14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 30, 2025
in Esai
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

MALAM tahun baru selalu penuh suara. Dentuman, teriakan, musik, dan tawa yang berlapis-lapis. Kita merayakan hidup dengan cara paling manusiawi menurut kita, yakni membuat dunia terdengar.

Tetapi bagi kucing dan anjing di sekitar kita, malam itu justru menjadi saat ketika dunia kehilangan maknanya.

Setiap pergantian tahun, manusia seperti berlomba menciptakan kebisingan. Petasan dinyalakan tanpa henti, kembang api memecah langit, speaker diputar melebihi batas ruang, dan suara tawa dilepaskan seolah tak perlu jeda. Kita menyebutnya perayaan. Kita menyebutnya kegembiraan. Kita menyebutnya tradisi.

Namun di balik pintu rumah, di kolong meja, di bawah motor yang terparkir, di kandang sempit, di lorong kos-kosan yang pengap, ada makhluk lain yang tidak pernah sepakat dengan definisi kita tentang bahagia.

Kucing dan anjing yang kini kita panggil dengan kata manis anabul mengalami malam tahun baru sebagai peristiwa yang sulit dipahami. Dunia yang biasanya akrab mendadak berubah menjadi ancaman. Bagi manusia, suara hanyalah suara. Bagi anabul, ia adalah ketakutan.

Anjing dan kucing tidak mendengar dunia seperti kita. Pendengaran mereka lebih tajam, lebih peka, lebih rentan. Suara keras tidak sekadar mengejutkan, tetapi menyerang sistem saraf. Dentuman petasan yang bagi manusia terasa sebentar, bagi anabul bisa terasa panjang dan berlapis-lapis.

Ketika suara datang tanpa sebab yang bisa dimengerti, naluri bekerja. Tubuh bersiap menghadapi bahaya. Jantung berdetak lebih cepat. Napas memendek. Pikiran jika boleh kita sebut demikian mencari jalan keluar.

Banyak anjing berlari tanpa arah. Banyak kucing menghilang semalaman, bahkan berhari-hari. Ada yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali. Semua itu terjadi bukan karena mereka lemah, tetapi karena dunia yang mereka huni tiba-tiba berubah tanpa peringatan. Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah perayaan hidup.

Indonesia dan Tradisi Kebisingan

Indonesia adalah negeri yang ramah, tetapi juga sangat berisik. Dari hajatan, konvoi kemenangan, perayaan kelulusan, hingga pergantian tahun, kebisingan sering dianggap sebagai bukti sah kegembiraan. Semakin keras, semakin meriah. Semakin besar speaker, semakin dianggap hidup.

Petasan bukan sekadar mainan. Ia telah menjadi simbol. Tanda keberanian, euforia, bahkan eksistensi. Di gang sempit, di permukiman padat, di halaman kos-kosan, suara dilepaskan tanpa mempertimbangkan ruang dan makhluk lain yang hidup di dalamnya.

Di kota-kota Indonesia, populasi kucing dan anjing baik peliharaan maupun jalanan sangat besar. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tetapi tidak pernah diajak berunding soal tradisi. Mereka hanya diminta menyesuaikan diri.Padahal penyesuaian itu mahal. Ia dibayar dengan ketakutan.

Jika ada ruang yang paling rawan bagi anabul pada malam tahun baru, barangkali itulah kos-kosan dan kawasan padat penduduk. Dinding tipis, lorong sempit, suara yang memantul tanpa jeda. Musik dari satu kamar bertemu petasan dari gang sebelah. Tidak ada ruang aman. Tidak ada jeda.

Banyak orang memelihara kucing di kamar kos sebagai teman hidup. Hewan itu hadir dalam kesepian, menemani malam-malam sunyi, menjadi saksi rutinitas harian. Tetapi ketika tahun baru datang, relasi itu diuji.

Speaker dinyalakan. Teman-teman datang. Tawa memenuhi ruangan. Dan kucing itu yang tidak mengerti kalender mendadak kehilangan dunia yang dikenalnya.

Ia tidak tahu apa itu tahun baru. Ia hanya tahu bahwa malam ini berbeda. Dan perbedaan itu menakutkan.

Berhadapan dengan Euforia

Setiap menjelang tahun baru, suara aktivis kesejahteraan hewan kembali muncul. Imbauan disebar. Poster dibagikan. Permintaan empati diulang. Isinya hampir selalu sama, petasan berbahaya bagi hewan.

Respons publik pun nyaris selalu seragam. Ada yang setuju, ada yang mengejek, ada yang menuduh terlalu sensitif. Seolah empati adalah kemewahan yang hanya boleh diberikan jika tidak mengganggu kesenangan.

Padahal ini bukan soal melarang bahagia. Ini soal mengubah cara kita merayakan. Organisasi kesejahteraan hewan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa suara petasan dan kembang api memicu stres akut pada hewan peliharaan. Reaksi yang muncul bukan sekadar takut, tetapi kepanikan, disorientasi, hingga dorongan melarikan diri yang membahayakan nyawa.

Dalam banyak kasus, yang dianggap manusia sebagai hiburan singkat justru menjadi pengalaman traumatis bagi hewan yang tidak pernah memahami alasan di balik kebisingan itu.

Indonesia memang belum sampai pada tahap pembatasan serius. Tetapi perubahan kebudayaan jarang dimulai dari regulasi. Ia sering bermula dari kesadaran.

Kata anabul terdengar penuh kasih. Anak bulu. Anak yang tidak berbicara. Anak yang bergantung. Tetapi ada jarak antara kata dan tindakan. Kita memeluk mereka di hari-hari biasa, lalu membiarkan mereka gemetar di malam perayaan. Kita mengunggah foto mereka di media sosial, tetapi lupa bahwa suara juga bisa melukai.

Mungkin karena penderitaan hewan tidak pernah riuh. Ketakutan mereka terjadi dalam diam. Tidak ada jeritan yang bisa kita pahami. Tidak ada protes yang bisa viral. Justru karena sunyi itulah, penderitaan itu sering tidak dianggap ada.

Tahun Baru sebagai Cermin

Setiap perayaan besar selalu menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana kita memahami kebahagiaan. Apakah bahagia harus berisik. Apakah senang harus mendominasi ruang. Apakah merayakan hidup harus membuat makhluk lain takut.

Di Bali, ada satu hari dalam setahun ketika manusia memilih diam. Nyepi. Jalanan kosong. Langit bersih. Suara menepi. Banyak orang menyebutnya unik, bahkan ekstrem. Tetapi di hari itu, banyak hewan justru terlihat lebih tenang. Diam, ternyata, juga bisa menjadi bentuk perayaan.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tahun baru. Yang patut dipikirkan adalah caranya. Kita bisa berkumpul tanpa petasan. Kita bisa mendengarkan musik tanpa menggetarkan dinding. Kita bisa bersorak tanpa mengubah rumah menjadi medan perang akustik.

Empati sering kali hadir dalam tindakan kecil. Menurunkan volume. Menunda petasan. Mengingat bahwa ada makhluk lain di sekitar kita yang tidak punya pilihan.

Jika kita bisa mengubah cara merayakan satu malam dalam setahun, mungkin kita juga bisa belajar hidup lebih pelan di hari-hari lain.

Saat hitung mundur mencapai nol, manusia bersorak. Langit menyala. Musik memuncak. Kita saling berpelukan, menyebut harapan, dan menamai ulang waktu.

Di sudut-sudut rumah, seekor kucing meringkuk dalam diam. Seekor anjing berusaha memahami dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu keras. Mereka tidak tahu apa yang dirayakan. Mereka hanya tahu rasa takut.

Tahun baru seharusnya menjadi tentang permulaan. Tentang hidup yang ingin kita jalani dengan lebih baik. Barangkali itu juga berarti belajar merayakan tanpa menambah ketakutan di sekitar kita. Sebab mungkin, ukuran kemanusiaan tidak terletak pada seberapa meriah kita bersenang-senang, melainkan pada seberapa jauh kita mampu menjaga makhluk lain tetap merasa aman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Next Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co