaian antara ajaran Islam dan realitas sosial umat.

Surah Al-Ma’un dan Etika Pendidikan Sosial

Kontribusi paling khas Ahmad Dahlan adalah menjadikan Surah Al-Ma’un sebagai fondasi etika gerakan Muhammadiyah. Ia mengajarkan surah ini secara berulang-ulang kepada murid-muridnya, bukan untuk dihafalkan semata, tetapi untuk diamalkan.

Al-Ma’un menegaskan bahwa pendustaan agama bukan terletak pada kekeliruan akidah, melainkan pada pengabaian terhadap kaum miskin, yatim, dan tertindas. Dari sinilah Dahlan merumuskan konsep pendidikan sebagai praksis sosial. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial.

Etika Al-Ma’un melahirkan berbagai amal usaha Muhammadiyah: sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lembaga kesejahteraan sosial. Pendidikan diposisikan sebagai sarana pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan, bukan sekadar peningkatan status sosial.

Ahmad Dahlan dan Budi Utomo: Nasionalisme Inklusif

Keputusan Ahmad Dahlan bergabung dengan Budi Utomo sering disalahpahami sebagai kompromi dengan nasionalisme sekuler. Padahal, langkah ini menunjukkan visi kebangsaan yang inklusif. Dahlan memahami bahwa perjuangan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari perjuangan bangsa secara keseluruhan.

Budi Utomo membuka ruang diskursus tentang pendidikan dan kebangkitan nasional. Dengan terlibat di dalamnya, Dahlan membawa nilai-nilai etika Islam ke dalam gerakan kebangsaan, sekaligus memperluas jaringan perjuangan umat. Pengalaman ini menjadi landasan penting bagi pendirian Muhammadiyah pada tahun 1912.

Nahdlatul Ulama dan Pendidikan Tradisional yang Dinamis

Nahdlatul Ulama (NU), yang didirikan oleh Kiai Hasyim Asy’ari pada 1926, lahir dalam konteks yang berbeda. Jika Muhammadiyah merespons stagnasi tradisi, NU merespons ancaman marginalisasi tradisi oleh modernisasi yang tidak terkendali.

NU mempertahankan pendidikan pesantren sebagai pusat transmisi ilmu keislaman klasik. Kitab kuning, sanad keilmuan, dan etika adab menjadi fondasi pendidikan NU. Namun, NU tidak menolak pendidikan formal. Sebaliknya, NU mendorong umatnya untuk mengakses pendidikan modern tanpa kehilangan identitas keagamaan.

Strategi NU dapat disebut sebagai konservasi kreatif, yakni mempertahankan tradisi sambil beradaptasi dengan perubahan zaman. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran sosial.

Dialektika Muhammadiyah dan NU dalam Mencerdaskan Bangsa

Muhammadiyah dan NU sering diposisikan secara dikotomis: modern versus tradisional. Padahal, keduanya merupakan dua strategi historis yang saling melengkapi. Muhammadiyah unggul dalam sistematisasi pendidikan modern dan pelayanan sosial, sementara NU unggul dalam pelestarian tradisi keilmuan dan pembentukan etos budaya.

Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari memiliki perbedaan pendekatan, tetapi kesamaan visi: Islam sebagai kekuatan pembebas dan pencerdas bangsa. Dialektika ini justru memperkaya khazanah pendidikan Islam di Indonesia.

Penutup

Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan adalah kisah tentang keberanian intelektual dan keteguhan moral dalam menghadapi kolonialisme dan resistensi internal umat. Ia membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan utama pembebasan, dan Islam adalah agama yang berpihak pada ilmu, kemanusiaan, dan keadilan sosial.

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dengan segala perbedaannya, telah menjadi pilar utama pencerdasan bangsa Indonesia. Dalam dialektika keduanya, kita menemukan pelajaran berharga: bahwa melawan kebodohan kolonial membutuhkan keberagaman strategi, kesabaran historis, dan komitmen etis yang kuat.[]

Referensi:

Abdullah, Taufik. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES, 1987.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII–XVIII. Jakarta: Kencana, 2004.

Dahlan, Ahmad. Tuntunan Ibadah dan Akhlak. Yogyakarta: Muhammadiyah Press.

Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: LP3ES, 1996.

Ricklefs, M.C. A History of Modern Indonesia Since c.1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Steenbrink, Karel A. Pesantren, Madrasah, Sekolah. Jakarta: LP3ES, 1986.

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: IslamPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahaya Medsos Tanpa Negara — Sebuah usulan

Next Post

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Menafsir Ulang Penganekaragaman Pangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co