2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 30, 2025
in Esai
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

MALAM tahun baru selalu penuh suara. Dentuman, teriakan, musik, dan tawa yang berlapis-lapis. Kita merayakan hidup dengan cara paling manusiawi menurut kita, yakni membuat dunia terdengar.

Tetapi bagi kucing dan anjing di sekitar kita, malam itu justru menjadi saat ketika dunia kehilangan maknanya.

Setiap pergantian tahun, manusia seperti berlomba menciptakan kebisingan. Petasan dinyalakan tanpa henti, kembang api memecah langit, speaker diputar melebihi batas ruang, dan suara tawa dilepaskan seolah tak perlu jeda. Kita menyebutnya perayaan. Kita menyebutnya kegembiraan. Kita menyebutnya tradisi.

Namun di balik pintu rumah, di kolong meja, di bawah motor yang terparkir, di kandang sempit, di lorong kos-kosan yang pengap, ada makhluk lain yang tidak pernah sepakat dengan definisi kita tentang bahagia.

Kucing dan anjing yang kini kita panggil dengan kata manis anabul mengalami malam tahun baru sebagai peristiwa yang sulit dipahami. Dunia yang biasanya akrab mendadak berubah menjadi ancaman. Bagi manusia, suara hanyalah suara. Bagi anabul, ia adalah ketakutan.

Anjing dan kucing tidak mendengar dunia seperti kita. Pendengaran mereka lebih tajam, lebih peka, lebih rentan. Suara keras tidak sekadar mengejutkan, tetapi menyerang sistem saraf. Dentuman petasan yang bagi manusia terasa sebentar, bagi anabul bisa terasa panjang dan berlapis-lapis.

Ketika suara datang tanpa sebab yang bisa dimengerti, naluri bekerja. Tubuh bersiap menghadapi bahaya. Jantung berdetak lebih cepat. Napas memendek. Pikiran jika boleh kita sebut demikian mencari jalan keluar.

Banyak anjing berlari tanpa arah. Banyak kucing menghilang semalaman, bahkan berhari-hari. Ada yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali. Semua itu terjadi bukan karena mereka lemah, tetapi karena dunia yang mereka huni tiba-tiba berubah tanpa peringatan. Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah perayaan hidup.

Indonesia dan Tradisi Kebisingan

Indonesia adalah negeri yang ramah, tetapi juga sangat berisik. Dari hajatan, konvoi kemenangan, perayaan kelulusan, hingga pergantian tahun, kebisingan sering dianggap sebagai bukti sah kegembiraan. Semakin keras, semakin meriah. Semakin besar speaker, semakin dianggap hidup.

Petasan bukan sekadar mainan. Ia telah menjadi simbol. Tanda keberanian, euforia, bahkan eksistensi. Di gang sempit, di permukiman padat, di halaman kos-kosan, suara dilepaskan tanpa mempertimbangkan ruang dan makhluk lain yang hidup di dalamnya.

Di kota-kota Indonesia, populasi kucing dan anjing baik peliharaan maupun jalanan sangat besar. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tetapi tidak pernah diajak berunding soal tradisi. Mereka hanya diminta menyesuaikan diri.Padahal penyesuaian itu mahal. Ia dibayar dengan ketakutan.

Jika ada ruang yang paling rawan bagi anabul pada malam tahun baru, barangkali itulah kos-kosan dan kawasan padat penduduk. Dinding tipis, lorong sempit, suara yang memantul tanpa jeda. Musik dari satu kamar bertemu petasan dari gang sebelah. Tidak ada ruang aman. Tidak ada jeda.

Banyak orang memelihara kucing di kamar kos sebagai teman hidup. Hewan itu hadir dalam kesepian, menemani malam-malam sunyi, menjadi saksi rutinitas harian. Tetapi ketika tahun baru datang, relasi itu diuji.

Speaker dinyalakan. Teman-teman datang. Tawa memenuhi ruangan. Dan kucing itu yang tidak mengerti kalender mendadak kehilangan dunia yang dikenalnya.

Ia tidak tahu apa itu tahun baru. Ia hanya tahu bahwa malam ini berbeda. Dan perbedaan itu menakutkan.

Berhadapan dengan Euforia

Setiap menjelang tahun baru, suara aktivis kesejahteraan hewan kembali muncul. Imbauan disebar. Poster dibagikan. Permintaan empati diulang. Isinya hampir selalu sama, petasan berbahaya bagi hewan.

Respons publik pun nyaris selalu seragam. Ada yang setuju, ada yang mengejek, ada yang menuduh terlalu sensitif. Seolah empati adalah kemewahan yang hanya boleh diberikan jika tidak mengganggu kesenangan.

Padahal ini bukan soal melarang bahagia. Ini soal mengubah cara kita merayakan. Organisasi kesejahteraan hewan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa suara petasan dan kembang api memicu stres akut pada hewan peliharaan. Reaksi yang muncul bukan sekadar takut, tetapi kepanikan, disorientasi, hingga dorongan melarikan diri yang membahayakan nyawa.

Dalam banyak kasus, yang dianggap manusia sebagai hiburan singkat justru menjadi pengalaman traumatis bagi hewan yang tidak pernah memahami alasan di balik kebisingan itu.

Indonesia memang belum sampai pada tahap pembatasan serius. Tetapi perubahan kebudayaan jarang dimulai dari regulasi. Ia sering bermula dari kesadaran.

Kata anabul terdengar penuh kasih. Anak bulu. Anak yang tidak berbicara. Anak yang bergantung. Tetapi ada jarak antara kata dan tindakan. Kita memeluk mereka di hari-hari biasa, lalu membiarkan mereka gemetar di malam perayaan. Kita mengunggah foto mereka di media sosial, tetapi lupa bahwa suara juga bisa melukai.

Mungkin karena penderitaan hewan tidak pernah riuh. Ketakutan mereka terjadi dalam diam. Tidak ada jeritan yang bisa kita pahami. Tidak ada protes yang bisa viral. Justru karena sunyi itulah, penderitaan itu sering tidak dianggap ada.

Tahun Baru sebagai Cermin

Setiap perayaan besar selalu menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana kita memahami kebahagiaan. Apakah bahagia harus berisik. Apakah senang harus mendominasi ruang. Apakah merayakan hidup harus membuat makhluk lain takut.

Di Bali, ada satu hari dalam setahun ketika manusia memilih diam. Nyepi. Jalanan kosong. Langit bersih. Suara menepi. Banyak orang menyebutnya unik, bahkan ekstrem. Tetapi di hari itu, banyak hewan justru terlihat lebih tenang. Diam, ternyata, juga bisa menjadi bentuk perayaan.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tahun baru. Yang patut dipikirkan adalah caranya. Kita bisa berkumpul tanpa petasan. Kita bisa mendengarkan musik tanpa menggetarkan dinding. Kita bisa bersorak tanpa mengubah rumah menjadi medan perang akustik.

Empati sering kali hadir dalam tindakan kecil. Menurunkan volume. Menunda petasan. Mengingat bahwa ada makhluk lain di sekitar kita yang tidak punya pilihan.

Jika kita bisa mengubah cara merayakan satu malam dalam setahun, mungkin kita juga bisa belajar hidup lebih pelan di hari-hari lain.

Saat hitung mundur mencapai nol, manusia bersorak. Langit menyala. Musik memuncak. Kita saling berpelukan, menyebut harapan, dan menamai ulang waktu.

Di sudut-sudut rumah, seekor kucing meringkuk dalam diam. Seekor anjing berusaha memahami dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu keras. Mereka tidak tahu apa yang dirayakan. Mereka hanya tahu rasa takut.

Tahun baru seharusnya menjadi tentang permulaan. Tentang hidup yang ingin kita jalani dengan lebih baik. Barangkali itu juga berarti belajar merayakan tanpa menambah ketakutan di sekitar kita. Sebab mungkin, ukuran kemanusiaan tidak terletak pada seberapa meriah kita bersenang-senang, melainkan pada seberapa jauh kita mampu menjaga makhluk lain tetap merasa aman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Next Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co