2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 16, 2025
in Esai
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Seorang Penggugat Sejarah

Nama Erich von Däniken selalu memantik kontroversi. Sejak terbitnya Chariots of the Gods? (1968), ia tampil sebagai sosok yang menggugat sejarah resmi umat manusia. Dengan berani, bahkan terkesan provokatif, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mengguncang: mungkinkah peradaban manusia purba dibantu atau dipengaruhi oleh makhluk cerdas dari luar bumi? Bagi dunia akademik, pertanyaan ini sering dianggap spekulatif, bahkan pseudosains. Namun bagi jutaan pembaca awam, Däniken membuka pintu imajinasi baru tentang asal-usul pengetahuan, teknologi, dan mitos manusia.

Di sinilah posisi unik Däniken: ia berdiri di antara sains dan mitos, di wilayah abu-abu yang tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga sulit diabaikan.

Metode Bertanya yang Tidak Lazim

Däniken bukan arkeolog akademis, bukan pula ilmuwan laboratorium. Metodenya lebih dekat pada seorang pengamat lintas budaya yang menghubungkan artefak, mitologi, dan teks kuno. Ia mengumpulkan anomali: piramida dengan presisi luar biasa, gambar-gambar purba yang menyerupai astronaut, teks-teks kuno yang menggambarkan “dewa turun dari langit”, sebagaimana terdapat dalam ephos Mahabharata yang diyakini sebagai Itihasa atau sejarah , tentang sosok Karna yang lahir dari pertemuan Kunti dengan Dewa Surya.

Bagi sains arus utama, pendekatan ini bermasalah. Korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Kesamaan bentuk belum tentu kesamaan makna. Namun, Däniken seolah berkata: “Jika penjelasan konvensional tidak cukup memuaskan, mengapa kita takut bertanya lebih jauh?”

Di titik ini, kontribusinya bukan pada jawaban, melainkan pada keberanian bertanya. Ia memaksa sains untuk tidak cepat merasa selesai.

Antara Bukti dan Tafsir

Kritik utama terhadap Däniken adalah soal tafsir. Banyak artefak yang ia jadikan bukti ternyata memiliki penjelasan antropologis dan historis yang masuk akal tanpa perlu campur tangan alien. Relief di Palenque, misalnya, yang ia tafsirkan sebagai astronot, oleh arkeolog Maya dipahami sebagai simbol kosmologi kematian dan kelahiran kembali.

Namun refleksi yang lebih dalam menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar benar atau salah. Tafsir Däniken mencerminkan kegelisahan modern: bagaimana mungkin peradaban kuno dengan teknologi terbatas mampu menghasilkan karya sedemikian kompleks? Ketika manusia modern merasa paling maju, justru muncul rasa takjub—bahkan inferior—terhadap kecanggihan masa lalu.

Däniken mengisi celah psikologis ini dengan narasi kosmik.

Mitos sebagai Bahasa Pengetahuan

Salah satu kekuatan Däniken adalah keseriusannya membaca mitos. Ia tidak memandang mitologi semata sebagai dongeng, melainkan sebagai “catatan sejarah yang disamarkan”. Dewa-dewa yang terbang, senjata bercahaya, dan kereta langit ia baca sebagai kemungkinan deskripsi teknologi maju yang belum dipahami masyarakat kala itu.

Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa mitos adalah bahasa simbolik. Dalam tradisi Timur—termasuk di Nusantara—mitos sering menjadi wahana menyimpan pengetahuan kosmologis dan etis. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu literal, tetapi apa makna terdalam yang ingin disampaikan.

Di sini, Däniken bertemu dengan para pemikir spiritual modern: mitos sebagai jembatan antara pengalaman transenden dan pemahaman manusia.

Reaksi Sains: Penolakan dan Ketakutan

Penolakan keras dunia akademik terhadap Däniken sering kali tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga emosional. Ada kekhawatiran bahwa teori “ancient astronauts” merendahkan kemampuan manusia purba, seolah-olah mereka tidak mampu berpikir dan berkreasi sendiri.

Kritik ini valid. Namun di sisi lain, reaksi defensif sains juga menunjukkan satu hal: sains memiliki batas, dan batas itu sering kali dijaga dengan dogma tak tertulis. Däniken menjadi semacam “pengganggu” yang menguji sejauh mana sains bersedia membuka diri terhadap kemungkinan yang tidak nyaman.

Ia bukan ilmuwan, tetapi cermin bagi ilmuwan.

Däniken dan Imajinasi Zaman Modern

Tidak bisa dipungkiri, pengaruh Däniken sangat besar dalam budaya populer. Film, serial, dan literatur sains fiksi banyak berutang padanya. Bahkan diskursus tentang UFO, kehidupan ekstraterestrial, dan kosmos sebagai rumah bersama manusia menemukan pijakan awal dari keberanian berpikirnya.

Di era eksplorasi luar angkasa, pertanyaan Däniken terasa semakin relevan. Jika kehidupan cerdas mungkin ada di luar bumi, mengapa mustahil interaksi terjadi di masa lalu? Pertanyaan ini kini mulai dibahas secara serius oleh astrobiologi, meski dengan metodologi yang jauh lebih ketat.

Ironisnya, sains modern perlahan mendekati wilayah yang dulu dianggap “liar”.

Pelajaran bagi Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, Däniken memberi pelajaran penting: jangan tergesa-gesa menolak pengetahuan lokal dan mitologi nusantara sebagai tahayul. Candi, relief, dan cerita leluhur menyimpan lapisan makna yang belum tentu selesai ditafsirkan oleh satu generasi.

Namun pelajaran kedua tak kalah penting: keterbukaan harus diimbangi kehati-hatian. Imajinasi tanpa disiplin mudah tergelincir menjadi sensasi. Däniken mengajarkan keberanian bertanya, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dalam menjawab. Dan sebuah jawaban bisa jadi melahirkan pertanyaan baru yang lebih menggairahan untuk pencarian sebuah makna. Karena hidup tidak berhenti pada sebuah titik, tapi pencarian yang terus menerus.

Di Antara Langit dan Bumi

Erich von Däniken mungkin tidak pernah sepenuhnya diterima oleh sains, dan mungkin pula tidak pernah sepenuhnya benar. Namun posisinya di antara sains dan mitos justru itulah maknanya. Ia berdiri di perbatasan: antara rasio dan imajinasi, antara data dan tafsir, antara langit dan bumi.

Dalam dunia yang sering merasa sudah tahu segalanya, Däniken mengingatkan satu hal sederhana namun mendalam: sejarah manusia masih menyimpan misteri, dan keberanian untuk bertanya adalah awal dari kebijaksanaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: mitossains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Next Post

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co