23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berkelanjutan dan Regeneratif, Syarat Mutlak Pariwisata Indonesia

Chusmeru by Chusmeru
January 4, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

BENCANA demi bencana terjadi di Tanah Air. Ironinya, bencana itu bukan semata karena faktor alam, tetapi juga lantaran ulah manusia. Tak terkecuali bencana yang terjadi di suatu destinasi wisata. Banjir dan tanah longsor menerjang beberapa objek wisata di Indonesia. Belum lagi musibah kecelakaan yang menimpa wisatawan maupun protes masyarakat lokal atas berdirinya sarana pariwisata.

Bila dikaji lebih mendalam, banyak faktor yang menyebabkan bencana, musibah, dan konflik yang terjadi di sektor pariwisata Indonesia. Nafsu serakah manusia menjadi salah satu sebabnya. Pariwisata Indonesia masih sangat tergantung pada bentang alam yang dimiliki. Para pengelola objek wisata selalu merasa tidak cukup dengan lahan yang mereka miliki. Ketika angka kunjungan wisatawan meningkat, maka perluasan lahan menjadi pilihan. Akibatnya ruang yang mestinya terbuka hijau menjadi diperebutkan oleh wisatawan dan berbagai fasilitas pariwisata.

Ambisi untuk mengejar target pendapatan daerah dapat menjadi pemicu terjadi kerusakan lingkungan dan bencana. Banyak daerah yang mengorbankan lahan-lahan produktif untuk dijadikan objek wisata dengan mengabaikan tata ruang. Dampaknya tentu berkurangnya lahan produktif dan potensi kerusakan lingkungan, demi target pendapatan dari sektor pariwisata.

Mengapa banyak kasus pelanggaran tata ruang di sektor pariwisata? Mengapa begitu mudah orang membangun hotel dan resor pariwisata di tebing, bibir sungai, dan sawah? Sudah pasti jawabnya karena lemahnya penegakkan hukum di sektor pariwisata. Investor begitu mudah melanggar tata ruang. Dan semua pejabat diam. Ketika pelanggaran itu menjadi viral di media sosial, para pejabat kebakaran jenggot dan reaktif mengambil tindakan.

Mentalitas berwacana dari pejabat di Indonesia juga meyumbang terjadinya masalah di sektor pariwisata. Tidak sedikit pejabat yang gemar melontarkan wacana tentang pariwisata berkualitas, namun nyatanya mereka tetap berharap angka kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya. Tidak sedikit pula pejabat yang berwacana untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan, tetapi kerusakan lingkungan terjadi di hadapan mereka.

Namun demikian, selera pasar wisata yang rendah juga memberi andil terhadap banyaknya masalah di sektor pariwisata. Ada saja pasar wisata yang tidak peduli dengan keberlanjutan lingkungan. Terbukti, masih sering ditemui wisatawan yang membuang sampah sembarangan, merusak benda-benda bersejarah, maupun berperilaku tidak tertib di satu destinasi. Kesadaran wisatawan terhadap kelestarian lingkungan belum maksimal.

Berkelanjutan 

Bukan hanya dalam aspek lingkungan alam, konsepsi pariwisata berkelanjutan juga menyentuh aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Pariwisata akan bermakna secara sosial jika proses perencanaan, pengelolaan, dan pengembangannya melibatkan partisipasi masyarakat. Acapkali masyarakat hanya menjadi penonton dalam perkembangan pariwisata di daerahnya.

Pembangunan objek wisata di daerah sering diklaim mampu menciptakan lapangan kerja. Namun upaya pendidikan dan pelatihan bidang pariwisata bagi masyarakat lokal terlambat dilakukan. Akibatnya, tenaga kerja sektor pariwisata lebih banyak datang dari luar daerah; dan kecemburuan sosial pun timbul dalam bentuk sikap tak ramah kepada wisatawan yang datang.

Keberlanjutan budaya dalam pariwisata dianggap penting, namun kadang dilematis ketika budaya di suatu daerah dikomodifikasi hanya untuk kepentingan pariwisata. Komunikasi lintasbudaya yang diharapkan terjadi saat wisatawan berinteraksi dengan penduduk setempat menjadi berubah tatkala seni dan budaya dikemas hanya untuk tontonan wisatawan.

Banyak budaya dan tradisi yang kehilangan esensi ketika dikemas menjadi bagian dari industri pariwisata di daerah. Tradisi Sedekah Laut di Pantai Selatan Jawa, misalnya. Tradisi yang dilakukan para nelayan itu di masa lalu sarat dengan makna filosofi yang berhubungan dengan Tuhan, alam, dan manusia. Namun ketika tradisi itu menjadi bagian dari rezim pariwisata, esensi ritual dan filosofinya hilang oleh hingar-bingar wisatawan yang menyaksikannya.

Secara berkelanjutan, pariwisata bukan hanya menjadikan alam ini lestari, tetapi juga memberi keadilan dalam bidang ekonomi. Bukan sekadar menciptakan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah, potensi ekonomi pariwisata juga diharapkan dapat dinikmati secara terus-menerus oleh masyarakat, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Harus dipastikan, pariwisata yang berkembang di satu daerah manfaat ekonominya mengalir ke masyarakat setempat, seperti UMKM maupun industri kecil, bukan hanya mengucur kepada korporasi besar. Masyarakat lokal bukan hanya dilibatkan dalam perencanaan, namun juga kepemilikan usaha bisnis pariwisata. Andai pun ada potensi budaya yang “dijual” kepada wisatawan, maka hendaknya wisatawan “membayar” secara adil, sehingga bermanfaat secara ekonomi bagi penduduk lokal.

Berkelanjutan dan Regerasi Lingkungan

Pariwisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sudah sejak lama digaungkan. Namun dalam praktiknya, pembangunan dan pengembangan pariwisata sering mengorbankan lingkungan. Padahal secara konsepsional, pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah pengembangan pariwisata yang memprioritaskan pelestarian sumber daya alam dan meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan.

Konservasi alam adalah esensi dari pariwisata berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pengembangan pariwisata harus dibarengi dengan upaya melindungi habitat manusia, flora, dan fauna. Tetapi sayangnya pariwisata malah sering justru menimbulkan kerusakan, baik yang disebabkan oleh perilaku wisatawan maupun pembangunan sarana dan prasarana pariwisata.

Sepertinya pariwisata memang tidak cukup berkelanjutan, tetapi juga regeneratif. Pariwisata regeneratif menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan berfokus pada pemulihan serta perbaikan dan regenerasi lingkungan. Pariwisata yang berorientasi pada regenerasi akan berpikir untuk masa depan, bukan keuntungan sesaat.

Bukan sekadar konsep, pariwisata regeneratif mempunyai fokus yang lebih kuat pada restorasi dan pemulihan. Dengan prinsip pariwisata regeneratif ini, maka masyarakat dan industri pariwisata secara bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk terlibat melakukan konservasi, regenerasi, dan restorasi terhadap lingkungan.

Orientasi yang terlalu kuat pada pertumbuhan ekonomi dalam pengembangan pariwisata telah menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan dan sosial. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan dominasi perusahaan besar di sektor pariwisata ditambah dengan lemahnya regulasi membuat upaya konservasi menjadi semakin sulit.

Masayarakat dan wisatawan mungkin dapat dilibatkan dalam regenerasi lingkungan yang rusak akibat pariwisata. Namun pemerintah dan industri pariwisata merupakan pihak yang paling bertanggung jawab. Pemerintah perlu mengkaji produk kebijakan di sektor pariwisata yang berpotensi merusak lingkungan. Pemerintah jangan justru bersekongkol dengan pengusaha untuk menerabas kebijakan yang ada demi memuluskan hasrat bisnis pariwisata.

Industri pariwisata memang sudah seharusnya ikut terlibat dalam konservasi lingkungan, mengingat pariwisata selalu menimbulkan tekanan terhadap sumber daya alam. Maka sudah sewajarnya pengusaha maupun industri pariwisata melakukan konservasi sebagai bentuk tanggung jawab sosialnya.

Prinsip siapa yang menaman dia yang memanen dalam industri pariwisata harus berlaku sebaliknya; siapa yang memanen dia yang bertanggung jawab menanam kembali jika terjadi kerusakan. Ibaratnya, satu atau dua pohon tumbang, satu atau dua satwa mati, maka industri pariwisata bertanggung jawab untuk menggantinya dengan yang baru. Jangan oportunis. Ambisi mengejar  keuntungan ekonomis, tapi tak peduli dengan kerusakan lingkungan.

Pariwisata bukan hanya cerita indah tentang peningkatan devisa negara dan pendapatan daerah. Pariwisata juga bukan cuma kegembiraan banyaknya kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, pariwisata bercerita tentang kerusakan lingkungan, tergerusnya budaya dan tradisi, serta masyarakat yang masih tetap miskin di tengah pembangunan pariwisata.

Karena itulah, berkelanjutan dan regeneratif menjadi syarat mutlak dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Semua dapat tercapai bila penegakkan hukum benar-benar dilaksanakan. Hentikan mentalitas berwacana pejabat di sektor pariwisata; dan tindak tegas wisatawan yang hanya menjadi “sampah” dalam industri pariwisata.[T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Jaswanto

Tags: PariwisataPariwisata Berkelanjutan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Check In, Check Out, dan Anak yang Tak Pernah Libur dari Perjuangan

Next Post

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Pulang ke Palung: Estetika yang Meraba-raba

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co