14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
December 17, 2025
in Esai
Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MEDIA sosial kini seperti napas kedua manusia modern. Dari bangun tidur hingga menjelang mata terpejam, layar ponsel menjadi cermin baru dunia kita. Setiap guliran jempol membuka pintu menuju lautan konten yang tak pernah berhenti. Dunia digital telah berubah menjadi samudra informasi tanpa tepi. Menurut laporan We Are Social 2025, Indonesia memiliki lebih dari 190 juta pengguna aktif media sosial. Angka yang menempatkan kita di jajaran teratas pengguna internet dunia. Tapi di balik kemudahan berbagi dan berkomunikasi, ada arus gelap yang jarang disadari, bukan hanya banjir informasi, tetapi juga banjir hoaks yang perlahan mengikis nalar sehat.

Media sosial awalnya lahir untuk mempercepat komunikasi dan memperpendek jarak antarmanusia. Namun kini, ia menjelma menjadi sungai besar yang meluap, membawa campuran fakta, opini, emosi, dan kebohongan. Kecepatan menjadi segalanya, sementara kebenaran sering tertinggal di belakang. Banyak orang tergesa membagikan informasi, bukan karena yakin akan kebenarannya, tetapi karena ingin menjadi yang pertama. Dalam derasnya arus itu, masyarakat terseret tanpa sempat menilai arah dan isi dari setiap informasi yang lewat di hadapan mata.

Di bawah permukaan dunia digital, algoritma bekerja seperti arus bawah laut yang tak kasatmata. Ia mengarahkan perhatian pada apa yang menarik secara emosional, bukan yang benar secara faktual. Konten yang paling sering diklik, dikomentari, dan dibagikan akan terus muncul di beranda, menciptakan ruang gema digital (echo chamber). Di ruang ini, pengguna hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Inilah rawa tempat hoaks tumbuh subur, mengakar dari bias dan emosi yang tak disadari.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga hingga empat jam setiap hari di media sosial. Dalam waktu sepanjang itu, informasi datang tanpa jeda, menyerbu otak yang tidak sempat memproses. Manusia sulit membedakan mana yang faktual dan mana yang palsu, karena semuanya dibungkus dengan narasi yang menarik dan tampak meyakinkan. Penelitian MIT menemukan, berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat daripada berita benar. Ini bukan kebetulan. Hoaks bekerja dengan memahami psikologi manusia, kita lebih cepat bereaksi pada yang mengejutkan dan menggugah emosi, daripada yang masuk akal dan datar.

Namun hoaks tidak lahir sendiri. Ia hidup karena ada yang memberi ruang tumbuh. Setiap kali seseorang membagikan pesan tanpa memeriksa sumber, ia menjadi bagian dari rantai penyebaran. Mekanismenya sederhana, emosi, klik, sebar, pengaruh. Hoaks politik memecah belah masyarakat menjelang pemilu. Hoaks kesehatan menebar ketakutan terhadap vaksin dan pengobatan. Hoaks agama membakar emosi dan menciptakan kebencian. Di balik setiap kabar palsu, ada motif yang jelas, keuntungan ekonomi, kepentingan politik, atau sekadar kepuasan emosional untuk merasa “paling tahu.”

Dampak dari banjir hoaks tak berhenti di ranah informasi. Ia menembus ranah sosial, bahkan psikologis. Masyarakat terbelah menjadi kelompok yang saling curiga. Dialog berubah menjadi debat tanpa arah. Kebenaran kehilangan nilai, bergeser menjadi alat untuk menyerang. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada media, pemerintah, bahkan keluarga. Tidak sedikit yang lebih percaya pada pesan di grup WhatsApp daripada laporan media profesional. Pelan tapi pasti, lahirlah krisis kepercayaan yang menggerogoti fondasi kehidupan bersama.

Banjir informasi juga menciptakan kelelahan digital. Setiap notifikasi memancing rasa ingin tahu, setiap unggahan memicu reaksi emosional. Pikiran terus terpecah antara kebutuhan tahu dan kebutuhan tenang. Banyak orang merasa cemas, marah, atau lelah tanpa sebab yang jelas. Hoaks bekerja seperti racun halus, tidak membunuh seketika, tetapi menumpuk di alam bawah sadar dan menumpulkan daya pikir.

Jauh sebelum era digital, lontar Sarasamuscaya sudah mengingatkan: “Tan hana dharmasunya, ya ta ring wuwus tan salah.” Artinya, tidak ada kebenaran dalam ucapan yang tidak benar. Pesan itu menegaskan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Dalam konteks sekarang, menyebarkan hoaks sama dengan menanam bibit kehancuran sosial.

Masalah ini tidak bisa diurai dengan menyalahkan satu pihak. Akar terdalamnya ada pada rendahnya literasi digital. Banyak pengguna belum terbiasa memverifikasi informasi, belum memahami bagaimana algoritma bekerja, atau bagaimana framing berita membentuk persepsi. Di sisi lain, platform media sosial memang dirancang untuk memancing reaksi emosional. Semakin marah dan reaktif pengguna, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform.

Kepentingan politik turut memperkeruh arus ini. Setiap kali pemilu mendekat, hoaks tumbuh seperti jamur di musim hujan. Informasi palsu diproduksi secara sistematis, disebarkan dengan pola yang terukur, dan diarahkan untuk memanipulasi opini publik. Industri hoaks bekerja seperti pabrik, ada produsen, distributor, dan konsumen. Semuanya hidup dalam ekonomi atensi, di mana perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal.

Namun, di tengah derasnya arus ini, kita masih punya peluang untuk tetap berdiri tegak. Cara melawan banjir hoaks bukan dengan membendung seluruh arus, tetapi dengan belajar menjadi penyaring yang cerdas. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan, diantaranya : Pikir sebelum berbagi. Prinsip sederhana ini sering diabaikan. Sebelum membagikan sesuatu, berhenti sejenak dan tanyakan, apakah ini benar, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kebencian? Verifikasi informasi. Bandingkan dengan sumber lain. Latih empati digital. Jangan mudah terpancing oleh judul atau komentar provokatif. Pahami konteks sebelum bereaksi. Setiap kata di dunia maya punya dampak nyata pada kehidupan sosial.

Batasi waktu di media sosial. Paparan berlebihan melemahkan fokus dan daya kritis. Tentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial, sisanya gunakan untuk aktivitas nyata yang menyehatkan pikiran. Tingkatkan literasi digital di sekolah dan keluarga. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dan etika bermedia. Sekolah, kampus, dan komunitas perlu aktif mengajarkan cara membaca informasi dan memahami algoritma. Perkuat jurnalisme verifikasi. Media massa harus kembali ke fungsi utamanya, menjaga kebenaran. Di tengah lautan hoaks, jurnalisme yang berbasis fakta menjadi jangkar yang menahan publik dari hanyut.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat ekosistem literasi digital dengan kebijakan yang mendukung. Kurikulum harus memasukkan pelatihan membaca media, mengenali bias, dan memahami logika algoritma. Platform digital juga wajib lebih transparan dalam menampilkan konten dan menindak akun penyebar hoaks tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Namun perubahan terbesar tetap datang dari individu. Setiap pengguna media sosial memegang peran penting. Setiap klik adalah keputusan moral. Setiap unggahan adalah cermin integritas. Kita bisa memilih menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah. Lontar Dharma Pātañjala menulis, “Wruh ring tattwaning wuwus, ika ta ring jalaning dharma.” Artinya, mengetahui hakikat dari setiap ucapan adalah jalan menuju kebajikan. Dalam dunia digital, maknanya jelas, kebenaran bukan hanya diucapkan, tetapi diselami dengan kesadaran.

Kesadaran menjadi kunci untuk tetap waras di tengah kebisingan informasi. Kesadaran untuk berpikir sebelum bereaksi. Kesadaran untuk memeriksa sebelum membagikan. Dan kesadaran untuk memilih tenang daripada terpancing. Banjir media sosial tidak bisa dihentikan. Ia adalah konsekuensi dari dunia yang terhubung tanpa batas. Namun arah arusnya masih bisa dikendalikan jika kita mau menjadi bendungan yang menjernihkan, bukan gelombang yang memperkeruh. Dunia digital bukan sedang menenggelamkan manusia. Ia sedang menguji sejauh mana manusia mampu menjaga kejernihan pikir di tengah derasnya arus informasi. Karena sejatinya, bukan teknologi yang berbahaya, melainkan manusia yang berhenti berpikir.

Rahayu. [T]

  • Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Wartam edisi bulan Oktober 2025

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirhoaksjurnalismemedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Next Post

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co