23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 16, 2025
in Esai
Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

“Ape alih ade di Bali!”

KALIMAT ini kerap terdengar dalam percakapan sehari-hari, juga berulang kali muncul di linimasa media sosial sepanjang tahun-tahun terakhir. Maknanya kurang lebih sama, apa pun yang ingin kamu cari, Bali menyediakannya. Dari yang sakral hingga yang banal, dari yang luhur sampai yang ganjil. Ungkapan ini sering dilontarkan setengah bercanda, setengah bangga. Namun jika dicermati lebih jauh, ia juga menyimpan nada getir. Bali seolah menjadi etalase dari hampir segala rupa fenomena manusia modern, termasuk yang tak selalu patut dirayakan.

Bali hari ini bukan hanya ruang hidup, bukan pula semata destinasi wisata. Ia telah menjelma menjadi panggung. Di panggung itu, warga, aktivis, seniman, influencer, pejabat, dan politisi tampil silih berganti. Media sosial menjadi lampu sorotnya. Di sanalah mereka berbicara, berpendapat, mengkritik, membela diri, bahkan saling menyerang. Apa pun bisa menjadi tontonan, selama ada jaringan dan gawai di tangan.

Di tengah situasi ini, konflik bukan lagi sesuatu yang disembunyikan. Ia justru dipertontonkan. Dikemas. Dirawat. Kadang dengan sadar, kadang tanpa disadari. Salah satu gejala yang semakin menonjol adalah saling serang antartokoh publik Bali melalui media sosial. Kritik tidak lagi berhenti pada kebijakan atau sikap publik, tetapi merembet ke wilayah personal, privat, bahkan psikologis. Ruang diskusi publik menyempit, digantikan oleh adu emosi yang berlangsung tanpa jeda.

Kasus WS dan NLD menjadi contoh yang paling kentara. Dua figur publik asal Bali dengan jalur dan peran yang berbeda. Yang satu dikenal sebagai pegiat media sosial yang vokal, keras, dan konsisten memosisikan diri sebagai pengawas kekuasaan. Yang lain adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah, figur yang juga dibangun dari citra perlawanan terhadap ketidakadilan dan keberpihakan pada rakyat kecil. Keduanya bukan orang asing. Bahkan, pada suatu fase, keduanya tampak berada di barisan yang sama.

Namun relasi manusia, terlebih yang bersentuhan dengan kuasa dan pengaruh, jarang berjalan lurus. Kedekatan bisa berubah menjadi jarak. Kesamaan sikap bisa bergeser menjadi perbedaan tajam. Kritik yang dulu diterima sebagai masukan, kini dibaca sebagai serangan. Dan ketika itu terjadi di ruang publik digital, eskalasinya nyaris tak terhindarkan.

Media sosial menjadi arena pertarungan mereka. Arena tanpa wasit. Tanpa aturan baku. Tanpa jeda emosi. Unggahan demi unggahan bermunculan. Video diproduksi. Komentar dilontarkan. Kritik bercampur sindiran. Sindiran berubah menjadi serangan. Pendukung ikut bersuara, bahkan sering kali lebih bising daripada tokohnya sendiri. Algoritma bekerja dengan setia, mendorong konten yang memancing reaksi, memperpanjang umur konflik.

Yang menarik perhatian saya bukan sekadar fakta bahwa dua figur publik ini berseteru. Konflik politik dan perbedaan sikap adalah hal lumrah dalam masyarakat demokratis. Yang mengusik justru satu senjata yang digunakan dalam pertarungan tersebut, yaitu, klaim sakit jiwa.

NLD menyebut WS sebagai “pasien rawat jalan RSJ”. Sebaliknya, WS berulang kali menyebut NLD sebagai pengidap Narcissistic Personality Disorder atau NPD. Dua tudingan yang terdengar medis, ilmiah, dan serius. Namun sejauh yang bisa ditelusuri publik, keduanya hanyalah klaim sepihak. Tidak pernah ada keterangan dari profesional kesehatan jiwa. Tidak ada diagnosis resmi. Tidak ada otoritas medis yang berdiri di belakang pernyataan itu.

Dengan kata lain, kesehatan mental dijadikan alat serangan.

Di titik inilah konflik politik berubah wujud menjadi patologisasi. Lawan tidak lagi diposisikan sebagai pihak yang keliru secara argumen atau sikap, tetapi sebagai individu yang “tidak waras”. Ketika itu terjadi, perdebatan berhenti. Argumen tak lagi perlu diuji. Yang tersisa hanyalah label.

Dalam konteks budaya Indonesia, tudingan sakit jiwa bukan perkara sepele. Ia bukan sekadar kata atau istilah. Ia adalah stigma yang telah lama hidup dan mengakar. Menyebut seseorang “gila” atau “tidak waras” berarti menempatkannya di luar lingkar kewarasan sosial. Ia tidak lagi dianggap subjek yang sah dalam percakapan publik.

RSJ, dalam imajinasi kolektif masyarakat kita, bukan sekadar rumah sakit. Ia sering dipersepsikan sebagai ruang pembuangan. Tempat mereka yang dianggap menyimpang, mengganggu, dan tidak sesuai norma ditempatkan. Maka ketika seseorang disebut sebagai “pasien RSJ” di ruang publik, yang diserang bukan hanya individunya, tetapi juga martabat dan kemanusiaannya.

Begitu pula dengan NPD. Dalam dunia kesehatan jiwa, NPD adalah diagnosis klinis yang kompleks, membutuhkan asesmen mendalam dan tidak bisa disimpulkan dari potongan perilaku di media sosial. Namun di ruang digital, istilah ini mengalami penyempitan makna. Ia berubah menjadi umpatan berbalut intelektualitas. Siapa pun yang dianggap haus perhatian, keras kepala, atau terlalu percaya diri, dengan mudah dicap narsistik.

Diagnosis berubah menjadi ejekan. Ilmu berubah menjadi senjata.

Yang sering luput disadari adalah dampak luas dari praktik semacam ini. Ketika figur publik saling melabeli gangguan jiwa, mereka sedang mengirim pesan berbahaya kepada masyarakat, bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang memalukan, sesuatu yang bisa dipakai untuk menjatuhkan orang lain, bukan untuk dipahami dan dipulihkan.

Konflik WS dan NLD memang melibatkan dua individu. Namun resonansinya jauh lebih luas. Ia ditonton oleh masyarakat Bali, oleh publik nasional, bahkan oleh siapa pun yang terhubung ke media sosial. Dalam proses itu, stigma terhadap kesehatan mental kembali direproduksi, dilegitimasi, dan dinormalisasi.

Ironisnya, kedua figur ini dikenal sebagai sosok yang vokal dan berani. Keduanya kerap berbicara tentang keberpihakan, keadilan, dan moral publik. Namun ketika konflik dibiarkan berlarut-larut di ruang digital, yang tersisa bukan lagi keberanian, melainkan kelelahan kolektif. Publik lelah menyaksikan drama yang tak kunjung usai. Lelah melihat kritik kehilangan substansi. Lelah menyaksikan isu penting tenggelam oleh adu ego.

Media sosial, dengan segala kelebihannya, memang bukan ruang yang ramah bagi nuansa. Ia menyukai potongan, bukan proses. Emosi, bukan refleksi. Konten yang paling memancing amarah dan keterbelahan akan selalu mendapat panggung lebih luas. Dalam situasi seperti ini, konflik nyaris mustahil menemukan resolusi. Ia justru dipelihara oleh perhatian.

Sebagai warga Bali, saya sering bertanya pada diri sendiri; kemana perginya ruang dialog yang beradab? Ke mana perginya kemampuan untuk berbeda tanpa saling mendelegitimasi kemanusiaan satu sama lain? Apakah kita benar-benar kehabisan kosakata selain tudingan dan label?

Kritik adalah fondasi penting demokrasi. Bahkan kritik yang keras sekalipun. Namun ketika kritik berubah menjadi upaya untuk mendiagnosis kejiwaan lawan, kita sedang melampaui batas etik. Kita sedang mencampuradukkan perbedaan pendapat dengan kondisi kesehatan mental. Dan itu berbahaya.

Berbahaya bagi individu yang dilabeli. Berbahaya bagi keluarga dan lingkungan mereka. Berbahaya bagi masyarakat yang masih gagap memahami isu kesehatan jiwa. Dan pada akhirnya, berbahaya bagi kualitas demokrasi itu sendiri.

Konflik WS dan NLD mungkin suatu hari akan mereda. Seperti konflik media sosial lainnya, ia bisa tenggelam oleh isu baru, drama baru, atau figur baru. Namun jejaknya akan tertinggal. Jejak bahwa kita pernah menganggap wajar menyebut orang lain sakit jiwa demi memenangkan perdebatan. Jejak bahwa kita pernah menertawakan, membenarkan, bahkan menikmati stigma itu.

Di titik ini, esai ini tidak lagi semata tentang WS dan NLD. Ia tentang kita. Tentang cara kita memperlakukan perbedaan. Tentang bahasa yang kita pilih untuk menyerang atau memahami. Tentang sejauh mana kita bersedia menjaga kemanusiaan, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.

“Ape alih ade di Bali!” mungkin benar. Tetapi semoga, di antara segala yang ada itu, masih tersisa ruang bagi kewarasan yang sesungguhnya, yakni kewarasan untuk berdialog, untuk mengkritik tanpa merendahkan, dan untuk berbeda tanpa harus saling meniadakan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatan jiwamedia sosialPolitikpolitisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dinamika  Umat  Hindu, Pergulatan  Empat  Orientasi  dalam  Menavigasi  Perubahan  Zaman

Next Post

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co