24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
in Ulas Film
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

Poster film Alas Roban | Unlimited Production

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata yang hidup di ingatan, bercampur antara pengalaman fisik, cerita lisan, dan mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut. Kata itu selalu mengandung gema: angker, sepi, hutan jati yang panjang, kendaraan mogok, serta kisah orang hilang atau “dibawa” penunggu.

Maka, ketika sebuah film berjudul Alas Roban hadir di bioskop, ia tidak datang sebagai teks kosong. Ia langsung berdialog dengan memori kolektif penontonnya. Menonton film ini—dalam konteks personal, sebagai hiburan bersama istri setelah rutinitas—menjadi pengalaman hermeneutik: sebuah perjumpaan antara teks film, ingatan masa lalu, dan sistem kepercayaan Jawa yang telah lama membentuk cara kita memaknai ruang, waktu, dan yang gaib. Film ini tidak hanya “menakut-nakuti”, tetapi bekerja sebagai medium penafsiran ulang mitos Alas Roban dalam bahasa sinema kontemporer.

Produksi Era 90-an sebagai Strategi Hermeneutik

Salah satu kekuatan utama Alas Roban (2026) terletak pada totalitas desain produksinya. Bus antarkota, struktur bangunan, pasar tradisional, hingga suasana hutan jati, semuanya dikonstruksi dengan presisi yang meyakinkan penonton bahwa para karakter memang hidup di era 1990-an. Ini bukan sekadar nostalgia visual, melainkan strategi hermeneutik.

Dalam kerangka hermeneutika Hans-Georg Gadamer, pemahaman selalu terjadi melalui fusi horizon—pertemuan antara horizon masa lalu dan horizon masa kini. Dengan menghidupkan kembali era 90-an, film ini memperkecil jarak historis antara pengalaman personal penonton dan dunia naratif film. Penonton seusia saya tidak sedang “melihat” masa lalu, melainkan kembali masuk ke dalamnya.

Alas Roban, sebelum tol Trans Jawa, adalah ruang transisi: wilayah liminal antara kota dan kota, antara aman dan tidak aman, antara rasional dan irasional. Film ini berhasil mengembalikan Alas Roban sebagai ruang ambang (liminality), sebuah konsep penting dalam mitologi Jawa, di mana batas dunia manusia dan dunia gaib menjadi tipis.

Pewarnaan Warm dan Dialektika Horor–Kasih

Pilihan sinematografi dengan dominasi warna hangat (warm tone) menghadirkan paradoks menarik. Secara umum, horor identik dengan warna dingin, gelap, dan kontras tajam. Namun Alas Roban justru memilih pendekatan berbeda. Pewarnaan hangat ini bukan hanya menegaskan latar waktu, tetapi juga menjadi kode emosional.

Dalam pembacaan hermeneutik simbolik, warna hangat berfungsi ganda. Di satu sisi, ia memperhalus teror—membuat horor terasa “mendekat” dan akrab. Di sisi lain, ia memberi isyarat bahwa di balik kengerian, terdapat kisah manusiawi yang hangat: perjuangan seorang ibu untuk melindungi anaknya.

Di sinilah film ini bergerak melampaui horor sebagai genre sensasi. Ketakutan tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berdampingan dengan kasih. Dalam mitologi Jawa, hubungan antara dunia gaib dan manusia jarang hitam-putih. Penunggu hutan tidak selalu jahat; mereka memiliki hukum, etika, dan relasi tertentu dengan manusia. Pewarnaan warm menjadi metafora visual atas ambiguitas tersebut.

Urban Legendsebagai Ingatan Kolektif

Bayangan urban legend Alas Roban membuat setiap jumpscare terasa lebih berdampak. Bukan karena efek visual semata, tetapi karena penonton telah membawa “teks lain” ke dalam pengalaman menonton: cerita sopir bus, kisah orang tua, pengalaman pribadi melewati hutan jati pada malam hari.

Dalam perspektif hermeneutika Paul Ricoeur, mitos bekerja sebagai narasi simbolik yang menyimpan kebenaran eksistensial, bukan kebenaran faktual. Film Alas Roban membaca ulang mitos ini bukan untuk membuktikan benar-salahnya, melainkan untuk menyingkap maknanya: rasa takut sebagai mekanisme sosial, sebagai cara masyarakat Jawa mengajarkan kehati-hatian terhadap ruang yang dianggap sakral.

Ketika jumpscare muncul, ia tidak berdiri sendiri. Ia beresonansi dengan memori kolektif penonton. Inilah sebabnya adegan-adegan mengejutkan terasa “lebih kena”: karena ketakutan itu telah lama hidup sebelum film ini dibuat.

Sosok Gendis dan Tanda dari Alam Gaib

Kemunculan sosok Gendis yang diperankan oleh Fara Shakila menjadi titik balik emosional sekaligus simbolik film ini. Gendis bukan sekadar korban atau medium horor. Ia adalah penanda—tubuh manusia yang ditandai oleh kekuatan gaib Alas Roban.

Dalam mitologi Jawa, penandaan oleh makhluk halus sering kali bukan hukuman, melainkan penetapan takdir atau posisi. Individu yang “dipilih” berada di antara dua dunia. Film ini menangkap konsep tersebut dengan cukup sensitif, terutama melalui ritual masuk ke alam gaib yang ditampilkan dengan nuansa sakral, bukan sensasional.

Ritual tersebut dapat dibaca sebagai bentuk rite of passage—peralihan status dari manusia biasa menuju subjek yang memahami hukum alam lain. Dalam hermeneutika mitos, ritual bukan sekadar adegan, melainkan teks budaya yang mengajarkan bahwa tidak semua wilayah boleh dimasuki tanpa izin, tanpa etika, dan tanpa kesiapan batin.

Alas Roban sebagai Metafora Jalan Hidup

Lebih jauh, Alas Roban dalam film ini dapat dibaca sebagai metafora perjalanan hidup. Jalan panjang, gelap, penuh risiko, tetapi harus dilalui demi tujuan tertentu. Dalam konteks cerita, tujuan itu adalah keselamatan anak; dalam konteks penonton, ia adalah perjalanan hidup itu sendiri.

Mitologi Jawa memandang jalan bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang spiritual. Setiap perjalanan mengandung kemungkinan pertemuan—dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan yang tak kasatmata. Film Alas Roban berhasil menghidupkan kembali cara pandang ini, tanpa perlu ceramah atau simbol yang terlalu eksplisit.

Horor sebagai Tafsir Kebudayaan

Alas Roban (2026) bukan film horor yang hanya mengandalkan teriakan dan bayangan. Ia adalah teks budaya yang membuka kembali dialog tentang mitos, ingatan kolektif, dan cara orang Jawa memaknai ruang angker. Melalui pendekatan visual era 90-an, pewarnaan hangat, dan narasi relasi ibu–anak, film ini menghadirkan horor sebagai pengalaman hermeneutik: ketakutan yang ditafsirkan, bukan sekadar dirasakan.

Bagi penonton yang pernah melewati Alas Roban sebelum tol Trans Jawa, film ini terasa seperti cermin retak: kita melihat masa lalu, mitos, dan diri kita sendiri di dalamnya. Dan mungkin, di situlah letak horor paling dalam—bukan pada penunggu hutan, melainkan pada kesadaran bahwa ketakutan itu telah lama tinggal dalam ingatan kita. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmfilm hororhermeneutikajawa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

LONTAR-LONTAR BESAKIH: TAWUR KESANGA PADA HARI TILEM

Next Post

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca —Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Omong Kutang Kutang

Mendidik Sebuah Kota dengan Kebutuhan Membaca ---Soft launching Anima tokobuku di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co