23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Khairul A. El Maliky by Khairul A. El Maliky
January 1, 2026
in Esai
Reinkarnasi dan Transmigrasi Jiwa

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Konsep reinkarnasi—yakni keyakinan tentang kelahiran kembali jiwa ke dalam tubuh baru—telah lama menjadi bagian dari tradisi spiritual Timur dan diskursus filsafat metafisik. Dalam Islam, khususnya teologi arus utama, reinkarnasi secara eksplisit ditolak. Namun, dalam sejarah pemikiran tasawuf dan filsafat Islam, terdapat wacana-wacana simbolik dan metaforis tentang perjalanan jiwa, transformasi kesadaran, serta keberlanjutan eksistensi ruh yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep reinkarnasi secara kritis melalui empat perspektif: agama, sains modern, filsafat, dan tasawuf.

Dengan pendekatan kualitatif-analitis, artikel ini menunjukkan bahwa tasawuf tidak mengajarkan reinkarnasi dalam arti literal, melainkan mengajukan konsep transformasi ruhani dan perjalanan kesadaran yang jauh lebih subtil. Reinkarnasi, dalam konteks tasawuf, lebih tepat dipahami sebagai simbol epistemologis tentang kematian ego dan kelahiran kesadaran baru.

Pendahuluan

Pertanyaan tentang apa yang terjadi pada manusia setelah kematian merupakan salah satu tema tertua dalam sejarah intelektual umat manusia. Dari mitologi kuno hingga agama-agama besar, dari filsafat klasik hingga sains modern, manusia terus berusaha memahami nasib jiwa setelah tubuh tidak lagi berfungsi. Salah satu gagasan paling kontroversial dalam diskursus ini adalah konsep reinkarnasi.

Reinkarnasi secara umum dipahami sebagai kembalinya jiwa ke dunia material dalam bentuk tubuh baru setelah kematian. Konsep ini lazim ditemukan dalam agama Hindu, Buddha, Jainisme, serta aliran-aliran spiritual tertentu di Barat modern. Namun, dalam Islam, konsep ini sering dianggap bertentangan dengan ajaran tentang kematian, alam barzakh, kebangkitan, dan hari pembalasan.

Meskipun demikian, tidak sedikit kalangan yang mengaitkan tasawuf—sebagai dimensi esoterik Islam—dengan gagasan reinkarnasi. Karya-karya sufi besar seperti Ibnu ‘Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Suhrawardi kerap disalahpahami sebagai legitimasi transmigrasi jiwa. Hal ini menimbulkan pertanyaan akademis yang penting: apakah tasawuf benar-benar mengajarkan reinkarnasi, ataukah yang dimaksud adalah konsep lain yang secara terminologis dan ontologis berbeda?

Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan menelaah konsep reinkarnasi secara interdisipliner, sekaligus menempatkan tasawuf dalam kerangka epistemologi Islam yang utuh.

Reinkarnasi dalam Perspektif Agama

1. Reinkarnasi dalam Tradisi Keagamaan Timur

Dalam Hindu, reinkarnasi (samsara) merupakan siklus kelahiran dan kematian yang dipengaruhi oleh hukum karma. Jiwa (ātman) terus terlahir kembali hingga mencapai pembebasan (moksha). Dalam Buddhisme, meskipun konsep “jiwa” ditolak, terdapat kesinambungan kesadaran yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain hingga mencapai nirwana.

Dalam kerangka ini, reinkarnasi berfungsi sebagai mekanisme keadilan kosmis: perbuatan dalam satu kehidupan menentukan kondisi kehidupan berikutnya.

2. Reinkarnasi dalam Islam: Posisi Teologis

Islam secara tegas menolak konsep reinkarnasi literal. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia hidup sekali di dunia, mati, lalu memasuki alam barzakh hingga hari kebangkitan:

“Di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 100)

Ayat ini menegaskan tidak adanya kembalinya manusia ke kehidupan dunia setelah kematian. Hadis Nabi Muhammad juga memperkuat pandangan bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan akhirat, bukan siklus kelahiran kembali di dunia.

Namun, penolakan terhadap reinkarnasi tidak berarti penolakan terhadap keberlanjutan eksistensi ruh. Islam membedakan secara jelas antara baqā’ al-rūḥ (kelanggengan ruh) dan tanāsukh al-arwāḥ (perpindahan ruh ke tubuh lain), yang terakhir dianggap menyimpang dari akidah.

Reinkarnasi dalam Perspektif Sains

1. Sains dan Kematian Kesadaran

Sains modern mendefinisikan kematian sebagai berhentinya fungsi biologis, khususnya aktivitas otak. Dalam paradigma materialistik, kesadaran dianggap sebagai produk emergen dari sistem saraf. Dengan demikian, ketika otak mati, kesadaran pun dianggap lenyap.

Namun, persoalan muncul ketika sains belum mampu menjelaskan secara tuntas apa itu kesadaran. Masalah kesadaran (hard problem of consciousness) menunjukkan bahwa pengalaman subjektif tidak mudah direduksi menjadi proses fisik.

2. Penelitian tentang Ingatan Kehidupan Lampau

Beberapa penelitian parapsikologi, seperti yang dilakukan Ian Stevenson, mendokumentasikan kasus anak-anak yang mengklaim mengingat kehidupan sebelumnya. Meskipun penelitian ini kontroversial dan tidak diterima secara luas oleh komunitas ilmiah arus utama, ia menunjukkan bahwa gagasan tentang kesinambungan kesadaran pascakematian belum sepenuhnya tertutup secara empiris.

Namun demikian, sains tidak dapat membuktikan reinkarnasi sebagai mekanisme universal. Bukti-bukti yang ada bersifat anekdotal dan belum memenuhi standar replikasi dan verifikasi yang ketat.

3. Batas Epistemologi Sains

Penting dicatat bahwa sains bekerja dalam batasan metodologis tertentu. Ia hanya dapat mengkaji fenomena yang terukur dan terobservasi. Jika kesadaran pascakematian berada di luar dimensi fisik, maka sains tidak memiliki perangkat untuk menegaskannya. Dengan demikian, penolakan sains terhadap reinkarnasi lebih bersifat metodologis daripada ontologis.

Reinkarnasi dalam Perspektif Filsafat

1. Plato dan Keabadian Jiwa

Plato mengajukan gagasan bahwa jiwa bersifat abadi dan telah ada sebelum tubuh. Dalam beberapa dialognya, ia mengemukakan kemungkinan jiwa mengalami kelahiran kembali sebagai bagian dari proses pendidikan kosmik. Namun, reinkarnasi dalam filsafat Plato lebih bersifat moral dan simbolik daripada mekanistik.

2. Filsafat Islam dan Penolakan Tanāsukh

Filsuf Muslim seperti Ibnu Sina secara tegas menolak reinkarnasi literal. Menurutnya, jiwa bersifat individual dan diciptakan bersamaan dengan kesiapan tubuh. Perpindahan jiwa ke tubuh lain dianggap bertentangan dengan prinsip identitas personal.

Namun, filsafat Islam mengakui perjalanan jiwa menuju kesempurnaan intelektual dan spiritual setelah kematian, bukan melalui kelahiran kembali, melainkan melalui transformasi eksistensial.

3. Reinkarnasi sebagai Metafora Eksistensial

Dalam filsafat kontemporer, beberapa pemikir memandang reinkarnasi sebagai metafora perubahan identitas. Manusia “lahir kembali” setiap kali mengalami transformasi kesadaran yang radikal. Dalam arti ini, reinkarnasi bukan peristiwa ontologis, melainkan simbol dinamika eksistensi manusia.

Reinkarnasi dalam Perspektif Tasawuf

1. Tasawuf dan Tuduhan Reinkarnasi

Tasawuf sering dituduh mengajarkan reinkarnasi karena penggunaan bahasa simbolik tentang perjalanan ruh, tajalli, dan transformasi wujud. Beberapa ungkapan sufi, seperti syair Jalaluddin Rumi tentang “mati sebagai mineral, hidup sebagai tumbuhan”, kerap ditafsirkan secara harfiah sebagai reinkarnasi.

Namun, tafsir literal terhadap teks sufi merupakan kekeliruan hermeneutik. Bahasa tasawuf bersifat simbolik, puitis, dan metaforis.

2. Konsep Fana’ dan Baqa’

Dalam tasawuf, konsep sentral yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi adalah fana’ (lebur ego) dan baqa’ (kekal bersama Tuhan). Fana’ bukan kematian fisik, melainkan kematian sifat-sifat egoistik. Setelah itu, seorang salik mengalami baqa’, yakni kelahiran kesadaran baru yang selaras dengan kehendak Ilahi.

Dalam kerangka ini, “kelahiran kembali” adalah peristiwa batiniah, bukan perpindahan ruh ke tubuh lain.

3. Alam Ruh dan Transformasi Kesadaran

Tasawuf mengajarkan bahwa ruh mengalami perjalanan melalui berbagai maqam dan ahwal. Setelah kematian fisik, ruh tidak kembali ke dunia dalam bentuk jasad baru, tetapi melanjutkan perjalanan di alam yang sesuai dengan tingkat kesadarannya.

Ibnu ‘Arabi menegaskan bahwa setiap ruh memiliki identitas ontologis yang unik. Ia menolak tanāsukh, tetapi mengakui keberlanjutan eksistensi ruh dalam bentuk yang tidak terikat ruang dan waktu duniawi.

4. Reinkarnasi sebagai Simbol Epistemologis

Dalam tasawuf, bahasa reinkarnasi dapat dipahami sebagai simbol epistemologis: kesadaran manusia “menjelma” dalam bentuk-bentuk pemahaman baru seiring kedekatannya dengan Tuhan. Setiap maqam adalah “kehidupan” baru, dan setiap hijab yang tersingkap adalah “kematian” dari ketidaktahuan sebelumnya.

Dengan demikian, reinkarnasi dalam tasawuf bukanlah transmigrasi jiwa, melainkan metamorfosis kesadaran.

Sintesis Interdisipliner

Dari kajian lintas disiplin ini, tampak bahwa konsep reinkarnasi memiliki makna yang sangat berbeda tergantung pada kerangka epistemologis yang digunakan. Agama Islam menolak reinkarnasi literal, sains tidak dapat memverifikasinya, filsafat menafsirkannya secara metaforis, dan tasawuf menggunakannya sebagai simbol transformasi ruhani.

Kesalahan umum terjadi ketika bahasa simbolik tasawuf dipaksa masuk ke dalam kategori ontologis yang kaku. Padahal, tasawuf berbicara pada level pengalaman batin, bukan mekanisme kosmik yang bersifat fisikal.

Implikasi Teologis dan Spiritual

Pemahaman yang tepat tentang konsep reinkarnasi dalam tasawuf memiliki implikasi penting. Ia menjaga kemurnian akidah Islam sekaligus membuka ruang dialog dengan tradisi spiritual lain. Lebih jauh, ia mengajak manusia untuk fokus pada “kelahiran kembali” batiniah di kehidupan ini, bukan menunggu kehidupan berikutnya.

Dalam tasawuf, keselamatan tidak ditentukan oleh berapa kali manusia lahir ke dunia, melainkan sejauh mana ia mengenal dirinya dan Tuhannya.

Kesimpulan

Reinkarnasi, dalam pengertian perpindahan ruh ke tubuh baru setelah kematian, tidak diajarkan dalam tasawuf Islam dan bertentangan dengan teologi Islam arus utama. Namun, tasawuf mengajarkan konsep transformasi kesadaran yang sering disalahpahami sebagai reinkarnasi.

Dengan pendekatan interdisipliner, artikel ini menunjukkan bahwa reinkarnasi dalam tasawuf bersifat simbolik dan epistemologis, bukan ontologis. Ia merujuk pada kematian ego dan kelahiran kesadaran ruhani yang lebih tinggi.

Dengan demikian, tasawuf tidak menawarkan siklus kelahiran kembali, melainkan jalan pembebasan kesadaran—bukan dari dunia menuju dunia, tetapi dari ego menuju kebenaran. [T]

Penulis: Khairul A. El Maliky
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesadaranreinkarnasitasawuftransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putra Pradyana, Winner Pro Bali Ambassador: Siap ‘Berkarya, Berbagi, dan Menginspirasi’

Next Post

‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Khairul A. El Maliky

Khairul A. El Maliky

Pengarang novel yang lahir di Kota Probolinggo. Buku terbarunya yang sudah terbit antara lain, Akad, Pintu Tauhid, Kalam, Kalam Cinta (Penerbit MNC, 2024) dan Pernikahan & Prasangka Cinta (Segera). Di sela-sela mengajar Sastra Indonesia, pengarang juga menulis dan mengirimkan cerpennya ke berbagai media massa.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Toto – Africa’: Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

'Toto - Africa': Membuka Gerbang Menuju Dunia Lain, Antara Realita dan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co