24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
January 11, 2026
in Esai
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

PERGANTIAN tahun selalu membawa ruang jeda yang penting. Di dalamnya tersirat tentang waktu untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah dengan kesadaran baru. Dalam dunia pendidikan, tahun baru seharusnya tidak hanya dirayakan dengan target dan seremonial saja. Tahun baru selayaknya dimasuki melalui refleksi mendalam tentang relasi manusia, alam, dan pengetahuan. Apalagi saat ini ketika kehidupan kita kian terdesak, bukan hanya oleh krisis pangan, tetapi juga oleh tumpukan sampah yang terus meningkat.

Di Bali, refleksi ini sesungguhnya memiliki akar yang sangat kuat. Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi. Pertanian Bali merupakan bagian dari tatanan hidup yang menyatu dengan nilai spiritual dan sosial. Sistem subak yang telah diakui dunia, adalah bukti bahwa pengelolaan pangan di Bali sejak awal berdiri di atas keseimbangan sekala dan niskala, antara kerja manusia dan kehendak alam, antara teknis dan spiritualitas.

Namun di tengah perubahan zaman, pertanian perlahan menjauh dari ruang kesadaran generasi muda. Pertanian dikalahkan oleh gemerlap sektor lain. Pertanian seolah-olah tidak lagi relevan dengan kehidupan nyata. Padahal, dalam falsafah Bali, pertanian justru merupakan inti palemahan. Pertanian merupakanrelasi harmonis manusia dengan alam. Ketika palemahan rapuh, maka pawongan dan parhyangan pun ikut terguncang.

Pemerintah telah merespons situasi ini melalui berbagai program ketahanan pangan, pemanfaatan pekarangan, hingga pengendalian kerawanan pangan. Di saat yang sama, program pengelolaan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, bank sampah, dan ekonomi sirkular juga digalakkan sebagai jawaban atas krisis lingkungan yang kian mendesak. Namun tantangan terbesar bukan pada ketiadaan program, melainkan pada sejauh mana program-program tersebut berakar dalam budaya dan praktik keseharian masyarakat.

Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Dalam konteks Bali, pendidikan memiliki peluang besar untuk menjembatani kebijakan dengan kearifan lokal. Sekolah dapat menjadi ruang hidup nilai-nilai subak dalam skala kecil, yaitu kebun sekolah sebagai laboratorium palemahan, pengelolaan air yang adil, serta kerja kolektif yang menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Di sinilah pertanian kembali menjadi bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar materi ajar.

Lebih dari itu, tradisi Bali sesungguhnya telah lama mengenal konsep ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan melalui ruang-ruang rumah tangga. Teba—halaman belakang—bukan hanya tempat sisa, tetapi menjadi ruang produksi: ternak kecil, tanaman pangan, dan pengolahan limbah organik. Telajakan yang merupakanruang di depan rumah, adalah ruang hijau yang memperindah sekaligus menyejukkan lingkungan. Dua ruang ini kini banyak hilang, tergeser oleh beton dan gaya hidup instan. Padahal di sanalah pendidikan lingkungan dan pangan bisa tumbuh secara alami.

Isu sampah yang kini begitu masif sesungguhnya menandai terputusnya hubungan manusia dengan palemahan. Sampah organik yang dahulu kembali ke tanah kini bercampur dengan plastik dan residu tak terurai. Di sinilah, pendidikan dapat mengambil peran strategis dengan menghidupkan kembali praktik pengelolaan sampah berbasis rumah dan sekolah, dari memilah, mengomposkan, dan mengembalikan yang organik ke tanah. Dalam perspektif Bali, ini bukan sekadar teknis, melainkan upaya memulihkan keseimbangan sekala dan niskala.

Selain itu, konsep jaba–jero juga memberi pelajaran penting. Dalam tatanan tradisional Bali, jaba (luar) dan jero (dalam), bukan sekadar pembagian ruang fisik, melainkan sebagai simbol kesadaran etika dan spiritual. Ketika palemahan di jaba diabaikan—lingkungan kotor, sampah menumpuk—maka keharmonisan jero pun ikut terganggu. Pendidikan yang mengajarkan pertanian dan pengelolaan sampah sejatinya sedang menata ulang jaba, agar jero kehidupan tetap lestari.

Dalam konteks inilah, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak harus menjadi ahli subak atau pengelolaan lingkungan. Akan tetapi, guru perlu menyadari bahwa pertanian dan sampah adalah bahasa kehidupan yang dekat dengan budaya Bali. Dalam pembelajaran, guru bahasa dapat mengajak siswa menulis refleksi tentang teba dan telajakan. Guru sains mengkaji siklus kompos. Guru seni merekam estetika alam dan guru agama menautkannya dengan nilai keseimbangan sekala–niskala.

Persiapan Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Untuk itulah, tahun baru semestinya menjadi titik balik cara pandang. Pendidikan pertanian dan lingkungan perlu ditempatkan sebagai upaya merawat palemahan secara sadar dan berkelanjutan. Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika tanah ditinggalkan. Persoalan sampah tidak akan selesai jika pendidikan gagal menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah lama kita miliki.

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita kembali ke akar kebijaksanaan Bali: bahwa hidup adalah soal menjaga keseimbangan. Dari subak hingga telajakan, dari teba hingga jaba–jero, dari ruang kelas hingga pekarangan rumah—pendidikan memiliki peran kunci untuk menanam kembali kesadaran itu. Tahun baru bukan sekadar awal waktu, tetapi kesempatan untuk menata ulang hubungan kita dengan tanah, pangan, dan kehidupan itu sendiri. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: panganPendidikantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Next Post

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co