22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 1, 2026
in Esai
Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Konsep reinkarnasi—yakni keyakinan tentang kelahiran kembali jiwa ke dalam tubuh baru—telah lama menjadi bagian dari tradisi spiritual Timur dan diskursus filsafat metafisik. Dalam Islam, khususnya teologi arus utama, reinkarnasi secara eksplisit ditolak. Namun, dalam sejarah pemikiran tasawuf dan filsafat Islam, terdapat wacana-wacana simbolik dan metaforis tentang perjalanan jiwa, transformasi kesadaran, serta keberlanjutan eksistensi ruh yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep reinkarnasi secara kritis melalui empat perspektif: agama, sains modern, filsafat, dan tasawuf.

Dengan pendekatan kualitatif-analitis, artikel ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak mengajarkan reinkarnasi dalam arti literal, melainkan mengajukan konsep transformasi ruhani dan perjalanan kesadaran yang jauh lebih subtil. Reinkarnasi, dalam konteks tasawuf, lebih tepat dipahami sebagai simbol epistemologis tentang kematian ego dan kelahiran kesadaran baru.

Pendahuluan

Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada manusia setelah kematian merupakan salah satu tema tertua dalam sejarah intelektual umat manusia. Dari mitologi kuno hingga agama-agama besar, dari filsafat klasik hingga sains modern, manusia terus berusaha memahami nasib jiwa setelah tubuh tidak lagi berfungsi. Salah satu gagasan paling kontroversial dalam diskursus ini adalah konsep reinkarnasi.

Reinkarnasi secara umum dipahami sebagai kembalinya jiwa ke dunia material dalam bentuk tubuh baru setelah kematian. Konsep ini lazim ditemukan dalam agama Hindu, Buddha, Jainisme, serta aliran-aliran spiritual tertentu di Barat modern. Namun, dalam Islam, konsep ini sering dianggap bertentangan dengan ajaran tentang kematian, alam barzakh, kebangkitan, dan hari pembalasan.

Meskipun demikian, tidak sedikit kalangan yang mengaitkan tasawuf—sebagai dimensi esoterik Islam—dengan gagasan reinkarnasi. Karya-karya sufi besar seperti Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Suhrawardi kerap disalahpahami sebagai legitimasi transmigrasi jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan akademis yang penting: apakah tasawuf benar-benar mengajarkan reinkarnasi, ataukah yang dimaksud adalah konsep lain yang secara terminologis dan ontologis berbeda?

Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan menelaah konsep reinkarnasi secara interdisipliner, sekaligus menempatkan tasawuf dalam kerangka epistemologi Islam yang utuh.

Reinkarnasi dalam Perspektif Agama

1. Reinkarnasi dalam Tradisi Keagamaan Timur

Dalam Hindu, reinkarnasi (samsara) merupakan siklus kelahiran dan kematian yang dipengaruhi oleh hukum karma. Jiwa (ātman) terus terlahir kembali hingga mencapai pembebasan (moksha). Dalam Buddhisme, meskipun konsep “jiwa” ditolak, terdapat kesinambungan kesadaran yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain hingga mencapai nirwana.

Dalam kerangka ini, reinkarnasi berfungsi sebagai mekanisme keadilan kosmis: perbuatan dalam satu kehidupan menentukan kondisi kehidupan berikutnya.

2. Reinkarnasi dalam Islam: Posisi Teologis

Islam secara tegas menolak konsep reinkarnasi literal. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia hidup sekali di dunia, mati, lalu memasuki alam barzakh hingga hari kebangkitan:

“Di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Ayat ini menegaskan tidak adanya kembalinya manusia ke kehidupan dunia setelah kematian. Hadis Nabi Muhammad juga memperkuat pandangan bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan akhirat, bukan siklus kelahiran kembali di dunia.

Namun, penolakan terhadap reinkarnasi tidak berarti penolakan terhadap keberlanjutan eksistensi ruh. Islam membedakan secara jelas antara baqā’ al-rūḥ (kelanggengan ruh) dan tanāsukh al-arwāḥ (perpindahan ruh ke tubuh lain), yang terakhir dianggap menyimpang dari akidah.

Reinkarnasi dalam Perspektif Sains

1. Sains dan Kematian Kesadaran

Sains modern mendefinisikan kematian sebagai berhentinya fungsi biologis, khususnya aktivitas otak. Dalam paradigma materialistik, kesadaran dianggap sebagai produk emergen dari sistem saraf. Dengan demikian, ketika otak mati, kesadaran pun dianggap lenyap.

Namun, persoalan muncul ketika sains belum mampu menjelaskan secara tuntas apa itu kesadaran. Masalah kesadaran (hard problem of consciousness) menunjukkan bahwa pengalaman subjektif tidak mudah direduksi menjadi proses fisik.

2. Penelitian tentang Ingatan Kehidupan Lampau

Beberapa penelitian parapsikologi, seperti yang dilakukan Ian Stevenson, mendokumentasikan kasus anak-anak yang mengklaim mengingat kehidupan sebelumnya. Meskipun penelitian ini kontroversial dan tidak diterima secara luas oleh komunitas ilmiah arus utama, ia menunjukkan bahwa gagasan tentang kesinambungan kesadaran pascakematian belum sepenuhnya tertutup secara empiris.

Namun demikian, sains tidak dapat membuktikan reinkarnasi sebagai mekanisme universal. Bukti-bukti yang ada bersifat anekdotal dan belum memenuhi standar replikasi dan verifikasi yang ketat.

3. Batas Epistemologi Sains

Penting dicatat bahwa sains bekerja dalam batasan metodologis tertentu. Ia hanya dapat mengkaji fenomena yang terukur dan terobservasi. Jika kesadaran pascakematian berada di luar dimensi fisik, maka sains tidak memiliki perangkat untuk menegaskannya. Dengan demikian, penolakan sains terhadap reinkarnasi lebih bersifat metodologis daripada ontologis.

Reinkarnasi dalam Perspektif Filsafat

1. Plato dan Keabadian Jiwa

Plato mengajukan gagasan bahwa jiwa bersifat abadi dan telah ada sebelum tubuh. Dalam beberapa dialognya, ia mengemukakan kemungkinan jiwa mengalami kelahiran kembali sebagai bagian dari proses pendidikan kosmik. Namun, reinkarnasi dalam filsafat Plato lebih bersifat moral dan simbolik daripada mekanistik.

2. Filsafat Islam dan Penolakan Tanāsukh

Filsuf Muslim seperti Ibnu Sina secara tegas menolak reinkarnasi literal. Menurutnya, jiwa bersifat individual dan diciptakan bersamaan dengan kesiapan tubuh. Perpindahan jiwa ke tubuh lain dianggap bertentangan dengan prinsip identitas personal.

Namun, filsafat Islam mengakui perjalanan jiwa menuju kesempurnaan intelektual dan spiritual setelah kematian, bukan melalui kelahiran kembali, melainkan melalui transformasi eksistensial.

3. Reinkarnasi sebagai Metafora Eksistensial

Dalam filsafat kontemporer, beberapa pemikir memandang reinkarnasi sebagai metafora perubahan identitas. Manusia “lahir kembali” setiap kali mengalami transformasi kesadaran yang radikal. Dalam arti ini, reinkarnasi bukan peristiwa ontologis, melainkan simbol dinamika eksistensi manusia.

Reinkarnasi dalam Perspektif Tasawuf

1. Tasawuf dan Tuduhan Reinkarnasi

Tasawuf sering dituduh mengajarkan reinkarnasi karena penggunaan bahasa simbolik tentang perjalanan ruh, tajalli, dan transformasi wujud. Beberapa ungkapan sufi, seperti syair Jalaluddin Rumi tentang “mati sebagai mineral, hidup sebagai tumbuhan”, kerap ditafsirkan secara harfiah sebagai reinkarnasi.

Namun, tafsir literal terhadap teks sufi merupakan kekeliruan hermeneutik. Bahasa tasawuf bersifat simbolik, puitis, dan metaforis.

2. Konsep Fana’ dan Baqa’

Dalam tasawuf, konsep sentral yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi adalah fana’ (lebur ego) dan baqa’ (kekal bersama Tuhan). Fana’ bukan kematian fisik, melainkan kematian sifat-sifat egoistik. Setelah itu, seorang salik mengalami baqa’, yakni kelahiran kesadaran baru yang selaras dengan kehendak Ilahi.

Dalam kerangka ini, “kelahiran kembali” adalah peristiwa batiniah, bukan perpindahan ruh ke tubuh lain.

3. Alam Ruh dan Transformasi Kesadaran

Tasawuf mengajarkan bahwa ruh mengalami perjalanan melalui berbagai maqam dan ahwal. Setelah kematian fisik, ruh tidak kembali ke dunia dalam bentuk jasad baru, tetapi melanjutkan perjalanan di alam yang sesuai dengan tingkat kesadarannya.

Ibnu ‘Arabi menegaskan bahwa setiap ruh memiliki identitas ontologis yang unik. Ia menolak tanāsukh, tetapi mengakui keberlanjutan eksistensi ruh dalam bentuk yang tidak terikat ruang dan waktu duniawi.

4. Reinkarnasi sebagai Simbol Epistemologis

Dalam tasawuf, bahasa reinkarnasi dapat dipahami sebagai simbol epistemologis: kesadaran manusia “menjelma” dalam bentuk-bentuk pemahaman baru seiring kedekatannya dengan Tuhan. Setiap maqam adalah “kehidupan” baru, dan setiap hijab yang tersingkap adalah “kematian” dari ketidaktahuan sebelumnya.

Dengan demikian, reinkarnasi dalam tasawuf bukanlah transmigrasi jiwa, melainkan metamorfosis kesadaran.

Sintesis Interdisipliner

Dari kajian lintas disiplin ini, tampak bahwa konsep reinkarnasi memiliki makna yang sangat berbeda tergantung pada kerangka epistemologis yang digunakan. Agama Islam menolak reinkarnasi literal, sains tidak dapat memverifikasinya, filsafat menafsirkannya secara metaforis, dan tasawuf menggunakannya sebagai simbol transformasi ruhani.

Kesalahan umum terjadi ketika bahasa simbolik tasawuf dipaksa masuk ke dalam kategori ontologis yang kaku. Padahal, tasawuf berbicara pada level pengalaman batin, bukan mekanisme kosmik yang bersifat fisikal.

Implikasi Teologis dan Spiritual

Pemahaman yang tepat tentang konsep reinkarnasi dalam tasawuf memiliki implikasi penting. Ia menjaga kemurnian akidah Islam sekaligus membuka ruang dialog dengan tradisi spiritual lain. Lebih jauh, ia mengajak manusia untuk fokus pada “kelahiran kembali” batiniah di kehidupan ini, bukan menunggu kehidupan berikutnya.

Dalam tasawuf, keselamatan tidak ditentukan oleh berapa kali manusia lahir ke dunia, melainkan sejauh mana ia mengenal dirinya dan Tuhannya.

Kesimpulan

Reinkarnasi, dalam pengertian perpindahan ruh ke tubuh baru setelah kematian, tidak diajarkan dalam tasawuf Islam dan bertentangan dengan teologi Islam arus utama. Namun, tasawuf mengajarkan konsep transformasi kesadaran yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi.

Dengan pendekatan interdisipliner, artikel ini menunjukkan bahwa reinkarnasi dalam tasawuf bersifat simbolik dan epistemologis, bukan ontologis. Ia merujuk pada kematian ego dan kelahiran kesadaran ruhani yang lebih tinggi.

Dengan demikian, tasawuf tidak menawarkan siklus kelahiran kembali, melainkan jalan pembebasan kesadaran—bukan dari dunia menuju dunia, tetapi dari ego menuju kebenaran. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranreinkarnasitasawuftransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putra Pradyana, Winner Pro Bali Ambassador: Siap ‘Berkarya, Berbagi, dan Menginspirasi’

Next Post

‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

'Toto - Africa': Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co