12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 30, 2025
in Esai
Tahun Baru dan Malam Panjang Ketakutan Anabul

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

MALAM tahun baru selalu penuh suara. Dentuman, teriakan, musik, dan tawa yang berlapis-lapis. Kita merayakan hidup dengan cara paling manusiawi menurut kita, yakni membuat dunia terdengar.

Tetapi bagi kucing dan anjing di sekitar kita, malam itu justru menjadi saat ketika dunia kehilangan maknanya.

Setiap pergantian tahun, manusia seperti berlomba menciptakan kebisingan. Petasan dinyalakan tanpa henti, kembang api memecah langit, speaker diputar melebihi batas ruang, dan suara tawa dilepaskan seolah tak perlu jeda. Kita menyebutnya perayaan. Kita menyebutnya kegembiraan. Kita menyebutnya tradisi.

Namun di balik pintu rumah, di kolong meja, di bawah motor yang terparkir, di kandang sempit, di lorong kos-kosan yang pengap, ada makhluk lain yang tidak pernah sepakat dengan definisi kita tentang bahagia.

Kucing dan anjing yang kini kita panggil dengan kata manis anabul mengalami malam tahun baru sebagai peristiwa yang sulit dipahami. Dunia yang biasanya akrab mendadak berubah menjadi ancaman. Bagi manusia, suara hanyalah suara. Bagi anabul, ia adalah ketakutan.

Anjing dan kucing tidak mendengar dunia seperti kita. Pendengaran mereka lebih tajam, lebih peka, lebih rentan. Suara keras tidak sekadar mengejutkan, tetapi menyerang sistem saraf. Dentuman petasan yang bagi manusia terasa sebentar, bagi anabul bisa terasa panjang dan berlapis-lapis.

Ketika suara datang tanpa sebab yang bisa dimengerti, naluri bekerja. Tubuh bersiap menghadapi bahaya. Jantung berdetak lebih cepat. Napas memendek. Pikiran jika boleh kita sebut demikian mencari jalan keluar.

Banyak anjing berlari tanpa arah. Banyak kucing menghilang semalaman, bahkan berhari-hari. Ada yang pulang dengan luka. Ada pula yang tidak pernah kembali. Semua itu terjadi bukan karena mereka lemah, tetapi karena dunia yang mereka huni tiba-tiba berubah tanpa peringatan. Ironisnya, semua ini berlangsung di tengah perayaan hidup.

Indonesia dan Tradisi Kebisingan

Indonesia adalah negeri yang ramah, tetapi juga sangat berisik. Dari hajatan, konvoi kemenangan, perayaan kelulusan, hingga pergantian tahun, kebisingan sering dianggap sebagai bukti sah kegembiraan. Semakin keras, semakin meriah. Semakin besar speaker, semakin dianggap hidup.

Petasan bukan sekadar mainan. Ia telah menjadi simbol. Tanda keberanian, euforia, bahkan eksistensi. Di gang sempit, di permukiman padat, di halaman kos-kosan, suara dilepaskan tanpa mempertimbangkan ruang dan makhluk lain yang hidup di dalamnya.

Di kota-kota Indonesia, populasi kucing dan anjing baik peliharaan maupun jalanan sangat besar. Mereka hidup berdampingan dengan manusia, tetapi tidak pernah diajak berunding soal tradisi. Mereka hanya diminta menyesuaikan diri.Padahal penyesuaian itu mahal. Ia dibayar dengan ketakutan.

Jika ada ruang yang paling rawan bagi anabul pada malam tahun baru, barangkali itulah kos-kosan dan kawasan padat penduduk. Dinding tipis, lorong sempit, suara yang memantul tanpa jeda. Musik dari satu kamar bertemu petasan dari gang sebelah. Tidak ada ruang aman. Tidak ada jeda.

Banyak orang memelihara kucing di kamar kos sebagai teman hidup. Hewan itu hadir dalam kesepian, menemani malam-malam sunyi, menjadi saksi rutinitas harian. Tetapi ketika tahun baru datang, relasi itu diuji.

Speaker dinyalakan. Teman-teman datang. Tawa memenuhi ruangan. Dan kucing itu yang tidak mengerti kalender mendadak kehilangan dunia yang dikenalnya.

Ia tidak tahu apa itu tahun baru. Ia hanya tahu bahwa malam ini berbeda. Dan perbedaan itu menakutkan.

Berhadapan dengan Euforia

Setiap menjelang tahun baru, suara aktivis kesejahteraan hewan kembali muncul. Imbauan disebar. Poster dibagikan. Permintaan empati diulang. Isinya hampir selalu sama, petasan berbahaya bagi hewan.

Respons publik pun nyaris selalu seragam. Ada yang setuju, ada yang mengejek, ada yang menuduh terlalu sensitif. Seolah empati adalah kemewahan yang hanya boleh diberikan jika tidak mengganggu kesenangan.

Padahal ini bukan soal melarang bahagia. Ini soal mengubah cara kita merayakan. Organisasi kesejahteraan hewan di berbagai negara telah lama mengingatkan bahwa suara petasan dan kembang api memicu stres akut pada hewan peliharaan. Reaksi yang muncul bukan sekadar takut, tetapi kepanikan, disorientasi, hingga dorongan melarikan diri yang membahayakan nyawa.

Dalam banyak kasus, yang dianggap manusia sebagai hiburan singkat justru menjadi pengalaman traumatis bagi hewan yang tidak pernah memahami alasan di balik kebisingan itu.

Indonesia memang belum sampai pada tahap pembatasan serius. Tetapi perubahan kebudayaan jarang dimulai dari regulasi. Ia sering bermula dari kesadaran.

Kata anabul terdengar penuh kasih. Anak bulu. Anak yang tidak berbicara. Anak yang bergantung. Tetapi ada jarak antara kata dan tindakan. Kita memeluk mereka di hari-hari biasa, lalu membiarkan mereka gemetar di malam perayaan. Kita mengunggah foto mereka di media sosial, tetapi lupa bahwa suara juga bisa melukai.

Mungkin karena penderitaan hewan tidak pernah riuh. Ketakutan mereka terjadi dalam diam. Tidak ada jeritan yang bisa kita pahami. Tidak ada protes yang bisa viral. Justru karena sunyi itulah, penderitaan itu sering tidak dianggap ada.

Tahun Baru sebagai Cermin

Setiap perayaan besar selalu menjadi cermin. Ia memperlihatkan bagaimana kita memahami kebahagiaan. Apakah bahagia harus berisik. Apakah senang harus mendominasi ruang. Apakah merayakan hidup harus membuat makhluk lain takut.

Di Bali, ada satu hari dalam setahun ketika manusia memilih diam. Nyepi. Jalanan kosong. Langit bersih. Suara menepi. Banyak orang menyebutnya unik, bahkan ekstrem. Tetapi di hari itu, banyak hewan justru terlihat lebih tenang. Diam, ternyata, juga bisa menjadi bentuk perayaan.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tahun baru. Yang patut dipikirkan adalah caranya. Kita bisa berkumpul tanpa petasan. Kita bisa mendengarkan musik tanpa menggetarkan dinding. Kita bisa bersorak tanpa mengubah rumah menjadi medan perang akustik.

Empati sering kali hadir dalam tindakan kecil. Menurunkan volume. Menunda petasan. Mengingat bahwa ada makhluk lain di sekitar kita yang tidak punya pilihan.

Jika kita bisa mengubah cara merayakan satu malam dalam setahun, mungkin kita juga bisa belajar hidup lebih pelan di hari-hari lain.

Saat hitung mundur mencapai nol, manusia bersorak. Langit menyala. Musik memuncak. Kita saling berpelukan, menyebut harapan, dan menamai ulang waktu.

Di sudut-sudut rumah, seekor kucing meringkuk dalam diam. Seekor anjing berusaha memahami dunia yang tiba-tiba menjadi terlalu keras. Mereka tidak tahu apa yang dirayakan. Mereka hanya tahu rasa takut.

Tahun baru seharusnya menjadi tentang permulaan. Tentang hidup yang ingin kita jalani dengan lebih baik. Barangkali itu juga berarti belajar merayakan tanpa menambah ketakutan di sekitar kita. Sebab mungkin, ukuran kemanusiaan tidak terletak pada seberapa meriah kita bersenang-senang, melainkan pada seberapa jauh kita mampu menjaga makhluk lain tetap merasa aman. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: refleksitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gonjang-Ganjing, Hutan Gundul, Banjir Bandang Menutup 2025

Next Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co