25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 14, 2025
in Panggung
Meracik Bunyi, Menyelamatkan Tradisi: ‘Ngeracak’ dan Keberanian Yudha Laksana Bereksperimen dengan Digital

’Ngeracak’ oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

GEDUNG Natya Mandala, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 10 Januari 2025, tidak sekadar menjadi ruang ujian tugas akhir. Namun menjelma laboratorium bunyi, tempat tradisi dan teknologi saling menyapa. Di panggung itulah karya musik eksperimental digital berjudul Ngeracak dipentaskan untuk pertama kalinya. Karya ini menjadi tonggak penting bagi Pande I Made Yudha Laksana, S.Sn., seorang komposer muda kelahiran 1 Desember 2002 asal Banjar Yeh Gangga, Desa Sudimara, Kecamatan Tabanan.

Yudha Laksana menuturkan, Ngeracak bukan sekadar judul. Ia lahir dari perenungan terhadap bunyi gemericik air, fenomena alam yang sederhana namun kaya makna sonor. Dalam karya ini, bunyi alam tersebut diabstraksikan secara musikal melalui pendekatan eksperimental, memadukan instrumen gamelan tradisi dengan perangkat digital. Prinsip eksploratif menjadi napas utama karya ini, sebuah upaya membuka kemungkinan baru pada bunyi gamelan melalui media digital.

Karya ini memang bukan yang pertama menghadirkan musik eksperimental digital di lingkungan ISI Bali. Namun Yudha sadar betul, ia ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia memilih instrumen pemade gender wayang sebagai pusat eksplorasi, lalu mempertemukannya dengan dua tingklik diatonis yang disetel pada oktaf rendah dan oktaf tinggi. Seluruh pola musikal yang dimainkan instrumen tersebut kemudian diproses dan dirajut ulang melalui perangkat Digital Audio Workstation (DAW) menggunakan Cubase Pro 13.

“Sebelumnya memang sudah ada karya musik eksperimental digital yang dipentaskan di ISI Bali. Tapi karya saya berbeda karena menggunakan instrumen pemade gender wayang dan tingklik diatonis, lalu membuatkan pola-pola pada masing-masing instrumen itu sebelum digabungkan dengan DAW,” jelas Yudha.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Pilihan medium ini bukan tanpa alasan. Bagi Yudha, musik eksperimental digital adalah medan uji yang menantang. Ia melihatnya sebagai ruang untuk mengukur sejauh mana keilmuan yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di ISI Bali dapat dipraktikkan secara nyata. Lebih dari itu, ia membaca denyut zaman yang bergerak cepat, terutama dalam perkembangan teknologi dan musik digital.

“Saya memilih musik eksperimental digital karena sangat menantang untuk menguji keilmuan saya sendiri. Di zaman sekarang, perkembangan digital sangat pesat. Saya ingin bereksperimen dengan digital sekaligus mempertahankan tradisi,” katanya.

Pernyataan itu menegaskan posisi Ngeracak bukan sebagai bentuk penyangkalan terhadap tradisi, melainkan sebagai upaya penyelamatan. Yudha memandang bahwa tradisi justru perlu dirawat dengan cara berdialog dengan zaman. Baginya, mempertahankan tradisi bukan berarti membekukannya, tetapi memberinya ruang untuk bernapas dan bertransformasi agar tidak tenggelam oleh arus perubahan.

Yudha (tengah) dan pendukung Ngeracak│Foto: Dok.Yudha

 

Instrumen yang digunakan dalam Ngeracak terbilang sederhana, namun kaya potensi eksplorasi. Dua pemade gender wayang memainkan pola yang berakar pada referensi gending gender wayang tradisional. Dua tingklik diatonis, masing-masing pada oktaf rendah dan tinggi, menjadi wilayah pencarian nada baru. Sebuah laptop dengan aplikasi Cubase Pro 13 berfungsi sebagai ruang pemrosesan, tempat efek digital membentuk tekstur bunyi yang dinamis.

Proses penciptaan karya ini berlangsung fleksibel dan organik. Yudha memulai dengan menuangkan pola-pola pada gender wayang, tetap berpijak pada etika dan pakem tradisi. Dari sana, ia menambahkan pola pada tingklik diatonis, mencari kemungkinan nada baru, dan mengeksperimenkan dialog antara tingklik dan gender wayang hingga menemukan warna bunyi yang khas. Tahap selanjutnya adalah penggabungan seluruh pola tersebut ke dalam DAW, di mana setiap elemen diberi sentuhan efek digital untuk memperkaya lapisan suara.

Yudha menjelaskan, komponen intramusikal Ngeracak disusun dengan memperhatikan hibriditas antara kerja manual dan pemrosesan digital. Bunyi instrumen dimunculkan sesuai etika permainan gamelan, lalu ditransmisikan lebih lanjut melalui media digital. Hasilnya adalah tekstur bunyi yang dinamis, sekaligus menantang kenyamanan auditori yang mapan.

Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Sebagai eksperimentalist, Yudha secara sadar berusaha menegaskan kemapanan konvensi kultur lokal. Ia menghindari posisi sebagai epigon atau hipokrit, dan memilih jalur pencarian gagasan musikal yang eksklusif. Ngeracak tidak ditujukan sebagai budaya massa yang konsumtif, melainkan sebagai karya dengan ungkapan personal, menitikberatkan pencarian tekstual tanpa menafikan aspek ekstrinsik Ngeracak sebagai faktor determinan.

Namun di balik gagasan yang matang, proses penciptaan ini tidak lepas dari kendala. Yudha mengatakan, waktu menjadi tantangan paling besar. Keterbatasan durasi pengerjaan berhadapan langsung dengan kompleksitas proses kreatif yang menuntut ketelitian, konsistensi, dan tahapan yang berurutan. Idealnya, setiap tahap membutuhkan ruang refleksi yang cukup agar keputusan artistik dapat diambil secara mendalam. Realitas justru memaksa proses bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

“Waktu menjadi batas yang tidak bisa diperluas,” Katanya. Ketidakseimbangan antara durasi yang tersedia dan kompleksitas kegiatan membuat optimalisasi sulit dicapai, meskipun komitmen dan kemampuan sudah dimaksimalkan.

Hal menarik lain dari proses Ngeracak justru terletak pada sesi latihan. Yudha mengungkapkan, latihan dilakukan setiap pagi pukul sembilan, waktu tersebut dipilih karena para pendukung karya juga terlibat dalam ujian tugas akhir lainnya. Dalam sepekan, latihan hanya bisa dilakukan dua kali, durasi yang terbilang sangat singkat untuk karya dengan kompleksitas tinggi. Namun keterbatasan itu justru membentuk disiplin dan fokus tersendiri dalam proses pencapaian artistik.

Ngeracak oleh Yudha Laksana│Foto: Dok.Yudha

Di tengah dominasi karya musik tradisional yang dipentaskan oleh rekan-rekannya, pilihan Yudha untuk menghadirkan musik eksperimental digital menjadikan Ngeracak tampil mencolok. Ia berdiri sebagai karya yang unik dan berani, membuka kemungkinan baru bagi praktik musik gamelan di era digital.

Bagi Yudha, Ngeracak belum tuntas sepenuhnya. Karya ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang eksplorasi. Ia menegaskan bahwa karya ini akan terus dikembangkan, terutama di bidang digital, seiring pesatnya perkembangan musik saat ini. Tradisi tetap menjadi pijakan, namun teknologi akan terus diajak berdialog.

Hari itu, di Gedung Natya Mandala, Ngeracak tidak hanya diperdengarkan, tetapi juga dipertanyakan, direnungkan, dan dirasakan. Ia menawarkan pengalaman estetis yang khas, mengajak publik seni memasuki ruang auditori yang cair, tempat gemericik air, bilah gamelan, dan algoritma digital saling berkelindan. Sebuah upaya meracik bunyi, sekaligus menyelamatkan tradisi dengan cara yang jujur dan berani. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalISI Balimusikmusik digitalmusik tradisional Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

IHKA BPD Bali Bantu Keberlanjutan Pendidikan Putri dan Dita di Klungkung

Next Post

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
0
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

Read moreDetails

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails
Next Post
The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

The Silver Chapter: Hangatnya Reuni Alumni Tahun 2000 Foursma Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co