22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Hartanto by Hartanto
January 11, 2026
in Esai
Khairun Nisa dan Made Kusuma Ardana :  Seragam Palsu dan Jembatan Sunyi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan canva

DI tengah gemerlap bandara, di antara langkah-langkah cepat para wisatawan dan suara pengumuman keberangkatan – berdirilah seorang perempuan muda bernama Khairun Nisa. Seragam pramugari Batik Air membalut tubuhnya dengan rapi, senyumnya terlatih, koper kecil di tangan, dan aura profesional terpancar dari setiap gerak-geriknya.

Namun, di balik citra itu, ada satu kenyataan yang tak tertulis di jadwal penerbangan: Khairun Nisa bukanlah pramugari. Ia adalah ‘mimpi yang gagal’, ‘luka yang disembunyikan’, dan keberanian yang melampaui batas untuk membahagiakan orang tua. Semua itu semu.

Seragam itu hanyalah ‘ilusi’, sebuah perisai rapuh untuk menutupi kegagalan dan rasa malu. Ia gagal dalam seleksi, ditipu sebesar 30 juta rupiah oleh janji palsu, dan akhirnya memilih menyamar demi merasakan sejenak pengakuan yang tak pernah ia dapatkan

Menurut saya, menjadi pramugari bukan sekadar pekerjaan. Bagi banyak perempuan muda, itu adalah simbol mobilitas sosial, kebebasan, dan kebanggaan. Seragam itu bukan hanya kain, tapi lambang keberhasilan atau pencapaian.

Khairun Nisa, seperti banyak lainnya, mengejar mimpi itu dengan penuh harap. Namun, dunia seleksi yang ketat dan janji palsu dari oknum penipu mengubah harapan menjadi kehampaan. Ia gagal. Ia ditipu. Tapi ia tidak menyerah. Di sisi ibukota, di ‘belantara tipu daya’ –  ia mendapat pelajaran tentang ‘Perdaya’.

Dalam diam, ia merancang skenario – mengenakan seragam, masuk ke bandara, berpose di kabin, dan membagikan citra itu ke media sosial. Ia tidak mencuri uang, tidak menyakiti siapa pun. Ia hanya mencuri sejenak rasa percaya diri yang telah direnggut oleh ‘sistem’ dan ‘stigma’.

Media sosial adalah panggung tanpa batas. Di sana, siapa pun bisa menjadi siapa saja. Di sana, keberhasilan bukan soal proses, tapi soal tampilan. Khairun Nisa tahu itu. Ia tahu bahwa satu foto berseragam bisa mengubah pandangan orang, bisa menenangkan luka batin, bisa membuat dunia berhenti bertanya, “Kapan kamu sukses?”

Tapi dunia digital juga kejam. Ketika kebenaran terungkap, ia tidak hanya kehilangan citra, tapi juga martabat. Ia ditangkap. Ia diinterogasi. Ia menjadi berita. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang tak bisa ditangkap oleh hukum – ‘rasa sakit’ yang membuatnya melakukan semua itu. Mungkin, rasa sakitnya adalah juga milik kita semua, dengan modus yang berbeda.

Di Bali, jauh dari gemerlap bandara, sebuah jembatan megah bernama Tukad Bangkung yang terletak di Desa Pelaga, Petang, kabupaten Badung, menjadi saksi bisu tragedi lain –  anak muda, generasi Z bernama Made Kusuma Ardana (MKA, 21), melompat ke dalam jurang, meninggalkan dunia yang terasa terlalu berat untuk ditanggungnya.

Dua peristiwa ini, meski berbeda, sesungguhnya berbicara tentang ‘luka’ yang sama – generasi yang terhimpit oleh tuntutan citra, kesuksesan, dan tekanan sosial yang tak memberi ruang untuk gagal. Yang tak mau tau bahwa generasi muda bisa ‘terperdaya’ oleh hal-hal semu.

Fenomena Khairun Nisa memperlihatkan bagaimana generasi muda sering kali lebih takut pada stigma kegagalan daripada kegagalan itu sendiri. Mereka rela berpura-pura, menciptakan citra palsu, demi menghindari tatapan yang menghakimi.

Sementara itu, tragedi di jembatan Tukad Bangkung menunjukkan wajah lain dari ‘luka’ generasi. Anak-muda yang melompat dari jembatan itu tidak sedang mencari sensasi, melainkan jalan keluar dari tekanan yang tak tertahankan. Sayang, jalan yang MKA tempuh tak bisa dibenarkan.

Jika Khairun Nisa menipu dunia untuk tetap hidup = di jembatan Tukad Bangkung, MKA dan korban-korban lainnya ‘memperdaya dunia’ dengan keheningan abadi. Dua pilihan ekstrem dari luka yang sama – ketidakmampuan menemukan ruang aman di situasi rapuh, untuk tetap menjadi manusia utuh.

Namun di balik kisah-kisah ini, ada pertanyaan yang lebih besar – di mana tanggung jawab aparatur daerah? Jembatan Tukad Bangkung bukan hanya ‘monumen infrastruktur’, tetapi juga telah menjadi ‘monumen keputusasaan’.

Ketika tragedi berulang, ketika anak-anak muda dan korban lainnya menjadikan jembatan itu sebagai panggung terakhir mereka – maka jelas ada kegagalan dalam ‘sistem sosial’ dan ‘kebijakan publik’. Aparatur daerah tidak bisa hanya berbangga atas pembangunan fisik. Seyogyanya  juga memikirkan pembangunan jiwa warganya.

Fenomena Khairun Nisa pun menyinggung hal serupa, yang membutuhkan keamanan sistem. Ia adalah korban dari sistem yang tidak memberi ruang aman bagi kegagalan. Hingga ia mudah ditipu oleh oknum yang memanfaatkan mimpi anak-anak muda.

Di sini, tanggung jawab aparatur daerah mesti hadir – bagaimana memastikan proses rekrutmen pekerjaan transparan, bagaimana melindungi anak muda dari penipuan, bagaimana menyediakan jalur karier alternatif yang tidak membuat mereka merasa hidupnya berakhir ketika gagal satu kali.

Menurut saya, pemimpin daerah bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga figur yang semestinya menciptakan ‘ekosistem sosial’ di mana anak muda bisa tumbuh tanpa harus berpura-pura atau mengakhiri hidup.

Kita menonton kisah Khairun Nisa viral. Kita membaca berita tentang MKA yang mengakhiri hidupnya di jembatan Tukad Bangkung dengan rasa ngeri. Kita mengomentari, menghakimi, atau sekadar prihatin. Namun apakah kita benar-benar ‘melihat’ di sebaliknya?

Apakah kita menyadari bahwa di balik ‘seragam palsu’ dan ‘jembatan sunyi’, ada generasi yang berteriak minta ruang? Bahwa di balik tindakan ekstrem, ada sistem sosial yang lebih dulu gagal memberi dukungan?

Dunia yang memuja pencapaian dan mencemooh proses telah melahirkan generasi yang rapuh, dan aparatur daerah (yang) hanya sibuk dengan pencitraan pembangunan fisik daerahnya tanpa memperhatikan kesehatan mental warganya – ikut memperparah luka itu.

Khairun Nisa tidak pernah benar-benar terbang. MKA dan korban-korban lainnya di Tukad Bangkung tidak pernah kembali. Namun mereka telah membawa pesan yang sama – generasi ini membutuhkan ruang aman ketika gagal, ketika rapuh, untuk tetap hidup.

Seragam palsu dan jembatan sunyi adalah dua ‘simbol dramatis’ dari ‘luka generasi’. Satu memilih bertahan dengan ‘ilusi’, satu memilih berhenti dengan ‘keputusasaan’. Keduanya mengingatkan kita bahwa di balik citra digital dan tuntutan sosial, ada manusia yang butuh dipeluk, bukan dihakimi.

Dan di balik tragedi itu, ada tanggung jawab pimpinan daerah yang tidak bisa diabaikan – menciptakan kebijakan yang melindungi, membangun ruang aman, dan memastikan bahwa pembangunan tidak hanya berarti jalan dan jembatan, tetapi juga kehidupan yang layak dan penuh harapan bagi semua generasi.

Mungkin inilah pelajaran paling keras dari seragam palsu dan jembatan sunyi – bahwa tugas pemimpin bukan sekadar membangun kota, melainkan juga menjaga jiwa warganya agar tidak runtuh.

Jika pemimpin daerah gagal melihat itu, maka tragedi akan terus berulang, dan generasi yang seharusnya menjadi harapan justru akan hilang satu demi satu, meninggalkan kita dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Pada kedua persoalan itu Natya Nindyagitaya mahasiswi S2 Universitas Gajah Mada berpendapat bahwa banyak tekanan yang dialami anak muda acap kali berakar dari pola asuh orang tua.

Menurutnya, ada ‘ironi’ di situ – di satu sisi orang tua ingin anaknya ‘berhasil’ sesuai standar sosial, tapi di sisi lain mereka sering tidak memberi ruang aman untuk gagal, bereksperimen, atau sekadar menjadi diri sendiri.

Dua peristiwa ini, tambah Natya – meski berbeda, sesungguhnya berbicara tentang generasi yang hidup di bawah tekanan citra, tuntutan sosial, dan pola asuh yang sering kali lebih menuntut daripada mendukung.

Lebih lanjut, Natya memahami kedua persoalan tersebut lewat refleksi atas absurditas situasi – sumber daya parenting, literatur, bahkan komunitas pendukung sudah banyak tersedia.

Tetapi, tambah Natya – praktik di lapangan masih sering berupa tuntutan keras, bukan pendampingan. “Parenting yang baik bukan sekadar memberi fasilitas, melainkan juga membangun komunikasi, empati, dan kepercayaan”, tandasnya.

Dalam konteks fenomena Khairun Nisa maupun tragedi di Tukad Bangkung – analisa Natya ; tekanan dari keluarga bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong anak muda mencari pengakuan lewat citra palsu atau bahkan memilih jalan sunyi.

Jadi, tanggung jawab orang tua bukan hanya sekedar soal ‘mendidik agar sukses’,  tetapi juga menciptakan ruang aman di rumah, agar anak tidak merasa harus berpura-pura di luar atau mengakhiri hidup di jembatan.

Komentar Natya bahwa ‘orang tua banyak yang menuntut anaknya’ – ada baiknya ‘perlu belajar dan memahami parenting dengan lebih baik’. Ini adalah kunci untuk memahami akar persoalan.

Tidak sedikit  orang tua masih memandang anak sebagai proyek sosial – harus sukses, harus berprestasi, harus memenuhi standar yang ditentukan keluarga dan masyarakat. Tanpa menyediakan ‘ruang kosong’ untuk diisi oleh keinginan sang anak sendiri.

Padahal, masih menurut Natya – sumber daya untuk parenting lebih sehat sudah banyak tersedia – literatur, komunitas, konseling, bahkan program pemerintah. Namun, yang sering hilang adalah kesediaan untuk belajar, untuk mendengar, dan untuk memberi ruang aman bagi anak.

Seperti yang kita lihat – akibatnya, anak-anak muda tumbuh dengan rasa takut gagal, takut mengecewakan, dan akhirnya memilih jalan ekstrem: berpura-pura seperti Khairun Nisa, atau pilihan seperti MKA, mengakhiri hidup di Tukad Bangkung.

Di sini, tambah Natya – tanggung jawab tidak berhenti pada orang tua. Pimpinan daerah juga harus hadir sebagai figur yang melindungi warganya, bukan hanya membangun infrastruktur fisik. Jembatan Tukad Bangkung adalah monumen keindahan sekaligus monumen keputusasaan.

Ketika tragedi berulang, itu bukan sekadar masalah individu, melainkan kegagalan sistem sosial. Pemimpin daerah tidak bisa hanya berbangga atas pembangunan jalan dan jembatan, tetapi harus memastikan bahwa ruang publik tidak menjadi ‘panggung kematian’.

Infrastruktur bukan sekadar beton dan besi, melainkan juga ruang aman bagi kehidupan. Jika sebuah jembatan menjadi ‘magnet bunuh diri’, maka itu adalah alarm keras yang menuntut ‘intervensi serius’ – pagar pengaman, patroli rutin, program kesehatan mental, dan kampanye kesadaran yang melibatkan sekolah, kampus, keluarga, serta komunitas.

Namun, tak kalah pentingnya adalah ‘pagar pengamanan jiwa’ warganya, terutama GenZ. Sebab, Gen Z adalah penentu masa depan daerahnya. Semua itu adalah tanggung jawab nyata pimpinan daerah yang harus dijalankan. ‘Infrastruktur sosial’ seyogyanya dibangun setara dengan ‘infrastruktur fisik’.

Kita menonton kisah Khairun Nisa viral. Kita membaca berita tentang Tukad Bangkung dengan rasa ngeri. Kita mengomentari, menghakimi, atau sekadar prihatin. Namun apakah kita benar-benar melihat sedalam-dalamnya? Apakah kita menyadari bahwa di balik seragam palsu dan jembatan sunyi, ada generasi yang berteriak minta ruang? Ruang kosong untuk ‘meng-aktualisasi-kan’ dirinya.

Bahwa di balik tindakan ekstrem Khairun Nisa dan tindak bunuh diri MKA, ada sistem sosial yang lebih dulu gagal memberi dukungan? Dunia yang memuja pencapaian dan mencemooh proses telah melahirkan generasi yang rapuh. Orang tua yang menuntut tanpa mendampingi. Aparatur daerah yang membangun dan upaya pemasangan railing pengaman dan CCTV untuk melindungi tapi tetap tak effektif, masyarakat yang menonton tanpa peduli – semua menjadi bagian dari ‘lingkaran luka’.

Khairun Nisa mungkin tidak pernah menjadi pramugari resmi. Tapi ia telah terbang jauh ke dalam kesadaran kita. Ia membawa pesan bahwa mimpi bisa melukai, bahwa sistem bisa gagal, dan bahwa manusia bisa nekat demi rasa cukup.

Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap citra, ada cerita. Dan bahwa kadang, yang paling dramatis bukanlah tindakan MKA dan Khairun Nisa, tapi alasan di baliknya. Seragam itu mungkin palsu. Tapi rasa sakitnya sangat nyata. Mungkin, rasa sakit itu juga milik MKA di ruang dan waktu serta cara dan alasan yang berbeda. [T]

Penulis: Hartanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: bunuh diripramugarirefleksi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tahun Baru, Semangat Baru: Menata Kesadaran Pangan dan ‘Palemahan’

Next Post

Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Opini Rakyat Jelata Buat PHDI Pusat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co