6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 17, 2025
in Esai
Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Situs Gunung Padang | Gambar: Canva

GUNUNG Padang di Cianjur, Jawa Barat, kembali menjadi pusat perhatian publik. Renovasi dan penelitian lanjutan membuka kembali diskursus lama: apakah situs ini sekadar peninggalan megalitik, atau jejak awal kosmologi Nusantara yang kemudian diwarisi oleh peradaban-peradaban setelahnya? Jika kita menanggalkan sensasi dan klaim berlebihan, lalu membacanya dengan kacamata antropologi budaya, arsitektur sakral, dan filologi, Gunung Padang justru menghadirkan pelajaran penting—bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan Indonesia.

Salah satu cara membaca Gunung Padang yang paling jernih adalah melalui konsep ruang sakral bertingkat, yang dalam tradisi Bali dikenal sebagai Tri Mandala. Menariknya, ketika konsep ini ditelusuri hingga akar bahasa Sansekerta, kita menemukan bahwa istilah yang tepat bukan nista, melainkan kanista.

Tri Mandala dan Akar Sansekertanya

Secara filologis, pembagian ruang sakral dalam tradisi Sanatana Dharma di Nusantara berakar pada tiga istilah Sansekerta:

  1. Kanista / Kaniṣṭha (कनिष्ठ)
    Artinya: paling bawah, paling muda, paling luar.
    Kanista tidak mengandung makna moral negatif. Ia menunjuk pada tahap awal, zona luar, atau ruang transisi dari dunia sekala.
  2. Madya / Madhya (मध्य)
    Artinya: tengah, antara, penghubung.
    Madya adalah ruang peralihan—tempat persiapan, penataan diri, dan proses pendakian menuju kesadaran yang lebih tinggi.
  3. Utama / Uttama (उत्तम)
    Artinya: tertinggi, paling luhur, paling dalam.
    Utama adalah pusat sakral, tempat makna, nilai, dan orientasi kosmik berpuncak.

Dalam praktik lokal Bali, istilah nista sering digunakan untuk zona luar. Namun secara Sansekerta, niṣṭa (निष्ट) bermakna “tercela” atau “jatuh secara moral”, sehingga kurang tepat untuk menyebut ruang yang sejatinya adalah bagian sah dari struktur kesucian. Koreksi terminologis ini penting, karena bahasa membentuk cara berpikir. Yang “luar” bukan hina—ia hanya belum sampai ke pusat.

Gunung Padang sebagai Punden Berundak dan Tri Mandala Purba

Gunung Padang secara fisik adalah punden berundak: bukit dengan teras-teras bertingkat yang semakin ke atas semakin terbatas dan teratur. Pola ini bukan kebetulan. Hampir seluruh budaya megalitik Nusantara mengenal konsep naik—baik secara fisik maupun simbolik.

Jika dibaca melalui Tri Mandala:

  • Kanista Mandala (कनिष्ठ मण्डल)
    Terletak di kaki bukit dan area bawah Gunung Padang.
    Ini adalah ruang transisi dari kehidupan sehari-hari menuju ruang sakral. Di sinilah manusia “menanggalkan” dunia sekala.
  • Madya Mandala (मध्य मण्डल)
    Teras-teras menengah yang berlapis.
    Ruang ini merepresentasikan proses: persiapan ritual, perenungan diri, dan penataan batin.
  • Utama Mandala (उत्तम मण्डल)
    Puncak tertinggi Gunung Padang.
    Area paling terbatas, paling sakral, dan paling simbolik. Di sinilah pusat orientasi kosmik berada.

Pembacaan ini tidak memaksakan kearifan Bali ke masa prasejarah, tetapi menunjukkan kesinambungan pola kesadaran Nusantara. Apa yang di Bali tampil sistematis, di Gunung Padang hadir dalam bentuk purbanya.

Dari Gunung Padang ke Borobudur hingga Bali

Borobudur membagi ruang spiritual dalam Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu—yang secara fungsional sejalan dengan Kanista–Madya–Utama. Pura-pura di Bali menghidupkan Tri Mandala secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, Nusantara tidak membangun secara acak, melainkan berlandaskan kosmologi ruang yang konsisten lintas zaman.

Gunung Padang, dalam konteks ini, bukan pesaing Borobudur atau piramida Mesir. Ia adalah aksara awal dari bahasa arsitektur sakral Nusantara—bahasa yang kemudian berkembang, dimatangkan, dan diwariskan.

Pelajaran bagi Bali dan Indonesia Hari Ini

Masalah besar Indonesia hari ini bukan kekurangan simbol budaya, tetapi putusnya penerjemahan nilai ke dalam tindakan nyata. Pancasila dihafalkan, tetapi jarang dihidupi atau dilakono dalam keseharian. Padahal, jika kita membaca Gunung Padang melalui Tri Mandala, kita menemukan logika etis yang sejalan dengan Pancasila.

  • Kanista mengajarkan penghormatan pada tahap awal: rakyat kecil, pinggiran, dan proses dasar kehidupan.
    → Sejalan dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab dan Keadilan sosial.
  • Madya mengajarkan transisi, dialog, dan musyawarah.
    → Sejalan dengan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan.
  • Utama mengajarkan orientasi pada nilai tertinggi, bukan sekadar kekuasaan.
    → Sejalan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bali, yang masih mempraktikkan Tri Mandala dalam tata ruang dan adat, memberi contoh bahwa nilai luhur hanya hidup jika diwujudkan dalam sistem, bukan sekadar wacana. Indonesia secara keseluruhan dapat belajar dari ini: budaya tidak dilestarikan lewat slogan, tetapi lewat pola hidup, tata ruang, kebijakan, dan keberpihakan nyata.

Gunung Padang mengingatkan kita bahwa leluhur Nusantara tidak berpikir sederhana. Mereka memahami ruang sebagai jalan kesadaran—dari luar ke dalam, dari kanista ke utama. Ketika hari ini Pancasila terasa hampa di tataran aksi, mungkin karena kita melompati proses: ingin langsung ke “utama”, tanpa membenahi “kanista” dan “madya”.

Melestarikan budaya Nusantara bukan berarti memuja masa lalu, melainkan menghidupkan kembali kearifan luhurnya dalam tindakan hari ini. Gunung Padang berdiri diam, tetapi pesannya jelas: peradaban besar selalu dibangun bertahap—dengan kesadaran, keteraturan, dan hormat pada nilai, yang senantiasa mengingatkan kita akan Sang diri Sejati yang ada di dalam diri. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: CianjurGunung PadangJawa Baratsitus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Next Post

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails
Next Post
Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co