30 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 11, 2025
in Khas
Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

ADA satu hal yang selalu saya syukuri ketika diminta berbagi pengalaman menulis kepada orang lain. Saya mendapat kesempatan melihat manusia bukan dari apa yang tampak di permukaan, melainkan dari keberanian yang mereka simpan di dalam diri. Keberanian yang kadang mereka tidak sadari, kadang mereka sembunyikan, kadang mereka pendam karena takut dianggap berlebihan. Namun keberanian itu selalu muncul, tepat pada saat yang tidak diduga.

Pada awal November 2025, Bumi Setara mengajak saya mengisi pelatihan menulis opini di sebuah kafe kecil di Renon, Denpasar. Kafe itu bernama White Channy, tempat yang tidak terlalu ramai, tetapi cukup tenang untuk menulis. Meja kayunya panjang dan bersih, baristanya bekerja dengan cekatan, lampu kuning temaramnya memberi suasana yang membuat orang ingin membuka buku catatan dan menuliskan sesuatu. Saya datang dengan perasaan campur aduk. Antara percaya diri dan ragu. Antara ingin berbagi dan takut berlebihan. Antara merasa siap dan merasa perlu menata napas lebih dulu.

Pesertanya sepuluh anak muda disabilitas dari berbagai latar belakang. Ada yang memakai tongkat, ada yang membawa catatan kecil penuh tulisan tangan, ada yang datang ditemani sahabat, ada yang datang sendirian dan duduk dengan tenang. Mereka menatap saya tidak dengan keragu-raguan, tetapi dengan rasa ingin tahu yang tulus.

Saya saat memeberikan pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

Saya membuka sesi dengan cerita tentang perjalanan pemulihan saya sebagai penyandang skizofrenia. Saya tidak pernah menceritakan hal itu untuk mencari simpati, tetapi karena saya percaya bahwa suara paling kuat lahir dari kejujuran. Saya bilang kepada mereka bahwa menulis telah menyelamatkan saya. Ketika dunia terasa sempit dan semua orang menjauh, menulis adalah ruang yang menerima saya apa adanya. Kata-kata tidak pernah menghakimi saya. Kertas tidak pernah menolak saya. Tulisan adalah rumah yang selalu terbuka.

Saya melihat mata mereka menatap tanpa berkedip. Di antara tatapan itu, saya melihat harapan. Saya melihat rasa ingin tahu. Saya melihat keinginan untuk percaya bahwa kata-kata mampu membawa mereka ke tempat yang lebih lapang daripada tempat yang selama ini mereka tempati.

Pelatihan itu sederhana. Saya menjelaskan apa itu opini, apa bedanya dengan berita, bagaimana menyusun argumen, bagaimana memilih satu ide besar yang menjadi pusat tulisan. Saya memberi contoh, memberi latihan, dan mengajak mereka menulis paragraf pembuka tentang isu yang mereka hadapi setiap hari. Latihan sederhana itu justru membuka banyak hal.

Ada yang menulis tentang trotoar yang tidak ramah kursi roda. Ada yang menulis tentang kesulitan mendapatkan pekerjaan karena stigmatisasi. Ada yang menulis tentang pendidikan inklusif yang hanya sebatas nama. Ada pula yang menulis tentang pengalaman didiamkan oleh keluarga karena dianggap menyusahkan.

Ketika mereka membaca tulisan itu keras-keras, ruangan terasa lebih hidup. Tidak ada rasa takut. Tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah keinginan untuk didengar.

Dari semua paragraf yang dibacakan hari itu, saya tahu satu hal. Anak-anak muda ini tidak kekurangan kemampuan. Yang kurang hanya ruang untuk melatih diri dan ruang untuk membuat suara mereka sampai ke publik. Ketika ruang itu dibuka, mereka langsung melangkah masuk, membawa cerita yang selama ini menunggu dituliskan.

Pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

Beberapa hari setelah pelatihan selesai, dua tulisan dikirimkan kepada saya. Dua tulisan yang membuat saya berhenti cukup lama setelah membacanya, bukan karena ada yang salah, tetapi karena ada sesuatu yang baru saya rasakan. Sesuatu yang membuat saya tersenyum sambil menutup laptop. Sesuatu yang membuat saya berpikir bahwa ilmu yang saya berikan hari itu ternyata tidak berhenti di meja kafe.

Tulisan pertama datang dari seorang gadis bernama Cok Istri Dian Rini Primadewi, yang sehari-hari dipanggil Cok Ima. Judulnya Tertahan Bertemu Tuhan.

Sejak paragraf pertama saya tahu tulisannya bukan tulisan yang lahir tergesa-gesa. Ada ketenangan, ada pengamatan yang tajam, ada kepedihan yang tidak meledak-ledak, tetapi merayap perlahan. Ia bercerita tentang ibunya yang semakin menua, tentang anak tangga merajan yang tinggi, tentang sulitnya melangkah ke tempat sembahyang di hari Galungan. Dari situ ia membawa pembaca ke pertanyaan yang lebih besar, mengapa pura-pura di Bali begitu tidak ramah terhadap penyandang disabilitas.

Cerita itu sederhana tetapi penuh daya. Tidak ada kalimat yang berlebihan. Tidak ada nada menggurui. Hanya suara seorang anak yang melihat ibunya kesulitan memasuki ruang suci. Hanya suara seorang perempuan muda yang bertanya mengapa jalan menuju Tuhan terasa begitu menanjak bagi sebagian umat.

Saya terdiam lama pada satu bagian tulisannya. Ketika ia menuliskan bahwa hambatan dalam beribadah bukan hanya soal anak tangga, tetapi juga cara pandang masyarakat. Anak tangga mungkin bisa diperbaiki, tetapi stigma tidak bisa dihaluskan dengan semen. Stigma hanya bisa diselesaikan dengan pengetahuan, empati, dan perubahan pola pikir.

Di akhir tulisannya, Cok Ima menegaskan bahwa Galungan sebagai perayaan kemenangan dharma tidak akan sempurna jika sebagian umat tertahan di luar pura. Kalimat itu menampar sekaligus menyadarkan. Anak muda seusianya mampu menempatkan isu disabilitas pada ruang spiritual yang lebih luas, bahwa hak beribadah adalah hak dasar manusia.

Saya bangga membaca tulisannya. Bukan sebagai fasilitator yang pernah mengajarinya menulis opini, tetapi sebagai pembaca yang mendapatkan sesuatu dari tulisan itu. Ia membuat saya percaya bahwa menulis bukan sekadar soal bakat, tetapi soal kepekaan dan keberanian. Dan Cok Ima memiliki keduanya.

Tulisan kedua datang dari seorang gadis bernama Dinda Mahadewi. Judulnya Saat Kerentanan Harus Terlihat untuk Diakui. Tulisan ini membuat saya berhenti sejenak. Ada sesuatu dalam tulisan Dinda yang terasa dekat dengan pengalaman saya sendiri sebagai penyintas disabilitas mental.

Dinda menuliskan tentang dunia yang sering hanya percaya pada kerentanan yang bisa dilihat. Jika seseorang tidak terlihat sakit, orang menganggap ia baik-baik saja. Jika seseorang datang dengan riasan rapi, orang mengira ia tidak mungkin mengalami gangguan mental. Tulisan Dinda membongkar cara berpikir itu dengan tenang tetapi tegas.

Ia menulis tentang pengalaman ditanya kemampuan kerjanya hanya karena ia pernah membuka cerita tentang kondisi mentalnya. Ia menulis tentang komentar yang seolah ingin menenangkan tetapi sesungguhnya merendahkan. Ia menulis tentang anggapan bahwa disabilitas harus hadir dalam bentuk tubuh yang tak biasa agar dapat dipercaya.

Kalimat yang paling saya ingat berbunyi begini. Tidak semua luka berdarah, tidak semua perjuangan tampak di mata. Kalimat itu sederhana tetapi tepat sasaran. Kalimat itu adalah suara yang selama bertahun-tahun saya simpan di dalam diri. Jika saya mendengarnya sepuluh tahun lalu, mungkin saya merasa sedikit lebih ringan menjalani pemulihan.

Peserta dan saya meninjukkan piagam penghargaan dalam pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

Dinda tidak hanya menulis tentang dirinya. Ia mengajak pembaca melihat persoalan lebih luas. Tentang bagaimana standar sosial membuat banyak orang merasa tidak cukup. Tentang bagaimana stigma membuat banyak orang memilih diam. Tentang bagaimana pemaknaan disabilitas yang sempit membuat banyak orang terpinggirkan tanpa disadari.

Tulisan Dinda rapi dan jernih. Ia menulis seperti seseorang yang sudah lama menemani dirinya sendiri dalam kesunyian. Ada kedewasaan yang tumbuh diam-diam di antara kalimat-kalimatnya. Ada keberanian yang muncul dari luka yang tidak diceritakan secara berlebihan.

Saya memberi komentar pada tulisannya, bukan sebagai orang yang lebih tahu, tetapi sebagai seseorang yang merasa berbicara pada adik sendiri. Saya bilang padanya agar terus menulis. Suaranya baik, tajam, dan penuh empati. Ia hanya perlu terus menyalakannya.

Membaca dua tulisan itu membuat saya berpikir kembali tentang hari pelatihan. Tentang ruangan kecil di Renon yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tetapi bagi saya terasa seperti tempat di mana sesuatu sedang tumbuh dalam diam. Saya datang hari itu hanya ingin berbagi pengalaman. Hari itu saya tidak menyangka bahwa saya akan membawa pulang sesuatu yang membuat saya merevisi cara saya melihat banyak hal.

Saya menyadari bahwa disabilitas muda sering dipandang sebagai kelompok yang harus diberi belas kasihan. Masyarakat lupa bahwa mereka punya pikiran, pengamatan, analisis, dan pengalaman yang bisa dibagikan melalui tulisan. Pelatihan itu membuka sedikit ruang bagi mereka untuk menunjukkan bahwa anggapan itu keliru. Ketika mereka diberi ruang, mereka mampu bersuara dengan cara yang bahkan lebih jernih daripada suara orang dewasa yang sering merasa paling tahu.

Pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

Saya bangga pada mereka. Bangga pada Cok Ima dengan kepekaan budaya dan spiritualnya. Bangga pada Dinda dengan ketajaman pikirannya. Bangga pada semua peserta yang berani menulis meski mungkin tangan mereka sempat bergetar saat memulai. Rasa bangga itu bukan rasa bangga guru kepada murid, tetapi rasa bangga seseorang yang melihat cahaya kecil mulai menyala.

Saya pulang dari pelatihan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Jalanan Renon malam itu lengang, lampu-lampu toko menyala terang, dan angin membawa sisa hujan yang turun sore tadi. Saya naik motor dengan pelan sambil memikirkan kembali apa yang terjadi hari itu. Rasanya seperti baru saja mengikuti upacara kecil yang tidak diumumkan, tetapi hanya dirayakan di dalam dada.

Mungkin begini rasanya ketika kata-kata yang kita simpan selama bertahun-tahun akhirnya menemukan rumahnya sendiri. Bukan lagi untuk diri kita, tetapi untuk orang lain. Kata-kata yang dulu saya tulis untuk bertahan hidup sekarang ikut menyalakan keberanian orang lain untuk bersuara. Itu adalah salah satu hal terindah dalam hidup saya.

Ketika saya ingin menuliskan refleksi ini untuk Tatkala.co, saya teringat kembali pada pelajaran paling sederhana dari dunia tulis menulis. Bahwa tulisan yang baik bukan tulisan yang berusaha pintar. Tulisan yang baik adalah tulisan yang jujur. Dan dua gadis muda itu menulis dengan kejujuran yang tidak dibuat-buat.

Pelatihan itu hanya berlangsung beberapa jam. Namun dampaknya terus bekerja hingga hari ini. Dua opini lahir dari sana, tetapi saya percaya tulisan-tulisan lain sedang menunggu giliran. Mereka hanya perlu waktu. Mereka hanya perlu membiasakan diri duduk di depan layar dan percaya bahwa pengalaman mereka pantas dituliskan.

Jika ada yang saya pelajari dari hari itu, maka pelajarannya sederhana. Suara penyandang disabilitas tidak hanya perlu didengar, tetapi layak didengar. Bahkan lebih dari itu, suara mereka adalah bagian dari percakapan besar tentang kemanusiaan. Suara mereka tidak boleh berhenti di ruang-ruang kecil. Suara mereka harus punya panggung, dan salah satu panggung itu adalah tulisan.

Pelatihan menulis opini inklusif oleh Bumi Setara, 9 November 2025 di Denpasar-Bali | Foto: Dok. Bumi Setara

Saya menutup tulisan ini sambil mengingat kembali wajah Cok Ima dan Dinda. Dua wajah muda yang datang ke pelatihan hanya ingin belajar menulis, lalu pulang membawa sesuatu yang lebih besar dari itu, keberanian untuk mengubah pengalaman menjadi gagasan, lalu menjadi opini yang dibaca banyak orang. Saya tersenyum ketika mengingat momen itu, lalu membatin satu hal yang sangat sederhana. Kata-kata tidak pernah sia-sia. Selama kita menuliskannya dengan hati yang jernih, kata-kata akan menemukan jalannya sendiri. Dan hari itu, saya menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: bumi setaramenulismenulis opini
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [44]: Skripsi Berdarah

Next Post

Ingatan Publik yang Mudah Menguap

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails
Next Post
Ingatan Publik yang Mudah Menguap

Ingatan Publik yang Mudah Menguap

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co