26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 30, 2025
in Esai
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

MALAM tahun baru selalu penuh suara. Dentuman, teriakan, musik, dan tawa yang berlapis-lapis. Kita merayakan hidup dengan cara paling manusiawi menurut kita, yakni membuat dunia terdengar.

Tetapi bagi kucing dan anjing di sekitar kita, malam itu justru menjadi saat ketika dunia kehilangan maknanya.

Setiap pergantian tahun, manusia seperti berlomba menciptakan kebisingan. Petasan dinyalakan tanpa henti, kembang api memecah langit, speaker diputar melebihi batas ruang, dan suara tawa dilepaskan seolah tak perlu jeda. Kita menyebutnya perayaan. Kita menyebutnya kegembiraan. Kita menyebutnya tradisi.

Namun di balik pintu rumah, di kolong meja, di bawah motor yang terparkir, di kandang sempit, di lorong kos-kosan yang pengap, ada makhluk lain yang tidak pernah sepakat dengan definisi kita tentang bahagia.

Kucing dan anjing yang kini kita panggil dengan kata manis anabul mengalami malam tahun baru sebagai peristiwa yang sulit dipahami. Dunia yang biasanya akrab mendadak berubah menjadi ancaman. Bagi manusia, suara hanyalah suara. Bagi anabul, ia adalah ketakutan.

Anjing dan kucing tidak mendengar dunia seperti kita. Pendengaran mereka lebih tajam, lebih peka, lebih rentan. Suara keras tidak sekadar mengejutkan, tetapi menyerang sistem saraf. Dentuman petasan yang bagi manusia terasa sebentar, bagi anabul bisa terasa panjang dan berlapis-lapis.

Ketika suara datang tanpa sebab yang bisa dimengerti, naluri bekerja. Tubuh bersiap menghadapi bahaya. Jantung berdetak lebih cepat. Napas memendek. Pikiran jika boleh kita sebut demikian mencari jalan keluar.

Banyak anjing berlari tanpa arah. Banyak kucing menghilang semalaman, bahkan berhari-hari. Ada yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali. Semua itu terjadi bukan karena mereka lemah, tetapi karena dunia yang mereka huni tiba-tiba berubah tanpa peringatan. Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah perayaan hidup.

Indonesia dan Tradisi Kebisingan

Indonesia adalah negeri yang ramah, tetapi juga sangat berisik. Dari hajatan, konvoi kemenangan, perayaan kelulusan, hingga pergantian tahun, kebisingan sering dianggap sebagai bukti sah kegembiraan. Semakin keras, semakin meriah. Semakin besar speaker, semakin dianggap hidup.

Petasan bukan sekadar mainan. Ia telah menjadi simbol. Tanda keberanian, euforia, bahkan eksistensi. Di gang sempit, di permukiman padat, di halaman kos-kosan, suara dilepaskan tanpa mempertimbangkan ruang dan makhluk lain yang hidup di dalamnya.

Di kota-kota Indonesia, populasi kucing dan anjing baik peliharaan maupun jalanan sangat besar. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tetapi tidak pernah diajak berunding soal tradisi. Mereka hanya diminta menyesuaikan diri.Padahal penyesuaian itu mahal. Ia dibayar dengan ketakutan.

Jika ada ruang yang paling rawan bagi anabul pada malam tahun baru, barangkali itulah kos-kosan dan kawasan padat penduduk. Dinding tipis, lorong sempit, suara yang memantul tanpa jeda. Musik dari satu kamar bertemu petasan dari gang sebelah. Tidak ada ruang aman. Tidak ada jeda.

Banyak orang memelihara kucing di kamar kos sebagai teman hidup. Hewan itu hadir dalam kesepian, menemani malam-malam sunyi, menjadi saksi rutinitas harian. Tetapi ketika tahun baru datang, relasi itu diuji.

Speaker dinyalakan. Teman-teman datang. Tawa memenuhi ruangan. Dan kucing itu yang tidak mengerti kalender mendadak kehilangan dunia yang dikenalnya.

Ia tidak tahu apa itu tahun baru. Ia hanya tahu bahwa malam ini berbeda. Dan perbedaan itu menakutkan.

Berhadapan dengan Euforia

Setiap menjelang tahun baru, suara aktivis kesejahteraan hewan kembali muncul. Imbauan disebar. Poster dibagikan. Permintaan empati diulang. Isinya hampir selalu sama, petasan berbahaya bagi hewan.

Respons publik pun nyaris selalu seragam. Ada yang setuju, ada yang mengejek, ada yang menuduh terlalu sensitif. Seolah empati adalah kemewahan yang hanya boleh diberikan jika tidak mengganggu kesenangan.

Padahal ini bukan soal melarang bahagia. Ini soal mengubah cara kita merayakan. Organisasi kesejahteraan hewan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa suara petasan dan kembang api memicu stres akut pada hewan peliharaan. Reaksi yang muncul bukan sekadar takut, tetapi kepanikan, disorientasi, hingga dorongan melarikan diri yang membahayakan nyawa.

Dalam banyak kasus, yang dianggap manusia sebagai hiburan singkat justru menjadi pengalaman traumatis bagi hewan yang tidak pernah memahami alasan di balik kebisingan itu.

Indonesia memang belum sampai pada tahap pembatasan serius. Tetapi perubahan kebudayaan jarang dimulai dari regulasi. Ia sering bermula dari kesadaran.

Kata anabul terdengar penuh kasih. Anak bulu. Anak yang tidak berbicara. Anak yang bergantung. Tetapi ada jarak antara kata dan tindakan. Kita memeluk mereka di hari-hari biasa, lalu membiarkan mereka gemetar di malam perayaan. Kita mengunggah foto mereka di media sosial, tetapi lupa bahwa suara juga bisa melukai.

Mungkin karena penderitaan hewan tidak pernah riuh. Ketakutan mereka terjadi dalam diam. Tidak ada jeritan yang bisa kita pahami. Tidak ada protes yang bisa viral. Justru karena sunyi itulah, penderitaan itu sering tidak dianggap ada.

Tahun Baru sebagai Cermin

Setiap perayaan besar selalu menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana kita memahami kebahagiaan. Apakah bahagia harus berisik. Apakah senang harus mendominasi ruang. Apakah merayakan hidup harus membuat makhluk lain takut.

Di Bali, ada satu hari dalam setahun ketika manusia memilih diam. Nyepi. Jalanan kosong. Langit bersih. Suara menepi. Banyak orang menyebutnya unik, bahkan ekstrem. Tetapi di hari itu, banyak hewan justru terlihat lebih tenang. Diam, ternyata, juga bisa menjadi bentuk perayaan.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tahun baru. Yang patut dipikirkan adalah caranya. Kita bisa berkumpul tanpa petasan. Kita bisa mendengarkan musik tanpa menggetarkan dinding. Kita bisa bersorak tanpa mengubah rumah menjadi medan perang akustik.

Empati sering kali hadir dalam tindakan kecil. Menurunkan volume. Menunda petasan. Mengingat bahwa ada makhluk lain di sekitar kita yang tidak punya pilihan.

Jika kita bisa mengubah cara merayakan satu malam dalam setahun, mungkin kita juga bisa belajar hidup lebih pelan di hari-hari lain.

Saat hitung mundur mencapai nol, manusia bersorak. Langit menyala. Musik memuncak. Kita saling berpelukan, menyebut harapan, dan menamai ulang waktu.

Di sudut-sudut rumah, seekor kucing meringkuk dalam diam. Seekor anjing berusaha memahami dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu keras. Mereka tidak tahu apa yang dirayakan. Mereka hanya tahu rasa takut.

Tahun baru seharusnya menjadi tentang permulaan. Tentang hidup yang ingin kita jalani dengan lebih baik. Barangkali itu juga berarti belajar merayakan tanpa menambah ketakutan di sekitar kita. Sebab mungkin, ukuran kemanusiaan tidak terletak pada seberapa meriah kita bersenang-senang, melainkan pada seberapa jauh kita mampu menjaga makhluk lain tetap merasa aman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Next Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co