23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Ni Putu Vira Astri Agustini by Ni Putu Vira Astri Agustini
December 16, 2025
in Khas
‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Tradisi Ngerebeg Matiti Suara di Blahkiuh, Badung│Foto: Vira

MENJELANG senja di Hari Umanis Kuningan (sehari setelah Hari Kuningan), Minggu, 30 November 2025, suasana di Desa Blahkiuh, Badung berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh makna. Di pelataran pura, para lelaki terlihat sibuk merangkai tombak dan mempersiapkan atribut upacara. Sementara para perempuan dan anak-anak menyiapkan banten, konsumsi, serta tarian-tarian yang akan membuka rangkaian ritual sore itu. Semua bergerak serempak, diikat oleh tradisi yang hidup sejak lama, yakni Ngerebeg Matiti Suara.

Tradisi ngerebeg adalah salah satu upacara sakral yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali di Pura Luhur Giri Kusuma, Blahkiuh. Dalam keyakinan masyarakat Blahkiuh, ngerebeg adalah upaya nyomia bhuta kala ─ menetralisir energi negatif yang dapat menganggu keharmonisan desa. Tujuannya jelas: menjaga kesucian pura, memurnikan Desa Blahkiuh, serta memohon keselamatan bagi seluruh warga desa.

Tradisi Ngerebeg Matiti Suara di Blahkiuh, Badung│Foto: Vira

Menurut I Ketut Jawi selaku Kelihan Adat, ngerebeg yang dikenal hari ini mulai dibangkitkan kembali sekitar tahun 1975. Kala itu Blahkiuh diliputi tresta ─ berbagai peristiwa yang dianggap sebagai pertanda buruk: wabah penyakit, gangguan kesehatan, dan situasi tidak menentu.

“Karena itu dibangkitkanlah ngerebeg lagi,” ujar Ketut Jawi. Ia juga menuturkan sebuah mitos yang melekat kuat di kalangan warga: siapa pun yang ngayah di Pura Luhur Jagat Khayangan pada masa itu, terutama mereka yang mengukir tanah atau membawa tanah persembahan, konon langsung memperoleh kesembuhan. “Yang ngayah tanpa pamrih langsung sehat pada zaman itu,” katanya.

Rangkaian ngerebeg dimulai dengan upacara di kawasan Pura Luhur Giri Kusuma. Para patih menyampaikan pesan spiritual sebagai pengingat agar masyarakat selalu berbakti kepada Sesuhunan, memuliakan sumber kesejahteraan desa, dan menjunjung tinggi martabat adat. Setelah itu digelar tari Baris Gede yang ditarikan laki-laki dewasa, disusul tari Rejang Dewa oleh anak-anak perempuan.

Tradisi Ngerebeg Matiti Suara di Blahkiuh, Badung│Foto: Vira

Sesudah tarian, pemangku memimpin pelaksanaan upakara. Barulah kemudian dimulai prosesi utama: krama banjar mengangkat tombak-tombak bambu, membawa leloteh nawa sanga, serta arca pralina yang melambangkan Sang Hyang Pasupati. Mereka berkeliling area pura sebanyak tiga kali, dipimpin oleh patih, penari Baris Gede, dan diiringi derap gamelan baleganjur yang membakar semangat. Suasananya mengingatkan pada perang zaman dahulu ─ bukan perang fisik, tetapi peperangan simbolis melawan unsur gelap yang mengganggu keseimbangan alam.

Tak hanya krama banjar yang terlibat. Aparat desa adat, perangkat dinas, perbekel, hingga camat turut mengikuti prosesi, sementara pecalang menjaga keamanan jalannya ritual. Kekompakan seluruh elemen masyarakat membuat ngerebeg terasa hidup, besar, dan penuh vitalitas.

Setelah putaran ketiga selesai, giliran para ibu-ibu PKK menarikan Tari Rejang di pura sebagai bentuk bakti. Para pembawa tombak kemudian kembali memasuki area pura untuk menerima prayascita ─ simbol penyucian setelah membawa atribut sakral. Rangkaian ngerebeg ditutup dengan makan bersama, sebuah tanda bahwa ritus telah tuntas dan masyarakat kembali dalam keadaan bersih lahir batin.

Tradisi Ngerebeg Matiti Suara di Blahkiuh, Badung│Foto: Vira

Hari Umanis Kuningan bukan dipilih tanpa alasan. “Karena hari baik ada di Umanis Kuningan, tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat Desa Blahkiuh, nunas kerahayuan,” terang Ketut Jawi.

Ia juga menambahkan bahwa ngerebeg harus dilakukan pada Umanis Kuningan, bukan hari Kuningan itu sendiri. Jika dipaksakan, diyakini ritual tidak akan berjalan secara sakral sebagaimana mestinya.

Bagi masyarakat Blahkiuh, dampak ngerebeg terasa nyata. Tradisi ini dianggap menjaga kerukunan dan melindungi desa dari berbagai ketidakseimbangan. “Tanpa adanya ngerebeg, pasti ada saja efeknya seperti orang cacat atau petani gagal panen,” ungkap Ketut Jawi. Karena itulah ngerebeg terus ditingkatkan pelaksanaannya dari tahun ke tahun, didukung pendanaan serta partisipasi masyarakat yang semakin kuat.

Tradisi Ngerebeg Matiti Suara di Blahkiuh, Badung│Foto: Vira

Di luar dimensi spiritual, ngerebeg juga berpengaruh pada sektor pariwisata. Seiring penetapan Blahkiuh sebagai desa budaya, tradisi ini menjadi salah satu rujukan utama yang memperkenalkan identitas lokal kepada turis. Ritual yang sarat nilai ini menjadi magnet bagi wisatawan dan peneliti yang ingin melihat bagaimana tradisi kuno tetap hidup harmonis di tengah modernitas.

Pada akhirnya, Ngerebeg Matiti Suara bukan sekadar upacara enam bulanan. Ia adalah narasi panjang tentang syukur, kebersamaan, dan keyakinan masyarakat Blahkiuh terhadap keseimbangan kosmos. Setiap tombak bambu yang diangkat, setiap langkah mengitari pura, setiap tarian dan banten yang dipersembahkan, semuanya menjadi penanda bahwa tradisi bukan hanya warisan, melainkan juga napas yang terus menjaga desa dari generasi ke generasi. [T]

Reporter/Penulis: Vira Astri Agustini
Editor: Dede Putra Wiguna

Tags: Desa BlahkiuhHindu BaliritualTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Next Post

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Ni Putu Vira Astri Agustini

Ni Putu Vira Astri Agustini

Lahir di Blahkiuh, Badung. Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, UPMI Bali

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co