2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 14, 2025
in Panggung
Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

’Ngeracak’ oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

GEDUNG Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 10 Januari 2025, tidak sekadar menjadi ruang ujian tugas akhir. Namun menjelma laboratorium bunyi, tempat tradisi dan teknologi saling menyapa. Di panggung itulah karya musik eksperimental digital berjudul Ngeracak dipentaskan untuk pertama kalinya. Karya ini menjadi tonggak penting bagi Pande I Made Yudha Laksana, S.Sn., seorang komposer muda kelahiran 1 Desember 2002 asal Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

Yudha Laksana menuturkan, Ngeracak bukan sekadar judul. Ia lahir dari perenungan terhadap bunyi gemericik air, fenomena alam yang sederhana namun kaya makna sonor. Dalam karya ini, bunyi alam tersebut diabstraksikan secara musikal melalui pendekatan eksperimental, memadukan instrumen gamelan tradisi dengan perangkat digital. Prinsip eksploratif menjadi napas utama karya ini, sebuah upaya membuka kemungkinan baru pada bunyi gamelan melalui media digital.

Karya ini memang bukan yang pertama menghadirkan musik eksperimental digital di lingkungan ISI Bali. Namun Yudha sadar betul, ia ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia memilih instrumen pemade gender wayang sebagai pusat eksplorasi, lalu mempertemukannya dengan dua tingklik diatonis yang disetel pada oktaf rendah dan oktaf tinggi. Seluruh pola musikal yang dimainkan instrumen tersebut kemudian diproses dan dirajut ulang melalui perangkat Digital Audio Workstation (DAW) menggunakan Cubase Pro 13.

“Sebelumnya memang sudah ada karya musik eksperimental digital yang dipentaskan di ISI Bali. Tapi karya saya berbeda karena menggunakan instrumen pemade gender wayang dan tingklik diatonis, lalu membuatkan pola-pola pada masing-masing instrumen itu sebelum digabungkan dengan DAW,” jelas Yudha.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Pilihan medium ini bukan tanpa alasan. Bagi Yudha, musik eksperimental digital adalah medan uji yang menantang. Ia melihatnya sebagai ruang untuk mengukur sejauh mana keilmuan yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat dipraktikkan secara nyata. Lebih dari itu, ia membaca denyut zaman yang bergerak cepat, terutama dalam perkembangan teknologi dan musik digital.

“Saya memilih musik eksperimental digital karena sangat menantang untuk menguji keilmuan saya sendiri. Di zaman sekarang, perkembangan digital sangat pesat. Saya ingin bereksperimen dengan digital sekaligus mempertahankan tradisi,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan posisi Ngeracak bukan sebagai bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan sebagai upaya penyelamatan. Yudha memandang bahwa tradisi justru perlu dirawat dengan cara berdialog dengan zaman. Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukannya, tetapi memberinya ruang untuk bernapas dan bertransformasi agar tidak tenggelam oleh arus perubahan.

Yudha (tengah) dan pendukung Ngeracak│Foto: Dok.Yudha

 

Instrumen yang digunakan dalam Ngeracak terbilang sederhana, namun kaya potensi eksplorasi. Dua pemade gender wayang memainkan pola yang berakar pada referensi gending gender wayang tradisional. Dua tingklik diatonis, masing-masing pada oktaf rendah dan tinggi, menjadi wilayah pencarian nada baru. Sebuah laptop dengan aplikasi Cubase Pro 13 berfungsi sebagai ruang pemrosesan, tempat efek digital membentuk tekstur bunyi yang dinamis.

Proses penciptaan karya ini berlangsung fleksibel dan organik. Yudha memulai dengan menuangkan pola-pola pada gender wayang, tetap berpijak pada etika dan pakem tradisi. Dari sana, ia menambahkan pola pada tingklik diatonis, mencari kemungkinan nada baru, dan mengeksperimenkan dialog antara tingklik dan gender wayang hingga menemukan warna bunyi yang khas. Tahap selanjutnya adalah penggabungan seluruh pola tersebut ke dalam DAW, di mana setiap elemen diberi sentuhan efek digital untuk memperkaya lapisan suara.

Yudha menjelaskan, komponen intramusikal Ngeracak disusun dengan memperhatikan hibriditas antara kerja manual dan pemrosesan digital. Bunyi instrumen dimunculkan sesuai etika permainan gamelan, lalu ditransmisikan lebih lanjut melalui media digital. Hasilnya adalah tekstur bunyi yang dinamis, sekaligus menantang kenyamanan auditori yang mapan.

Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Sebagai eksperimentalist, Yudha secara sadar berusaha menegaskan kemapanan konvensi kultur lokal. Ia menghindari posisi sebagai epigon atau hipokrit, dan memilih jalur pencarian gagasan musikal yang eksklusif. Ngeracak tidak ditujukan sebagai budaya massa yang konsumtif, melainkan sebagai karya dengan ungkapan personal, menitikberatkan pencarian tekstual tanpa menafikan aspek ekstrinsik Ngeracak sebagai faktor determinan.

Namun di balik gagasan yang matang, proses penciptaan ini tidak lepas dari kendala. Yudha mengatakan, waktu menjadi tantangan paling besar. Keterbatasan durasi pengerjaan berhadapan langsung dengan kompleksitas proses kreatif yang menuntut ketelitian, konsistensi, dan tahapan yang berurutan. Idealnya, setiap tahap membutuhkan ruang refleksi yang cukup agar keputusan artistik dapat diambil secara mendalam. Realitas justru memaksa proses bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Waktu menjadi batas yang tidak bisa diperluas,” Katanya. Ketidakseimbangan antara durasi yang tersedia dan kompleksitas kegiatan membuat optimalisasi sulit dicapai, meskipun komitmen dan kemampuan sudah dimaksimalkan.

Hal menarik lain dari proses Ngeracak justru terletak pada sesi latihan. Yudha mengungkapkan, latihan dilakukan setiap pagi pukul sembilan, waktu tersebut dipilih karena para pendukung karya juga terlibat dalam ujian tugas akhir lainnya. Dalam sepekan, latihan hanya bisa dilakukan dua kali, durasi yang terbilang sangat singkat untuk karya dengan kompleksitas tinggi. Namun keterbatasan itu justru membentuk disiplin dan fokus tersendiri dalam proses pencapaian artistik.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Di tengah dominasi karya musik tradisional yang dipentaskan oleh rekan-rekannya, pilihan Yudha untuk menghadirkan musik eksperimental digital menjadikan Ngeracak tampil mencolok. Ia berdiri sebagai karya yang unik dan berani, membuka kemungkinan baru bagi praktik musik gamelan di era digital.

Bagi Yudha, Ngeracak belum tuntas sepenuhnya. Karya ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang eksplorasi. Ia menegaskan bahwa karya ini akan terus dikembangkan, terutama di bidang digital, seiring pesatnya perkembangan musik saat ini. Tradisi tetap menjadi pijakan, namun teknologi akan terus diajak berdialog.

Hari itu, di Gedung Natya Mandala, Ngeracak tidak hanya diperdengarkan, tetapi juga dipertanyakan, direnungkan, dan dirasakan. Ia menawarkan pengalaman estetis yang khas, mengajak publik seni memasuki ruang auditori yang cair, tempat gemericik air, bilah gamelan, dan algoritma digital saling berkelindan. Sebuah upaya meracik bunyi, sekaligus menyelamatkan tradisi dengan cara yang jujur dan berani. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalISI Balimusikmusik digitalmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

Next Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co