14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 16, 2025
in Esai
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Seorang Penggugat Sejarah

Nama Erich von Däniken selalu memantik kontroversi. Sejak terbitnya Chariots of the Gods? (1968), ia tampil sebagai sosok yang menggugat sejarah resmi umat manusia. Dengan berani, bahkan terkesan provokatif, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mengguncang: mungkinkah peradaban manusia purba dibantu atau dipengaruhi oleh makhluk cerdas dari luar bumi? Bagi dunia akademik, pertanyaan ini sering dianggap spekulatif, bahkan pseudosains. Namun bagi jutaan pembaca awam, Däniken membuka pintu imajinasi baru tentang asal-usul pengetahuan, teknologi, dan mitos manusia.

Di sinilah posisi unik Däniken: ia berdiri di antara sains dan mitos, di wilayah abu-abu yang tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga sulit diabaikan.

Metode Bertanya yang Tidak Lazim

Däniken bukan arkeolog akademis, bukan pula ilmuwan laboratorium. Metodenya lebih dekat pada seorang pengamat lintas budaya yang menghubungkan artefak, mitologi, dan teks kuno. Ia mengumpulkan anomali: piramida dengan presisi luar biasa, gambar-gambar purba yang menyerupai astronaut, teks-teks kuno yang menggambarkan “dewa turun dari langit”, sebagaimana terdapat dalam ephos Mahabharata yang diyakini sebagai Itihasa atau sejarah , tentang sosok Karna yang lahir dari pertemuan Kunti dengan Dewa Surya.

Bagi sains arus utama, pendekatan ini bermasalah. Korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Kesamaan bentuk belum tentu kesamaan makna. Namun, Däniken seolah berkata: “Jika penjelasan konvensional tidak cukup memuaskan, mengapa kita takut bertanya lebih jauh?”

Di titik ini, kontribusinya bukan pada jawaban, melainkan pada keberanian bertanya. Ia memaksa sains untuk tidak cepat merasa selesai.

Antara Bukti dan Tafsir

Kritik utama terhadap Däniken adalah soal tafsir. Banyak artefak yang ia jadikan bukti ternyata memiliki penjelasan antropologis dan historis yang masuk akal tanpa perlu campur tangan alien. Relief di Palenque, misalnya, yang ia tafsirkan sebagai astronot, oleh arkeolog Maya dipahami sebagai simbol kosmologi kematian dan kelahiran kembali.

Namun refleksi yang lebih dalam menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar benar atau salah. Tafsir Däniken mencerminkan kegelisahan modern: bagaimana mungkin peradaban kuno dengan teknologi terbatas mampu menghasilkan karya sedemikian kompleks? Ketika manusia modern merasa paling maju, justru muncul rasa takjub—bahkan inferior—terhadap kecanggihan masa lalu.

Däniken mengisi celah psikologis ini dengan narasi kosmik.

Mitos sebagai Bahasa Pengetahuan

Salah satu kekuatan Däniken adalah keseriusannya membaca mitos. Ia tidak memandang mitologi semata sebagai dongeng, melainkan sebagai “catatan sejarah yang disamarkan”. Dewa-dewa yang terbang, senjata bercahaya, dan kereta langit ia baca sebagai kemungkinan deskripsi teknologi maju yang belum dipahami masyarakat kala itu.

Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa mitos adalah bahasa simbolik. Dalam tradisi Timur—termasuk di Nusantara—mitos sering menjadi wahana menyimpan pengetahuan kosmologis dan etis. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu literal, tetapi apa makna terdalam yang ingin disampaikan.

Di sini, Däniken bertemu dengan para pemikir spiritual modern: mitos sebagai jembatan antara pengalaman transenden dan pemahaman manusia.

Reaksi Sains: Penolakan dan Ketakutan

Penolakan keras dunia akademik terhadap Däniken sering kali tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga emosional. Ada kekhawatiran bahwa teori “ancient astronauts” merendahkan kemampuan manusia purba, seolah-olah mereka tidak mampu berpikir dan berkreasi sendiri.

Kritik ini valid. Namun di sisi lain, reaksi defensif sains juga menunjukkan satu hal: sains memiliki batas, dan batas itu sering kali dijaga dengan dogma tak tertulis. Däniken menjadi semacam “pengganggu” yang menguji sejauh mana sains bersedia membuka diri terhadap kemungkinan yang tidak nyaman.

Ia bukan ilmuwan, tetapi cermin bagi ilmuwan.

Däniken dan Imajinasi Zaman Modern

Tidak bisa dipungkiri, pengaruh Däniken sangat besar dalam budaya populer. Film, serial, dan literatur sains fiksi banyak berutang padanya. Bahkan diskursus tentang UFO, kehidupan ekstraterestrial, dan kosmos sebagai rumah bersama manusia menemukan pijakan awal dari keberanian berpikirnya.

Di era eksplorasi luar angkasa, pertanyaan Däniken terasa semakin relevan. Jika kehidupan cerdas mungkin ada di luar bumi, mengapa mustahil interaksi terjadi di masa lalu? Pertanyaan ini kini mulai dibahas secara serius oleh astrobiologi, meski dengan metodologi yang jauh lebih ketat.

Ironisnya, sains modern perlahan mendekati wilayah yang dulu dianggap “liar”.

Pelajaran bagi Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, Däniken memberi pelajaran penting: jangan tergesa-gesa menolak pengetahuan lokal dan mitologi nusantara sebagai tahayul. Candi, relief, dan cerita leluhur menyimpan lapisan makna yang belum tentu selesai ditafsirkan oleh satu generasi.

Namun pelajaran kedua tak kalah penting: keterbukaan harus diimbangi kehati-hatian. Imajinasi tanpa disiplin mudah tergelincir menjadi sensasi. Däniken mengajarkan keberanian bertanya, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dalam menjawab. Dan sebuah jawaban bisa jadi melahirkan pertanyaan baru yang lebih menggairahan untuk pencarian sebuah makna. Karena hidup tidak berhenti pada sebuah titik, tapi pencarian yang terus menerus.

Di Antara Langit dan Bumi

Erich von Däniken mungkin tidak pernah sepenuhnya diterima oleh sains, dan mungkin pula tidak pernah sepenuhnya benar. Namun posisinya di antara sains dan mitos justru itulah maknanya. Ia berdiri di perbatasan: antara rasio dan imajinasi, antara data dan tafsir, antara langit dan bumi.

Dalam dunia yang sering merasa sudah tahu segalanya, Däniken mengingatkan satu hal sederhana namun mendalam: sejarah manusia masih menyimpan misteri, dan keberanian untuk bertanya adalah awal dari kebijaksanaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: mitossains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Next Post

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co