2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Eddy Pranata PNP by Eddy Pranata PNP
January 11, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Penulis: Eddy Pranata PNP

SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT

ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair…
sampai sekarang aku masih bertarung… aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu…”

Cirebah, 16 Juni 2025

DARI PINGGIR JEMBATAN

dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: “au, hidup alangkah menyenangkan!”

Cirebah, 11 Juni 2025

SEMUT YANG TERUS MERAYAP

kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap
di tabir kebaikan.

Cirebah, 10 Juni 2025

PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG

teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.

di teluk ini– semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : “seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!”
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.

Cirebah, 1 Juni 2025

BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN

langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.

Cirebah, 24 Mei 2025

SELUKA WAKTU

yang ngilu selain cemburu dan rindu– usia menakar cinta
: “aku ingin terus bersamamu,” bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; “ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!” au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta– kesetiaan mengukur cahaya
: “sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!” seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.

Cirebah, 12 Mei 2025

BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN

seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela– aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!

Cirebah, 10 Mei 2025

AKU MENJELMA DEBUR OMBAK

aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: “aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!”

Cirebah, 10 Mei 2025

RUMAH KAYU DI ATAS BUKIT

Kau tahu setelah berkali-kali kunikmati sayat sembilu? Aku
menjelma tebing karang. Dan laut memelukku penuh duka.
Aku ingin tidak jatuh cinta lagi. Berperahu sendiri. Melewati
ombak. Membelah-belah selat. Dengan ikhlas. Jika malam,
aku berpeluk cahaya mercusuar. Saling bisik tentang kesetiaan.
Entah suara siapa bergetar-getar di antara deru angin. Atau
hanya halusinasi.
: “Dan bagaimana jika aku membayangkan di rumah kayu di
atas bukit, aku menemanimu menulis puisi, memeluk dari
belakang sambil melihat ke luar, ke arah balkon dengan
pemandangan pohon-pohon berbalut kabut?”

Akh, rumah kayu atas bukit. Di halaman ingin tanam mawar.
Bukan edelweis. Karena apa? Sorot matamu berbinar-binar.
: “Edelweis sangatlah klise. Aku mau mawar yang tumbuh dan
setiap kelopak gugur, segera muncul kuncup-kuncup. Lalu
mekar. Bukankah ini lebih realistis? Lebih serupa cinta kita?”

Seberapa lama engkau mengendus tebing karang? Yang berdiri
di selat laut-sunyiku. Kukira ruang dan waktu tidak perlu
dipertengkarkan. Bukankah cinta dan hidup ini anugrah?
Serupa puisi…
: “Tapi aku mau tidak dibanding-,bandingkan. Setiap makhluk
punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini sekerat hati,
sekerat jantung belum sempurna kering luka!”

Mawar. Rumah kayu. Halaman. Tebing karang. Laut. Sembilu. Puisi!

Cirebah, 4 Maret 2025

SELASAR DALAM DIRI

aku ingin menjelma pengembara yang diam-diam menyingkirkan
duri di tengah jalan kecil di sebuah kampung yang diam-diam
membantu kesulitan orang lain seraya menyembunyikan sebelah
tangan dan serta-merta mengulurkan hati kepada kondisi pahit getir
di sekitar: “ini hidup hanya serupa meneguk air di warung kopi
pinggir jalan– sangat sementara; aku mau sekecil apa pun adalah
hal-hal baik yang menyenangkan orang lain, yang membuat cahaya
surga!”
aku ingin menghabiskan waktu untuk zikir; Allah, Allah,
Allah…

aku ingin menembus langit ketujuh; bermuka-muka dengan-Mu
bahwa puisi-puisiku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu
: “karena aku hanya sebutir debu, ampun aku, atas segala salah-dosa
izinkan aku meniti jalan ke surga, jalan lurus di atas harum cahaya
subhanallah…”
tetapi aku tak sampai-sampai ke langit ketujuh
aku masih di sini di atas selembar sajadah dengan tubuh gemetar
dan berlinang air mata, au…

atas nama pagi yang gerimis; beri aku kekuatan, keindahan dan
kebahagiaan– sebentar lagi kutempuh ratusan kilometer menuju
rumah kecil pinggir kali: “bismillah, jalan lurus, jalan menikung
menjadi penuh rahmat-Mu, zikir ini, zikir musafir fakir…”

au, aku milik-Mu!

sumur dalam diri: gali, gali, hingga dasar paling nyeri: “di dasar
diri; aku mencari-Mu sungguh berlinang air mata, au, beri aku
rahmat-Mu paling sederhana: cinta!”
sumur dalam diri; nyeri,
nyeri, hingga ruang paling sunyi: cahaya!

Jaspinka, 2024

.

Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Gempuran Algoritma | Cerpen Made Bryan Mahararta

Next Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP

Founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Tempo, dan lain-lain

Related Posts

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails
Next Post
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co