2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
December 17, 2025
in Esai
Awas Banjir Hoaks, Banjir Medsos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

MEDIA sosial kini seperti napas kedua manusia modern. Dari bangun tidur hingga menjelang mata terpejam, layar ponsel menjadi cermin baru dunia kita. Setiap guliran jempol membuka pintu menuju lautan konten yang tak pernah berhenti. Dunia digital telah berubah menjadi samudra informasi tanpa tepi. Menurut laporan We Are Social 2025, Indonesia memiliki lebih dari 190 juta pengguna aktif media sosial. Angka yang menempatkan kita di jajaran teratas pengguna internet dunia. Tapi di balik kemudahan berbagi dan berkomunikasi, ada arus gelap yang jarang disadari, bukan hanya banjir informasi, tetapi juga banjir hoaks yang perlahan mengikis nalar sehat.

Media sosial awalnya lahir untuk mempercepat komunikasi dan memperpendek jarak antarmanusia. Namun kini, ia menjelma menjadi sungai besar yang meluap, membawa campuran fakta, opini, emosi, dan kebohongan. Kecepatan menjadi segalanya, sementara kebenaran sering tertinggal di belakang. Banyak orang tergesa membagikan informasi, bukan karena yakin akan kebenarannya, tetapi karena ingin menjadi yang pertama. Dalam derasnya arus itu, masyarakat terseret tanpa sempat menilai arah dan isi dari setiap informasi yang lewat di hadapan mata.

Di bawah permukaan dunia digital, algoritma bekerja seperti arus bawah laut yang tak kasatmata. Ia mengarahkan perhatian pada apa yang menarik secara emosional, bukan yang benar secara faktual. Konten yang paling sering diklik, dikomentari, dan dibagikan akan terus muncul di beranda, menciptakan ruang gema digital (echo chamber). Di ruang ini, pengguna hanya mendengar pendapat yang sejalan dengan keyakinannya sendiri. Inilah rawa tempat hoaks tumbuh subur, mengakar dari bias dan emosi yang tak disadari.

Rata-rata orang Indonesia menghabiskan tiga hingga empat jam setiap hari di media sosial. Dalam waktu sepanjang itu, informasi datang tanpa jeda, menyerbu otak yang tidak sempat memproses. Manusia sulit membedakan mana yang faktual dan mana yang palsu, karena semuanya dibungkus dengan narasi yang menarik dan tampak meyakinkan. Penelitian MIT menemukan, berita palsu di Twitter menyebar enam kali lebih cepat daripada berita benar. Ini bukan kebetulan. Hoaks bekerja dengan memahami psikologi manusia, kita lebih cepat bereaksi pada yang mengejutkan dan menggugah emosi, daripada yang masuk akal dan datar.

Namun hoaks tidak lahir sendiri. Ia hidup karena ada yang memberi ruang tumbuh. Setiap kali seseorang membagikan pesan tanpa memeriksa sumber, ia menjadi bagian dari rantai penyebaran. Mekanismenya sederhana, emosi, klik, sebar, pengaruh. Hoaks politik memecah belah masyarakat menjelang pemilu. Hoaks kesehatan menebar ketakutan terhadap vaksin dan pengobatan. Hoaks agama membakar emosi dan menciptakan kebencian. Di balik setiap kabar palsu, ada motif yang jelas, keuntungan ekonomi, kepentingan politik, atau sekadar kepuasan emosional untuk merasa “paling tahu.”

Dampak dari banjir hoaks tak berhenti di ranah informasi. Ia menembus ranah sosial, bahkan psikologis. Masyarakat terbelah menjadi kelompok yang saling curiga. Dialog berubah menjadi debat tanpa arah. Kebenaran kehilangan nilai, bergeser menjadi alat untuk menyerang. Banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada media, pemerintah, bahkan keluarga. Tidak sedikit yang lebih percaya pada pesan di grup WhatsApp daripada laporan media profesional. Pelan tapi pasti, lahirlah krisis kepercayaan yang menggerogoti fondasi kehidupan bersama.

Banjir informasi juga menciptakan kelelahan digital. Setiap notifikasi memancing rasa ingin tahu, setiap unggahan memicu reaksi emosional. Pikiran terus terpecah antara kebutuhan tahu dan kebutuhan tenang. Banyak orang merasa cemas, marah, atau lelah tanpa sebab yang jelas. Hoaks bekerja seperti racun halus, tidak membunuh seketika, tetapi menumpuk di alam bawah sadar dan menumpulkan daya pikir.

Jauh sebelum era digital, lontar Sarasamuscaya sudah mengingatkan: “Tan hana dharmasunya, ya ta ring wuwus tan salah.” Artinya, tidak ada kebenaran dalam ucapan yang tidak benar. Pesan itu menegaskan bahwa setiap kata memiliki tanggung jawab moral. Dalam konteks sekarang, menyebarkan hoaks sama dengan menanam bibit kehancuran sosial.

Masalah ini tidak bisa diurai dengan menyalahkan satu pihak. Akar terdalamnya ada pada rendahnya literasi digital. Banyak pengguna belum terbiasa memverifikasi informasi, belum memahami bagaimana algoritma bekerja, atau bagaimana framing berita membentuk persepsi. Di sisi lain, platform media sosial memang dirancang untuk memancing reaksi emosional. Semakin marah dan reaktif pengguna, semakin besar keuntungan yang diperoleh platform.

Kepentingan politik turut memperkeruh arus ini. Setiap kali pemilu mendekat, hoaks tumbuh seperti jamur di musim hujan. Informasi palsu diproduksi secara sistematis, disebarkan dengan pola yang terukur, dan diarahkan untuk memanipulasi opini publik. Industri hoaks bekerja seperti pabrik, ada produsen, distributor, dan konsumen. Semuanya hidup dalam ekonomi atensi, di mana perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal.

Namun, di tengah derasnya arus ini, kita masih punya peluang untuk tetap berdiri tegak. Cara melawan banjir hoaks bukan dengan membendung seluruh arus, tetapi dengan belajar menjadi penyaring yang cerdas. Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan, diantaranya : Pikir sebelum berbagi. Prinsip sederhana ini sering diabaikan. Sebelum membagikan sesuatu, berhenti sejenak dan tanyakan, apakah ini benar, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kebencian? Verifikasi informasi. Bandingkan dengan sumber lain. Latih empati digital. Jangan mudah terpancing oleh judul atau komentar provokatif. Pahami konteks sebelum bereaksi. Setiap kata di dunia maya punya dampak nyata pada kehidupan sosial.

Batasi waktu di media sosial. Paparan berlebihan melemahkan fokus dan daya kritis. Tentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial, sisanya gunakan untuk aktivitas nyata yang menyehatkan pikiran. Tingkatkan literasi digital di sekolah dan keluarga. Literasi digital bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis dan etika bermedia. Sekolah, kampus, dan komunitas perlu aktif mengajarkan cara membaca informasi dan memahami algoritma. Perkuat jurnalisme verifikasi. Media massa harus kembali ke fungsi utamanya, menjaga kebenaran. Di tengah lautan hoaks, jurnalisme yang berbasis fakta menjadi jangkar yang menahan publik dari hanyut.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu memperkuat ekosistem literasi digital dengan kebijakan yang mendukung. Kurikulum harus memasukkan pelatihan membaca media, mengenali bias, dan memahami logika algoritma. Platform digital juga wajib lebih transparan dalam menampilkan konten dan menindak akun penyebar hoaks tanpa mengorbankan kebebasan berekspresi.

Namun perubahan terbesar tetap datang dari individu. Setiap pengguna media sosial memegang peran penting. Setiap klik adalah keputusan moral. Setiap unggahan adalah cermin integritas. Kita bisa memilih menjadi bagian dari solusi atau bagian dari masalah. Lontar Dharma Pātañjala menulis, “Wruh ring tattwaning wuwus, ika ta ring jalaning dharma.” Artinya, mengetahui hakikat dari setiap ucapan adalah jalan menuju kebajikan. Dalam dunia digital, maknanya jelas, kebenaran bukan hanya diucapkan, tetapi diselami dengan kesadaran.

Kesadaran menjadi kunci untuk tetap waras di tengah kebisingan informasi. Kesadaran untuk berpikir sebelum bereaksi. Kesadaran untuk memeriksa sebelum membagikan. Dan kesadaran untuk memilih tenang daripada terpancing. Banjir media sosial tidak bisa dihentikan. Ia adalah konsekuensi dari dunia yang terhubung tanpa batas. Namun arah arusnya masih bisa dikendalikan jika kita mau menjadi bendungan yang menjernihkan, bukan gelombang yang memperkeruh. Dunia digital bukan sedang menenggelamkan manusia. Ia sedang menguji sejauh mana manusia mampu menjaga kejernihan pikir di tengah derasnya arus informasi. Karena sejatinya, bukan teknologi yang berbahaya, melainkan manusia yang berhenti berpikir.

Rahayu. [T]

  • Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Wartam edisi bulan Oktober 2025

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirhoaksjurnalismemedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gunung Padang, Tri Mandala, dan Ingatan Kosmologis Nusantara

Next Post

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co