3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
December 17, 2025
in Esai
Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MEDIA sosial kini seperti napas kedua manusia modern. Dari bangun tidur hingga menjelang mata terpejam, layar ponsel menjadi cermin baru dunia kita. Setiap guliran jempol membuka pintu menuju lautan konten yang tak pernah berhenti. Dunia digital telah berubah menjadi samudra informasi tanpa tepi. Menurut laporan We Are Social 2025, Indonesia memiliki lebih dari 190 juta pengguna aktif media sosial. Angka yang menempatkan kita di jajaran teratas pengguna internet dunia. Tapi di balik kemudahan berbagi dan berkomunikasi, ada arus gelap yang jarang disadari, bukan hanya banjir informasi, tetapi juga banjir hoaks yang perlahan mengikis nalar sehat.

Media sosial awalnya lahir untuk mempercepat komunikasi dan memperpendek jarak antarmanusia. Namun kini, ia menjelma menjadi sungai besar yang meluap, membawa campuran fakta, opini, emosi, dan kebohongan. Kecepatan menjadi segalanya, sementara kebenaran sering tertinggal di belakang. Banyak orang tergesa membagikan informasi, bukan karena yakin akan kebenarannya, tetapi karena ingin menjadi yang pertama. Dalam derasnya arus itu, masyarakat terseret tanpa sempat menilai arah dan isi dari setiap informasi yang lewat di hadapan mata.

Di bawah permukaan dunia digital, algoritma bekerja seperti arus bawah laut yang tak kasatmata. Ia mengarahkan perhatian pada apa yang menarik secara emosional, bukan yang benar secara faktual. Konten yang paling sering diklik, dikomentari, dan dibagikan akan terus muncul di beranda, menciptakan ruang gema digital (echo chamber). Di ruang ini, pengguna hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Inilah rawa tempat hoaks tumbuh subur, mengakar dari bias dan emosi yang tak disadari.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga hingga empat jam setiap hari di media sosial. Dalam waktu sepanjang itu, informasi datang tanpa jeda, menyerbu otak yang tidak sempat memproses. Manusia sulit membedakan mana yang faktual dan mana yang palsu, karena semuanya dibungkus dengan narasi yang menarik dan tampak meyakinkan. Penelitian MIT menemukan, berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat daripada berita benar. Ini bukan kebetulan. Hoaks bekerja dengan memahami psikologi manusia, kita lebih cepat bereaksi pada yang mengejutkan dan menggugah emosi, daripada yang masuk akal dan datar.

Namun hoaks tidak lahir sendiri. Ia hidup karena ada yang memberi ruang tumbuh. Setiap kali seseorang membagikan pesan tanpa memeriksa sumber, ia menjadi bagian dari rantai penyebaran. Mekanismenya sederhana, emosi, klik, sebar, pengaruh. Hoaks politik memecah belah masyarakat menjelang pemilu. Hoaks kesehatan menebar ketakutan terhadap vaksin dan pengobatan. Hoaks agama membakar emosi dan menciptakan kebencian. Di balik setiap kabar palsu, ada motif yang jelas, keuntungan ekonomi, kepentingan politik, atau sekadar kepuasan emosional untuk merasa “paling tahu.”

Dampak dari banjir hoaks tak berhenti di ranah informasi. Ia menembus ranah sosial, bahkan psikologis. Masyarakat terbelah menjadi kelompok yang saling curiga. Dialog berubah menjadi debat tanpa arah. Kebenaran kehilangan nilai, bergeser menjadi alat untuk menyerang. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada media, pemerintah, bahkan keluarga. Tidak sedikit yang lebih percaya pada pesan di grup WhatsApp daripada laporan media profesional. Pelan tapi pasti, lahirlah krisis kepercayaan yang menggerogoti fondasi kehidupan bersama.

Banjir informasi juga menciptakan kelelahan digital. Setiap notifikasi memancing rasa ingin tahu, setiap unggahan memicu reaksi emosional. Pikiran terus terpecah antara kebutuhan tahu dan kebutuhan tenang. Banyak orang merasa cemas, marah, atau lelah tanpa sebab yang jelas. Hoaks bekerja seperti racun halus, tidak membunuh seketika, tetapi menumpuk di alam bawah sadar dan menumpulkan daya pikir.

Jauh sebelum era digital, lontar Sarasamuscaya sudah mengingatkan: “Tan hana dharmasunya, ya ta ring wuwus tan salah.” Artinya, tidak ada kebenaran dalam ucapan yang tidak benar. Pesan itu menegaskan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Dalam konteks sekarang, menyebarkan hoaks sama dengan menanam bibit kehancuran sosial.

Masalah ini tidak bisa diurai dengan menyalahkan satu pihak. Akar terdalamnya ada pada rendahnya literasi digital. Banyak pengguna belum terbiasa memverifikasi informasi, belum memahami bagaimana algoritma bekerja, atau bagaimana framing berita membentuk persepsi. Di sisi lain, platform media sosial memang dirancang untuk memancing reaksi emosional. Semakin marah dan reaktif pengguna, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform.

Kepentingan politik turut memperkeruh arus ini. Setiap kali pemilu mendekat, hoaks tumbuh seperti jamur di musim hujan. Informasi palsu diproduksi secara sistematis, disebarkan dengan pola yang terukur, dan diarahkan untuk memanipulasi opini publik. Industri hoaks bekerja seperti pabrik, ada produsen, distributor, dan konsumen. Semuanya hidup dalam ekonomi atensi, di mana perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal.

Namun, di tengah derasnya arus ini, kita masih punya peluang untuk tetap berdiri tegak. Cara melawan banjir hoaks bukan dengan membendung seluruh arus, tetapi dengan belajar menjadi penyaring yang cerdas. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan, diantaranya : Pikir sebelum berbagi. Prinsip sederhana ini sering diabaikan. Sebelum membagikan sesuatu, berhenti sejenak dan tanyakan, apakah ini benar, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kebencian? Verifikasi informasi. Bandingkan dengan sumber lain. Latih empati digital. Jangan mudah terpancing oleh judul atau komentar provokatif. Pahami konteks sebelum bereaksi. Setiap kata di dunia maya punya dampak nyata pada kehidupan sosial.

Batasi waktu di media sosial. Paparan berlebihan melemahkan fokus dan daya kritis. Tentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial, sisanya gunakan untuk aktivitas nyata yang menyehatkan pikiran. Tingkatkan literasi digital di sekolah dan keluarga. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dan etika bermedia. Sekolah, kampus, dan komunitas perlu aktif mengajarkan cara membaca informasi dan memahami algoritma. Perkuat jurnalisme verifikasi. Media massa harus kembali ke fungsi utamanya, menjaga kebenaran. Di tengah lautan hoaks, jurnalisme yang berbasis fakta menjadi jangkar yang menahan publik dari hanyut.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat ekosistem literasi digital dengan kebijakan yang mendukung. Kurikulum harus memasukkan pelatihan membaca media, mengenali bias, dan memahami logika algoritma. Platform digital juga wajib lebih transparan dalam menampilkan konten dan menindak akun penyebar hoaks tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Namun perubahan terbesar tetap datang dari individu. Setiap pengguna media sosial memegang peran penting. Setiap klik adalah keputusan moral. Setiap unggahan adalah cermin integritas. Kita bisa memilih menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah. Lontar Dharma Pātañjala menulis, “Wruh ring tattwaning wuwus, ika ta ring jalaning dharma.” Artinya, mengetahui hakikat dari setiap ucapan adalah jalan menuju kebajikan. Dalam dunia digital, maknanya jelas, kebenaran bukan hanya diucapkan, tetapi diselami dengan kesadaran.

Kesadaran menjadi kunci untuk tetap waras di tengah kebisingan informasi. Kesadaran untuk berpikir sebelum bereaksi. Kesadaran untuk memeriksa sebelum membagikan. Dan kesadaran untuk memilih tenang daripada terpancing. Banjir media sosial tidak bisa dihentikan. Ia adalah konsekuensi dari dunia yang terhubung tanpa batas. Namun arah arusnya masih bisa dikendalikan jika kita mau menjadi bendungan yang menjernihkan, bukan gelombang yang memperkeruh. Dunia digital bukan sedang menenggelamkan manusia. Ia sedang menguji sejauh mana manusia mampu menjaga kejernihan pikir di tengah derasnya arus informasi. Karena sejatinya, bukan teknologi yang berbahaya, melainkan manusia yang berhenti berpikir.

Rahayu. [T]

  • Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Wartam edisi bulan Oktober 2025

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirhoaksjurnalismemedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Next Post

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co