6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 14, 2025
in Panggung
Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

’Ngeracak’ oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

GEDUNG Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 10 Januari 2025, tidak sekadar menjadi ruang ujian tugas akhir. Namun menjelma laboratorium bunyi, tempat tradisi dan teknologi saling menyapa. Di panggung itulah karya musik eksperimental digital berjudul Ngeracak dipentaskan untuk pertama kalinya. Karya ini menjadi tonggak penting bagi Pande I Made Yudha Laksana, S.Sn., seorang komposer muda kelahiran 1 Desember 2002 asal Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

Yudha Laksana menuturkan, Ngeracak bukan sekadar judul. Ia lahir dari perenungan terhadap bunyi gemericik air, fenomena alam yang sederhana namun kaya makna sonor. Dalam karya ini, bunyi alam tersebut diabstraksikan secara musikal melalui pendekatan eksperimental, memadukan instrumen gamelan tradisi dengan perangkat digital. Prinsip eksploratif menjadi napas utama karya ini, sebuah upaya membuka kemungkinan baru pada bunyi gamelan melalui media digital.

Karya ini memang bukan yang pertama menghadirkan musik eksperimental digital di lingkungan ISI Bali. Namun Yudha sadar betul, ia ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia memilih instrumen pemade gender wayang sebagai pusat eksplorasi, lalu mempertemukannya dengan dua tingklik diatonis yang disetel pada oktaf rendah dan oktaf tinggi. Seluruh pola musikal yang dimainkan instrumen tersebut kemudian diproses dan dirajut ulang melalui perangkat Digital Audio Workstation (DAW) menggunakan Cubase Pro 13.

“Sebelumnya memang sudah ada karya musik eksperimental digital yang dipentaskan di ISI Bali. Tapi karya saya berbeda karena menggunakan instrumen pemade gender wayang dan tingklik diatonis, lalu membuatkan pola-pola pada masing-masing instrumen itu sebelum digabungkan dengan DAW,” jelas Yudha.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Pilihan medium ini bukan tanpa alasan. Bagi Yudha, musik eksperimental digital adalah medan uji yang menantang. Ia melihatnya sebagai ruang untuk mengukur sejauh mana keilmuan yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat dipraktikkan secara nyata. Lebih dari itu, ia membaca denyut zaman yang bergerak cepat, terutama dalam perkembangan teknologi dan musik digital.

“Saya memilih musik eksperimental digital karena sangat menantang untuk menguji keilmuan saya sendiri. Di zaman sekarang, perkembangan digital sangat pesat. Saya ingin bereksperimen dengan digital sekaligus mempertahankan tradisi,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan posisi Ngeracak bukan sebagai bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan sebagai upaya penyelamatan. Yudha memandang bahwa tradisi justru perlu dirawat dengan cara berdialog dengan zaman. Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukannya, tetapi memberinya ruang untuk bernapas dan bertransformasi agar tidak tenggelam oleh arus perubahan.

Yudha (tengah) dan pendukung Ngeracak│Foto: Dok.Yudha

 

Instrumen yang digunakan dalam Ngeracak terbilang sederhana, namun kaya potensi eksplorasi. Dua pemade gender wayang memainkan pola yang berakar pada referensi gending gender wayang tradisional. Dua tingklik diatonis, masing-masing pada oktaf rendah dan tinggi, menjadi wilayah pencarian nada baru. Sebuah laptop dengan aplikasi Cubase Pro 13 berfungsi sebagai ruang pemrosesan, tempat efek digital membentuk tekstur bunyi yang dinamis.

Proses penciptaan karya ini berlangsung fleksibel dan organik. Yudha memulai dengan menuangkan pola-pola pada gender wayang, tetap berpijak pada etika dan pakem tradisi. Dari sana, ia menambahkan pola pada tingklik diatonis, mencari kemungkinan nada baru, dan mengeksperimenkan dialog antara tingklik dan gender wayang hingga menemukan warna bunyi yang khas. Tahap selanjutnya adalah penggabungan seluruh pola tersebut ke dalam DAW, di mana setiap elemen diberi sentuhan efek digital untuk memperkaya lapisan suara.

Yudha menjelaskan, komponen intramusikal Ngeracak disusun dengan memperhatikan hibriditas antara kerja manual dan pemrosesan digital. Bunyi instrumen dimunculkan sesuai etika permainan gamelan, lalu ditransmisikan lebih lanjut melalui media digital. Hasilnya adalah tekstur bunyi yang dinamis, sekaligus menantang kenyamanan auditori yang mapan.

Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Sebagai eksperimentalist, Yudha secara sadar berusaha menegaskan kemapanan konvensi kultur lokal. Ia menghindari posisi sebagai epigon atau hipokrit, dan memilih jalur pencarian gagasan musikal yang eksklusif. Ngeracak tidak ditujukan sebagai budaya massa yang konsumtif, melainkan sebagai karya dengan ungkapan personal, menitikberatkan pencarian tekstual tanpa menafikan aspek ekstrinsik Ngeracak sebagai faktor determinan.

Namun di balik gagasan yang matang, proses penciptaan ini tidak lepas dari kendala. Yudha mengatakan, waktu menjadi tantangan paling besar. Keterbatasan durasi pengerjaan berhadapan langsung dengan kompleksitas proses kreatif yang menuntut ketelitian, konsistensi, dan tahapan yang berurutan. Idealnya, setiap tahap membutuhkan ruang refleksi yang cukup agar keputusan artistik dapat diambil secara mendalam. Realitas justru memaksa proses bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Waktu menjadi batas yang tidak bisa diperluas,” Katanya. Ketidakseimbangan antara durasi yang tersedia dan kompleksitas kegiatan membuat optimalisasi sulit dicapai, meskipun komitmen dan kemampuan sudah dimaksimalkan.

Hal menarik lain dari proses Ngeracak justru terletak pada sesi latihan. Yudha mengungkapkan, latihan dilakukan setiap pagi pukul sembilan, waktu tersebut dipilih karena para pendukung karya juga terlibat dalam ujian tugas akhir lainnya. Dalam sepekan, latihan hanya bisa dilakukan dua kali, durasi yang terbilang sangat singkat untuk karya dengan kompleksitas tinggi. Namun keterbatasan itu justru membentuk disiplin dan fokus tersendiri dalam proses pencapaian artistik.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Di tengah dominasi karya musik tradisional yang dipentaskan oleh rekan-rekannya, pilihan Yudha untuk menghadirkan musik eksperimental digital menjadikan Ngeracak tampil mencolok. Ia berdiri sebagai karya yang unik dan berani, membuka kemungkinan baru bagi praktik musik gamelan di era digital.

Bagi Yudha, Ngeracak belum tuntas sepenuhnya. Karya ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang eksplorasi. Ia menegaskan bahwa karya ini akan terus dikembangkan, terutama di bidang digital, seiring pesatnya perkembangan musik saat ini. Tradisi tetap menjadi pijakan, namun teknologi akan terus diajak berdialog.

Hari itu, di Gedung Natya Mandala, Ngeracak tidak hanya diperdengarkan, tetapi juga dipertanyakan, direnungkan, dan dirasakan. Ia menawarkan pengalaman estetis yang khas, mengajak publik seni memasuki ruang auditori yang cair, tempat gemericik air, bilah gamelan, dan algoritma digital saling berkelindan. Sebuah upaya meracik bunyi, sekaligus menyelamatkan tradisi dengan cara yang jujur dan berani. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalISI Balimusikmusik digitalmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

Next Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co