14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 16, 2025
in Esai
Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Ape alih ade di Bali!”

KALIMAT ini kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari, juga berulang kali muncul di linimasa media sosial sepanjang tahun-tahun terakhir. Maknanya kurang lebih sama, apa pun yang ingin kamu cari, Bali menyediakannya. Dari yang sakral hingga yang banal, dari yang luhur sampai yang ganjil. Ungkapan ini sering dilontarkan setengah bercanda, setengah bangga. Namun jika dicermati lebih jauh, ia juga menyimpan nada getir. Bali seolah menjadi etalase dari hampir segala rupa fenomena manusia modern, termasuk yang tak selalu patut dirayakan.

Bali hari ini bukan hanya ruang hidup, bukan pula semata destinasi wisata. Ia telah menjelma menjadi panggung. Di panggung itu, warga, aktivis, seniman, influencer, pejabat, dan politisi tampil silih berganti. Media sosial menjadi lampu sorotnya. Di sanalah mereka berbicara, berpendapat, mengkritik, membela diri, bahkan saling menyerang. Apa pun bisa menjadi tontonan, selama ada jaringan dan gawai di tangan.

Di tengah situasi ini, konflik bukan lagi sesuatu yang disembunyikan. Ia justru dipertontonkan. Dikemas. Dirawat. Kadang dengan sadar, kadang tanpa disadari. Salah satu gejala yang semakin menonjol adalah saling serang antartokoh publik Bali melalui media sosial. Kritik tidak lagi berhenti pada kebijakan atau sikap publik, tetapi merembet ke wilayah personal, privat, bahkan psikologis. Ruang diskusi publik menyempit, digantikan oleh adu emosi yang berlangsung tanpa jeda.

Kasus WS dan NLD menjadi contoh yang paling kentara. Dua figur publik asal Bali dengan jalur dan peran yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai pegiat media sosial yang vokal, keras, dan konsisten memosisikan diri sebagai pengawas kekuasaan. Yang lain adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah, figur yang juga dibangun dari citra perlawanan terhadap ketidakadilan dan keberpihakan pada rakyat kecil. Keduanya bukan orang asing. Bahkan, pada suatu fase, keduanya tampak berada di barisan yang sama.

Namun relasi manusia, terlebih yang bersentuhan dengan kuasa dan pengaruh, jarang berjalan lurus. Kedekatan bisa berubah menjadi jarak. Kesamaan sikap bisa bergeser menjadi perbedaan tajam. Kritik yang dulu diterima sebagai masukan, kini dibaca sebagai serangan. Dan ketika itu terjadi di ruang publik digital, eskalasinya nyaris tak terhindarkan.

Media sosial menjadi arena pertarungan mereka. Arena tanpa wasit. Tanpa aturan baku. Tanpa jeda emosi. Unggahan demi unggahan bermunculan. Video diproduksi. Komentar dilontarkan. Kritik bercampur sindiran. Sindiran berubah menjadi serangan. Pendukung ikut bersuara, bahkan sering kali lebih bising daripada tokohnya sendiri. Algoritma bekerja dengan setia, mendorong konten yang memancing reaksi, memperpanjang umur konflik.

Yang menarik perhatian saya bukan sekadar fakta bahwa dua figur publik ini berseteru. Konflik politik dan perbedaan sikap adalah hal lumrah dalam masyarakat demokratis. Yang mengusik justru satu senjata yang digunakan dalam pertarungan tersebut, yaitu, klaim sakit jiwa.

NLD menyebut WS sebagai “pasien rawat jalan RSJ”. Sebaliknya, WS berulang kali menyebut NLD sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder atau NPD. Dua tudingan yang terdengar medis, ilmiah, dan serius. Namun sejauh yang bisa ditelusuri publik, keduanya hanyalah klaim sepihak. Tidak pernah ada keterangan dari profesional kesehatan jiwa. Tidak ada diagnosis resmi. Tidak ada otoritas medis yang berdiri di belakang pernyataan itu.

Dengan kata lain, kesehatan mental dijadikan alat serangan.

Di titik inilah konflik politik berubah wujud menjadi patologisasi. Lawan tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang keliru secara argumen atau sikap, tetapi sebagai individu yang “tidak waras”. Ketika itu terjadi, perdebatan berhenti. Argumen tak lagi perlu diuji. Yang tersisa hanyalah label.

Dalam konteks budaya Indonesia, tudingan sakit jiwa bukan perkara sepele. Ia bukan sekadar kata atau istilah. Ia adalah stigma yang telah lama hidup dan mengakar. Menyebut seseorang “gila” atau “tidak waras” berarti menempatkannya di luar lingkar kewarasan sosial. Ia tidak lagi dianggap subjek yang sah dalam percakapan publik.

RSJ, dalam imajinasi kolektif masyarakat kita, bukan sekadar rumah sakit. Ia sering dipersepsikan sebagai ruang pembuangan. Tempat mereka yang dianggap menyimpang, mengganggu, dan tidak sesuai norma ditempatkan. Maka ketika seseorang disebut sebagai “pasien RSJ” di ruang publik, yang diserang bukan hanya individunya, tetapi juga martabat dan kemanusiaannya.

Begitu pula dengan NPD. Dalam dunia kesehatan jiwa, NPD adalah diagnosis klinis yang kompleks, membutuhkan asesmen mendalam dan tidak bisa disimpulkan dari potongan perilaku di media sosial. Namun di ruang digital, istilah ini mengalami penyempitan makna. Ia berubah menjadi umpatan berbalut intelektualitas. Siapa pun yang dianggap haus perhatian, keras kepala, atau terlalu percaya diri, dengan mudah dicap narsistik.

Diagnosis berubah menjadi ejekan. Ilmu berubah menjadi senjata.

Yang sering luput disadari adalah dampak luas dari praktik semacam ini. Ketika figur publik saling melabeli gangguan jiwa, mereka sedang mengirim pesan berbahaya kepada masyarakat, bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang memalukan, sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk dipahami dan dipulihkan.

Konflik WS dan NLD memang melibatkan dua individu. Namun resonansinya jauh lebih luas. Ia ditonton oleh masyarakat Bali, oleh publik nasional, bahkan oleh siapa pun yang terhubung ke media sosial. Dalam proses itu, stigma terhadap kesehatan mental kembali direproduksi, dilegitimasi, dan dinormalisasi.

Ironisnya, kedua figur ini dikenal sebagai sosok yang vokal dan berani. Keduanya kerap berbicara tentang keberpihakan, keadilan, dan moral publik. Namun ketika konflik dibiarkan berlarut-larut di ruang digital, yang tersisa bukan lagi keberanian, melainkan kelelahan kolektif. Publik lelah menyaksikan drama yang tak kunjung usai. Lelah melihat kritik kehilangan substansi. Lelah menyaksikan isu penting tenggelam oleh adu ego.

Media sosial, dengan segala kelebihannya, memang bukan ruang yang ramah bagi nuansa. Ia menyukai potongan, bukan proses. Emosi, bukan refleksi. Konten yang paling memancing amarah dan keterbelahan akan selalu mendapat panggung lebih luas. Dalam situasi seperti ini, konflik nyaris mustahil menemukan resolusi. Ia justru dipelihara oleh perhatian.

Sebagai warga Bali, saya sering bertanya pada diri sendiri; kemana perginya ruang dialog yang beradab? Ke mana perginya kemampuan untuk berbeda tanpa saling mendelegitimasi kemanusiaan satu sama lain? Apakah kita benar-benar kehabisan kosakata selain tudingan dan label?

Kritik adalah fondasi penting demokrasi. Bahkan kritik yang keras sekalipun. Namun ketika kritik berubah menjadi upaya untuk mendiagnosis kejiwaan lawan, kita sedang melampaui batas etik. Kita sedang mencampuradukkan perbedaan pendapat dengan kondisi kesehatan mental. Dan itu berbahaya.

Berbahaya bagi individu yang dilabeli. Berbahaya bagi keluarga dan lingkungan mereka. Berbahaya bagi masyarakat yang masih gagap memahami isu kesehatan jiwa. Dan pada akhirnya, berbahaya bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Konflik WS dan NLD mungkin suatu hari akan mereda. Seperti konflik media sosial lainnya, ia bisa tenggelam oleh isu baru, drama baru, atau figur baru. Namun jejaknya akan tertinggal. Jejak bahwa kita pernah menganggap wajar menyebut orang lain sakit jiwa demi memenangkan perdebatan. Jejak bahwa kita pernah menertawakan, membenarkan, bahkan menikmati stigma itu.

Di titik ini, esai ini tidak lagi semata tentang WS dan NLD. Ia tentang kita. Tentang cara kita memperlakukan perbedaan. Tentang bahasa yang kita pilih untuk menyerang atau memahami. Tentang sejauh mana kita bersedia menjaga kemanusiaan, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

“Ape alih ade di Bali!” mungkin benar. Tetapi semoga, di antara segala yang ada itu, masih tersisa ruang bagi kewarasan yang sesungguhnya, yakni kewarasan untuk berdialog, untuk mengkritik tanpa merendahkan, dan untuk berbeda tanpa harus saling meniadakan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwamedia sosialPolitikpolitisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Next Post

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co