2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Eddy Pranata PNP by Eddy Pranata PNP
January 11, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Penulis: Eddy Pranata PNP

SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT

ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair…
sampai sekarang aku masih bertarung… aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu…”

Cirebah, 16 Juni 2025

DARI PINGGIR JEMBATAN

dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: “au, hidup alangkah menyenangkan!”

Cirebah, 11 Juni 2025

SEMUT YANG TERUS MERAYAP

kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap
di tabir kebaikan.

Cirebah, 10 Juni 2025

PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG

teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.

di teluk ini– semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : “seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!”
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.

Cirebah, 1 Juni 2025

BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN

langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.

Cirebah, 24 Mei 2025

SELUKA WAKTU

yang ngilu selain cemburu dan rindu– usia menakar cinta
: “aku ingin terus bersamamu,” bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; “ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!” au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta– kesetiaan mengukur cahaya
: “sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!” seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.

Cirebah, 12 Mei 2025

BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN

seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela– aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!

Cirebah, 10 Mei 2025

AKU MENJELMA DEBUR OMBAK

aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: “aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!”

Cirebah, 10 Mei 2025

RUMAH KAYU DI ATAS BUKIT

Kau tahu setelah berkali-kali kunikmati sayat sembilu? Aku
menjelma tebing karang. Dan laut memelukku penuh duka.
Aku ingin tidak jatuh cinta lagi. Berperahu sendiri. Melewati
ombak. Membelah-belah selat. Dengan ikhlas. Jika malam,
aku berpeluk cahaya mercusuar. Saling bisik tentang kesetiaan.
Entah suara siapa bergetar-getar di antara deru angin. Atau
hanya halusinasi.
: “Dan bagaimana jika aku membayangkan di rumah kayu di
atas bukit, aku menemanimu menulis puisi, memeluk dari
belakang sambil melihat ke luar, ke arah balkon dengan
pemandangan pohon-pohon berbalut kabut?”

Akh, rumah kayu atas bukit. Di halaman ingin tanam mawar.
Bukan edelweis. Karena apa? Sorot matamu berbinar-binar.
: “Edelweis sangatlah klise. Aku mau mawar yang tumbuh dan
setiap kelopak gugur, segera muncul kuncup-kuncup. Lalu
mekar. Bukankah ini lebih realistis? Lebih serupa cinta kita?”

Seberapa lama engkau mengendus tebing karang? Yang berdiri
di selat laut-sunyiku. Kukira ruang dan waktu tidak perlu
dipertengkarkan. Bukankah cinta dan hidup ini anugrah?
Serupa puisi…
: “Tapi aku mau tidak dibanding-,bandingkan. Setiap makhluk
punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini sekerat hati,
sekerat jantung belum sempurna kering luka!”

Mawar. Rumah kayu. Halaman. Tebing karang. Laut. Sembilu. Puisi!

Cirebah, 4 Maret 2025

SELASAR DALAM DIRI

aku ingin menjelma pengembara yang diam-diam menyingkirkan
duri di tengah jalan kecil di sebuah kampung yang diam-diam
membantu kesulitan orang lain seraya menyembunyikan sebelah
tangan dan serta-merta mengulurkan hati kepada kondisi pahit getir
di sekitar: “ini hidup hanya serupa meneguk air di warung kopi
pinggir jalan– sangat sementara; aku mau sekecil apa pun adalah
hal-hal baik yang menyenangkan orang lain, yang membuat cahaya
surga!”
aku ingin menghabiskan waktu untuk zikir; Allah, Allah,
Allah…

aku ingin menembus langit ketujuh; bermuka-muka dengan-Mu
bahwa puisi-puisiku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu
: “karena aku hanya sebutir debu, ampun aku, atas segala salah-dosa
izinkan aku meniti jalan ke surga, jalan lurus di atas harum cahaya
subhanallah…”
tetapi aku tak sampai-sampai ke langit ketujuh
aku masih di sini di atas selembar sajadah dengan tubuh gemetar
dan berlinang air mata, au…

atas nama pagi yang gerimis; beri aku kekuatan, keindahan dan
kebahagiaan– sebentar lagi kutempuh ratusan kilometer menuju
rumah kecil pinggir kali: “bismillah, jalan lurus, jalan menikung
menjadi penuh rahmat-Mu, zikir ini, zikir musafir fakir…”

au, aku milik-Mu!

sumur dalam diri: gali, gali, hingga dasar paling nyeri: “di dasar
diri; aku mencari-Mu sungguh berlinang air mata, au, beri aku
rahmat-Mu paling sederhana: cinta!”
sumur dalam diri; nyeri,
nyeri, hingga ruang paling sunyi: cahaya!

Jaspinka, 2024

.

Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Gempuran Algoritma | Cerpen Made Bryan Mahararta

Next Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP

Founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Tempo, dan lain-lain

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co