23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
January 10, 2026
in Esai
Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Persatu (kuning) vs Pasuruan United (hijau) | Foto: Dok. Instagram Pasuruan United

GOL cepat Husyen setelah memanfaatkan umpan jauh yang gagal diantisipasi lini pertahanan Persatu Tuban, membuat saya berhenti berharap. Skor berubah menjadi 0-1 untuk Pasuruan United—tim gergasi kelas Liga 4 Jawa Timur. Sekadar informasi, di ajang liga semi amatir itu, Pasuruan United menjadi tim yang jarang kebobolan. Bayangkan, setelah menghancurkan Persatu dengan skor 3-0, klub bola yang dilatih oleh Bio Paulin itu—penonton Liga Super era 2010-an tentu sudah tidak asing dengan nama ini—dalam enam pertandingan mereka meraih enam kemenangan dengan 26 goal tanpa satu pun kebobolan. Edan.

Saya tahu Pasuruan United datang ke stadion bukan sekadar bermodal strategi menyerang, melainkan dengan kepastian lolos babak 16 besar. Mereka sudah mengamankan tiket sejak awal dan sebenarnya cukup bermain aman melawan Persatu Tuban—sebuah pernyataan bahwa motivasi kadang lebih penting daripada kemampuan teknis di lapangan. Jika sebuah pertandingan harus jadi ujian motivasi, sore itu Pasuruan United lulus dengan nilai cukup, sementara Persatu Tuban tampak gagal menjawab panggilan itu.

Oleh karena itu, Jumat, 9 Januari 2026 kemarin, rasanya ada jenis kesedihan yang tidak butuh hujan untuk terasa muram. Cukup duduk di tribun Tuban Sport Center atau menatap siaran PSSI Jatim di kanal YouTube, melihat papan skor yang memamerkan angka 0–3, dan kita tahu, ini bukan sekadar kekalahan, ini semacam upacara kecil untuk merayakan kegagalan yang sudah lama dipelihara bertahun-tahun.

Ya, sekali lagi, Persatu Tuban kalah dari Pasuruan United, dan orang-orang pulang dengan kekecewaan, meski lainnya dengan kemarahan. Tapi saya tidak terkejut. Di Kota Tuban, kita sudah terlalu lama belajar berdamai dengan kenyataan bahwa sepak bola lebih sering menjadi cerita tentang niat baik yang tersesat, daripada kisah tentang rencana yang benar-benar matang.

Pertandingan itu sendiri berjalan seperti lakon yang naskahnya bocor sejak menit pertama. Pasuruan United tampak tahu kapan harus menunggu, kapan harus memukul. Sedangkan Persatu Tuban sebaliknya, tampak seperti orang yang datang ke medan tempur sambil membawa daftar alasan kenapa mereka seharusnya tidak kalah. Bola lebih sering bergulir tanpa maksud, operan lebih sering seperti pengakuan ragu-ragu, dan setiap kali lawan menyerang, kita bisa menebak akhirnya: ada kepanikan kecil, ada bek yang terlambat setengah langkah, lalu ada gol yang terasa seperti keputusan takdir.

Persatu Tuban jelas bukan lawan tanding Pasuruan United yang memang punya momentum bagus di fase grup. Tapi lebih dari itu, skor 3–0 bukan hanya karena lawan lebih baik, melainkan karena Persatu terlalu pasif, terlalu mudah dibaca dan kurang agresif dari awal hingga akhir. Sebagai tuan rumah, Persatu mestinya punya keuntungan psikologis. Tapi keuntungan itu tak dipakai semaksimal mungkin.

Saya kira, tiga gol itu bukan sekadar tiga kesalahan teknis. Mereka seperti ringkasan musim, dipadatkan menjadi sembilan puluh menit yang kejam. Kita boleh menyebut soal kurangnya persiapan, mental yang rapuh, atau taktik yang mudah dibaca. Tapi semua itu hanya gejala. Penyakitnya lebih tua, lebih dalam, dan lebih malas untuk diobati: sepak bola di Tuban ini terlalu sering dijalankan dengan cinta, tapi jarang dengan pikiran yang dingin.

Di kota ini, stadion bisa berdiri megah, tapi visi sering kali berjalan pincang. Kita rajin bicara soal kebangkitan, tapi malas mengurus fondasi. Kita bangga menyebut diri tuan rumah, tapi lupa bahwa menjadi tuan rumah tidak otomatis membuat kita jadi tuan di lapangan. Menjadi tuan rumah tanpa kesiapan hanya berarti menyediakan panggung yang bagus untuk orang lain berpesta. Sungguh menggelikan.

Sore itu, Persatu Tuban bermain seperti tim yang takut kalah lebih besar daripada ingin menang sebesar-besarnya. Dan itu selalu menjadi tanda paling jujur dari sebuah klub yang tidak sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal kaki dan paru-paru, tapi juga soal isi kepala. Dan kepala Persatu sore itu tampak penuh oleh pikiran-pikiran kecil, seperti jangan salah, jangan blunder, jangan dipermalukan. Tapi hasilnya justru sebaliknya, permainan menjadi kaku, keputusan menjadi terlambat, dan rasa takut menjadi strategi tak tertulis.

Yang lebih menyedihkan, kekalahan ini tidak datang sebagai kecelakaan. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis. Menurut saya, melihat cara main Persatu yang amburadul—untuk tidak mengatakan busuk—gagal lolos ke babak 16 besar bukan tragedi, melainkan konsekuensi. Seperti seseorang yang jarang belajar lalu heran kenapa nilainya jelek. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi diam-diam kita tahu, ini hasil yang sudah lama diendapkan oleh cara kerja yang setengah-setengah.

Sepak bola di Tuban selama ini lebih mirip acara seremonial ketimbang proyek jangka panjang. Musim datang, tim dibentuk, harapan digantungkan, lalu ketika semua selesai, kita kembali ke titik nol, seolah tidak ada yang perlu dicatat selain skor terakhir. Pembinaan usia muda terdengar seperti slogan, bukan kerja sunyi yang sabar. Manajemen lebih sering terdengar saat pembukaan, tapi lebih jarang terlihat saat evaluasi.

Dan suporter? Mereka adalah orang-orang paling setia dalam hubungan yang paling tidak adil. Datang, berharap, kecewa, lalu datang lagi. Kesetiaan mereka seperti air sumur yang terus diambil, tapi jarang dipikirkan bagaimana menjaganya tetap ada.

Kekalahan 0–3 ini seperti tamparan sekaligus pernyataan bahwa sepak bola Tuban tidak kekurangan semangat, hanya kekurangan arah. Tidak kekurangan orang yang mau berteriak, tapi kekurangan orang yang mau duduk berlama-lama untuk merancang masa depan.

Masa depan itu, kalau mau jujur, sekarang sedang berdiri di persimpangan yang membosankan. Kita bisa memilih untuk mengulang pola lama: ganti pemain, ganti pelatih, ganti jargon, lalu berharap keajaiban turun dari langit kompetisi. Atau kita bisa mulai melakukan hal yang lebih tidak populer: membangun perlahan, dari bawah, dari hal-hal yang tidak kelihatan di spanduk dan tidak terdengar di pengeras suara.

Tapi membangun selalu butuh kesabaran, dan kesabaran adalah barang langka di tempat yang lebih suka hasil cepat.

Sore itu, orang-orang meninggalkan stadion dengan langkah pelan. Beberapa menghadap manajemen dengan kemaraha yang sangat—seperti unggahan di media sosial. Sepak bola, seperti hidup, kadang tidak memberi kita apa yang kita mau, tapi selalu memberi apa yang pantas kita dapatkan. Dan Persatu Tuban, dengan segala cinta yang mengelilinginya, tampaknya sedang mendapat pelajaran yang pahit bahwa stadion besar tidak pernah cukup untuk menutupi tim yang belum selesai dibangun.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurLiga 4Pasuruan UnitedPersatu TubanSEPAK BOLA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Next Post

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co