14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Chusmeru by Chusmeru
December 30, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

MENUTUP tahun 2025, duka melanda bangsa Indonesia. Beragam bencana terjadi di berbagai daerah. Puncaknya, banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Ada yang menyebut ini musibah. Ada pula yang menganggap bencana hidrometeorologi ini akibat ulah manusia yang merusak lingkungan.

 Dunia ilmu pengetahuan mungkin mampu menjelaskan. Sisi religiusitas juga punya alasan. Namun ruang tradisional juga punya cerita tentang ini semua. Dalam dunia pewayangan, khususnya di Jawa; semua bencana adalah gonjang-ganjing semesta. Bisa berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus, dan hutan gundul. Gonjang-ganjing juga dapat berupa kekacauan sosial, ekonomi, dan politik, seperti kriminalitas, korupsi, kelaparan, pengangguran, maupun konflik politik.

Mungkin ahistoris, tidak rasional, dan terdengar kuno. Tetapi dunia pewayangan sering banyak memberikan perspektif sesuai zaman. Mengandung nilai yang dipercaya dan dipedomani sebagai rujukan perilaku dari waktu ke waktu. Bahkan dunia pewayangan dapat memberikan prediksi lewat tanda-tanda alam dan munculnya tokoh-tokoh di balik gejolak semesta.

Adalah suluk (nyanyian) seorang dalang yang menggambarkan bakal terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran dalam kehidupan manusia dan semesta. Suluk dalang bisa beragam; yang paling sering diingat penonton wayang adalah yang berbunyi:“Bumi gonjang ganjing langit kelap-kelip, katon lir kincanging alis risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, saking tyas baliwur lumaris anggandrung, Dhuh Sang Ri Sumitra, tanlyan  paran reh kabeh sining wana, nangsaya maringsun”.

Arti suluk tersebut adalah: “Bumi bergerak-gerak (gempa), langit gelap kilat menyambar-nyambar, tampak seperti gerak alis orang yang sedang kasmaran, semua yang terlihat seperti gunung yang bergoyang-goyang , dari hati yang kacau ia pun berjalan memikat, Dhuh Sang Adi Sumitra,  tiada yang lain, mengapa semua isi hutan,  menganiaya pada diriku”

Menyimak suluk tersebut, gambaran semesta itu tampaknya berlaku sepanjang zaman. Selalu kontekstual untuk kekinian. Gonjang-ganjing bumi Indonesia nyaris terjadi setiap tahun. Bencana demi bencana silih berganti. Ada yang memang karena faktor alam, namun tidak jarang pula bencana yang datang karena ulah manusia.

Gonjang-ganjing bukan semata banjir bandang dan hutan yang gundul. Dalam ruang sosial, ekonomi, dan politik juga muncul berbagai kasus yang menimbulkan gonjang-ganjing. Korupsi ratusan triliun rupiah, pajak yang mencekik rakyat, dan harga sembako yang terus melonjak naik juga dapat menyebabkan gonjang-ganjing. Belum lagi persoalan ijazah mantan presiden yang tak kunjung tuntas menyebabkan gonjang-ganjing politik.

Pertanda Gonjang-Ganjing

Banyak faktor yang dapat menjadi pertanda gonjang-ganjing. Ramalan akan terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran juga sudah disampaikan Sri Aji Joyoboyo atau Prabu Jayabaya jauh sebelum Indonesia merdeka. Beliau dikenal sebagai Raja Kediri yang berkuasa sekitar tahun 1135 hingga 1159. Prabu Jayabaya banyak membuat ramalan tentang kehidupan masyarakat Nusantara.

Ramalan Prabu Jayabaya lebih banyak menyoroti kehidupan sosial, ekonomi, dan politik saat itu. Pertanda gonjang-ganjing dapat dilihat dari pembagian maupun perebutan kekuasaan. Sejarah berbagai negara senantiasa diwarnai dengan kegaduhan politik yang bersumber dari perebutan kekuasaan. Pemilu yang digadang-gadang sebagai jalan keluar untuk memilih pemimpin secara demokratis pun acapkali menimbulkan keributan. Pihak yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, pihak yang menang merasa jumawa atas kemenangannya.

Pembagian kekuasaan juga dapat memicu gonjang ganjing atau ontran-ontran. Hal ini terjadi ketika penguasa memilih orang-orang yang dekat dengan dirinya untuk duduk dalam pemerintahan. Sementara orang yang tak sepaham akan dijauhkan dari kekuasaan. Modal kejujuran semata tidak cukup bagi orang untuk mendapat jatah kekuasaan. Hal itu pernah dikatakan oleh Jayabaya dengan ungkapan “sing ciluka mulya, sing jujur kojur”. Artinya yang salah mulia, yang jujur hancur (Chusmeru,2024).

Perebutan sumber daya alam dapat pula memicu keonaran. Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Jika dikelola dengan baik, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat tentu akan membuat Indonesia sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi.

Namun bila sumber daya alam itu hanya dikelola oleh penguasa dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, maka gonjang-ganjing akan terjadi. Dan fenomena itu kini mendekati datangnya tanda-tanda kegaduhan. Hutan gundul dan banjir bandang yang melanda berbagai daerah diduga lantaran pengelolaan sumber daya alam yang serakah dan tak berpihak kepada kemakmuran rakyat.

Sumber daya alam di darat, laut, dan udara diperebutkan. Tanah milik rakyat diserobot untuk kepentingan bisnis. Kasus tambang ilegal juga mewarnai persoalan sumber daya alam di Indonesia. Ada tambang ilegal yang memang dilakukan oleh masyarakat lantaran ingin merasakan nikmat ekonomis dari kekayaan alam tanpa harus ada izin. Namun ada pula tambang ilegal yang dilakukan oleh pengusaha yang dibekingi oleh oknum penguasa.

Pertanda gonjang-ganjing juga dapat terlihat dari munculnya orang-orang yang haus pada harta dan kekayaan. Orang tidak cukup mendapatkan kekuasaan belaka. Namun kekuasaan itu akan digunakan untuk menumpuk harta dan kekayaan. Jangan heran jika penjara saat ini banyak dihuni oleh para pejabat dan elit politik. Kegaduhan pun terjadi. Bukan hanya di dunia nyata; gonjang-ganjing juga terjadi di dunia maya lewat media sosial tentang perilaku korup oknum penguasa.

Tokoh yang Rakus dan Merusak Alam

Tokoh dalam pewayangan ibarat artis peran, ada yang protagonis, ada pula yang antagonis. Begitu pun dalam kehidupan nyata, sangat mudah ditemui orang-orang dengan perangai baik dan bijak, ada pula yang rakus dan bengis. Dalam pewayangan banyak dikenal tokoh yang yang rakus dan merusak alam.

Tokoh rakus dan merusak alam sering dikaitkan dengan sosok antagonis pewayangan yang ada di Kurawa. Tokoh yang melambangkan keburukan sifat dan perilaku misalnya tergambar pada  Duryudana, Dursasana, Rahwana, Sengkuni, Buta Cakil, dan raksasa lainnya yang ada di Kurawa. Mereka semua berkontribusi terhadap terjadinya gonjang-ganjing di muka bumi.

Duryudana dan Dursasana sering digambarkan memiliki sifat serakah, kejam, dan tidak bermoral. Kekuasaan yang mereka miliki bukan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Tindakan mereka didorong oleh nafsu kekuasaan dan kerakusan yang dapat disamakan dengan eksploitasi sumber daya alam secara membabi buta di dunia nyata.

Rahwana secara eksplisit mungkin tidak digambarkan sebagai perusak alam dan lingkungan sebagaimana Buta Cakil dan para raksasa. Namun kasus penculikan terhadap Sinta dalam epos Ramayana telah mengakibatkan gonjang-ganjing, peperangan, dan kerusakan terhadap lingkungan. Kasus Rahwana dan Sinta menggambarkan betapa sifat nafsu dan angkara murka dapat menimbulkan kekacauan.

Tokoh pewayangan yang sering dikaitkan dengan gonjang-ganjing, ontran-ontran, dan kekacauan adalah Sengkuni. Tokoh antagonis dari Kurawa ini dikenal sebagai provokator ulung yang licik. Nyaris di setiap konflik antara Kurawa dan Pendawa adalah hasil hasutan Sengkuni. Selain licik, Sengkuni juga dikenal sebagai penjilat pada kekuasaan. Hal ini membuat penguasa sulit membedakan antara pujian, jebakan, dan hasutan yang dilontarkan Sengkuni.

Sebetulnya Kurawa banyak memiliki penasihat yang mencegah terjadinya gonjang-ganjing, seperti Togog salah satunya. Togog digambarkan sebagai sosok yang berparas jelek dan bermulut lebar. Namun Togog kerap mendapat stigma penasihat Kurawa yang gagal. Padahal sesungguhnya para elite Kurawa yang berperilaku buruk itu memang tidak pernah mau mengikuti nasihat Togog. Selain itu, nasihat Togog yang baik untuk Kurawa sering kalah pengaruh dengan hasutan Sengkuni yang lebih dipercaya.

Beda dengan punakawan Semar di pihak Pendawa yang nasihatnya selalu didengar para raja. Karena elite Pendawa memang memiliki itikad baik untuk selalu melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, sehingga mereka bersedia mendengar nasihat Semar sebagai representasi suara rakyat kecil.

Gonjang-ganjing dan kerusakan alam bukan hanya datang dari tokoh antagonis Kurawa. Tokoh Pendawa seperti Prabu Kresna, Yudistira, dan Arjuna juga sempat melakukan tindakan yang menyebabkan gonjang-ganjing. Ketika mereka marah atas ulah elite Kurawa, mereka melakukan tiwikrama, bertransformasi menjadi raksasa yang mengamuk dan menimbulkan kerusakan. Simboliknya, ketika orang baik tersakiti, ketika rakyat yang tak berdaya teraniaya, mereka dapat bertransformasi menjadi satu kekuatan yang dapat menghancurkan kekuasaan.

Dunia dan kehidupan ini memang bukan pentas pewayangan. Namun banyak orang dan perilakunya yang menyerupai tokoh dalam wayang. Semua berharap tahun 2026 gonjang-ganjing, hutan gundul, dan banjir bandang tak lagi terjadi. Sambil berharap “Sang Dalang” kehidupan menyajikan lakon teduh bagi semesta. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: bencana alamlingkunganrefleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pisang, Adat dan Budaya Bali

Next Post

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co