23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
January 11, 2026
in Esai
Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

PERGANTIAN tahun selalu membawa ruang jeda yang penting. Di dalamnya tersirat tentang waktu untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu melangkah dengan kesadaran baru. Dalam dunia pendidikan, tahun baru seharusnya tidak hanya dirayakan dengan target dan seremonial saja. Tahun baru selayaknya dimasuki melalui refleksi mendalam tentang relasi manusia, alam, dan pengetahuan. Apalagi saat ini ketika kehidupan kita kian terdesak, bukan hanya oleh krisis pangan, tetapi juga oleh tumpukan sampah yang terus meningkat.

Di Bali, refleksi ini sesungguhnya memiliki akar yang sangat kuat. Pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi. Pertanian Bali merupakan bagian dari tatanan hidup yang menyatu dengan nilai spiritual dan sosial. Sistem subak yang telah diakui dunia, adalah bukti bahwa pengelolaan pangan di Bali sejak awal berdiri di atas keseimbangan sekala dan niskala, antara kerja manusia dan kehendak alam, antara teknis dan spiritualitas.

Namun di tengah perubahan zaman, pertanian perlahan menjauh dari ruang kesadaran generasi muda. Pertanian dikalahkan oleh gemerlap sektor lain. Pertanian seolah-olah tidak lagi relevan dengan kehidupan nyata. Padahal, dalam falsafah Bali, pertanian justru merupakan inti palemahan. Pertanian merupakanrelasi harmonis manusia dengan alam. Ketika palemahan rapuh, maka pawongan dan parhyangan pun ikut terguncang.

Pemerintah telah merespons situasi ini melalui berbagai program ketahanan pangan, pemanfaatan pekarangan, hingga pengendalian kerawanan pangan. Di saat yang sama, program pengelolaan sampah, pengurangan plastik sekali pakai, bank sampah, dan ekonomi sirkular juga digalakkan sebagai jawaban atas krisis lingkungan yang kian mendesak. Namun tantangan terbesar bukan pada ketiadaan program, melainkan pada sejauh mana program-program tersebut berakar dalam budaya dan praktik keseharian masyarakat.

Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Dalam konteks Bali, pendidikan memiliki peluang besar untuk menjembatani kebijakan dengan kearifan lokal. Sekolah dapat menjadi ruang hidup nilai-nilai subak dalam skala kecil, yaitu kebun sekolah sebagai laboratorium palemahan, pengelolaan air yang adil, serta kerja kolektif yang menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Di sinilah pertanian kembali menjadi bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar materi ajar.

Lebih dari itu, tradisi Bali sesungguhnya telah lama mengenal konsep ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan melalui ruang-ruang rumah tangga. Teba—halaman belakang—bukan hanya tempat sisa, tetapi menjadi ruang produksi: ternak kecil, tanaman pangan, dan pengolahan limbah organik. Telajakan yang merupakanruang di depan rumah, adalah ruang hijau yang memperindah sekaligus menyejukkan lingkungan. Dua ruang ini kini banyak hilang, tergeser oleh beton dan gaya hidup instan. Padahal di sanalah pendidikan lingkungan dan pangan bisa tumbuh secara alami.

Isu sampah yang kini begitu masif sesungguhnya menandai terputusnya hubungan manusia dengan palemahan. Sampah organik yang dahulu kembali ke tanah kini bercampur dengan plastik dan residu tak terurai. Di sinilah, pendidikan dapat mengambil peran strategis dengan menghidupkan kembali praktik pengelolaan sampah berbasis rumah dan sekolah, dari memilah, mengomposkan, dan mengembalikan yang organik ke tanah. Dalam perspektif Bali, ini bukan sekadar teknis, melainkan upaya memulihkan keseimbangan sekala dan niskala.

Selain itu, konsep jaba–jero juga memberi pelajaran penting. Dalam tatanan tradisional Bali, jaba (luar) dan jero (dalam), bukan sekadar pembagian ruang fisik, melainkan sebagai simbol kesadaran etika dan spiritual. Ketika palemahan di jaba diabaikan—lingkungan kotor, sampah menumpuk—maka keharmonisan jero pun ikut terganggu. Pendidikan yang mengajarkan pertanian dan pengelolaan sampah sejatinya sedang menata ulang jaba, agar jero kehidupan tetap lestari.

Dalam konteks inilah, peran guru menjadi sangat strategis. Guru tidak harus menjadi ahli subak atau pengelolaan lingkungan. Akan tetapi, guru perlu menyadari bahwa pertanian dan sampah adalah bahasa kehidupan yang dekat dengan budaya Bali. Dalam pembelajaran, guru bahasa dapat mengajak siswa menulis refleksi tentang teba dan telajakan. Guru sains mengkaji siklus kompos. Guru seni merekam estetika alam dan guru agama menautkannya dengan nilai keseimbangan sekala–niskala.

Persiapan Gema Tanam Jagung di Kebun Sekolah | Foto Dok. SMKN 1 Petang

Untuk itulah, tahun baru semestinya menjadi titik balik cara pandang. Pendidikan pertanian dan lingkungan perlu ditempatkan sebagai upaya merawat palemahan secara sadar dan berkelanjutan. Ketahanan pangan tidak akan tercapai jika tanah ditinggalkan. Persoalan sampah tidak akan selesai jika pendidikan gagal menghidupkan kembali nilai-nilai lokal yang telah lama kita miliki.

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita kembali ke akar kebijaksanaan Bali: bahwa hidup adalah soal menjaga keseimbangan. Dari subak hingga telajakan, dari teba hingga jaba–jero, dari ruang kelas hingga pekarangan rumah—pendidikan memiliki peran kunci untuk menanam kembali kesadaran itu. Tahun baru bukan sekadar awal waktu, tetapi kesempatan untuk menata ulang hubungan kita dengan tanah, pangan, dan kehidupan itu sendiri. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

Tags: panganPendidikantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feminisme, Poskolonialisme, dan Sunyi dalam ’Indian Girl’

Next Post

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co