23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 30, 2025
in Esai
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

MALAM tahun baru selalu penuh suara. Dentuman, teriakan, musik, dan tawa yang berlapis-lapis. Kita merayakan hidup dengan cara paling manusiawi menurut kita, yakni membuat dunia terdengar.

Tetapi bagi kucing dan anjing di sekitar kita, malam itu justru menjadi saat ketika dunia kehilangan maknanya.

Setiap pergantian tahun, manusia seperti berlomba menciptakan kebisingan. Petasan dinyalakan tanpa henti, kembang api memecah langit, speaker diputar melebihi batas ruang, dan suara tawa dilepaskan seolah tak perlu jeda. Kita menyebutnya perayaan. Kita menyebutnya kegembiraan. Kita menyebutnya tradisi.

Namun di balik pintu rumah, di kolong meja, di bawah motor yang terparkir, di kandang sempit, di lorong kos-kosan yang pengap, ada makhluk lain yang tidak pernah sepakat dengan definisi kita tentang bahagia.

Kucing dan anjing yang kini kita panggil dengan kata manis anabul mengalami malam tahun baru sebagai peristiwa yang sulit dipahami. Dunia yang biasanya akrab mendadak berubah menjadi ancaman. Bagi manusia, suara hanyalah suara. Bagi anabul, ia adalah ketakutan.

Anjing dan kucing tidak mendengar dunia seperti kita. Pendengaran mereka lebih tajam, lebih peka, lebih rentan. Suara keras tidak sekadar mengejutkan, tetapi menyerang sistem saraf. Dentuman petasan yang bagi manusia terasa sebentar, bagi anabul bisa terasa panjang dan berlapis-lapis.

Ketika suara datang tanpa sebab yang bisa dimengerti, naluri bekerja. Tubuh bersiap menghadapi bahaya. Jantung berdetak lebih cepat. Napas memendek. Pikiran jika boleh kita sebut demikian mencari jalan keluar.

Banyak anjing berlari tanpa arah. Banyak kucing menghilang semalaman, bahkan berhari-hari. Ada yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali. Semua itu terjadi bukan karena mereka lemah, tetapi karena dunia yang mereka huni tiba-tiba berubah tanpa peringatan. Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah perayaan hidup.

Indonesia dan Tradisi Kebisingan

Indonesia adalah negeri yang ramah, tetapi juga sangat berisik. Dari hajatan, konvoi kemenangan, perayaan kelulusan, hingga pergantian tahun, kebisingan sering dianggap sebagai bukti sah kegembiraan. Semakin keras, semakin meriah. Semakin besar speaker, semakin dianggap hidup.

Petasan bukan sekadar mainan. Ia telah menjadi simbol. Tanda keberanian, euforia, bahkan eksistensi. Di gang sempit, di permukiman padat, di halaman kos-kosan, suara dilepaskan tanpa mempertimbangkan ruang dan makhluk lain yang hidup di dalamnya.

Di kota-kota Indonesia, populasi kucing dan anjing baik peliharaan maupun jalanan sangat besar. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tetapi tidak pernah diajak berunding soal tradisi. Mereka hanya diminta menyesuaikan diri.Padahal penyesuaian itu mahal. Ia dibayar dengan ketakutan.

Jika ada ruang yang paling rawan bagi anabul pada malam tahun baru, barangkali itulah kos-kosan dan kawasan padat penduduk. Dinding tipis, lorong sempit, suara yang memantul tanpa jeda. Musik dari satu kamar bertemu petasan dari gang sebelah. Tidak ada ruang aman. Tidak ada jeda.

Banyak orang memelihara kucing di kamar kos sebagai teman hidup. Hewan itu hadir dalam kesepian, menemani malam-malam sunyi, menjadi saksi rutinitas harian. Tetapi ketika tahun baru datang, relasi itu diuji.

Speaker dinyalakan. Teman-teman datang. Tawa memenuhi ruangan. Dan kucing itu yang tidak mengerti kalender mendadak kehilangan dunia yang dikenalnya.

Ia tidak tahu apa itu tahun baru. Ia hanya tahu bahwa malam ini berbeda. Dan perbedaan itu menakutkan.

Berhadapan dengan Euforia

Setiap menjelang tahun baru, suara aktivis kesejahteraan hewan kembali muncul. Imbauan disebar. Poster dibagikan. Permintaan empati diulang. Isinya hampir selalu sama, petasan berbahaya bagi hewan.

Respons publik pun nyaris selalu seragam. Ada yang setuju, ada yang mengejek, ada yang menuduh terlalu sensitif. Seolah empati adalah kemewahan yang hanya boleh diberikan jika tidak mengganggu kesenangan.

Padahal ini bukan soal melarang bahagia. Ini soal mengubah cara kita merayakan. Organisasi kesejahteraan hewan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa suara petasan dan kembang api memicu stres akut pada hewan peliharaan. Reaksi yang muncul bukan sekadar takut, tetapi kepanikan, disorientasi, hingga dorongan melarikan diri yang membahayakan nyawa.

Dalam banyak kasus, yang dianggap manusia sebagai hiburan singkat justru menjadi pengalaman traumatis bagi hewan yang tidak pernah memahami alasan di balik kebisingan itu.

Indonesia memang belum sampai pada tahap pembatasan serius. Tetapi perubahan kebudayaan jarang dimulai dari regulasi. Ia sering bermula dari kesadaran.

Kata anabul terdengar penuh kasih. Anak bulu. Anak yang tidak berbicara. Anak yang bergantung. Tetapi ada jarak antara kata dan tindakan. Kita memeluk mereka di hari-hari biasa, lalu membiarkan mereka gemetar di malam perayaan. Kita mengunggah foto mereka di media sosial, tetapi lupa bahwa suara juga bisa melukai.

Mungkin karena penderitaan hewan tidak pernah riuh. Ketakutan mereka terjadi dalam diam. Tidak ada jeritan yang bisa kita pahami. Tidak ada protes yang bisa viral. Justru karena sunyi itulah, penderitaan itu sering tidak dianggap ada.

Tahun Baru sebagai Cermin

Setiap perayaan besar selalu menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana kita memahami kebahagiaan. Apakah bahagia harus berisik. Apakah senang harus mendominasi ruang. Apakah merayakan hidup harus membuat makhluk lain takut.

Di Bali, ada satu hari dalam setahun ketika manusia memilih diam. Nyepi. Jalanan kosong. Langit bersih. Suara menepi. Banyak orang menyebutnya unik, bahkan ekstrem. Tetapi di hari itu, banyak hewan justru terlihat lebih tenang. Diam, ternyata, juga bisa menjadi bentuk perayaan.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tahun baru. Yang patut dipikirkan adalah caranya. Kita bisa berkumpul tanpa petasan. Kita bisa mendengarkan musik tanpa menggetarkan dinding. Kita bisa bersorak tanpa mengubah rumah menjadi medan perang akustik.

Empati sering kali hadir dalam tindakan kecil. Menurunkan volume. Menunda petasan. Mengingat bahwa ada makhluk lain di sekitar kita yang tidak punya pilihan.

Jika kita bisa mengubah cara merayakan satu malam dalam setahun, mungkin kita juga bisa belajar hidup lebih pelan di hari-hari lain.

Saat hitung mundur mencapai nol, manusia bersorak. Langit menyala. Musik memuncak. Kita saling berpelukan, menyebut harapan, dan menamai ulang waktu.

Di sudut-sudut rumah, seekor kucing meringkuk dalam diam. Seekor anjing berusaha memahami dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu keras. Mereka tidak tahu apa yang dirayakan. Mereka hanya tahu rasa takut.

Tahun baru seharusnya menjadi tentang permulaan. Tentang hidup yang ingin kita jalani dengan lebih baik. Barangkali itu juga berarti belajar merayakan tanpa menambah ketakutan di sekitar kita. Sebab mungkin, ukuran kemanusiaan tidak terletak pada seberapa meriah kita bersenang-senang, melainkan pada seberapa jauh kita mampu menjaga makhluk lain tetap merasa aman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Next Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co