23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Eddy Pranata PNP by Eddy Pranata PNP
January 11, 2026
in Puisi
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Suara Bergema dari Ketinggian Bukit

Penulis: Eddy Pranata PNP

SUARA BERGEMA DARI KETINGGIAN BUKIT

ada suara bergema dari ketinggian bukit, memantul ke
lembah ke pohon-pohon menjulang: “aku hanya ingin
berbagi intuisi; bahwa tak mudah menjadi penyair…
sampai sekarang aku masih bertarung… aku terus
berguru kepadanya; ruang dan waktu…”

Cirebah, 16 Juni 2025

DARI PINGGIR JEMBATAN

dari pinggir jembatan yang di bawahnya air kali mengalir keruh
aku hanya ingin mengabarkan: gerimis pagi turun serupa rindu
kesukaanku pada peluk kedamaian, dan burung-burung di pohon
akasia, mahoni serta pucuk bambu yang menjulang
masih terus berkicau, menyanyikan ketulusan dan harapan
: “au, hidup alangkah menyenangkan!”

Cirebah, 11 Juni 2025

SEMUT YANG TERUS MERAYAP

kalau engkau tak mampu menjadi gajah
jadilah semut yang terus merayap
di tabir kebaikan.

Cirebah, 10 Juni 2025

PERAHU DIAYUN ALUN GELOMBANG

teluk ini – dan gemuruh laut, perahu diayun alun gelombang
berlindunglah dari sengat matahari, meluncurlah ke pasir putih
catat sejarah kecil, au, sajak-sajak yang asin kelat menyatu tubuh
jiwa yang luas menyala, menyala serupa cita-cita dan cinta.

di teluk ini– semula ingin kubelah selat; melarung seluruh
dendam-rindu tetapi matahari terik, kupilih berlindung
di bawah rimbun waru, nikmati kelapa muda + tempe mendoan;
mengingat puisimu : “seberapa perih luka dada, setajam apa
sembilu dua mata? jangan kautanya sengilu apa cinta, kau rengkuh
hati cahaya!”
teluk ini berpasir sejarah jingga, berlangit kesetiaan purba.

Cirebah, 1 Juni 2025

BILIK RAHASIA PALING MENYENANGKAN

langit di atas bukit mulai mendung, suara nyanyimu
serupa bisik masa lalu, semula aku mengira yang
kaudendangkan puisi ebied. g. ade, tetapi bukan
ternyata dangdut lama dari beberapa penyanyi;
aku sih suka-suka saja, mungkin suasan hatimu
sedang sangat bahagia, atau bertanya-tanya
: apakah cinta bisa seutuhnya? tak cemburu, tak
ada benci, lalu seseorang bisa menjelma malaikat?
menyelamatkanmu dari jurang perih, menyeretmu
ke bilik rahasia paling menyenangkan, paling purba.

Cirebah, 24 Mei 2025

SELUKA WAKTU

yang ngilu selain cemburu dan rindu– usia menakar cinta
: “aku ingin terus bersamamu,” bisik mawar pada duri
seluka waktu; lorong rahasia kaubangun
dengan hati dan air mata; “ketuklah pintu jiwa kaca,
sepenuh imaji, serengkah janji!” au, yang sembilu selain
sakit hati dan cinta– kesetiaan mengukur cahaya
: “sedalam apa lautmu, setajam karang-karangmu, aku
tak peduli!” seluka-luka waktu; ruang rahasia,
setajam duri, serengkah puisi.

Cirebah, 12 Mei 2025

BUNGA BERMEKARAN DITERPA PUCAT REMBULAN

seandainya benar aku berkunjung dan menginap ke rumahmu
aku ingin tidak kautempatkan di kamar belakang
aku mau di kamar depan, agar bisa melihat bunga-
bunga bermekaran diterpa pucat rembulan
dan keesokan, dari balik gorden jendela– aku juga bisa leluasa
melihat siapa saja tamu yang datang sebelum lewat pintu gerbang,
aku bisa menerka tabiat orang dari cara berjalan
dari langkahnya yang tergesa atau ragu-ragu, atau yang pelan
tapi pasti, bisa saja yang datang itu manusia yang suka membangga-
banggakan harta, atau yang mengorbankan diri demi ambisi,
pamer kecantikan palsu dengan topeng mulut manis, o,
suka memaksa dan berburuk laku dan yang harus sangat waspada
adalah manusia ular berkepala dua, ciah! tetapi seberapa sungguh
engkau bisa menerima kedatanganku? perempuan embun; di tengah
hiruk-pikuk hidupmu, beri aku waktu jingga mawar!

Cirebah, 10 Mei 2025

AKU MENJELMA DEBUR OMBAK

aku menjelma debur ombak di antara selat; merasakan perih
begitu terhempas di pasir pantai; aku buih
zikir sepanjang waktu, nyaris tanpa cinta: dan runcing karang
berbisik: “aku tak ingin engkau pergi hanya karena mawar,
bunga pinus, atau sebait puisi!”

Cirebah, 10 Mei 2025

RUMAH KAYU DI ATAS BUKIT

Kau tahu setelah berkali-kali kunikmati sayat sembilu? Aku
menjelma tebing karang. Dan laut memelukku penuh duka.
Aku ingin tidak jatuh cinta lagi. Berperahu sendiri. Melewati
ombak. Membelah-belah selat. Dengan ikhlas. Jika malam,
aku berpeluk cahaya mercusuar. Saling bisik tentang kesetiaan.
Entah suara siapa bergetar-getar di antara deru angin. Atau
hanya halusinasi.
: “Dan bagaimana jika aku membayangkan di rumah kayu di
atas bukit, aku menemanimu menulis puisi, memeluk dari
belakang sambil melihat ke luar, ke arah balkon dengan
pemandangan pohon-pohon berbalut kabut?”

Akh, rumah kayu atas bukit. Di halaman ingin tanam mawar.
Bukan edelweis. Karena apa? Sorot matamu berbinar-binar.
: “Edelweis sangatlah klise. Aku mau mawar yang tumbuh dan
setiap kelopak gugur, segera muncul kuncup-kuncup. Lalu
mekar. Bukankah ini lebih realistis? Lebih serupa cinta kita?”

Seberapa lama engkau mengendus tebing karang? Yang berdiri
di selat laut-sunyiku. Kukira ruang dan waktu tidak perlu
dipertengkarkan. Bukankah cinta dan hidup ini anugrah?
Serupa puisi…
: “Tapi aku mau tidak dibanding-,bandingkan. Setiap makhluk
punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ini sekerat hati,
sekerat jantung belum sempurna kering luka!”

Mawar. Rumah kayu. Halaman. Tebing karang. Laut. Sembilu. Puisi!

Cirebah, 4 Maret 2025

SELASAR DALAM DIRI

aku ingin menjelma pengembara yang diam-diam menyingkirkan
duri di tengah jalan kecil di sebuah kampung yang diam-diam
membantu kesulitan orang lain seraya menyembunyikan sebelah
tangan dan serta-merta mengulurkan hati kepada kondisi pahit getir
di sekitar: “ini hidup hanya serupa meneguk air di warung kopi
pinggir jalan– sangat sementara; aku mau sekecil apa pun adalah
hal-hal baik yang menyenangkan orang lain, yang membuat cahaya
surga!”
aku ingin menghabiskan waktu untuk zikir; Allah, Allah,
Allah…

aku ingin menembus langit ketujuh; bermuka-muka dengan-Mu
bahwa puisi-puisiku, hidup dan matiku hanya untuk-Mu
: “karena aku hanya sebutir debu, ampun aku, atas segala salah-dosa
izinkan aku meniti jalan ke surga, jalan lurus di atas harum cahaya
subhanallah…”
tetapi aku tak sampai-sampai ke langit ketujuh
aku masih di sini di atas selembar sajadah dengan tubuh gemetar
dan berlinang air mata, au…

atas nama pagi yang gerimis; beri aku kekuatan, keindahan dan
kebahagiaan– sebentar lagi kutempuh ratusan kilometer menuju
rumah kecil pinggir kali: “bismillah, jalan lurus, jalan menikung
menjadi penuh rahmat-Mu, zikir ini, zikir musafir fakir…”

au, aku milik-Mu!

sumur dalam diri: gali, gali, hingga dasar paling nyeri: “di dasar
diri; aku mencari-Mu sungguh berlinang air mata, au, beri aku
rahmat-Mu paling sederhana: cinta!”
sumur dalam diri; nyeri,
nyeri, hingga ruang paling sunyi: cahaya!

Jaspinka, 2024

.

Penulis: Eddy Pranata PNP
Editor: Adnyana Ole

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Gempuran Algoritma | Cerpen Made Bryan Mahararta

Next Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata PNP

Founder of Jaspinka (Jaringan Sastra Pinggir Kali) Cirebah, Banyumas Barat. Puisinya disiarkan di Majalah Sastra Horison, koran Jawa Pos, Tempo, dan lain-lain

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co