12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
December 17, 2025
in Esai
Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MEDIA sosial kini seperti napas kedua manusia modern. Dari bangun tidur hingga menjelang mata terpejam, layar ponsel menjadi cermin baru dunia kita. Setiap guliran jempol membuka pintu menuju lautan konten yang tak pernah berhenti. Dunia digital telah berubah menjadi samudra informasi tanpa tepi. Menurut laporan We Are Social 2025, Indonesia memiliki lebih dari 190 juta pengguna aktif media sosial. Angka yang menempatkan kita di jajaran teratas pengguna internet dunia. Tapi di balik kemudahan berbagi dan berkomunikasi, ada arus gelap yang jarang disadari, bukan hanya banjir informasi, tetapi juga banjir hoaks yang perlahan mengikis nalar sehat.

Media sosial awalnya lahir untuk mempercepat komunikasi dan memperpendek jarak antarmanusia. Namun kini, ia menjelma menjadi sungai besar yang meluap, membawa campuran fakta, opini, emosi, dan kebohongan. Kecepatan menjadi segalanya, sementara kebenaran sering tertinggal di belakang. Banyak orang tergesa membagikan informasi, bukan karena yakin akan kebenarannya, tetapi karena ingin menjadi yang pertama. Dalam derasnya arus itu, masyarakat terseret tanpa sempat menilai arah dan isi dari setiap informasi yang lewat di hadapan mata.

Di bawah permukaan dunia digital, algoritma bekerja seperti arus bawah laut yang tak kasatmata. Ia mengarahkan perhatian pada apa yang menarik secara emosional, bukan yang benar secara faktual. Konten yang paling sering diklik, dikomentari, dan dibagikan akan terus muncul di beranda, menciptakan ruang gema digital (echo chamber). Di ruang ini, pengguna hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Inilah rawa tempat hoaks tumbuh subur, mengakar dari bias dan emosi yang tak disadari.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga hingga empat jam setiap hari di media sosial. Dalam waktu sepanjang itu, informasi datang tanpa jeda, menyerbu otak yang tidak sempat memproses. Manusia sulit membedakan mana yang faktual dan mana yang palsu, karena semuanya dibungkus dengan narasi yang menarik dan tampak meyakinkan. Penelitian MIT menemukan, berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat daripada berita benar. Ini bukan kebetulan. Hoaks bekerja dengan memahami psikologi manusia, kita lebih cepat bereaksi pada yang mengejutkan dan menggugah emosi, daripada yang masuk akal dan datar.

Namun hoaks tidak lahir sendiri. Ia hidup karena ada yang memberi ruang tumbuh. Setiap kali seseorang membagikan pesan tanpa memeriksa sumber, ia menjadi bagian dari rantai penyebaran. Mekanismenya sederhana, emosi, klik, sebar, pengaruh. Hoaks politik memecah belah masyarakat menjelang pemilu. Hoaks kesehatan menebar ketakutan terhadap vaksin dan pengobatan. Hoaks agama membakar emosi dan menciptakan kebencian. Di balik setiap kabar palsu, ada motif yang jelas, keuntungan ekonomi, kepentingan politik, atau sekadar kepuasan emosional untuk merasa “paling tahu.”

Dampak dari banjir hoaks tak berhenti di ranah informasi. Ia menembus ranah sosial, bahkan psikologis. Masyarakat terbelah menjadi kelompok yang saling curiga. Dialog berubah menjadi debat tanpa arah. Kebenaran kehilangan nilai, bergeser menjadi alat untuk menyerang. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada media, pemerintah, bahkan keluarga. Tidak sedikit yang lebih percaya pada pesan di grup WhatsApp daripada laporan media profesional. Pelan tapi pasti, lahirlah krisis kepercayaan yang menggerogoti fondasi kehidupan bersama.

Banjir informasi juga menciptakan kelelahan digital. Setiap notifikasi memancing rasa ingin tahu, setiap unggahan memicu reaksi emosional. Pikiran terus terpecah antara kebutuhan tahu dan kebutuhan tenang. Banyak orang merasa cemas, marah, atau lelah tanpa sebab yang jelas. Hoaks bekerja seperti racun halus, tidak membunuh seketika, tetapi menumpuk di alam bawah sadar dan menumpulkan daya pikir.

Jauh sebelum era digital, lontar Sarasamuscaya sudah mengingatkan: “Tan hana dharmasunya, ya ta ring wuwus tan salah.” Artinya, tidak ada kebenaran dalam ucapan yang tidak benar. Pesan itu menegaskan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Dalam konteks sekarang, menyebarkan hoaks sama dengan menanam bibit kehancuran sosial.

Masalah ini tidak bisa diurai dengan menyalahkan satu pihak. Akar terdalamnya ada pada rendahnya literasi digital. Banyak pengguna belum terbiasa memverifikasi informasi, belum memahami bagaimana algoritma bekerja, atau bagaimana framing berita membentuk persepsi. Di sisi lain, platform media sosial memang dirancang untuk memancing reaksi emosional. Semakin marah dan reaktif pengguna, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform.

Kepentingan politik turut memperkeruh arus ini. Setiap kali pemilu mendekat, hoaks tumbuh seperti jamur di musim hujan. Informasi palsu diproduksi secara sistematis, disebarkan dengan pola yang terukur, dan diarahkan untuk memanipulasi opini publik. Industri hoaks bekerja seperti pabrik, ada produsen, distributor, dan konsumen. Semuanya hidup dalam ekonomi atensi, di mana perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal.

Namun, di tengah derasnya arus ini, kita masih punya peluang untuk tetap berdiri tegak. Cara melawan banjir hoaks bukan dengan membendung seluruh arus, tetapi dengan belajar menjadi penyaring yang cerdas. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan, diantaranya : Pikir sebelum berbagi. Prinsip sederhana ini sering diabaikan. Sebelum membagikan sesuatu, berhenti sejenak dan tanyakan, apakah ini benar, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kebencian? Verifikasi informasi. Bandingkan dengan sumber lain. Latih empati digital. Jangan mudah terpancing oleh judul atau komentar provokatif. Pahami konteks sebelum bereaksi. Setiap kata di dunia maya punya dampak nyata pada kehidupan sosial.

Batasi waktu di media sosial. Paparan berlebihan melemahkan fokus dan daya kritis. Tentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial, sisanya gunakan untuk aktivitas nyata yang menyehatkan pikiran. Tingkatkan literasi digital di sekolah dan keluarga. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dan etika bermedia. Sekolah, kampus, dan komunitas perlu aktif mengajarkan cara membaca informasi dan memahami algoritma. Perkuat jurnalisme verifikasi. Media massa harus kembali ke fungsi utamanya, menjaga kebenaran. Di tengah lautan hoaks, jurnalisme yang berbasis fakta menjadi jangkar yang menahan publik dari hanyut.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat ekosistem literasi digital dengan kebijakan yang mendukung. Kurikulum harus memasukkan pelatihan membaca media, mengenali bias, dan memahami logika algoritma. Platform digital juga wajib lebih transparan dalam menampilkan konten dan menindak akun penyebar hoaks tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Namun perubahan terbesar tetap datang dari individu. Setiap pengguna media sosial memegang peran penting. Setiap klik adalah keputusan moral. Setiap unggahan adalah cermin integritas. Kita bisa memilih menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah. Lontar Dharma Pātañjala menulis, “Wruh ring tattwaning wuwus, ika ta ring jalaning dharma.” Artinya, mengetahui hakikat dari setiap ucapan adalah jalan menuju kebajikan. Dalam dunia digital, maknanya jelas, kebenaran bukan hanya diucapkan, tetapi diselami dengan kesadaran.

Kesadaran menjadi kunci untuk tetap waras di tengah kebisingan informasi. Kesadaran untuk berpikir sebelum bereaksi. Kesadaran untuk memeriksa sebelum membagikan. Dan kesadaran untuk memilih tenang daripada terpancing. Banjir media sosial tidak bisa dihentikan. Ia adalah konsekuensi dari dunia yang terhubung tanpa batas. Namun arah arusnya masih bisa dikendalikan jika kita mau menjadi bendungan yang menjernihkan, bukan gelombang yang memperkeruh. Dunia digital bukan sedang menenggelamkan manusia. Ia sedang menguji sejauh mana manusia mampu menjaga kejernihan pikir di tengah derasnya arus informasi. Karena sejatinya, bukan teknologi yang berbahaya, melainkan manusia yang berhenti berpikir.

Rahayu. [T]

  • Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Wartam edisi bulan Oktober 2025

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirhoaksjurnalismemedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Next Post

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co