“Africa” karya Toto adalah perjalanan sonik epik, yang membawa pendengar antara modernitas dan misteri. Suasana surealisnya, lirik yang kontemplatif, dan ritme worldbeat yang menyihir menjadikannya klasik abadi yang membangkitkan kerinduan akan tempat-tempat jauh dan makna yang lebih dalam.
Tidak mengherankan jika “Africa” begitu berkesan, karena Toto menciptakan lagu ini seolah-olah sebagai katarsis dari kerinduan akan petualangan, pergumulan emosi romantis, dan keinginan untuk menemukan makna dalam pengalaman mistis yang mengisi kekosongan batin.
Toto adalah band rock Amerika yang didirikan pada tahun 1976 oleh sejumlah musisi studio berpengalaman dan populer pada masanya. Para anggota band ini dikenal karena kemampuannya memadukan berbagai genre termasuk pop, rock, funk, jazz, R&B, rock progresif, hard rock, soul, dan worldbeat. Mereka menciptakan lagu-lagu yang indah dan penuh resonansi emosional, serta sukses secara komersial. Popularitas mereka mencapai puncaknya pada tahun 1970-an dan 1980-an. Toto telah merilis 14 album.
Formasi klasik mereka yang terdiri dari Bobby Kimball (vokal utama), David Paich (keyboard, vokal), Steve Lukather (gitar, vokal), Jeff Porcaro (drum), Steve Porcaro (keyboard), dan David Hungate (bass) dianggap sebagai katalisator kesuksesan terbesar Toto, dengan dirilisnya album Toto IV (1982), yang mencakup lagu hit “Africa,” bersama dengan lagu-lagu legendaris lainnya seperti “Rosanna,” “Make Believe,” dan “I Won’t Hold You Back.”
Kita juga mengenal banyak hits Toto dari berbagai era, seperti “Hold the Line,” “Lea,” “99,” “I’ll Be Over You,” “Stop Loving You,” dan “Pamela,” karya yang menjadikan mereka sebagai band yang menolak untuk dibatasi hanya pada satu genre.
Lagu “Africa,” yang ditulis oleh David Paich dan Jeff Porcaro, mungkin awalnya merupakan respons kreatif terhadap visual sebuah film dokumenter tentang perjalanan ke Afrika. Hal ini terlihat jelas dalam baris “Dia datang, penerbangan pukul 12:30. Sayapnya yang diterangi cahaya bulan memantulkan bintang-bintang yang membimbing kita menuju keselamatan,” tetapi pada titik berikutnya, setiap kalimat bergerak lebih dalam, menyentuh fantasi lebih lanjut, tentang misteri kerinduan dan pencarian makna hidup.
Afrika di sini lebih dari sekadar lokasi geografis. Ia menjadi simbol “tempat yang jauh” di dalam pikiran manusia, ruang spiritual yang misterius, asing, dan memikat. Kilimanjaro, Serengeti, gema gendang malam, dan bahkan lolongan anjing liar semuanya adalah lanskap psikis yang menandai perjalanan batin: antara rasa takjub dan kerinduan akan sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dipahami.
Tema keseluruhan lagu ini adalah tentang kerinduan yang berpusat pada sosok di Afrika, yang diliputi kekaguman dan perasaan harus membuat keputusan besar dalam hidupnya: “I bless the rains down in Africa” menyampaikan rasa syukur, penghormatan, bahkan spiritualitas, sebuah rasa kagum terhadap alam dan kehidupan.
Lagu ini juga menyampaikan nuansa cinta dan pengorbanan yang kuat. “Butuh banyak hal untuk menjauhkan aku darimu…” menunjukkan kehadiran orang yang dicintai, tetapi ia juga merasa dipanggil oleh sesuatu yang lebih besar (“hal-hal yang tidak pernah kita miliki”). Ini menciptakan konflik antara cinta pribadi dan panggilan, antara keintiman dan petualangan.
Daya tarik “Africa” semakin diperkuat oleh aransemen musik yang cerdik. Nuansa tribal diciptakan melalui simulasi drum Afrika dan suara marimba dan kalimba dari synthesizer, sebuah inovasi pada masa itu. Semua elemen ini bergabung untuk menciptakan “keajaiban” yang membuka gerbang antara realitas dan mimpi.
Pada akhirnya, “Africa” lebih dari sekadar lagu pop sukses dari tahun 1980-an. Ini adalah doa yang dinyanyikan dalam musik; sebuah perjalanan batin tentang cinta, takdir, dan kerinduan umat manusia akan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dalam ritme yang terasa seperti denyut bumi dan harmoni yang bergema seperti suara dari masa lalu, kita tidak hanya mendengar musik; kita seolah melintasi batas antara realitas dan mimpi, dan menemukan diri kita tersesat di sana. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:





























