23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 11, 2026
in Ulas Musik
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

The Rolling Stones -- Indian Girl | Foto: Instagram

LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui figur seorang gadis pribumi yang kehilangan orang tua dan saudaranya akibat konflik di Nicaragua, lagu ini tidak hanya merekam tragedi personal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah besar bekerja secara kejam atas tubuh-tubuh yang paling tidak memiliki daya tawar.

Dalam kerangka feminisme dan poskolonialisme, kisah ini menjadi lebih dari sekadar narasi duka; ia menjelma sebagai kritik atas struktur kekuasaan global yang terus mereproduksi ketimpangan dan kekerasan. Dalam tradisi poskolonial, konflik bersenjata di negara-negara Dunia Ketiga jarang dipahami sebagai peristiwa otonom. Ia hampir selalu terhubung dengan warisan kolonialisme, intervensi asing, dan perebutan pengaruh ideologis global.

Nicaragua, seperti banyak negara Amerika Latin lainnya, adalah contoh bagaimana ruang pascakolonial sering dijadikan laboratorium kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan besar. Namun, dalam narasi resmi sejarah, yang sering muncul adalah aktor laki-laki: pemimpin revolusi, jenderal, atau negarawan. Indian Girl justru membalik perspektif itu dengan menempatkan perempuan pribumi sebagai pusat cerita.

Dari sudut pandang feminisme, pilihan ini sangat signifikan. Perempuan dalam situasi konflik hampir selalu mengalami kekerasan berlapis: sebagai warga sipil, sebagai kelompok termarginalkan, dan sebagai tubuh perempuan itu sendiri. Kehilangan orang tua dan saudara bukan hanya berarti kehilangan afeksi, tetapi juga hilangnya jaringan perlindungan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat yang masih patriarkal, perempuan yatim perang seringkali terperangkap dalam kerentanan ganda, rentan terhadap eksploitasi, kekerasan seksual, dan kemiskinan struktural.

Tubuh sang “Indian Girl” dalam lagu ini dapat dibaca sebagai medan tempat berbagai bentuk kekuasaan bertemu. Ia adalah tubuh pribumi, yang sejak era kolonial telah dikonstruksi sebagai “yang lain”, inferior, dan dapat dikorbankan. Ia juga tubuh perempuan, yang dalam banyak konflik diperlakukan bukan sebagai subjek politik, melainkan sebagai objek penderitaan. Dalam istilah Gayatri Chakravorty Spivak, pertanyaan klasik poskolonial “Can the subaltern speak?” menemukan gema tragisnya di sini. Gadis dalam lagu ini berbicara, tetapi suaranya datang melalui medium seni, bukan melalui institusi kekuasaan.

Lagu Indian Girl dengan demikian berfungsi sebagai ruang alternatif bagi suara subaltern. Ia tidak memberi solusi politik konkret, tetapi justru menunjukkan betapa sunyinya posisi mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Sang gadis tidak menuntut balas, tidak mengajukan manifesto. Ia hanya ada, dan keberadaannya itu sendiri adalah kritik. Dalam diamnya, tersimpan tuduhan paling keras terhadap sistem global yang membiarkan kekerasan terus berlangsung atas nama stabilitas dan ideologi.

                                                               ***

Feminisme kontemporer, terutama feminisme pascakolonial, menolak pemahaman universal tentang pengalaman perempuan. Lagu ini sejalan dengan kritik tersebut. Penderitaan sang gadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman perempuan di pusat dunia kapital global. Ia dibentuk oleh konteks lokal, sejarah kolonial, dan struktur ekonomi-politik yang timpang. Dengan demikian, Indian Girl menghindarkan kita dari jebakan sentimentalisme, dan mendorong pembacaan yang lebih politis terhadap empati.

Lebih jauh, lagu ini juga menyingkap bagaimana perang memproduksi feminitas yang rapuh secara struktural. Perempuan dipaksa menjadi penopang kehidupan di tengah kehancuran, sekaligus menjadi saksi bisu dari kekerasan yang tidak mereka kendalikan. Dalam banyak kasus, mereka juga dipaksa mewarisi trauma kolektif dan mentransmisikannya secara diam-diam kepada generasi berikutnya. Di sinilah tubuh perempuan menjadi arsip sejarah yang hidup, menyimpan ingatan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi negara.

Dalam sejarah Indonesia, perempuan kerap hadir dalam konflik bukan sebagai aktor politik yang diakui, melainkan sebagai tubuh yang menanggung akibat. Dari masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga konflik-konflik pascakemerdekaan, pengalaman perempuan sering kali direduksi menjadi catatan pinggir, jika tidak dihapus sama sekali. Seperti gadis dalam Indian Girl, banyak perempuan Indonesia kehilangan ayah, ibu, saudara, bahkan identitas sosial mereka, bukan karena pilihan, melainkan karena berada di persimpangan sejarah yang kejam.

Tragedi 1965–1966 adalah salah satu contoh paling gamblang. Perempuan yang dituduh memiliki afiliasi politik tertentu mengalami penahanan, pengucilan, dan kekerasan seksual yang sistematis. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan suara. Negara membungkam pengalaman mereka demi stabilitas narasi resmi. Dalam konteks ini, pertanyaan Spivak tentang “Can the subaltern speak?” menemukan jawabannya yang pahit: perempuan memang berbicara, tetapi suaranya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Konflik bersenjata di Aceh dan Papua juga menunjukkan pola serupa. Perempuan menjadi korban pengungsian, kekerasan struktural, dan kemiskinan yang diproduksi oleh konflik berkepanjangan. Mereka seringkali memikul peran ganda: sebagai ibu, sebagai pencari nafkah, sekaligus sebagai penjaga ingatan keluarga. Namun peran ini jarang diakui dalam narasi besar rekonsiliasi atau pembangunan. Seperti Indian Girl, mereka hidup di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, tanpa jaminan bahwa penderitaan mereka akan pernah diakui secara adil.

Dalam konteks global hari ini, pesan Indian Girl tetap relevan. Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, dan perempuan tetap menjadi korban yang paling rentan sekaligus paling tidak terdengar. Lagu ini mengingatkan bahwa selama struktur kolonial dan patriarkal belum benar-benar dibongkar, perang akan terus menemukan tubuh-tubuh yang dapat dikorbankan.

 Indian Girl bukan hanya lagu tentang duka, tetapi tentang ketimpangan suara. Ia menantang pendengar untuk mendengar dari posisi yang tidak nyaman: dari pinggir, dari tubuh perempuan pribumi, dari mereka yang tidak memiliki bahasa politik untuk menuntut keadilan. Dalam dunia yang masih memuja kekuasaan dan kemenangan, lagu ini mengajukan pertanyaan etis yang mendasar: sejarah siapa yang kita dengarkan, dan tubuh siapa yang kita biarkan hancur demi narasi besar tentang kemajuan? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: feminismemusikmusik baratposkolonialismeThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Next Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan 'Palemahan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co