25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Eddy Pranata PNP by Eddy Pranata PNP
January 11, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Penulis: Eddy Pranata PNP

SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT

ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair…
sampai sekarang aku masih bertarung… aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu…”

Cirebah, 16 Juni 2025

DARI PINGGIR JEMBATAN

dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: “au, hidup alangkah menyenangkan!”

Cirebah, 11 Juni 2025

SEMUT YANG TERUS MERAYAP

kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap
di tabir kebaikan.

Cirebah, 10 Juni 2025

PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG

teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.

di teluk ini– semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : “seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!”
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.

Cirebah, 1 Juni 2025

BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN

langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.

Cirebah, 24 Mei 2025

SELUKA WAKTU

yang ngilu selain cemburu dan rindu– usia menakar cinta
: “aku ingin terus bersamamu,” bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; “ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!” au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta– kesetiaan mengukur cahaya
: “sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!” seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.

Cirebah, 12 Mei 2025

BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN

seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela– aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!

Cirebah, 10 Mei 2025

AKU MENJELMA DEBUR OMBAK

aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: “aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!”

Cirebah, 10 Mei 2025

RUMAH KAYU DI ATAS BUKIT

Kau tahu setelah berkali-kali kunikmati sayat sembilu? Aku
menjelma tebing karang. Dan laut memelukku penuh duka.
Aku ingin tidak jatuh cinta lagi. Berperahu sendiri. Melewati
ombak. Membelah-belah selat. Dengan ikhlas. Jika malam,
aku berpeluk cahaya mercusuar. Saling bisik tentang kesetiaan.
Entah suara siapa bergetar-getar di antara deru angin. Atau
hanya halusinasi.
: “Dan bagaimana jika aku membayangkan di rumah kayu di
atas bukit, aku menemanimu menulis puisi, memeluk dari
belakang sambil melihat ke luar, ke arah balkon dengan
pemandangan pohon-pohon berbalut kabut?”

Akh, rumah kayu atas bukit. Di halaman ingin tanam mawar.
Bukan edelweis. Karena apa? Sorot matamu berbinar-binar.
: “Edelweis sangatlah klise. Aku mau mawar yang tumbuh dan
setiap kelopak gugur, segera muncul kuncup-kuncup. Lalu
mekar. Bukankah ini lebih realistis? Lebih serupa cinta kita?”

Seberapa lama engkau mengendus tebing karang? Yang berdiri
di selat laut-sunyiku. Kukira ruang dan waktu tidak perlu
dipertengkarkan. Bukankah cinta dan hidup ini anugrah?
Serupa puisi…
: “Tapi aku mau tidak dibanding-,bandingkan. Setiap makhluk
punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini sekerat hati,
sekerat jantung belum sempurna kering luka!”

Mawar. Rumah kayu. Halaman. Tebing karang. Laut. Sembilu. Puisi!

Cirebah, 4 Maret 2025

SELASAR DALAM DIRI

aku ingin menjelma pengembara yang diam-diam menyingkirkan
duri di tengah jalan kecil di sebuah kampung yang diam-diam
membantu kesulitan orang lain seraya menyembunyikan sebelah
tangan dan serta-merta mengulurkan hati kepada kondisi pahit getir
di sekitar: “ini hidup hanya serupa meneguk air di warung kopi
pinggir jalan– sangat sementara; aku mau sekecil apa pun adalah
hal-hal baik yang menyenangkan orang lain, yang membuat cahaya
surga!”
aku ingin menghabiskan waktu untuk zikir; Allah, Allah,
Allah…

aku ingin menembus langit ketujuh; bermuka-muka dengan-Mu
bahwa puisi-puisiku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu
: “karena aku hanya sebutir debu, ampun aku, atas segala salah-dosa
izinkan aku meniti jalan ke surga, jalan lurus di atas harum cahaya
subhanallah…”
tetapi aku tak sampai-sampai ke langit ketujuh
aku masih di sini di atas selembar sajadah dengan tubuh gemetar
dan berlinang air mata, au…

atas nama pagi yang gerimis; beri aku kekuatan, keindahan dan
kebahagiaan– sebentar lagi kutempuh ratusan kilometer menuju
rumah kecil pinggir kali: “bismillah, jalan lurus, jalan menikung
menjadi penuh rahmat-Mu, zikir ini, zikir musafir fakir…”

au, aku milik-Mu!

sumur dalam diri: gali, gali, hingga dasar paling nyeri: “di dasar
diri; aku mencari-Mu sungguh berlinang air mata, au, beri aku
rahmat-Mu paling sederhana: cinta!”
sumur dalam diri; nyeri,
nyeri, hingga ruang paling sunyi: cahaya!

Jaspinka, 2024

.

Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Gempuran Algoritma | Cerpen Made Bryan Mahararta

Next Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP

Founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Tempo, dan lain-lain

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co