24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Prasasti, Tahta, dan Ingatan Kolektif

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 30, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

INGATAN tidak pernah netral di setiap kerajaan tua. Ia memilih apa yang dikenang, apa yang dilupakan, dan apa yang sengaja diperdebatkan. Alkisah,  di tanah yang konon kemudian disebut Nagara Kaula Kolot, ingatan kolektif itu menjelma menjadi kisah-kisah yang beredar dari pendapa ke pasar, dari serambi ke balai desa.

Pada suatu masa, selembar prasasti ilmu, dokumen yang semestinya sunyi, berubah menjadi sumber gaduh, mengguncang bukan hanya nama seorang raja, melainkan juga kewarasan takhta dan persatuan negeri.

Beberapa musim terakhir, pasar kabar kerajaan dipenuhi bisik-bisik. Bukan tentang paceklik atau perbatasan, melainkan tentang prasasti ilmu, dokumen yang konon menandai laku belajar seorang raja terdahulu.

Ada yang menuduh prasasti itu palsu, ada pula yang menuding bahwa kegaduhan ini digerakkan oleh tangan-tangan besar: dua raja sepuh yang  telah lama turun tahta, disebut-sebut sebagai Raja Darmaraga dan Ratu Cikawarni Abang. Keduanya pernah memerintah di masa berbeda, sama-sama mewariskan jejak panjang dalam sejarah negeri Nagara Kaula Kolot.

Anehnya, tudingan tak berhenti di situ. Ada cerita bahwa mereka bersekongkol dengan Saudagar Gantarantang, pemilik pelabuhan dan lembaran kabar paling berpengaruh di kerajaan, untuk membuka jalan bagi putra-putri mahkota mereka, agar kelak menduduki singgasana raja, wakil raja, patih, atau wakil patih.

Kabar-kabar itu mengalir deras seperti banjir bandang, menghantam logika, menyisakan lumpur prasangka. Namun kabar, sebagaimana air bah, tak pernah mengalir satu arah.

Raja yang Difitnah dan Putra Mahkota yang Diangkat

Syahdan, di masa lampau Nagara Kaula Kolot, hiduplah sosok yang dipanggil Raja Purna Angkat, seorang raja yang kini menjadi pusat tuduhan. Pada masa pemerintahannya, ia mengangkat seorang bangsawan muda, Pangeran Baroskatana, putra salah satu raja sepuh, untuk mengemban jabatan penting di kementerian kerajaan. Pengangkatan itu dicatat rapi dalam kronik istana, disaksikan para sesepuh adat, dan dirayakan sebagai tanda kesinambungan antargenerasi.

Waktu berputar. Takhta berpindah. Raja baru, Maska Panimbangan, naik bersama wakilnya Adipati Barepakala, yang tak lain adalah putra dari raja terdahulu. Anehnya, atau barangkali wajar dalam politik kebudayaan Nagara Kaula Kolot, PangeranBaroskatana tetap dipercaya mengemban jabatan yang sama. Jika prasasti ilmu Raja Purna Angkat benar-benar cacat, mengapa kebijakan dan pengangkatannya dulu diterima tanpa cela? Mengapa pula kesinambungan jabatan itu tetap berlangsung di bawah raja yang berbeda darah dan warna istana?

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di udara pendapa, tak selalu dijawab, tetapi terasa oleh rakyat yang terbiasa membaca tanda-tanda.

Saudagar, Lembar Kabar, dan Bayang-Bayang Kuasa

Di setiap zaman, kerajaan membutuhkan penyambung lidah. Dahulu peran itu dilakukan oleh para pujangga, juga oleh lembaran kabar. Saudagar Gantarantang menguasai percetakan dan jaringan kabar dari pesisir hingga pedalaman. Ia tak pernah duduk di singgasana, tetapi kata-katanya menempati ruang-ruang warung, serambi masjid, dan balai desa.

Apakah ia bersekongkol? Saudagar selalu berada di wilayah abu-abu: antara kepentingan niaga dan hasrat memengaruhi arah angin. Namun, menuduh semua kegaduhan sebagai hasil satu komplotan raksasa sering kali mengabaikan kenyataan lain: bahwa kabar tumbuh subur karena hasrat rakyat untuk percaya, karena luka lama yang belum sembuh, dan karena politik ingatan yang mudah dipelintir.

Lembar kabar tidak menciptakan api; ia mempercepat rambatan nyala. Api itu sendiri sering lahir dari kecemasan kolektif.

Prasasti Ilmu dan Martabat Negeri

Di  Nagara Kaula Kolot, ilmu bukan sekadar gelar, melainkan laku. Prasasti hanyalah tanda; martabat lahir dari tindak. Para pujangga istana sejak lama mengingatkan nasihat dalam Serat Wedhatama, yang menyebutkan: Ngelmu iku kalakone kanthi laku, Lekase lawan kas, Tegese kas nyantosani.

Ilmu, menurut petuah itu, hanya bermakna bila dijalani dengan kesungguhan batin dan keutamaan perilaku, bukan sekadar dibuktikan oleh lembaran atau cap istana. Ketika prasasti dijadikan senjata, yang terluka bukan hanya seorang raja, melainkan kepercayaan rakyat pada tatanan bersama.

Kisah atau alegori ini hendak mengingatkan, bila  dua raja sepuh benar-benar ingin memuluskan jalan bagi darah mereka, adakah cara yang lebih senyap dan beradab daripada menciptakan kegaduhan yang merobek persatuan? Berbagai kisah masa lampau mengajarkan bahwa para pemangku adat yang matang lebih memilih menata laku daripada mengobarkan isu. Mereka paham, takhta yang berdiri di atas prasangka akan goyah oleh angin kecil.

Politik Ingatan dan Ujian Kebijaksanaan

Kerajaan yang besar diuji bukan oleh ketiadaan konflik, melainkan oleh cara mengelolanya. Tuduhan, bila tak disertai kebijaksanaan, berubah menjadi fitnah; pembelaan, bila tak disertai keterbukaan, berubah menjadi kultus. Untuk permasalahan yang terjadi di Nagara Kaula Kolot perlu kiranya menyimak nasihat Paku Buwana dalam Serat Wulangreh, mengingatkan para pemegang kuasa: Aja gumunan, aja kagetan, Aja dumeh.

Petuah singkat itu menegaskan etika kepemimpinan: tidak mudah terpukau oleh kabar, tidak reaktif oleh hasutan, dan tidak pongah oleh kedudukan. Di titik inilah peran para sesepuh adat, pujangga, dan cendekiawan diuji: mengembalikan perdebatan pada nalar, bukan amarah.

Rakyat Nagara Kaula Kolotsesungguhnya hafal petuah leluhur: ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Harga diri ditentukan oleh kata, kehormatan negeri oleh cara ia menjaga perbedaan. Ketika kata-kata menjadi kasar, negeri kehilangan busananya.

Menjaga Singgasana Bersama

Hikayat ini tidak bermaksud menghakimi tokoh-tokoh yang telah menjadi bayang-bayang sejarah, kisah ini hanya mengajak pembaca melihat kejanggalan dengan kepala dingin. Bahwa dalam kisruh prasasti ilmu, terdapat paradoks-paradoks yang patut direnungkan; bahwa kontinuitas jabatan dan kebijakan sering kali lebih jujur daripada tudingan sensasional.

Para leluhur kita telah lama berpesan, sebagaimana termaktub dalam piwulang raja: Ratu adil iku dudu sing tanpa cacat, Nanging sing gelem ngrumati bebener lan rukuning kawula.

Singgasana sejati bukanlah kursi emas di pendapa agung, melainkan kepercayaan rakyat. Dan kepercayaan itu hanya dapat dijaga dengan kejernihan nalar, kesantunan bahasa, serta kesediaan menempatkan sejarah sebagai guru, bukan alat.

Di Nagara Kaula Kolot, seperti di negeri mana pun, persatuan tidak diwariskan oleh darah semata, melainkan oleh kebijaksanaan merawat kebenaran. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: demokrasinegaraPolitikprasasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebencian yang Diciptakan

Next Post

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

Print-Mapping: Decolonial Axis --- a Solo exhibition by Agung Pramana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co