23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 14, 2025
in Panggung
Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

’Ngeracak’ oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

GEDUNG Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 10 Januari 2025, tidak sekadar menjadi ruang ujian tugas akhir. Namun menjelma laboratorium bunyi, tempat tradisi dan teknologi saling menyapa. Di panggung itulah karya musik eksperimental digital berjudul Ngeracak dipentaskan untuk pertama kalinya. Karya ini menjadi tonggak penting bagi Pande I Made Yudha Laksana, S.Sn., seorang komposer muda kelahiran 1 Desember 2002 asal Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

Yudha Laksana menuturkan, Ngeracak bukan sekadar judul. Ia lahir dari perenungan terhadap bunyi gemericik air, fenomena alam yang sederhana namun kaya makna sonor. Dalam karya ini, bunyi alam tersebut diabstraksikan secara musikal melalui pendekatan eksperimental, memadukan instrumen gamelan tradisi dengan perangkat digital. Prinsip eksploratif menjadi napas utama karya ini, sebuah upaya membuka kemungkinan baru pada bunyi gamelan melalui media digital.

Karya ini memang bukan yang pertama menghadirkan musik eksperimental digital di lingkungan ISI Bali. Namun Yudha sadar betul, ia ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia memilih instrumen pemade gender wayang sebagai pusat eksplorasi, lalu mempertemukannya dengan dua tingklik diatonis yang disetel pada oktaf rendah dan oktaf tinggi. Seluruh pola musikal yang dimainkan instrumen tersebut kemudian diproses dan dirajut ulang melalui perangkat Digital Audio Workstation (DAW) menggunakan Cubase Pro 13.

“Sebelumnya memang sudah ada karya musik eksperimental digital yang dipentaskan di ISI Bali. Tapi karya saya berbeda karena menggunakan instrumen pemade gender wayang dan tingklik diatonis, lalu membuatkan pola-pola pada masing-masing instrumen itu sebelum digabungkan dengan DAW,” jelas Yudha.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Pilihan medium ini bukan tanpa alasan. Bagi Yudha, musik eksperimental digital adalah medan uji yang menantang. Ia melihatnya sebagai ruang untuk mengukur sejauh mana keilmuan yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat dipraktikkan secara nyata. Lebih dari itu, ia membaca denyut zaman yang bergerak cepat, terutama dalam perkembangan teknologi dan musik digital.

“Saya memilih musik eksperimental digital karena sangat menantang untuk menguji keilmuan saya sendiri. Di zaman sekarang, perkembangan digital sangat pesat. Saya ingin bereksperimen dengan digital sekaligus mempertahankan tradisi,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan posisi Ngeracak bukan sebagai bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan sebagai upaya penyelamatan. Yudha memandang bahwa tradisi justru perlu dirawat dengan cara berdialog dengan zaman. Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukannya, tetapi memberinya ruang untuk bernapas dan bertransformasi agar tidak tenggelam oleh arus perubahan.

Yudha (tengah) dan pendukung Ngeracak│Foto: Dok.Yudha

 

Instrumen yang digunakan dalam Ngeracak terbilang sederhana, namun kaya potensi eksplorasi. Dua pemade gender wayang memainkan pola yang berakar pada referensi gending gender wayang tradisional. Dua tingklik diatonis, masing-masing pada oktaf rendah dan tinggi, menjadi wilayah pencarian nada baru. Sebuah laptop dengan aplikasi Cubase Pro 13 berfungsi sebagai ruang pemrosesan, tempat efek digital membentuk tekstur bunyi yang dinamis.

Proses penciptaan karya ini berlangsung fleksibel dan organik. Yudha memulai dengan menuangkan pola-pola pada gender wayang, tetap berpijak pada etika dan pakem tradisi. Dari sana, ia menambahkan pola pada tingklik diatonis, mencari kemungkinan nada baru, dan mengeksperimenkan dialog antara tingklik dan gender wayang hingga menemukan warna bunyi yang khas. Tahap selanjutnya adalah penggabungan seluruh pola tersebut ke dalam DAW, di mana setiap elemen diberi sentuhan efek digital untuk memperkaya lapisan suara.

Yudha menjelaskan, komponen intramusikal Ngeracak disusun dengan memperhatikan hibriditas antara kerja manual dan pemrosesan digital. Bunyi instrumen dimunculkan sesuai etika permainan gamelan, lalu ditransmisikan lebih lanjut melalui media digital. Hasilnya adalah tekstur bunyi yang dinamis, sekaligus menantang kenyamanan auditori yang mapan.

Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Sebagai eksperimentalist, Yudha secara sadar berusaha menegaskan kemapanan konvensi kultur lokal. Ia menghindari posisi sebagai epigon atau hipokrit, dan memilih jalur pencarian gagasan musikal yang eksklusif. Ngeracak tidak ditujukan sebagai budaya massa yang konsumtif, melainkan sebagai karya dengan ungkapan personal, menitikberatkan pencarian tekstual tanpa menafikan aspek ekstrinsik Ngeracak sebagai faktor determinan.

Namun di balik gagasan yang matang, proses penciptaan ini tidak lepas dari kendala. Yudha mengatakan, waktu menjadi tantangan paling besar. Keterbatasan durasi pengerjaan berhadapan langsung dengan kompleksitas proses kreatif yang menuntut ketelitian, konsistensi, dan tahapan yang berurutan. Idealnya, setiap tahap membutuhkan ruang refleksi yang cukup agar keputusan artistik dapat diambil secara mendalam. Realitas justru memaksa proses bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Waktu menjadi batas yang tidak bisa diperluas,” Katanya. Ketidakseimbangan antara durasi yang tersedia dan kompleksitas kegiatan membuat optimalisasi sulit dicapai, meskipun komitmen dan kemampuan sudah dimaksimalkan.

Hal menarik lain dari proses Ngeracak justru terletak pada sesi latihan. Yudha mengungkapkan, latihan dilakukan setiap pagi pukul sembilan, waktu tersebut dipilih karena para pendukung karya juga terlibat dalam ujian tugas akhir lainnya. Dalam sepekan, latihan hanya bisa dilakukan dua kali, durasi yang terbilang sangat singkat untuk karya dengan kompleksitas tinggi. Namun keterbatasan itu justru membentuk disiplin dan fokus tersendiri dalam proses pencapaian artistik.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Di tengah dominasi karya musik tradisional yang dipentaskan oleh rekan-rekannya, pilihan Yudha untuk menghadirkan musik eksperimental digital menjadikan Ngeracak tampil mencolok. Ia berdiri sebagai karya yang unik dan berani, membuka kemungkinan baru bagi praktik musik gamelan di era digital.

Bagi Yudha, Ngeracak belum tuntas sepenuhnya. Karya ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang eksplorasi. Ia menegaskan bahwa karya ini akan terus dikembangkan, terutama di bidang digital, seiring pesatnya perkembangan musik saat ini. Tradisi tetap menjadi pijakan, namun teknologi akan terus diajak berdialog.

Hari itu, di Gedung Natya Mandala, Ngeracak tidak hanya diperdengarkan, tetapi juga dipertanyakan, direnungkan, dan dirasakan. Ia menawarkan pengalaman estetis yang khas, mengajak publik seni memasuki ruang auditori yang cair, tempat gemericik air, bilah gamelan, dan algoritma digital saling berkelindan. Sebuah upaya meracik bunyi, sekaligus menyelamatkan tradisi dengan cara yang jujur dan berani. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalISI Balimusikmusik digitalmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

Next Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co