23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 11, 2026
in Ulas Musik
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

The Rolling Stones -- Indian Girl | Foto: Instagram

LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui figur seorang gadis pribumi yang kehilangan orang tua dan saudaranya akibat konflik di Nicaragua, lagu ini tidak hanya merekam tragedi personal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah besar bekerja secara kejam atas tubuh-tubuh yang paling tidak memiliki daya tawar.

Dalam kerangka feminisme dan poskolonialisme, kisah ini menjadi lebih dari sekadar narasi duka; ia menjelma sebagai kritik atas struktur kekuasaan global yang terus mereproduksi ketimpangan dan kekerasan. Dalam tradisi poskolonial, konflik bersenjata di negara-negara Dunia Ketiga jarang dipahami sebagai peristiwa otonom. Ia hampir selalu terhubung dengan warisan kolonialisme, intervensi asing, dan perebutan pengaruh ideologis global.

Nicaragua, seperti banyak negara Amerika Latin lainnya, adalah contoh bagaimana ruang pascakolonial sering dijadikan laboratorium kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan besar. Namun, dalam narasi resmi sejarah, yang sering muncul adalah aktor laki-laki: pemimpin revolusi, jenderal, atau negarawan. Indian Girl justru membalik perspektif itu dengan menempatkan perempuan pribumi sebagai pusat cerita.

Dari sudut pandang feminisme, pilihan ini sangat signifikan. Perempuan dalam situasi konflik hampir selalu mengalami kekerasan berlapis: sebagai warga sipil, sebagai kelompok termarginalkan, dan sebagai tubuh perempuan itu sendiri. Kehilangan orang tua dan saudara bukan hanya berarti kehilangan afeksi, tetapi juga hilangnya jaringan perlindungan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat yang masih patriarkal, perempuan yatim perang seringkali terperangkap dalam kerentanan ganda, rentan terhadap eksploitasi, kekerasan seksual, dan kemiskinan struktural.

Tubuh sang “Indian Girl” dalam lagu ini dapat dibaca sebagai medan tempat berbagai bentuk kekuasaan bertemu. Ia adalah tubuh pribumi, yang sejak era kolonial telah dikonstruksi sebagai “yang lain”, inferior, dan dapat dikorbankan. Ia juga tubuh perempuan, yang dalam banyak konflik diperlakukan bukan sebagai subjek politik, melainkan sebagai objek penderitaan. Dalam istilah Gayatri Chakravorty Spivak, pertanyaan klasik poskolonial “Can the subaltern speak?” menemukan gema tragisnya di sini. Gadis dalam lagu ini berbicara, tetapi suaranya datang melalui medium seni, bukan melalui institusi kekuasaan.

Lagu Indian Girl dengan demikian berfungsi sebagai ruang alternatif bagi suara subaltern. Ia tidak memberi solusi politik konkret, tetapi justru menunjukkan betapa sunyinya posisi mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Sang gadis tidak menuntut balas, tidak mengajukan manifesto. Ia hanya ada, dan keberadaannya itu sendiri adalah kritik. Dalam diamnya, tersimpan tuduhan paling keras terhadap sistem global yang membiarkan kekerasan terus berlangsung atas nama stabilitas dan ideologi.

                                                               ***

Feminisme kontemporer, terutama feminisme pascakolonial, menolak pemahaman universal tentang pengalaman perempuan. Lagu ini sejalan dengan kritik tersebut. Penderitaan sang gadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman perempuan di pusat dunia kapital global. Ia dibentuk oleh konteks lokal, sejarah kolonial, dan struktur ekonomi-politik yang timpang. Dengan demikian, Indian Girl menghindarkan kita dari jebakan sentimentalisme, dan mendorong pembacaan yang lebih politis terhadap empati.

Lebih jauh, lagu ini juga menyingkap bagaimana perang memproduksi feminitas yang rapuh secara struktural. Perempuan dipaksa menjadi penopang kehidupan di tengah kehancuran, sekaligus menjadi saksi bisu dari kekerasan yang tidak mereka kendalikan. Dalam banyak kasus, mereka juga dipaksa mewarisi trauma kolektif dan mentransmisikannya secara diam-diam kepada generasi berikutnya. Di sinilah tubuh perempuan menjadi arsip sejarah yang hidup, menyimpan ingatan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi negara.

Dalam sejarah Indonesia, perempuan kerap hadir dalam konflik bukan sebagai aktor politik yang diakui, melainkan sebagai tubuh yang menanggung akibat. Dari masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga konflik-konflik pascakemerdekaan, pengalaman perempuan sering kali direduksi menjadi catatan pinggir, jika tidak dihapus sama sekali. Seperti gadis dalam Indian Girl, banyak perempuan Indonesia kehilangan ayah, ibu, saudara, bahkan identitas sosial mereka, bukan karena pilihan, melainkan karena berada di persimpangan sejarah yang kejam.

Tragedi 1965–1966 adalah salah satu contoh paling gamblang. Perempuan yang dituduh memiliki afiliasi politik tertentu mengalami penahanan, pengucilan, dan kekerasan seksual yang sistematis. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan suara. Negara membungkam pengalaman mereka demi stabilitas narasi resmi. Dalam konteks ini, pertanyaan Spivak tentang “Can the subaltern speak?” menemukan jawabannya yang pahit: perempuan memang berbicara, tetapi suaranya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Konflik bersenjata di Aceh dan Papua juga menunjukkan pola serupa. Perempuan menjadi korban pengungsian, kekerasan struktural, dan kemiskinan yang diproduksi oleh konflik berkepanjangan. Mereka seringkali memikul peran ganda: sebagai ibu, sebagai pencari nafkah, sekaligus sebagai penjaga ingatan keluarga. Namun peran ini jarang diakui dalam narasi besar rekonsiliasi atau pembangunan. Seperti Indian Girl, mereka hidup di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, tanpa jaminan bahwa penderitaan mereka akan pernah diakui secara adil.

Dalam konteks global hari ini, pesan Indian Girl tetap relevan. Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, dan perempuan tetap menjadi korban yang paling rentan sekaligus paling tidak terdengar. Lagu ini mengingatkan bahwa selama struktur kolonial dan patriarkal belum benar-benar dibongkar, perang akan terus menemukan tubuh-tubuh yang dapat dikorbankan.

 Indian Girl bukan hanya lagu tentang duka, tetapi tentang ketimpangan suara. Ia menantang pendengar untuk mendengar dari posisi yang tidak nyaman: dari pinggir, dari tubuh perempuan pribumi, dari mereka yang tidak memiliki bahasa politik untuk menuntut keadilan. Dalam dunia yang masih memuja kekuasaan dan kemenangan, lagu ini mengajukan pertanyaan etis yang mendasar: sejarah siapa yang kita dengarkan, dan tubuh siapa yang kita biarkan hancur demi narasi besar tentang kemajuan? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: feminismemusikmusik baratposkolonialismeThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Next Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan 'Palemahan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co