2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 11, 2026
in Ulas Musik
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

The Rolling Stones -- Indian Girl | Foto: Instagram

LAGU “Indian Girl” karya The Rolling Stones dapat dibaca sebagai sebuah teks kultural yang menyingkap irisan paling rapuh antara perang, kolonialisme, dan tubuh perempuan. Melalui figur seorang gadis pribumi yang kehilangan orang tua dan saudaranya akibat konflik di Nicaragua, lagu ini tidak hanya merekam tragedi personal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah besar bekerja secara kejam atas tubuh-tubuh yang paling tidak memiliki daya tawar.

Dalam kerangka feminisme dan poskolonialisme, kisah ini menjadi lebih dari sekadar narasi duka; ia menjelma sebagai kritik atas struktur kekuasaan global yang terus mereproduksi ketimpangan dan kekerasan. Dalam tradisi poskolonial, konflik bersenjata di negara-negara Dunia Ketiga jarang dipahami sebagai peristiwa otonom. Ia hampir selalu terhubung dengan warisan kolonialisme, intervensi asing, dan perebutan pengaruh ideologis global.

Nicaragua, seperti banyak negara Amerika Latin lainnya, adalah contoh bagaimana ruang pascakolonial sering dijadikan laboratorium kekuasaan oleh kekuatan-kekuatan besar. Namun, dalam narasi resmi sejarah, yang sering muncul adalah aktor laki-laki: pemimpin revolusi, jenderal, atau negarawan. Indian Girl justru membalik perspektif itu dengan menempatkan perempuan pribumi sebagai pusat cerita.

Dari sudut pandang feminisme, pilihan ini sangat signifikan. Perempuan dalam situasi konflik hampir selalu mengalami kekerasan berlapis: sebagai warga sipil, sebagai kelompok termarginalkan, dan sebagai tubuh perempuan itu sendiri. Kehilangan orang tua dan saudara bukan hanya berarti kehilangan afeksi, tetapi juga hilangnya jaringan perlindungan sosial dan ekonomi. Dalam masyarakat yang masih patriarkal, perempuan yatim perang seringkali terperangkap dalam kerentanan ganda, rentan terhadap eksploitasi, kekerasan seksual, dan kemiskinan struktural.

Tubuh sang “Indian Girl” dalam lagu ini dapat dibaca sebagai medan tempat berbagai bentuk kekuasaan bertemu. Ia adalah tubuh pribumi, yang sejak era kolonial telah dikonstruksi sebagai “yang lain”, inferior, dan dapat dikorbankan. Ia juga tubuh perempuan, yang dalam banyak konflik diperlakukan bukan sebagai subjek politik, melainkan sebagai objek penderitaan. Dalam istilah Gayatri Chakravorty Spivak, pertanyaan klasik poskolonial “Can the subaltern speak?” menemukan gema tragisnya di sini. Gadis dalam lagu ini berbicara, tetapi suaranya datang melalui medium seni, bukan melalui institusi kekuasaan.

Lagu Indian Girl dengan demikian berfungsi sebagai ruang alternatif bagi suara subaltern. Ia tidak memberi solusi politik konkret, tetapi justru menunjukkan betapa sunyinya posisi mereka yang hidup di pinggiran sejarah. Sang gadis tidak menuntut balas, tidak mengajukan manifesto. Ia hanya ada, dan keberadaannya itu sendiri adalah kritik. Dalam diamnya, tersimpan tuduhan paling keras terhadap sistem global yang membiarkan kekerasan terus berlangsung atas nama stabilitas dan ideologi.

                                                               ***

Feminisme kontemporer, terutama feminisme pascakolonial, menolak pemahaman universal tentang pengalaman perempuan. Lagu ini sejalan dengan kritik tersebut. Penderitaan sang gadis tidak dapat disamakan begitu saja dengan pengalaman perempuan di pusat dunia kapital global. Ia dibentuk oleh konteks lokal, sejarah kolonial, dan struktur ekonomi-politik yang timpang. Dengan demikian, Indian Girl menghindarkan kita dari jebakan sentimentalisme, dan mendorong pembacaan yang lebih politis terhadap empati.

Lebih jauh, lagu ini juga menyingkap bagaimana perang memproduksi feminitas yang rapuh secara struktural. Perempuan dipaksa menjadi penopang kehidupan di tengah kehancuran, sekaligus menjadi saksi bisu dari kekerasan yang tidak mereka kendalikan. Dalam banyak kasus, mereka juga dipaksa mewarisi trauma kolektif dan mentransmisikannya secara diam-diam kepada generasi berikutnya. Di sinilah tubuh perempuan menjadi arsip sejarah yang hidup, menyimpan ingatan yang tidak pernah dicatat dalam dokumen resmi negara.

Dalam sejarah Indonesia, perempuan kerap hadir dalam konflik bukan sebagai aktor politik yang diakui, melainkan sebagai tubuh yang menanggung akibat. Dari masa kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga konflik-konflik pascakemerdekaan, pengalaman perempuan sering kali direduksi menjadi catatan pinggir, jika tidak dihapus sama sekali. Seperti gadis dalam Indian Girl, banyak perempuan Indonesia kehilangan ayah, ibu, saudara, bahkan identitas sosial mereka, bukan karena pilihan, melainkan karena berada di persimpangan sejarah yang kejam.

Tragedi 1965–1966 adalah salah satu contoh paling gamblang. Perempuan yang dituduh memiliki afiliasi politik tertentu mengalami penahanan, pengucilan, dan kekerasan seksual yang sistematis. Mereka bukan hanya kehilangan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan suara. Negara membungkam pengalaman mereka demi stabilitas narasi resmi. Dalam konteks ini, pertanyaan Spivak tentang “Can the subaltern speak?” menemukan jawabannya yang pahit: perempuan memang berbicara, tetapi suaranya tidak dianggap sebagai kebenaran.

Konflik bersenjata di Aceh dan Papua juga menunjukkan pola serupa. Perempuan menjadi korban pengungsian, kekerasan struktural, dan kemiskinan yang diproduksi oleh konflik berkepanjangan. Mereka seringkali memikul peran ganda: sebagai ibu, sebagai pencari nafkah, sekaligus sebagai penjaga ingatan keluarga. Namun peran ini jarang diakui dalam narasi besar rekonsiliasi atau pembangunan. Seperti Indian Girl, mereka hidup di antara trauma masa lalu dan ketidakpastian masa depan, tanpa jaminan bahwa penderitaan mereka akan pernah diakui secara adil.

Dalam konteks global hari ini, pesan Indian Girl tetap relevan. Konflik bersenjata masih berlangsung di berbagai belahan dunia, dan perempuan tetap menjadi korban yang paling rentan sekaligus paling tidak terdengar. Lagu ini mengingatkan bahwa selama struktur kolonial dan patriarkal belum benar-benar dibongkar, perang akan terus menemukan tubuh-tubuh yang dapat dikorbankan.

 Indian Girl bukan hanya lagu tentang duka, tetapi tentang ketimpangan suara. Ia menantang pendengar untuk mendengar dari posisi yang tidak nyaman: dari pinggir, dari tubuh perempuan pribumi, dari mereka yang tidak memiliki bahasa politik untuk menuntut keadilan. Dalam dunia yang masih memuja kekuasaan dan kemenangan, lagu ini mengajukan pertanyaan etis yang mendasar: sejarah siapa yang kita dengarkan, dan tubuh siapa yang kita biarkan hancur demi narasi besar tentang kemajuan? [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: feminismemusikmusik baratposkolonialismeThe Rolling Stonesulasan laguulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Next Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan 'Palemahan'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co