12 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 1, 2026
in Esai
Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Konsep reinkarnasi—yakni keyakinan tentang kelahiran kembali jiwa ke dalam tubuh baru—telah lama menjadi bagian dari tradisi spiritual Timur dan diskursus filsafat metafisik. Dalam Islam, khususnya teologi arus utama, reinkarnasi secara eksplisit ditolak. Namun, dalam sejarah pemikiran tasawuf dan filsafat Islam, terdapat wacana-wacana simbolik dan metaforis tentang perjalanan jiwa, transformasi kesadaran, serta keberlanjutan eksistensi ruh yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep reinkarnasi secara kritis melalui empat perspektif: agama, sains modern, filsafat, dan tasawuf.

Dengan pendekatan kualitatif-analitis, artikel ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak mengajarkan reinkarnasi dalam arti literal, melainkan mengajukan konsep transformasi ruhani dan perjalanan kesadaran yang jauh lebih subtil. Reinkarnasi, dalam konteks tasawuf, lebih tepat dipahami sebagai simbol epistemologis tentang kematian ego dan kelahiran kesadaran baru.

Pendahuluan

Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada manusia setelah kematian merupakan salah satu tema tertua dalam sejarah intelektual umat manusia. Dari mitologi kuno hingga agama-agama besar, dari filsafat klasik hingga sains modern, manusia terus berusaha memahami nasib jiwa setelah tubuh tidak lagi berfungsi. Salah satu gagasan paling kontroversial dalam diskursus ini adalah konsep reinkarnasi.

Reinkarnasi secara umum dipahami sebagai kembalinya jiwa ke dunia material dalam bentuk tubuh baru setelah kematian. Konsep ini lazim ditemukan dalam agama Hindu, Buddha, Jainisme, serta aliran-aliran spiritual tertentu di Barat modern. Namun, dalam Islam, konsep ini sering dianggap bertentangan dengan ajaran tentang kematian, alam barzakh, kebangkitan, dan hari pembalasan.

Meskipun demikian, tidak sedikit kalangan yang mengaitkan tasawuf—sebagai dimensi esoterik Islam—dengan gagasan reinkarnasi. Karya-karya sufi besar seperti Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Suhrawardi kerap disalahpahami sebagai legitimasi transmigrasi jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan akademis yang penting: apakah tasawuf benar-benar mengajarkan reinkarnasi, ataukah yang dimaksud adalah konsep lain yang secara terminologis dan ontologis berbeda?

Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan menelaah konsep reinkarnasi secara interdisipliner, sekaligus menempatkan tasawuf dalam kerangka epistemologi Islam yang utuh.

Reinkarnasi dalam Perspektif Agama

1. Reinkarnasi dalam Tradisi Keagamaan Timur

Dalam Hindu, reinkarnasi (samsara) merupakan siklus kelahiran dan kematian yang dipengaruhi oleh hukum karma. Jiwa (ātman) terus terlahir kembali hingga mencapai pembebasan (moksha). Dalam Buddhisme, meskipun konsep “jiwa” ditolak, terdapat kesinambungan kesadaran yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain hingga mencapai nirwana.

Dalam kerangka ini, reinkarnasi berfungsi sebagai mekanisme keadilan kosmis: perbuatan dalam satu kehidupan menentukan kondisi kehidupan berikutnya.

2. Reinkarnasi dalam Islam: Posisi Teologis

Islam secara tegas menolak konsep reinkarnasi literal. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia hidup sekali di dunia, mati, lalu memasuki alam barzakh hingga hari kebangkitan:

“Di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Ayat ini menegaskan tidak adanya kembalinya manusia ke kehidupan dunia setelah kematian. Hadis Nabi Muhammad juga memperkuat pandangan bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan akhirat, bukan siklus kelahiran kembali di dunia.

Namun, penolakan terhadap reinkarnasi tidak berarti penolakan terhadap keberlanjutan eksistensi ruh. Islam membedakan secara jelas antara baqā’ al-rūḥ (kelanggengan ruh) dan tanāsukh al-arwāḥ (perpindahan ruh ke tubuh lain), yang terakhir dianggap menyimpang dari akidah.

Reinkarnasi dalam Perspektif Sains

1. Sains dan Kematian Kesadaran

Sains modern mendefinisikan kematian sebagai berhentinya fungsi biologis, khususnya aktivitas otak. Dalam paradigma materialistik, kesadaran dianggap sebagai produk emergen dari sistem saraf. Dengan demikian, ketika otak mati, kesadaran pun dianggap lenyap.

Namun, persoalan muncul ketika sains belum mampu menjelaskan secara tuntas apa itu kesadaran. Masalah kesadaran (hard problem of consciousness) menunjukkan bahwa pengalaman subjektif tidak mudah direduksi menjadi proses fisik.

2. Penelitian tentang Ingatan Kehidupan Lampau

Beberapa penelitian parapsikologi, seperti yang dilakukan Ian Stevenson, mendokumentasikan kasus anak-anak yang mengklaim mengingat kehidupan sebelumnya. Meskipun penelitian ini kontroversial dan tidak diterima secara luas oleh komunitas ilmiah arus utama, ia menunjukkan bahwa gagasan tentang kesinambungan kesadaran pascakematian belum sepenuhnya tertutup secara empiris.

Namun demikian, sains tidak dapat membuktikan reinkarnasi sebagai mekanisme universal. Bukti-bukti yang ada bersifat anekdotal dan belum memenuhi standar replikasi dan verifikasi yang ketat.

3. Batas Epistemologi Sains

Penting dicatat bahwa sains bekerja dalam batasan metodologis tertentu. Ia hanya dapat mengkaji fenomena yang terukur dan terobservasi. Jika kesadaran pascakematian berada di luar dimensi fisik, maka sains tidak memiliki perangkat untuk menegaskannya. Dengan demikian, penolakan sains terhadap reinkarnasi lebih bersifat metodologis daripada ontologis.

Reinkarnasi dalam Perspektif Filsafat

1. Plato dan Keabadian Jiwa

Plato mengajukan gagasan bahwa jiwa bersifat abadi dan telah ada sebelum tubuh. Dalam beberapa dialognya, ia mengemukakan kemungkinan jiwa mengalami kelahiran kembali sebagai bagian dari proses pendidikan kosmik. Namun, reinkarnasi dalam filsafat Plato lebih bersifat moral dan simbolik daripada mekanistik.

2. Filsafat Islam dan Penolakan Tanāsukh

Filsuf Muslim seperti Ibnu Sina secara tegas menolak reinkarnasi literal. Menurutnya, jiwa bersifat individual dan diciptakan bersamaan dengan kesiapan tubuh. Perpindahan jiwa ke tubuh lain dianggap bertentangan dengan prinsip identitas personal.

Namun, filsafat Islam mengakui perjalanan jiwa menuju kesempurnaan intelektual dan spiritual setelah kematian, bukan melalui kelahiran kembali, melainkan melalui transformasi eksistensial.

3. Reinkarnasi sebagai Metafora Eksistensial

Dalam filsafat kontemporer, beberapa pemikir memandang reinkarnasi sebagai metafora perubahan identitas. Manusia “lahir kembali” setiap kali mengalami transformasi kesadaran yang radikal. Dalam arti ini, reinkarnasi bukan peristiwa ontologis, melainkan simbol dinamika eksistensi manusia.

Reinkarnasi dalam Perspektif Tasawuf

1. Tasawuf dan Tuduhan Reinkarnasi

Tasawuf sering dituduh mengajarkan reinkarnasi karena penggunaan bahasa simbolik tentang perjalanan ruh, tajalli, dan transformasi wujud. Beberapa ungkapan sufi, seperti syair Jalaluddin Rumi tentang “mati sebagai mineral, hidup sebagai tumbuhan”, kerap ditafsirkan secara harfiah sebagai reinkarnasi.

Namun, tafsir literal terhadap teks sufi merupakan kekeliruan hermeneutik. Bahasa tasawuf bersifat simbolik, puitis, dan metaforis.

2. Konsep Fana’ dan Baqa’

Dalam tasawuf, konsep sentral yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi adalah fana’ (lebur ego) dan baqa’ (kekal bersama Tuhan). Fana’ bukan kematian fisik, melainkan kematian sifat-sifat egoistik. Setelah itu, seorang salik mengalami baqa’, yakni kelahiran kesadaran baru yang selaras dengan kehendak Ilahi.

Dalam kerangka ini, “kelahiran kembali” adalah peristiwa batiniah, bukan perpindahan ruh ke tubuh lain.

3. Alam Ruh dan Transformasi Kesadaran

Tasawuf mengajarkan bahwa ruh mengalami perjalanan melalui berbagai maqam dan ahwal. Setelah kematian fisik, ruh tidak kembali ke dunia dalam bentuk jasad baru, tetapi melanjutkan perjalanan di alam yang sesuai dengan tingkat kesadarannya.

Ibnu ‘Arabi menegaskan bahwa setiap ruh memiliki identitas ontologis yang unik. Ia menolak tanāsukh, tetapi mengakui keberlanjutan eksistensi ruh dalam bentuk yang tidak terikat ruang dan waktu duniawi.

4. Reinkarnasi sebagai Simbol Epistemologis

Dalam tasawuf, bahasa reinkarnasi dapat dipahami sebagai simbol epistemologis: kesadaran manusia “menjelma” dalam bentuk-bentuk pemahaman baru seiring kedekatannya dengan Tuhan. Setiap maqam adalah “kehidupan” baru, dan setiap hijab yang tersingkap adalah “kematian” dari ketidaktahuan sebelumnya.

Dengan demikian, reinkarnasi dalam tasawuf bukanlah transmigrasi jiwa, melainkan metamorfosis kesadaran.

Sintesis Interdisipliner

Dari kajian lintas disiplin ini, tampak bahwa konsep reinkarnasi memiliki makna yang sangat berbeda tergantung pada kerangka epistemologis yang digunakan. Agama Islam menolak reinkarnasi literal, sains tidak dapat memverifikasinya, filsafat menafsirkannya secara metaforis, dan tasawuf menggunakannya sebagai simbol transformasi ruhani.

Kesalahan umum terjadi ketika bahasa simbolik tasawuf dipaksa masuk ke dalam kategori ontologis yang kaku. Padahal, tasawuf berbicara pada level pengalaman batin, bukan mekanisme kosmik yang bersifat fisikal.

Implikasi Teologis dan Spiritual

Pemahaman yang tepat tentang konsep reinkarnasi dalam tasawuf memiliki implikasi penting. Ia menjaga kemurnian akidah Islam sekaligus membuka ruang dialog dengan tradisi spiritual lain. Lebih jauh, ia mengajak manusia untuk fokus pada “kelahiran kembali” batiniah di kehidupan ini, bukan menunggu kehidupan berikutnya.

Dalam tasawuf, keselamatan tidak ditentukan oleh berapa kali manusia lahir ke dunia, melainkan sejauh mana ia mengenal dirinya dan Tuhannya.

Kesimpulan

Reinkarnasi, dalam pengertian perpindahan ruh ke tubuh baru setelah kematian, tidak diajarkan dalam tasawuf Islam dan bertentangan dengan teologi Islam arus utama. Namun, tasawuf mengajarkan konsep transformasi kesadaran yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi.

Dengan pendekatan interdisipliner, artikel ini menunjukkan bahwa reinkarnasi dalam tasawuf bersifat simbolik dan epistemologis, bukan ontologis. Ia merujuk pada kematian ego dan kelahiran kesadaran ruhani yang lebih tinggi.

Dengan demikian, tasawuf tidak menawarkan siklus kelahiran kembali, melainkan jalan pembebasan kesadaran—bukan dari dunia menuju dunia, tetapi dari ego menuju kebenaran. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranreinkarnasitasawuftransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putra Pradyana, Winner Pro Bali Ambassador: Siap ‘Berkarya, Berbagi, dan Menginspirasi’

Next Post

‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

by Satria Aditya
July 7, 2026
0
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

Read moreDetails
Next Post
‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

'Toto - Africa': Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
Mahindu, Si Perempuan Tembikar
Ulas Buku

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co