SEBAGAI orang Bali tentunya tidak asing dengan istilah hulu teben. Hulu teben sering menjadi dasar perilaku kita contohnya ketika kita tidur. Orang tua kita akan mengingatkan tentang hulu teben. Kita disuruh tidur menghadap ke hulu, menghadap ke utara atau timur. Utara dan timur adalah arah yang disucikan menurut Hindu. Utara adalah simbol dari gunung, timur adalah arah matahari terbit. Selatan adalah simbol dari laut, barat adalah arah matahari terbenam. Dari sinilah muncul istilah Nyegara Gunung, pemuliaan terhadap gunung dan lautan.
Pemerintah Provinsi Bali dengan visi yang kita kenal dengan Nangun Sat Kerthi Loka Bali berusaha membangun secala holistik, membangun alam Bali, sumber daya manusia Bali, adat dan budaya Bali. Sat Kerthi adalah ajaran Agama Hindu yang berarti enam jalan pelestarian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sat Kerthi meliputi Atma Kerthi, Jagat Kerthi, Wana Kerthi, Danu Kerthi, Jana Kerthi dan Segara Kerthi. Dengan menjalankan Sat Kerthi akan terwujud kesejahteraan dari hulu ke teben, dari hulu ke hilir, dari gunung ke laut.
Dari semua program Sat Kerthi yang pemerintah canangkan penulis tertarik dengan Segara Kerthi. Kenapa? Karena laut seringkali kita abaikan, kita menganggap gunung sebagai tempat suci sementara laut bersifat profan. Jika diibaratkan dengan manusia, hulu adalah kepala bagian yang kita anggap suci. Teben adalah kaki bagian yang kita anggap profan. Padahal kepala dan kaki sama pentingnya membentuk keutuhan manusia.
Laut juga identik dengan sampah, tempat pembuangan akhir sampah di daratan. Bahkan Melasti yang merupakan salah satu dari penerapan Segara Kerthi justru sering meninggalkan sampah. Warga yang menggelar upacara penyucian Bhuana Agung, tidak berselang lama meninggalkan sampah yang mengotori Bhuana Agung itu sendiri. Sudah saatnya kita menerapkan Segara Kerthi tidak hanya dari tataran upacara melainkan melalui tindakan nyata menjaga laut dari tumpukan sampah.
Salah satu sosok yang telah menerapkan Segara Kerthi dalam hidupnya adalah I Gede Sukarda. Ia konsisten menjaga Pantai Jasri, Karangasem, dari tumpukan sampah seperti kayu, triplek, kawat, tali tambang. Sampah-sampah itu ia bawa pulang untuk ia kreasikan menjadi karya seni. Jalan seni bagi beliau bisa menjadi solusi permasalahan sampah di laut. Langkah kecil ini banyak menginspirasi orang khususnya penulis sendiri untuk menerapkan Segara Kerthi secara nyata dalam kehidupan.
Nyegara Gunung merupakan simbol keseimbangan. Gunung sebagai simbol purusa atau asas kejiwaan dan laut adalah simbol pradana atau asas kebendaan. Kita hendaknya memuliakan gunung dan laut secara seimbang. Konsep keseimbangan ini tercermin pada pembangunan Pura Padma Bhuana. Pura Padma Bhuana adalah pura yang dibangun di sembilan arah mata angin. Ini menyiratkan di segala tempat adalah tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Gunung dan laut adalah ayah dan ibu kita darinya muncul penciptaan. Air yang menguap dari laut kemudian menjadi awan dan hujan. Siklus ini terjadi secara alami yang disebut dengan Cakra Yadnya atau perputaran yadnya. Bhagawad Gita III, 14 menyebutkan adanya makhluk hidup karena makanan, adanya makanan karena adanya hujan, adanya hujan karena adanya yadnya, adanya yadnya karena adanya karma.
Sloka tersebut menyiratkan pentingnya hujan, terjadinya hujan karena adanya keseimbangan gunung dan laut. Oleh karenanya kita harus memperlakukan gunung dan lautan seperti memperlakukan ayah dan ibu kita. Laut hanya kita sadari peranannya ketika melaksanakan melasti dimana semua umat berbondong-bondong ke laut mengiringi Ista Dewata yang dipuja. Melasti yang tujuannya menyucikan Bhuana Agung dengan memohon air penyucian di laut. Justru dalam kenyataannya seringkali upacara melasti mendatangkan sampah, sampah upakara dan sampah plastik.
Upaya pelestarian tidak hanya dilakukan di gunung tetapi juga di laut. Laut selama ini sudah sabar menampung sampah manusia selayaknya kesabaran seorang ibu. Kita bisa menyelamatkan ibu kita dengan kembali pada ajaran Segara Kerthi. Kita menerapkan Segara Kerthi dengan langkah nyata misalnya mengolah sampah. Pak Gede Sukarda adalah sosok yang mencintai laut dan menjaganya dengan jalan seni.
I Gede Sukarda adalah seniman kelahiran Karangasem tanggal 31 Desember 1962. Ia menamatkan pendidikan SMSR Negeri Denpasar pada tahun 1985 kemudian menjadi Guru Seni Budaya di SMP Negeri 1 Abang Karangasem pada tahun 1986 hingga tahun 2014. Selanjutnya kesehariannya sepenuhnya diisi dengan berkesenian. Sampah-sampah di pantai menjadi inspirasinya dalam membuat karya-karya yang abstrak.
Karya abstrak menjadi aliran yang dipilih oleh Gede Sukarda karena mampu mengekspresikan emosi beliau. Sampah-sampah yang mengisi sepanjang Pantai Jasri membuat miris perasaan beliau diubah menjadi karya seni. Di balik karya itu terbersit ajakan untuk menjaga pantai dari sampah.
Segara Kerthi adalah upaya untuk menjaga kelestarian laut sebagai sumber alam yang memiliki fungsi yang kompleks. Hal ini dijelaskan dalam Lontar Sundarigama peranan laut “Anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana..” Laut dapat menghanyutkan kekotoran diri atau papa klesa dan menghilangkan kotornya alam semesta.
Salah satu jalan yang bisa dilakukan untuk menjaga laut adalah dengan seni. Mengapa seni? Karena seni memperhalus budhi. Dengan seni akan memunculkan kesadaran manusia akan hubungan Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Bhuana Agung sebagai tempat bersemayamnya Brahman atau Tuhan dan Bhuana Alit adalah tempat bersemayamnya Atman.
Seni adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan penuh penghayatan dan kesadaran penuh. Apapun yang dilakukan dengan penuh penghayatan itulah seni, misalnya ketika menyapu dengan kesadaran maka itulah seni. Kata seni berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu sani yang artinya persembahan. Ini artinya segala sesuatu yang kita lakukan dengan kesadaran penuh dan hasilnya kita persembahkan kepada Tuhan itulah seni.
Tuhan di dalam Weda disebutkan menciptakan alam ini dalam kondisi lila atau kondisi bahagia, bersenang-senang. Kebahagiaan adalah intisari dari penciptaan, kita tidak bisa menciptakan sebuah karya dalam kondisi sedih. Karya seni pun diciptakan dengan kondisi yang gembira dan berbahagia. Media seni pun bisa beragam tergantung letak kegembiraan penciptanya.
Gede Sukarda berkarya sama sekali tidak memperdulikan persepsi atau apresiasi orang. Dalam berkarya beliau mengutamakan kegembiraan sebagai bentuk perayaan atas kehidupan. Dalam karya beliau kita akan banyak menemukan simbol Tapak Dara. Simbol Tapak Dara digambarkan dengan dua garis melintang. Tapak Dara adalah simbol keseimbangan. Ini seperti memberikan pesan kepada kita bahwa hidup ini harus dijalankan secara seimbang.
Selayaknya ombak yang indah karena naik turunnya, hidup ini indah karena suka dukanya. Melalui seni Gede Sukarda menyadari bahwa suka duka adalah gelombang yang akan berlalu. Bhagawad Gita II.15 menyebutkan orang bijaksana memandang sama suka dan duka. Ada suka dalam duka, ada duka dalam suka. Orang bijak mampu melihat ada bunga dalam sampah dan ada sampah dalam bunga.

Gede Sukarda tidak hanya bergerak sendiri pada tahun 1986 ia menggagas Komunitas Seni Lempuyang. Komunitas ini menjadi wadah para seniman berkontribusi pada pelestarian laut. Pada tahun 2007 bertempat di pantai Amed, Komunitas Seni Lempuyang menggelar kegiatan Bendega Art. Selain menggelar pameran seni kegiatan juga diisi dengan bersih-bersih pantai bersama warga setempat. Pada tahun yang sama Komunitas Seni Lempuyang berpartisipasi pada Konfrensi Perubahan Iklim PBB melalui pameran seni instlasi sampah plastik. Pada tahun 2015 komunitas menenggelamkan patung terumbu karang di Pantai Jemeluk Karangasem.

Atharwa Weda XII.1.1 menyebutkan ibu pertiwi ini akan menjadi suci jika disangga oleh enam perilaku suci. Enam perilaku suci itu meliputi Satya, Rta, Diksa, Tapa, Brahma, dan Yadnya. Hakikat penyucian ibu pertiwi ini adalah caru yang jika ditarik lagi pengertiannya, caru artinya manis. Caru adalah upaya menjalin hubungan yang manis atau harmonis dengan alam ini.
Satya artinya kejujuran, kejujuran yang pertama dalam Panca Satya adalah Satya Hredaya yaitu setia kepada kata hati. Gede Sukarda dalam tuturnya menyatakan sampah yang ia olah terlebih dahulu melalui dialog bathin dengan sampah itu. Ia tidak mengubah bentuk sampah tetapi menampilkan sampah itu apa adanya sesuai dialog batinnta. Melihat karya Gede Sukarda kita tidak hanya disuguhkan dengan keindahan tetapi ada pesan yang bisa diinterpretasikan secara bebas.
Gede Sukarda sempat menjadi guru SMPN 1 Abang kemudian memilih pensiun dini karena diabetes. Pantai memberikan jalan kesembuhan jasmani rohani beliau. Jalan kesembuhan itu justru beliau dapatkan dari mengolah sampah. Karya Gede Sukarda banyak menampilkan simbol tapak dara. Tapak Dara dibuat dengan memadukan garis veritikal dan horizontal. Rta atau hukum alam ini sangat menghendaki keseimbangan. Jika manusia tidak mampu membuat keseimbangan, maka alam akan membuat keseimbangannya sendiri.

Diksa atau penyucian jasmani dan rohani. Manawa Dharmasastra V.109 menyebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan ilmu dan tapa, akal dibersihkan dengan kebijaksanaan. Melalui karya seni, Gede Sukarda mendapatkan jalan pembersihan dan penyucian diri. Ia mampu mengolah sampah di luar (Bhuana Agung) dan di dalam (Bhuana Alit). Bhuana Agung atau alam ini memiliki hubungan yang erat dengan Bhuana Alit atau tubuh ini. Alam yang sakit adalah penanda dari adanya tubuh yang sakit sehingga menyembuhkan diri sendiri sama dengan menyembuhkan alam ini.
Tapa artinya pengendalian atau pengekangan diri dari hawa nafsu. Manusia memiliki Dasa Indria yang harus dikendalikan dari hawa nafsu. Dalam Bhagawad Gita XVI.21 menyebutkan tiga pintu penderitaan yaitu Kama, Krodha, dan Lobha. Karya seni Gede Sukarda berangkat dari kejujuran hati dan kebebasan dalam berkspresi. Tidak ada motif mencari pengakuan atau validasi dari luar. Ia sudah menemukan kebahagiaan di dalam sehingga tidak perlu lagi mencari kebahagiaan di luar.
Brahma artinya doa yang dipanjatkan. Doa yang paling murni adalah ungkapan rasa syukur dan berkecukupan. Karya seni Gede Sukarda menyiratkan kebahagiaan dan keceriaan anak-anak. Ia melihat sampah seperti kebahagiaan anak kecil yang melihat mainan. Dengan rasa syukur dan berkecukupan ia mengubah sampah menjadi bunga yang indah. Seperti yang diungkapkan dalam Bhagawad Gita II.15 orang bijaksana adalah orang yang mampu bersikap sama dalam suka dan duka. Mampu melihat hal baik dalam kondisi terburuk sekalipun.
Yadnya adalah korban suci yang tulus ikhlas. Panca Yadnya menyebutkan tentang Bhuta Yadnya untuk mewujudkan Bhuta Hita atau kebahagiaan alam. Inti upacara Bhuta Yadnya adalah caru yang diartikan sebagai manis. Menjalin hubungan yang manis antara alam dan manusia. Gede Sukarda percaya bahwa hidup harus diisi dengan yadnya selayaknya alam ini yang sudah beryadnya untuk kesejahteraan manusia. Usia Gede Sukarda memang tidak lagi muda namun dedikasinya terhadap laut tidak pernah surut.. Tidak ada puja puji, tidak ada deretan piagam dan penghargaan, langkah beliau murni adalah bentuk cinta terhadap laut, cinta terhadap alam ini. [T]
Penulis: I Nyoman Sutarjana
Editor: Adnyana Ole



























