14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [44]: Skripsi Berdarah

Chusmeru by Chusmeru
December 11, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SEMESTER tujuh bagi mahasiswa merupakan saat harap-harap cemas. Semester ini mahasiswa mulai akan memasuki tahap pembuatan proposal untuk skripsi. Mahasiswa yang sudah siap dengan tema penelitian tentu tidak terlalu sulit. Namun bagi mahasiswa yang belum menemukan ide untuk skripsinya, semester ini akan membuatnya cemas.

Sebenarnya skripsi bukan satu-satunya bentuk tugas akhir mahasiswa untuk menyelesaikan studi sarjananya. Mahasiswa juga dapat membuat tugas akhir non skripsi, seperti proyek kolaboratif, portofolio, magang, prototipe produk, maupun publikasi ilmiah. Namun menulis skripsi masih banyak diminati mahasiswa, karena memiliki keasyikan tersendiri dalam menulis hasil penelitian.

 Meski demikian, cepat atau lambatnya mahasiswa menyelesaikan kuliah bukan hanya ditentukan oleh kesiapan mahasiswa dalam menulis skripsi. Banyak faktor yang membuat mahasiswa lulus dengan cepat atau lambat. Mereka yang sudah menghabiskan teori di kelas acapkali bersantai-santai, meski sudah memiliki ide skripsinya.

Merasa sudah selesai duduk di bangku kelas, mahasiswa sering menganggap perlu jeda waktu untuk rehat sejenak. Menulis skripsi bisa kapan saja dan di mana saja. Hal itu yang kerap membuat mahasiswa terlena dan terlupa untuk menggarap skripsinya secepat mungkin.

Faktor dosen pembimbing juga menentukan dalam pembuatan skripsi. Jika mendapatkan dosen pembimbing yang mudah ditemui tentu menyenangkan. Namun ada pula dosen pembimbing yang sulit untuk ditemui, karena kesibukan pekerjaannya. Dosen seperti ini biasanya jarang berada di kampus, sibuk mengajar di perguruan tinggi lain, maupun sibuk menggarap proyek penelitian. Menghadapi dosen yang sibuk diperlukan kesabaran bagi mahasiswa untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsinya.

Perbedaan persepsi maupun sudut pandang antara dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 sering pula menghambat skripsi mahasiswa. Lolos dan di Acc oleh dosen pembimbing skripsi 1 belum tentu disetujui dosen pembimbing 2. Ada saja perbedaan pandangan di antara dosen pembimbing. Jika salah atu dosen berbaik hati tentu cepat beres. Tetapi bila ada dosen pembimbing yang ngotot pada pendapatnya, maka penyelesaian skripsi bisa berlarut-larut.

Maka, mahasiswa selalu juga berharap-harap cemas dalam penentuan dosen pembimbing skripsi. Semua berharap mendapat dosen pembimbing yang baik, yang tidak terlalu sibuk; syukur-syukur bersedia untuk bimbingan skripsi di rumah kalau memang dosen itu sibuk.

                                                                        ***

Banyak mahasiswa yang menganggap skripsi adalah horor. Hantu yang menakutkan bagi mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Namun tidak demikian dengan Damas Rahardian, mahasiswa yang sudah menyelesaikan semua teori. Ia sudah mulai mempersiapkan untuk membuat proposal penelitian untuk skripsinya.

Damas Rahardian tertarik untuk mengangkat masalah stigma negatif yang dialami keluarga korban pembantaian tahun 1965. Saat itu konon terjadi pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh pendukung komunisme di Indonesia. Hingga kini keluarga korban mendapat stigma yang negatif di masayarakat. Padahal para keluarga korban tidak tahu-menahu tentang kegiatan politik di masa lalu.

Pendekatan fenomenologi dan konstruksi sosial digunakan oleh Damas Rahardian untuk meneliti. Ia ingin mendapat informasi tentang perasaan dan pengalaman para keluarga korban atas tragedi di tahun 1965 itu. Konstruksi sosial ia gunakan untuk melihat sejauh mana masyarakat memberikan stigma lewat perspektif masa kini.

Beruntung Damas Rahardian mendapat dua dosen pembimbing skripsi yang baik. Dosen pembimbing 1, Aldo Nugroho yang mengajar Metode Penelitian Kualitatif. Damas berharap dapat masukan terkait metode penelitian skripsinya dari Aldo Nugroho. Sedangkan dosen pembimbing 2, Wisnawan Wijaya yang mengajar Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga. Harapan Damas masalah stigma keluarga korban 1965 mendapat wawasan teoritis dari Wisnawan Wijaya.

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Jadi kerjakan dengan serius, jangan terburu-buru,” pesan Aldo Nugroho kepada Damas.

Pesan itu membuat Damas Rahardian menjadi semangat mengerjakan skripsinya. Ia memang tidak ingin buru-buru selesai dan ujian dengan cepat. Apalagi masalah yang ia teliti cukup berat dan sensitif. Ia harus serius menggali data dan informasi dari para keluarga korban 1965.

Narasumber sekaligus informan penelitian Damas berjumlah empat orang. Mereka adalah anak-anak korban pembantaian tahun 1965. Orang tua mereka dibunuh entah oleh siapa dan dengan kesalahan apa, lantaran tidak melalui proses pengadilan. Orang tua mereka hanya dituduh sebagai pendukung komunisme.

Untuk melindungi privasi informannya, Damas menggunakan nama samaran anak-anak korban itu dengan Kliwon, Wage, Legi, dan Pahing. Itu adalah nama-nama weton dalam kalender Jawa. Damas berharap para informan lebih bersifat terbuka jika namanya disamarkan.

Malam ini Damas melakukan inventarisasi data yang ia peroleh dari informan Kliwon. Ia masukkan data-data itu di laptopnya. Kliwon kini berusia 70 tahun. Saat peristiwa 1965 ia baru berusia 10 tahun. Namun ia masih ingat ketika ayahnya dinaikkan truk untuk dibawa ke tempat eksekusi. Kakaknya yang telah berusia 12 tahun menceritakan juga tentang ayahnya yang konon dieksekusi mati.

Ketika sedang asyik mengetik, keanehan yang menyeramkan terjadi. Setiap kata yang Damas ketik berwarna merah darah. Padahal ia tidak memencet font color warna merah. Bukan hanya itu, Damas dibuat merinding saat muncul bayangan laki-laki terluka dan berdarah di layar monitor. Damas ketakutan. Segera ia tutup laptopnya. Ia putuskan untuk berhenti mengetik.

Merasa ketakutan, Damas menghubungi dosen pembimbing Aldo Nugroho lewat chat WA. Ia ceritakan kejadian misterius yang dialami. Aldo Nugroho termasuk dosen yang fast response, setiap pesan yang masuk WA-nya akan segera dibalas, meskipun malam hari.

“Mungkin kamu capek, jadi halu..,” balas Aldo Nugroho. Tak lupa ia sertakan emoticon tertawa.

                                                                        ***

Esok harinya, Damas Rahardian ragu-ragu untuk membuka laptopnya. Ia masih penasaran dan ketakutan atas kejadian semalam. Siapakah bayangan laki-laki terluka dan berdarah yang muncul di layar monitor laptopnya? Ataukah ia hanya berhalusinasi lantaran terlalu capai mengetik sebagaimana dikatakan Aldo Nugroho?

 Suasana tempat kos yang sepi membuat Damas ingin kembali mengerjakan skripsinya. Ada beberapa data dari informan Wage dan Legi terkait kronologi kejadian tahun 1965 yang belum ia ketik di laptop. Sebagian informan memang tidak ingat persis kronologi, karena saat itu mereka masih kecil. Namun mereka mendapat tambahan informasi dari ibu mereka, kakak, maupun para tetangga.

Laptop dibuka. Damas mulai mengetik kronologi peristiwa tahun 1965 versi para informan. Tengah asyik mengetik, Damas dikejutkan oleh tetesan darah yang jatuh dari atas ke keyboard laptopnya. Jantung Damas berdegup kencang.

“Darah siapa ini?” tanya Damas lirih dan gemetaran.

Suasana mistis menyelimuti kamar kosnya. Tangannya gemetar menghapus darah dengan tisu. Belum usai rasa takutnya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki mengerang kesakitan yang keluar dari speaker di laptopnya. Keringat dingin mulai keluar dari leher Damas. Bulu kuduknya merinding. Wajah Damas pucat ketakutan.

“Suara siapa itu?” tanya Damas dalam hati.

Suara erangan itu begitu jelas. Seolah laki-laki yang entah ada di mana itu begitu kesakitan dan minta pertolongan Damas. Kamar kosnya semakin mencekam. Damas tak habis pikir. Mengapa setiap ia mengetik skripsi di laptop selalu muncul peristiwa mistis dan menyeramkan? Sedangkan saat ia mengetik yang lain atau membuka Youtube di laptop tak pernah ada hal yang aneh. Apakah semua ini ada kaitan dengan tema penelitiannya tentang korban pembantaian tahun 1965?

Cukup lama terdengar suara orang mengerang kesakitan. Damas berusaha mematikan volume suara di laptopnya. Tetapi suara erangan itu tetap terdengar. Damas hampir menangis karena ketakutan. Perlahan suara erangan laki-laki di laptopnya menghilang. Damas menarik napas lega, meskipun ia tetap diselimuti perasaan mencekam.

Kebingungan dan kengerian dirasakan Damas. Ia bingung apakah harus melanjutkan mengetik skripsinya atau berhenti saja. Kalau ia lanjutkan mengetik khawatir akan muncul kejadian lain yang lebih menyeramkan. Namun bila tak dilanjutkan, ia khawatir lupa untuk verifikasi data penelitian.

Bahkan terpikir oleh Damas untuk membatalkan penelitian dan menghentikan skripsinya. Terlintas di benaknya untuk mengubah tema skripsinya. Artinya ia harus ganti judul skripsi. Itu berarti pula ia harus mengulang kembali mengajukan outline proposal baru kepada komisi skripsi di jurusan. Damas benar-benar bingung.

Damas Rahardian berencana konsultasi kepada dosen pembimbing Aldo Nugroho. Ia membawa draft skripsi yang sudah dicetak. Pagi hari ia sudah berada di kampus, karena Aldo Nugroho dosen yang sangat rajin ke kampus. Kalau pun Aldo Nugroho tidak tampak di kampus pagi hari, berarti sedang ada tugas mengajar, dan siangnya dapat ditemui di ruangannya.

Ketika Damas sedang berjalan ke ruangan Aldo Nugroho, terdengar langkah orang di belakangnya. Ia menengok. Tidak tampak seorang pun di belakangnya. Suara langkah itu juga tidak terdengar lagi. Namun saat Damas kembali berjalan, suara langkah orang yang mengikutinya terdengar lagi. Damas merinding. “Sepagi ini apakah ada hantu di kampus?” tanya Damas dalam hati.

Suara langkah orang di belakang Damas semakin terasa dekat ketika ia sampai di depan pintu ruang Aldo Nugroho. Dibayangi makhluk tak kasat mata membuat Damas mengetuk pintu ruang Aldo Nugroho dengan keras. Damas ketakutan. Ia ingin segera bertemu dosen pembimbingnya.

“Kamu kenapa, seperti orang ketakutan?” tanya Aldo Nugroho begitu Damas masuk ke ruang dosen.

“Seperti ada yang mengikuti saya, Pak. Tapi tidak kelihatan,” jawab Damas dengan nada takut.

Suasana ruangan Aldo Nugroho terasa agak berbeda dari biasanya. Ruang dosen yang biasanya sejuk dengan lagu-lagu yang diputar dari laptopnya kini menjadi menyeramkan sejak Damas datang untuk bimbingan. Angin semilir masuk ke ruangan Aldo Nugroho. Bulu kuduknya berdiri. Damas juga tampak merinding ketakutan.

“Coba mana draft skripsimu,” ujar Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas segera membuka tas punggungnya dan mengeluarkan draft skripsi. Betapa terkejut Damas dan Aldo Nugroho. Draft skripsi Damas terdapat bercak-bercak darah di sampul depannya. Padahal saat dibawa dari tempat kos tidak tampak ada bercak darah itu.

“Darah siapa ini…???” tanya Aldo Nugroho heran.

Damas tak mampu menjawab. Ia gemetaran di hadapan dosen pembimbingnya. Mengapa selalu terjadi keanehan yang menyeramkan? Apakah ada yang tidak berkenan dengan penelitiannya? Apakah roh para korban tragedi 1965 tidak ingin ditulis dalam skripsinya? Damas sama sekali tak mengerti. Namun Aldo Nugroho sepertinya paham apa yang dialami Damas. Ia merenung sejenak.

“Sepertinya kamu harus ziarah ke makam para korban 1965, untuk mendoakan sekaligus minta restu untuk menuliskannya di skripsi,” saran Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas Rahardian mengangguk lemah. Ia pasrah dan sangat setuju saran dosen pembimbing skripsinya. Barangkali selama ini roh para korban 1965 kurang berkenan Damas menuliskan dalam skripsi. Karenanya ia harus ziarah ke makam mereka, dengan harapan para korban damai di alam keabadian dan memberi restu Damas menuliskan kisah mereka dalam skripsi.

Tak ingin menunda-nunda, dengan arahan dari para informan penelitiannya Damas segera ziarah ke makam para korban 1965. Damas merasa lega dan tenang. Ia tak lagi dibayangi ketakutan. Skripsinya kembali dikerjakan tanpa ada lagi kejadian yang aneh dan menyeramkan.

Damas Rahardian menyelesaikan skripsi dengan tuntas. Saat ujian pendadaran sempat terjadi suasana mistis di ruang ujian. Ia dan semua dosen penguji merasakan hawa dingin dan aroma bunga melati di ruangan. Meski demikian tak menyurutkan semua dosen untuk memberikan nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Next Post

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Bermain dengan Jin Tengah Malam

by Chusmeru
May 7, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

by Silvia Maharani Ikhsan
April 25, 2026
0
Puisi-puisi Silvia Maharani Ikhsan | Tak Perlu Menunggu Aku di Gatsemani

TAK PERLU MENUNGGU AKU DI GATSEMANI Aku datang dari Galilea dengan bau seluk Tasik Tiberias yang melekat di jubahkuDemi janji-janji...

Read moreDetails

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co