14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
January 11, 2026
in Esai
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

PERGANTIAN tahun selalu membawa ruang jeda yang penting. Di dalamnya tersirat tentang waktu untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah dengan kesadaran baru. Dalam dunia pendidikan, tahun baru seharusnya tidak hanya dirayakan dengan target dan seremonial saja. Tahun baru selayaknya dimasuki melalui refleksi mendalam tentang relasi manusia, alam, dan pengetahuan. Apalagi saat ini ketika kehidupan kita kian terdesak, bukan hanya oleh krisis pangan, tetapi juga oleh tumpukan sampah yang terus meningkat.

Di Bali, refleksi ini sesungguhnya memiliki akar yang sangat kuat. Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi. Pertanian Bali merupakan bagian dari tatanan hidup yang menyatu dengan nilai spiritual dan sosial. Sistem subak yang telah diakui dunia, adalah bukti bahwa pengelolaan pangan di Bali sejak awal berdiri di atas keseimbangan sekala dan niskala, antara kerja manusia dan kehendak alam, antara teknis dan spiritualitas.

Namun di tengah perubahan zaman, pertanian perlahan menjauh dari ruang kesadaran generasi muda. Pertanian dikalahkan oleh gemerlap sektor lain. Pertanian seolah-olah tidak lagi relevan dengan kehidupan nyata. Padahal, dalam falsafah Bali, pertanian justru merupakan inti palemahan. Pertanian merupakanrelasi harmonis manusia dengan alam. Ketika palemahan rapuh, maka pawongan dan parhyangan pun ikut terguncang.

Pemerintah telah merespons situasi ini melalui berbagai program ketahanan pangan, pemanfaatan pekarangan, hingga pengendalian kerawanan pangan. Di saat yang sama, program pengelolaan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, bank sampah, dan ekonomi sirkular juga digalakkan sebagai jawaban atas krisis lingkungan yang kian mendesak. Namun tantangan terbesar bukan pada ketiadaan program, melainkan pada sejauh mana program-program tersebut berakar dalam budaya dan praktik keseharian masyarakat.

Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Dalam konteks Bali, pendidikan memiliki peluang besar untuk menjembatani kebijakan dengan kearifan lokal. Sekolah dapat menjadi ruang hidup nilai-nilai subak dalam skala kecil, yaitu kebun sekolah sebagai laboratorium palemahan, pengelolaan air yang adil, serta kerja kolektif yang menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Di sinilah pertanian kembali menjadi bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar materi ajar.

Lebih dari itu, tradisi Bali sesungguhnya telah lama mengenal konsep ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan melalui ruang-ruang rumah tangga. Teba—halaman belakang—bukan hanya tempat sisa, tetapi menjadi ruang produksi: ternak kecil, tanaman pangan, dan pengolahan limbah organik. Telajakan yang merupakanruang di depan rumah, adalah ruang hijau yang memperindah sekaligus menyejukkan lingkungan. Dua ruang ini kini banyak hilang, tergeser oleh beton dan gaya hidup instan. Padahal di sanalah pendidikan lingkungan dan pangan bisa tumbuh secara alami.

Isu sampah yang kini begitu masif sesungguhnya menandai terputusnya hubungan manusia dengan palemahan. Sampah organik yang dahulu kembali ke tanah kini bercampur dengan plastik dan residu tak terurai. Di sinilah, pendidikan dapat mengambil peran strategis dengan menghidupkan kembali praktik pengelolaan sampah berbasis rumah dan sekolah, dari memilah, mengomposkan, dan mengembalikan yang organik ke tanah. Dalam perspektif Bali, ini bukan sekadar teknis, melainkan upaya memulihkan keseimbangan sekala dan niskala.

Selain itu, konsep jaba–jero juga memberi pelajaran penting. Dalam tatanan tradisional Bali, jaba (luar) dan jero (dalam), bukan sekadar pembagian ruang fisik, melainkan sebagai simbol kesadaran etika dan spiritual. Ketika palemahan di jaba diabaikan—lingkungan kotor, sampah menumpuk—maka keharmonisan jero pun ikut terganggu. Pendidikan yang mengajarkan pertanian dan pengelolaan sampah sejatinya sedang menata ulang jaba, agar jero kehidupan tetap lestari.

Dalam konteks inilah, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak harus menjadi ahli subak atau pengelolaan lingkungan. Akan tetapi, guru perlu menyadari bahwa pertanian dan sampah adalah bahasa kehidupan yang dekat dengan budaya Bali. Dalam pembelajaran, guru bahasa dapat mengajak siswa menulis refleksi tentang teba dan telajakan. Guru sains mengkaji siklus kompos. Guru seni merekam estetika alam dan guru agama menautkannya dengan nilai keseimbangan sekala–niskala.

Persiapan Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Untuk itulah, tahun baru semestinya menjadi titik balik cara pandang. Pendidikan pertanian dan lingkungan perlu ditempatkan sebagai upaya merawat palemahan secara sadar dan berkelanjutan. Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika tanah ditinggalkan. Persoalan sampah tidak akan selesai jika pendidikan gagal menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah lama kita miliki.

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita kembali ke akar kebijaksanaan Bali: bahwa hidup adalah soal menjaga keseimbangan. Dari subak hingga telajakan, dari teba hingga jaba–jero, dari ruang kelas hingga pekarangan rumah—pendidikan memiliki peran kunci untuk menanam kembali kesadaran itu. Tahun baru bukan sekadar awal waktu, tetapi kesempatan untuk menata ulang hubungan kita dengan tanah, pangan, dan kehidupan itu sendiri. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: panganPendidikantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Next Post

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co