13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 16, 2025
in Esai
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Seorang Penggugat Sejarah

Nama Erich von Däniken selalu memantik kontroversi. Sejak terbitnya Chariots of the Gods? (1968), ia tampil sebagai sosok yang menggugat sejarah resmi umat manusia. Dengan berani, bahkan terkesan provokatif, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mengguncang: mungkinkah peradaban manusia purba dibantu atau dipengaruhi oleh makhluk cerdas dari luar bumi? Bagi dunia akademik, pertanyaan ini sering dianggap spekulatif, bahkan pseudosains. Namun bagi jutaan pembaca awam, Däniken membuka pintu imajinasi baru tentang asal-usul pengetahuan, teknologi, dan mitos manusia.

Di sinilah posisi unik Däniken: ia berdiri di antara sains dan mitos, di wilayah abu-abu yang tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga sulit diabaikan.

Metode Bertanya yang Tidak Lazim

Däniken bukan arkeolog akademis, bukan pula ilmuwan laboratorium. Metodenya lebih dekat pada seorang pengamat lintas budaya yang menghubungkan artefak, mitologi, dan teks kuno. Ia mengumpulkan anomali: piramida dengan presisi luar biasa, gambar-gambar purba yang menyerupai astronaut, teks-teks kuno yang menggambarkan “dewa turun dari langit”, sebagaimana terdapat dalam ephos Mahabharata yang diyakini sebagai Itihasa atau sejarah , tentang sosok Karna yang lahir dari pertemuan Kunti dengan Dewa Surya.

Bagi sains arus utama, pendekatan ini bermasalah. Korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Kesamaan bentuk belum tentu kesamaan makna. Namun, Däniken seolah berkata: “Jika penjelasan konvensional tidak cukup memuaskan, mengapa kita takut bertanya lebih jauh?”

Di titik ini, kontribusinya bukan pada jawaban, melainkan pada keberanian bertanya. Ia memaksa sains untuk tidak cepat merasa selesai.

Antara Bukti dan Tafsir

Kritik utama terhadap Däniken adalah soal tafsir. Banyak artefak yang ia jadikan bukti ternyata memiliki penjelasan antropologis dan historis yang masuk akal tanpa perlu campur tangan alien. Relief di Palenque, misalnya, yang ia tafsirkan sebagai astronot, oleh arkeolog Maya dipahami sebagai simbol kosmologi kematian dan kelahiran kembali.

Namun refleksi yang lebih dalam menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar benar atau salah. Tafsir Däniken mencerminkan kegelisahan modern: bagaimana mungkin peradaban kuno dengan teknologi terbatas mampu menghasilkan karya sedemikian kompleks? Ketika manusia modern merasa paling maju, justru muncul rasa takjub—bahkan inferior—terhadap kecanggihan masa lalu.

Däniken mengisi celah psikologis ini dengan narasi kosmik.

Mitos sebagai Bahasa Pengetahuan

Salah satu kekuatan Däniken adalah keseriusannya membaca mitos. Ia tidak memandang mitologi semata sebagai dongeng, melainkan sebagai “catatan sejarah yang disamarkan”. Dewa-dewa yang terbang, senjata bercahaya, dan kereta langit ia baca sebagai kemungkinan deskripsi teknologi maju yang belum dipahami masyarakat kala itu.

Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa mitos adalah bahasa simbolik. Dalam tradisi Timur—termasuk di Nusantara—mitos sering menjadi wahana menyimpan pengetahuan kosmologis dan etis. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu literal, tetapi apa makna terdalam yang ingin disampaikan.

Di sini, Däniken bertemu dengan para pemikir spiritual modern: mitos sebagai jembatan antara pengalaman transenden dan pemahaman manusia.

Reaksi Sains: Penolakan dan Ketakutan

Penolakan keras dunia akademik terhadap Däniken sering kali tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga emosional. Ada kekhawatiran bahwa teori “ancient astronauts” merendahkan kemampuan manusia purba, seolah-olah mereka tidak mampu berpikir dan berkreasi sendiri.

Kritik ini valid. Namun di sisi lain, reaksi defensif sains juga menunjukkan satu hal: sains memiliki batas, dan batas itu sering kali dijaga dengan dogma tak tertulis. Däniken menjadi semacam “pengganggu” yang menguji sejauh mana sains bersedia membuka diri terhadap kemungkinan yang tidak nyaman.

Ia bukan ilmuwan, tetapi cermin bagi ilmuwan.

Däniken dan Imajinasi Zaman Modern

Tidak bisa dipungkiri, pengaruh Däniken sangat besar dalam budaya populer. Film, serial, dan literatur sains fiksi banyak berutang padanya. Bahkan diskursus tentang UFO, kehidupan ekstraterestrial, dan kosmos sebagai rumah bersama manusia menemukan pijakan awal dari keberanian berpikirnya.

Di era eksplorasi luar angkasa, pertanyaan Däniken terasa semakin relevan. Jika kehidupan cerdas mungkin ada di luar bumi, mengapa mustahil interaksi terjadi di masa lalu? Pertanyaan ini kini mulai dibahas secara serius oleh astrobiologi, meski dengan metodologi yang jauh lebih ketat.

Ironisnya, sains modern perlahan mendekati wilayah yang dulu dianggap “liar”.

Pelajaran bagi Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, Däniken memberi pelajaran penting: jangan tergesa-gesa menolak pengetahuan lokal dan mitologi nusantara sebagai tahayul. Candi, relief, dan cerita leluhur menyimpan lapisan makna yang belum tentu selesai ditafsirkan oleh satu generasi.

Namun pelajaran kedua tak kalah penting: keterbukaan harus diimbangi kehati-hatian. Imajinasi tanpa disiplin mudah tergelincir menjadi sensasi. Däniken mengajarkan keberanian bertanya, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dalam menjawab. Dan sebuah jawaban bisa jadi melahirkan pertanyaan baru yang lebih menggairahan untuk pencarian sebuah makna. Karena hidup tidak berhenti pada sebuah titik, tapi pencarian yang terus menerus.

Di Antara Langit dan Bumi

Erich von Däniken mungkin tidak pernah sepenuhnya diterima oleh sains, dan mungkin pula tidak pernah sepenuhnya benar. Namun posisinya di antara sains dan mitos justru itulah maknanya. Ia berdiri di perbatasan: antara rasio dan imajinasi, antara data dan tafsir, antara langit dan bumi.

Dalam dunia yang sering merasa sudah tahu segalanya, Däniken mengingatkan satu hal sederhana namun mendalam: sejarah manusia masih menyimpan misteri, dan keberanian untuk bertanya adalah awal dari kebijaksanaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: mitossains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Next Post

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co