23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Jaswanto by Jaswanto
January 16, 2026
in Ulas Film
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

Tangkapan layar drama China "Istriku Tiga, Takdirku Gila" dari YouTube

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh pemuda miskin (juga) di zaman Dinasti Kina. Pria muda itu digambarkan berkarakter spontan, licik, namun romantis, baik hati, dan komikal. Namanya Arsa Wira (diperankan oleh Xie Ze Cheng). Di zaman Dinasti Kina, ia harus menjalani takdir absurd: hidup di masa sulit dan harus menikahi tiga perempuan sekaligus―semuanya cantik, tentu saja. Tapi ia tidak khawatir, sebab ia dibekali sebuah sistem yang bisa membuatnya menjadi orang hebat―bahkan dapat menaklukkan para bandit gunung dan penguasa lalim yang ditakuti. Sistem ini akan semakin canggih ketika ketiga istri Arsa Wira merasa senang dan bahagia.

Tapi saya segera kecewa sebab kisah Arsa Wira terpotong begitu saja, nyaris semena-mena, pada saat yang paling krusial. Drama itu dipotong dengan begitu kejam oleh pengunggah dengan pengumuman “Tonton selengkapnya di DramaBox”. Karena itulah, tanpa sadar saya meluwangkan waktu untuk mencarinya di platform lain, YouTube, dengan kaca kunci “Istriku Tiga, Takdirku Gila”. Dan ketemu. Saya tonton drama itu sampai selesai. Ya, drama ketengan ini berjudul “Istriku Tiga, Takdirku Gila” atau My Wife, My Three Destinies Are Crazy.

Sejak saat itulah, linimasa saya “mulai terbawa arus”, dipenuhi oleh potongan-potongan drama pendek asal China. Formatnya ringkas dengan durasi singkat, alur cerita cepat, emosi yang langsung meledak sejak awal, serta akhir cerita yang kerap menggantung. Tema-tema seperti kisah cinta, konflik keluarga, hingga balas dendam dikemas sepadat mungkin agar penonton tidak sempat beralih perhatian.

Sebagaimana laporan Litbang Kompas (2025), dalam waktu relatif singkat, drama China yang populer disebut dracin menjelma menjadi tontonan massal lintas usia dan negara. Di TikTok, Instagram, hingga YouTube, dracin hadir bersisian dengan konten lokal, perlahan mengaburkan batas antara hiburan global dan rutinitas harian masyarakat Indonesia.

Platform gratis macam Dramabox―platform streaming yang menyediakan drama pendek dan film dalam berbagai genre, seperti romansa, fantasi, urban, dan aksi. DramaBox memungkinkan pengguna menikmati kisah-kisah yang intens dan emosional dalam format yang mudah diakses dan dipahami, bahkan oleh penonton dengan waktu luang yang terbatas―semakin membuat drama-drama ini nyaris seperti tak dapat dibendung.

Ya, drama China datang ke media sosial seperti rombongan pengantin: ramai, berisik, dan sulit ditolak. Potongan adegan dari Hidden Love, Love Between Fairy and Devil, Till The End of The Moon, The Untamed, sampai Love Like The Galaxy berseliweran di TikTok, Reels, dan beranda Facebook, disajikan dalam format yang sangat cocok untuk orang yang tak punya waktu, tapi punya rasa ingin tahu yang berlebihan. Satu klip berakhir di momen gantung, kita pun melakukan dosa kecil bernama “geser ke atas”. Begitu seterusnya, sampai lupa kalau air galon belum diisi atau makan malam untuk suami belum disajikan.

Saya merasa ada sesuatu yang sangat terencana bagaimana dracin ini menyusup. Mereka tidak meminta kita menonton satu episode penuh; mereka hanya butuh 60 detik pertama. Sisanya akan diurus oleh algoritma, makhluk tak kasatmata yang lebih tekun daripada guru BK dan lebih telaten daripada pasangan yang baru saja jadian. Kita mungkin merasa memilih, padahal yang memilih adalah layar. Kita merasa berdaulat, padahal yang berdaulat adalah For You Page.

Jika menengok sejarah, seperti yang disampaikan laporan Litbang Kompas (2025), dunia pernah menyaksikan Jepang menyebarkan pengaruh budayanya melalui konsep Cool Japan, disusul Korea Selatan dengan Korean Wave. Kini, China tampak memasuki arena yang sama, tetapi menempuh jalur berbeda. Alih-alih mengandalkan estetika visual atau kedalaman emosi, negeri Tirai Bambu itu memilih jalan algoritma. Dracin bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk baru diplomasi budaya yang tumbuh subur dalam ekosistem distribusi digital, di mana klik, tontonan, dan rekomendasi menjadi kekuatan yang nyaris tak terlihat.

Pertanyaannya, mengapa drama China dan bukan yang lain? Jawabannya barangkali karena dracin menawarkan dunia yang sangat rapi ketika dunia nyata terlalu berantakan. Dalam dracin, konflik selalu punya panggung yang indah. Bahkan penderitaan pun divideo dari sudut yang menawan. Orang miskin tetap tampan, orang kaya tetap sopan, dan kejahatan—betapapun liciknya—selalu punya jam tayang terbatas. Tidak seperti di dunia nyata, di mana penjahat sering mendapat perpanjangan kontrak.

Eskapisme dalam Mikrodrama China

Sebagaimana jamak diketahui, penonton drama vertikal memang menyukai cerita tentang takdir yang semula menyengsarakan, lalu berbalik arah melalui rangkaian peristiwa yang nyaris menyerupai keajaiban. Menurut penulis naskah drama vertikal yang menggunakan nama pena Camille Rao, seperti dikutip oleh Litbang Kompas (2025), kisah-kisah tersebut sering menampilkan tokoh dari kelas bawah yang tiba-tiba meloncat ke kelas atas. “Anda mendadak menjadi sangat kaya hingga bisa mencibir orang-orang yang dulu pernah mencibir Anda,” ujarnya.

Cerita semacam itu, menurut Xu Ting, dosen Sastra China di Universitas Jiangnan―yang dikutit Litbang Kompas (2025)―, memberi secercah harapan bagi masyarakat yang tengah tertekan oleh situasi ekonomi. Tak sedikit pula drama yang berkutat pada kehidupan keluarga superkaya dan para miliarder. “Semua orang ingin berkuasa dan kaya. Jadi wajar jika cerita seperti itu digemari banyak orang,” kata Xu.

Di titik inilah teori eskapisme menjadi tampak relevan. Eskapisme adalah kecenderungan atau perilaku manusia mencari pelarian dari kenyataan hidup sehari-hari yang membosankan, penuh tekanan, atau tidak menyenangkan, dengan cara membenamkan diri dalam aktivitas hiburan atau dunia khayalan, seperti bermain game, menonton film, berlama-lama dengan media sosial, yang bisa bersifat konstruktif (pelepas penat) atau destruktif (menghindari masalah secara berlebihan). Ini adalah mekanisme untuk mengatasi stres, tetapi jika berlebihan dapat menimbulkan masalah baru. 

Dalam pengertian paling sopan, eskapisme adalah hasrat manusia untuk lari dari dunia yang tak bisa ia perbaiki. Dan dalam pengertian yang lebih jujur, ia adalah pengakuan diam-diam bahwa kita sebenarnya sudah menyerah dalam banyak hal. Kita tidak lagi menuntut dunia menjadi masuk akal; kita hanya menuntut tontonan agar dunia terasa bisa ditunda. Dan dracin datang tepat waktu, seperti obat penenang yang dikemas dalam kostum dinasti dan musik latar yang menyayat-nyayat.

Dahulu orang melarikan diri ke gua, ke tuak, ke hobi, atau bahkan ke pengajian. Sekarang kita melarikan diri ke kerajaan fiksi yang bahkan tidak punya peta di Google Maps. Menonton Love Between Fairy and Devil atau Till The End of The Moon bukan semata-mata urusan cinta terlarang dan reinkarnasi; ia adalah cara paling halus untuk berkata: “Tolong, beri saya dunia yang tidak seperti ini, meskipun hanya 15 menit.”

Masalahnya, pelarian yang terlalu sering akan membuat kita lupa jalan pulang. Kita mulai hafal silsilah klan di The Untamed, tapi tidak hafal nama ketua RT sendiri. Kita tahu siapa yang pantas bersanding dengan siapa di Hidden Love, tapi tidak tahu siapa yang pantas memimpin kota kita sendiri. Dunia fiksi menjadi lebih masuk akal daripada dunia nyata.

Menurut saya, di titik ini, eskapisme bukan lagi sekadar rehat, melainkan cara baru untuk berdamai dengan kekalahan. Kita tidak mengubah hidup; kita mengganti latarnya. Kita tidak memperbaiki keadaan; kita memindahkan perasaan ke tubuh orang lain. Kita ikut bahagia ketika tokoh utama di Love Like The Galaxy akhirnya bersatu, seolah-olah itu prestasi kolektif, seolah-olah ada satu masalah nyata yang ikut selesai. Padahal tidak ada.

Drama China juga mengajarkan satu kebohongan yang sangat kita sukai: bahwa dunia pada dasarnya adil, hanya saja alurnya panjang dan berliku. Bahwa jika kau cukup sabar, kau akan menemukan siapa dirimu sebenarnya—biasanya bangsawan yang tertukar atau jenius yang disalahpahami. Ini narasi yang indah, dan sekaligus sangat politis: ia memindahkan harapan dari perubahan sistem ke ketekunan individu. Jika hidupmu buruk, itu bukan karena dunia tidak adil, tapi karena episodemu belum sampai klimaks.

Dari kacamata ini, jika Anda sadari, eskapisme bukan pelarian, tapi penjinakan. Ia membuat kita betah tinggal di kandang kenyataan yang sempit, asal diberi jendela ke pemandangan palsu. Kita tidak lagi membenci penjara, karena setiap malam kita bisa bermimpi jadi pangeran. Yang paling menyedihkan bukanlah kita kecanduan menonton dracin. Tapi banyak orang yang membutuhkannya untuk bertahan hidup secara emosional. Ini tanda bahwa dunia nyata sudah terlalu pelit memberi makna, terlalu kikir memberi harapan, dan terlalu sering memberi alasan untuk menyerah. Kita menertawakan orang yang percaya pada ramalan, tapi kita sendiri percaya pada alur cerita yang tak masuk akal.

Drama China bekerja seperti pabrik mimpi. Mereka memproduksi ketampanan, kecantikan, dan kesetiaan dalam jumlah massal. Semua terasa terukur: kapan penonton harus tersenyum, kapan harus menangis, kapan harus memaki ibu suri yang jahat dan menyebalkan. Bahkan air mata pun terasa seperti bagian dari kontrak. Ah, jika perasaan bisa dijadwalkan sepresisi ini, jangan-jangan kita memang sudah terlalu siap untuk diatur.

Namun saya tak bisa sepenuhnya menyalahkan penonton. Hidup kita memang sedang tidak ramah. Upah kecil, sulit mencari kerja, birokrasi pemerintah yang bobrok, para pemimpin yang lalim, dan masa depan sering terasa seperti sinopsis yang ditulis oleh orang yang kehabisan ide. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang tidak ingin menjadi rakyat jelata yang ternyata putri mahkota yang tertukar? Siapa yang tidak ingin percaya bahwa cinta—seperti dalam Love Like The Galaxy—bisa menyelesaikan persoalan yang bahkan negara saja gagal menyelesaikannya?

Pada kenyatannya, eskapisme tidak membuat masalah kita selesai, ia tidak menyembuhkan penyakit, hanya membuat kita berhenti berteriak. Dan dalam dunia yang seharusnya sering diteriaki, itu adalah kemenangan yang sangat sunyi bagi mereka yang diuntungkan oleh keadaan. Maka ketika saya melihat orang menggeser layar, dari satu kerajaan ke kerajaan lain, dari satu cinta terlarang ke cinta terkutuk berikutnya, saya tidak melihat orang yang sedang mencari hiburan. Saya melihat warga sebuah negeri yang sedang menyewa mimpi, karena membeli harapan sudah terlalu mahal.

Dan seperti semua barang sewaan, mimpi itu harus dikembalikan. Besok pagi. Tepat ketika kita kembali bekerja, kembali menonton para bandit-bandit yang menjadi pemimpin negara, kembali sadar bahwa kita hidup di Indonesia dan menjadi WNI. Tepat ketika kita kembali hidup di negeri yang tidak punya musik latar dramatik.[T]

Tags: dracinDramadrama china
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kita Butuh Uang, Tapi Uang Bukan Segalanya: Renungan Perayaan Foundation Day ke-36 di Anand Ashram Ubud

Next Post

Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails
Next Post
Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Pemberontakan Spiritual dan Luka Sejarah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co