2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 16, 2025
in Esai
Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Ape alih ade di Bali!”

KALIMAT ini kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari, juga berulang kali muncul di linimasa media sosial sepanjang tahun-tahun terakhir. Maknanya kurang lebih sama, apa pun yang ingin kamu cari, Bali menyediakannya. Dari yang sakral hingga yang banal, dari yang luhur sampai yang ganjil. Ungkapan ini sering dilontarkan setengah bercanda, setengah bangga. Namun jika dicermati lebih jauh, ia juga menyimpan nada getir. Bali seolah menjadi etalase dari hampir segala rupa fenomena manusia modern, termasuk yang tak selalu patut dirayakan.

Bali hari ini bukan hanya ruang hidup, bukan pula semata destinasi wisata. Ia telah menjelma menjadi panggung. Di panggung itu, warga, aktivis, seniman, influencer, pejabat, dan politisi tampil silih berganti. Media sosial menjadi lampu sorotnya. Di sanalah mereka berbicara, berpendapat, mengkritik, membela diri, bahkan saling menyerang. Apa pun bisa menjadi tontonan, selama ada jaringan dan gawai di tangan.

Di tengah situasi ini, konflik bukan lagi sesuatu yang disembunyikan. Ia justru dipertontonkan. Dikemas. Dirawat. Kadang dengan sadar, kadang tanpa disadari. Salah satu gejala yang semakin menonjol adalah saling serang antartokoh publik Bali melalui media sosial. Kritik tidak lagi berhenti pada kebijakan atau sikap publik, tetapi merembet ke wilayah personal, privat, bahkan psikologis. Ruang diskusi publik menyempit, digantikan oleh adu emosi yang berlangsung tanpa jeda.

Kasus WS dan NLD menjadi contoh yang paling kentara. Dua figur publik asal Bali dengan jalur dan peran yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai pegiat media sosial yang vokal, keras, dan konsisten memosisikan diri sebagai pengawas kekuasaan. Yang lain adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah, figur yang juga dibangun dari citra perlawanan terhadap ketidakadilan dan keberpihakan pada rakyat kecil. Keduanya bukan orang asing. Bahkan, pada suatu fase, keduanya tampak berada di barisan yang sama.

Namun relasi manusia, terlebih yang bersentuhan dengan kuasa dan pengaruh, jarang berjalan lurus. Kedekatan bisa berubah menjadi jarak. Kesamaan sikap bisa bergeser menjadi perbedaan tajam. Kritik yang dulu diterima sebagai masukan, kini dibaca sebagai serangan. Dan ketika itu terjadi di ruang publik digital, eskalasinya nyaris tak terhindarkan.

Media sosial menjadi arena pertarungan mereka. Arena tanpa wasit. Tanpa aturan baku. Tanpa jeda emosi. Unggahan demi unggahan bermunculan. Video diproduksi. Komentar dilontarkan. Kritik bercampur sindiran. Sindiran berubah menjadi serangan. Pendukung ikut bersuara, bahkan sering kali lebih bising daripada tokohnya sendiri. Algoritma bekerja dengan setia, mendorong konten yang memancing reaksi, memperpanjang umur konflik.

Yang menarik perhatian saya bukan sekadar fakta bahwa dua figur publik ini berseteru. Konflik politik dan perbedaan sikap adalah hal lumrah dalam masyarakat demokratis. Yang mengusik justru satu senjata yang digunakan dalam pertarungan tersebut, yaitu, klaim sakit jiwa.

NLD menyebut WS sebagai “pasien rawat jalan RSJ”. Sebaliknya, WS berulang kali menyebut NLD sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder atau NPD. Dua tudingan yang terdengar medis, ilmiah, dan serius. Namun sejauh yang bisa ditelusuri publik, keduanya hanyalah klaim sepihak. Tidak pernah ada keterangan dari profesional kesehatan jiwa. Tidak ada diagnosis resmi. Tidak ada otoritas medis yang berdiri di belakang pernyataan itu.

Dengan kata lain, kesehatan mental dijadikan alat serangan.

Di titik inilah konflik politik berubah wujud menjadi patologisasi. Lawan tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang keliru secara argumen atau sikap, tetapi sebagai individu yang “tidak waras”. Ketika itu terjadi, perdebatan berhenti. Argumen tak lagi perlu diuji. Yang tersisa hanyalah label.

Dalam konteks budaya Indonesia, tudingan sakit jiwa bukan perkara sepele. Ia bukan sekadar kata atau istilah. Ia adalah stigma yang telah lama hidup dan mengakar. Menyebut seseorang “gila” atau “tidak waras” berarti menempatkannya di luar lingkar kewarasan sosial. Ia tidak lagi dianggap subjek yang sah dalam percakapan publik.

RSJ, dalam imajinasi kolektif masyarakat kita, bukan sekadar rumah sakit. Ia sering dipersepsikan sebagai ruang pembuangan. Tempat mereka yang dianggap menyimpang, mengganggu, dan tidak sesuai norma ditempatkan. Maka ketika seseorang disebut sebagai “pasien RSJ” di ruang publik, yang diserang bukan hanya individunya, tetapi juga martabat dan kemanusiaannya.

Begitu pula dengan NPD. Dalam dunia kesehatan jiwa, NPD adalah diagnosis klinis yang kompleks, membutuhkan asesmen mendalam dan tidak bisa disimpulkan dari potongan perilaku di media sosial. Namun di ruang digital, istilah ini mengalami penyempitan makna. Ia berubah menjadi umpatan berbalut intelektualitas. Siapa pun yang dianggap haus perhatian, keras kepala, atau terlalu percaya diri, dengan mudah dicap narsistik.

Diagnosis berubah menjadi ejekan. Ilmu berubah menjadi senjata.

Yang sering luput disadari adalah dampak luas dari praktik semacam ini. Ketika figur publik saling melabeli gangguan jiwa, mereka sedang mengirim pesan berbahaya kepada masyarakat, bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang memalukan, sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk dipahami dan dipulihkan.

Konflik WS dan NLD memang melibatkan dua individu. Namun resonansinya jauh lebih luas. Ia ditonton oleh masyarakat Bali, oleh publik nasional, bahkan oleh siapa pun yang terhubung ke media sosial. Dalam proses itu, stigma terhadap kesehatan mental kembali direproduksi, dilegitimasi, dan dinormalisasi.

Ironisnya, kedua figur ini dikenal sebagai sosok yang vokal dan berani. Keduanya kerap berbicara tentang keberpihakan, keadilan, dan moral publik. Namun ketika konflik dibiarkan berlarut-larut di ruang digital, yang tersisa bukan lagi keberanian, melainkan kelelahan kolektif. Publik lelah menyaksikan drama yang tak kunjung usai. Lelah melihat kritik kehilangan substansi. Lelah menyaksikan isu penting tenggelam oleh adu ego.

Media sosial, dengan segala kelebihannya, memang bukan ruang yang ramah bagi nuansa. Ia menyukai potongan, bukan proses. Emosi, bukan refleksi. Konten yang paling memancing amarah dan keterbelahan akan selalu mendapat panggung lebih luas. Dalam situasi seperti ini, konflik nyaris mustahil menemukan resolusi. Ia justru dipelihara oleh perhatian.

Sebagai warga Bali, saya sering bertanya pada diri sendiri; kemana perginya ruang dialog yang beradab? Ke mana perginya kemampuan untuk berbeda tanpa saling mendelegitimasi kemanusiaan satu sama lain? Apakah kita benar-benar kehabisan kosakata selain tudingan dan label?

Kritik adalah fondasi penting demokrasi. Bahkan kritik yang keras sekalipun. Namun ketika kritik berubah menjadi upaya untuk mendiagnosis kejiwaan lawan, kita sedang melampaui batas etik. Kita sedang mencampuradukkan perbedaan pendapat dengan kondisi kesehatan mental. Dan itu berbahaya.

Berbahaya bagi individu yang dilabeli. Berbahaya bagi keluarga dan lingkungan mereka. Berbahaya bagi masyarakat yang masih gagap memahami isu kesehatan jiwa. Dan pada akhirnya, berbahaya bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Konflik WS dan NLD mungkin suatu hari akan mereda. Seperti konflik media sosial lainnya, ia bisa tenggelam oleh isu baru, drama baru, atau figur baru. Namun jejaknya akan tertinggal. Jejak bahwa kita pernah menganggap wajar menyebut orang lain sakit jiwa demi memenangkan perdebatan. Jejak bahwa kita pernah menertawakan, membenarkan, bahkan menikmati stigma itu.

Di titik ini, esai ini tidak lagi semata tentang WS dan NLD. Ia tentang kita. Tentang cara kita memperlakukan perbedaan. Tentang bahasa yang kita pilih untuk menyerang atau memahami. Tentang sejauh mana kita bersedia menjaga kemanusiaan, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

“Ape alih ade di Bali!” mungkin benar. Tetapi semoga, di antara segala yang ada itu, masih tersisa ruang bagi kewarasan yang sesungguhnya, yakni kewarasan untuk berdialog, untuk mengkritik tanpa merendahkan, dan untuk berbeda tanpa harus saling meniadakan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwamedia sosialPolitikpolitisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Next Post

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co