14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 11, 2026
in Ulas Musik
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

The Rolling Stones -- Indian Girl | Foto: Instagram

LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui figur seorang gadis pribumi yang kehilangan orang tua dan saudaranya akibat konflik di Nicaragua, lagu ini tidak hanya merekam tragedi personal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah besar bekerja secara kejam atas tubuh-tubuh yang paling tidak memiliki daya tawar.

Dalam kerangka feminisme dan poskolonialisme, kisah ini menjadi lebih dari sekadar narasi duka; ia menjelma sebagai kritik atas struktur kekuasaan global yang terus mereproduksi ketimpangan dan kekerasan. Dalam tradisi poskolonial, konflik bersenjata di negara-negara Dunia Ketiga jarang dipahami sebagai peristiwa otonom. Ia hampir selalu terhubung dengan warisan kolonialisme, intervensi asing, dan perebutan pengaruh ideologis global.

Nicaragua, seperti banyak negara Amerika Latin lainnya, adalah contoh bagaimana ruang pascakolonial sering dijadikan laboratorium kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan besar. Namun, dalam narasi resmi sejarah, yang sering muncul adalah aktor laki-laki: pemimpin revolusi, jenderal, atau negarawan. Indian Girl justru membalik perspektif itu dengan menempatkan perempuan pribumi sebagai pusat cerita.

Dari sudut pandang feminisme, pilihan ini sangat signifikan. Perempuan dalam situasi konflik hampir selalu mengalami kekerasan berlapis: sebagai warga sipil, sebagai kelompok termarginalkan, dan sebagai tubuh perempuan itu sendiri. Kehilangan orang tua dan saudara bukan hanya berarti kehilangan afeksi, tetapi juga hilangnya jaringan perlindungan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat yang masih patriarkal, perempuan yatim perang seringkali terperangkap dalam kerentanan ganda, rentan terhadap eksploitasi, kekerasan seksual, dan kemiskinan struktural.

Tubuh sang “Indian Girl” dalam lagu ini dapat dibaca sebagai medan tempat berbagai bentuk kekuasaan bertemu. Ia adalah tubuh pribumi, yang sejak era kolonial telah dikonstruksi sebagai “yang lain”, inferior, dan dapat dikorbankan. Ia juga tubuh perempuan, yang dalam banyak konflik diperlakukan bukan sebagai subjek politik, melainkan sebagai objek penderitaan. Dalam istilah Gayatri Chakravorty Spivak, pertanyaan klasik poskolonial “Can the subaltern speak?” menemukan gema tragisnya di sini. Gadis dalam lagu ini berbicara, tetapi suaranya datang melalui medium seni, bukan melalui institusi kekuasaan.

Lagu Indian Girl dengan demikian berfungsi sebagai ruang alternatif bagi suara subaltern. Ia tidak memberi solusi politik konkret, tetapi justru menunjukkan betapa sunyinya posisi mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Sang gadis tidak menuntut balas, tidak mengajukan manifesto. Ia hanya ada, dan keberadaannya itu sendiri adalah kritik. Dalam diamnya, tersimpan tuduhan paling keras terhadap sistem global yang membiarkan kekerasan terus berlangsung atas nama stabilitas dan ideologi.

                                                               ***

Feminisme kontemporer, terutama feminisme pascakolonial, menolak pemahaman universal tentang pengalaman perempuan. Lagu ini sejalan dengan kritik tersebut. Penderitaan sang gadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman perempuan di pusat dunia kapital global. Ia dibentuk oleh konteks lokal, sejarah kolonial, dan struktur ekonomi-politik yang timpang. Dengan demikian, Indian Girl menghindarkan kita dari jebakan sentimentalisme, dan mendorong pembacaan yang lebih politis terhadap empati.

Lebih jauh, lagu ini juga menyingkap bagaimana perang memproduksi feminitas yang rapuh secara struktural. Perempuan dipaksa menjadi penopang kehidupan di tengah kehancuran, sekaligus menjadi saksi bisu dari kekerasan yang tidak mereka kendalikan. Dalam banyak kasus, mereka juga dipaksa mewarisi trauma kolektif dan mentransmisikannya secara diam-diam kepada generasi berikutnya. Di sinilah tubuh perempuan menjadi arsip sejarah yang hidup, menyimpan ingatan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi negara.

Dalam sejarah Indonesia, perempuan kerap hadir dalam konflik bukan sebagai aktor politik yang diakui, melainkan sebagai tubuh yang menanggung akibat. Dari masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga konflik-konflik pascakemerdekaan, pengalaman perempuan sering kali direduksi menjadi catatan pinggir, jika tidak dihapus sama sekali. Seperti gadis dalam Indian Girl, banyak perempuan Indonesia kehilangan ayah, ibu, saudara, bahkan identitas sosial mereka, bukan karena pilihan, melainkan karena berada di persimpangan sejarah yang kejam.

Tragedi 1965–1966 adalah salah satu contoh paling gamblang. Perempuan yang dituduh memiliki afiliasi politik tertentu mengalami penahanan, pengucilan, dan kekerasan seksual yang sistematis. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan suara. Negara membungkam pengalaman mereka demi stabilitas narasi resmi. Dalam konteks ini, pertanyaan Spivak tentang “Can the subaltern speak?” menemukan jawabannya yang pahit: perempuan memang berbicara, tetapi suaranya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Konflik bersenjata di Aceh dan Papua juga menunjukkan pola serupa. Perempuan menjadi korban pengungsian, kekerasan struktural, dan kemiskinan yang diproduksi oleh konflik berkepanjangan. Mereka seringkali memikul peran ganda: sebagai ibu, sebagai pencari nafkah, sekaligus sebagai penjaga ingatan keluarga. Namun peran ini jarang diakui dalam narasi besar rekonsiliasi atau pembangunan. Seperti Indian Girl, mereka hidup di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, tanpa jaminan bahwa penderitaan mereka akan pernah diakui secara adil.

Dalam konteks global hari ini, pesan Indian Girl tetap relevan. Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, dan perempuan tetap menjadi korban yang paling rentan sekaligus paling tidak terdengar. Lagu ini mengingatkan bahwa selama struktur kolonial dan patriarkal belum benar-benar dibongkar, perang akan terus menemukan tubuh-tubuh yang dapat dikorbankan.

 Indian Girl bukan hanya lagu tentang duka, tetapi tentang ketimpangan suara. Ia menantang pendengar untuk mendengar dari posisi yang tidak nyaman: dari pinggir, dari tubuh perempuan pribumi, dari mereka yang tidak memiliki bahasa politik untuk menuntut keadilan. Dalam dunia yang masih memuja kekuasaan dan kemenangan, lagu ini mengajukan pertanyaan etis yang mendasar: sejarah siapa yang kita dengarkan, dan tubuh siapa yang kita biarkan hancur demi narasi besar tentang kemajuan? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: feminismemusikmusik baratposkolonialismeThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Next Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan 'Palemahan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co