2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 11, 2026
in Ulas Musik
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

The Rolling Stones -- Indian Girl | Foto: Instagram

LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui figur seorang gadis pribumi yang kehilangan orang tua dan saudaranya akibat konflik di Nicaragua, lagu ini tidak hanya merekam tragedi personal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah besar bekerja secara kejam atas tubuh-tubuh yang paling tidak memiliki daya tawar.

Dalam kerangka feminisme dan poskolonialisme, kisah ini menjadi lebih dari sekadar narasi duka; ia menjelma sebagai kritik atas struktur kekuasaan global yang terus mereproduksi ketimpangan dan kekerasan. Dalam tradisi poskolonial, konflik bersenjata di negara-negara Dunia Ketiga jarang dipahami sebagai peristiwa otonom. Ia hampir selalu terhubung dengan warisan kolonialisme, intervensi asing, dan perebutan pengaruh ideologis global.

Nicaragua, seperti banyak negara Amerika Latin lainnya, adalah contoh bagaimana ruang pascakolonial sering dijadikan laboratorium kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan besar. Namun, dalam narasi resmi sejarah, yang sering muncul adalah aktor laki-laki: pemimpin revolusi, jenderal, atau negarawan. Indian Girl justru membalik perspektif itu dengan menempatkan perempuan pribumi sebagai pusat cerita.

Dari sudut pandang feminisme, pilihan ini sangat signifikan. Perempuan dalam situasi konflik hampir selalu mengalami kekerasan berlapis: sebagai warga sipil, sebagai kelompok termarginalkan, dan sebagai tubuh perempuan itu sendiri. Kehilangan orang tua dan saudara bukan hanya berarti kehilangan afeksi, tetapi juga hilangnya jaringan perlindungan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat yang masih patriarkal, perempuan yatim perang seringkali terperangkap dalam kerentanan ganda, rentan terhadap eksploitasi, kekerasan seksual, dan kemiskinan struktural.

Tubuh sang “Indian Girl” dalam lagu ini dapat dibaca sebagai medan tempat berbagai bentuk kekuasaan bertemu. Ia adalah tubuh pribumi, yang sejak era kolonial telah dikonstruksi sebagai “yang lain”, inferior, dan dapat dikorbankan. Ia juga tubuh perempuan, yang dalam banyak konflik diperlakukan bukan sebagai subjek politik, melainkan sebagai objek penderitaan. Dalam istilah Gayatri Chakravorty Spivak, pertanyaan klasik poskolonial “Can the subaltern speak?” menemukan gema tragisnya di sini. Gadis dalam lagu ini berbicara, tetapi suaranya datang melalui medium seni, bukan melalui institusi kekuasaan.

Lagu Indian Girl dengan demikian berfungsi sebagai ruang alternatif bagi suara subaltern. Ia tidak memberi solusi politik konkret, tetapi justru menunjukkan betapa sunyinya posisi mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Sang gadis tidak menuntut balas, tidak mengajukan manifesto. Ia hanya ada, dan keberadaannya itu sendiri adalah kritik. Dalam diamnya, tersimpan tuduhan paling keras terhadap sistem global yang membiarkan kekerasan terus berlangsung atas nama stabilitas dan ideologi.

                                                               ***

Feminisme kontemporer, terutama feminisme pascakolonial, menolak pemahaman universal tentang pengalaman perempuan. Lagu ini sejalan dengan kritik tersebut. Penderitaan sang gadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman perempuan di pusat dunia kapital global. Ia dibentuk oleh konteks lokal, sejarah kolonial, dan struktur ekonomi-politik yang timpang. Dengan demikian, Indian Girl menghindarkan kita dari jebakan sentimentalisme, dan mendorong pembacaan yang lebih politis terhadap empati.

Lebih jauh, lagu ini juga menyingkap bagaimana perang memproduksi feminitas yang rapuh secara struktural. Perempuan dipaksa menjadi penopang kehidupan di tengah kehancuran, sekaligus menjadi saksi bisu dari kekerasan yang tidak mereka kendalikan. Dalam banyak kasus, mereka juga dipaksa mewarisi trauma kolektif dan mentransmisikannya secara diam-diam kepada generasi berikutnya. Di sinilah tubuh perempuan menjadi arsip sejarah yang hidup, menyimpan ingatan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi negara.

Dalam sejarah Indonesia, perempuan kerap hadir dalam konflik bukan sebagai aktor politik yang diakui, melainkan sebagai tubuh yang menanggung akibat. Dari masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga konflik-konflik pascakemerdekaan, pengalaman perempuan sering kali direduksi menjadi catatan pinggir, jika tidak dihapus sama sekali. Seperti gadis dalam Indian Girl, banyak perempuan Indonesia kehilangan ayah, ibu, saudara, bahkan identitas sosial mereka, bukan karena pilihan, melainkan karena berada di persimpangan sejarah yang kejam.

Tragedi 1965–1966 adalah salah satu contoh paling gamblang. Perempuan yang dituduh memiliki afiliasi politik tertentu mengalami penahanan, pengucilan, dan kekerasan seksual yang sistematis. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan suara. Negara membungkam pengalaman mereka demi stabilitas narasi resmi. Dalam konteks ini, pertanyaan Spivak tentang “Can the subaltern speak?” menemukan jawabannya yang pahit: perempuan memang berbicara, tetapi suaranya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Konflik bersenjata di Aceh dan Papua juga menunjukkan pola serupa. Perempuan menjadi korban pengungsian, kekerasan struktural, dan kemiskinan yang diproduksi oleh konflik berkepanjangan. Mereka seringkali memikul peran ganda: sebagai ibu, sebagai pencari nafkah, sekaligus sebagai penjaga ingatan keluarga. Namun peran ini jarang diakui dalam narasi besar rekonsiliasi atau pembangunan. Seperti Indian Girl, mereka hidup di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, tanpa jaminan bahwa penderitaan mereka akan pernah diakui secara adil.

Dalam konteks global hari ini, pesan Indian Girl tetap relevan. Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, dan perempuan tetap menjadi korban yang paling rentan sekaligus paling tidak terdengar. Lagu ini mengingatkan bahwa selama struktur kolonial dan patriarkal belum benar-benar dibongkar, perang akan terus menemukan tubuh-tubuh yang dapat dikorbankan.

 Indian Girl bukan hanya lagu tentang duka, tetapi tentang ketimpangan suara. Ia menantang pendengar untuk mendengar dari posisi yang tidak nyaman: dari pinggir, dari tubuh perempuan pribumi, dari mereka yang tidak memiliki bahasa politik untuk menuntut keadilan. Dalam dunia yang masih memuja kekuasaan dan kemenangan, lagu ini mengajukan pertanyaan etis yang mendasar: sejarah siapa yang kita dengarkan, dan tubuh siapa yang kita biarkan hancur demi narasi besar tentang kemajuan? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: feminismemusikmusik baratposkolonialismeThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Next Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan 'Palemahan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co