23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [44]: Skripsi Berdarah

Chusmeru by Chusmeru
December 11, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SEMESTER tujuh bagi mahasiswa merupakan saat harap-harap cemas. Semester ini mahasiswa mulai akan memasuki tahap pembuatan proposal untuk skripsi. Mahasiswa yang sudah siap dengan tema penelitian tentu tidak terlalu sulit. Namun bagi mahasiswa yang belum menemukan ide untuk skripsinya, semester ini akan membuatnya cemas.

Sebenarnya skripsi bukan satu-satunya bentuk tugas akhir mahasiswa untuk menyelesaikan studi sarjananya. Mahasiswa juga dapat membuat tugas akhir non skripsi, seperti proyek kolaboratif, portofolio, magang, prototipe produk, maupun publikasi ilmiah. Namun menulis skripsi masih banyak diminati mahasiswa, karena memiliki keasyikan tersendiri dalam menulis hasil penelitian.

 Meski demikian, cepat atau lambatnya mahasiswa menyelesaikan kuliah bukan hanya ditentukan oleh kesiapan mahasiswa dalam menulis skripsi. Banyak faktor yang membuat mahasiswa lulus dengan cepat atau lambat. Mereka yang sudah menghabiskan teori di kelas acapkali bersantai-santai, meski sudah memiliki ide skripsinya.

Merasa sudah selesai duduk di bangku kelas, mahasiswa sering menganggap perlu jeda waktu untuk rehat sejenak. Menulis skripsi bisa kapan saja dan di mana saja. Hal itu yang kerap membuat mahasiswa terlena dan terlupa untuk menggarap skripsinya secepat mungkin.

Faktor dosen pembimbing juga menentukan dalam pembuatan skripsi. Jika mendapatkan dosen pembimbing yang mudah ditemui tentu menyenangkan. Namun ada pula dosen pembimbing yang sulit untuk ditemui, karena kesibukan pekerjaannya. Dosen seperti ini biasanya jarang berada di kampus, sibuk mengajar di perguruan tinggi lain, maupun sibuk menggarap proyek penelitian. Menghadapi dosen yang sibuk diperlukan kesabaran bagi mahasiswa untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsinya.

Perbedaan persepsi maupun sudut pandang antara dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 sering pula menghambat skripsi mahasiswa. Lolos dan di Acc oleh dosen pembimbing skripsi 1 belum tentu disetujui dosen pembimbing 2. Ada saja perbedaan pandangan di antara dosen pembimbing. Jika salah atu dosen berbaik hati tentu cepat beres. Tetapi bila ada dosen pembimbing yang ngotot pada pendapatnya, maka penyelesaian skripsi bisa berlarut-larut.

Maka, mahasiswa selalu juga berharap-harap cemas dalam penentuan dosen pembimbing skripsi. Semua berharap mendapat dosen pembimbing yang baik, yang tidak terlalu sibuk; syukur-syukur bersedia untuk bimbingan skripsi di rumah kalau memang dosen itu sibuk.

                                                                        ***

Banyak mahasiswa yang menganggap skripsi adalah horor. Hantu yang menakutkan bagi mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Namun tidak demikian dengan Damas Rahardian, mahasiswa yang sudah menyelesaikan semua teori. Ia sudah mulai mempersiapkan untuk membuat proposal penelitian untuk skripsinya.

Damas Rahardian tertarik untuk mengangkat masalah stigma negatif yang dialami keluarga korban pembantaian tahun 1965. Saat itu konon terjadi pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh pendukung komunisme di Indonesia. Hingga kini keluarga korban mendapat stigma yang negatif di masayarakat. Padahal para keluarga korban tidak tahu-menahu tentang kegiatan politik di masa lalu.

Pendekatan fenomenologi dan konstruksi sosial digunakan oleh Damas Rahardian untuk meneliti. Ia ingin mendapat informasi tentang perasaan dan pengalaman para keluarga korban atas tragedi di tahun 1965 itu. Konstruksi sosial ia gunakan untuk melihat sejauh mana masyarakat memberikan stigma lewat perspektif masa kini.

Beruntung Damas Rahardian mendapat dua dosen pembimbing skripsi yang baik. Dosen pembimbing 1, Aldo Nugroho yang mengajar Metode Penelitian Kualitatif. Damas berharap dapat masukan terkait metode penelitian skripsinya dari Aldo Nugroho. Sedangkan dosen pembimbing 2, Wisnawan Wijaya yang mengajar Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga. Harapan Damas masalah stigma keluarga korban 1965 mendapat wawasan teoritis dari Wisnawan Wijaya.

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Jadi kerjakan dengan serius, jangan terburu-buru,” pesan Aldo Nugroho kepada Damas.

Pesan itu membuat Damas Rahardian menjadi semangat mengerjakan skripsinya. Ia memang tidak ingin buru-buru selesai dan ujian dengan cepat. Apalagi masalah yang ia teliti cukup berat dan sensitif. Ia harus serius menggali data dan informasi dari para keluarga korban 1965.

Narasumber sekaligus informan penelitian Damas berjumlah empat orang. Mereka adalah anak-anak korban pembantaian tahun 1965. Orang tua mereka dibunuh entah oleh siapa dan dengan kesalahan apa, lantaran tidak melalui proses pengadilan. Orang tua mereka hanya dituduh sebagai pendukung komunisme.

Untuk melindungi privasi informannya, Damas menggunakan nama samaran anak-anak korban itu dengan Kliwon, Wage, Legi, dan Pahing. Itu adalah nama-nama weton dalam kalender Jawa. Damas berharap para informan lebih bersifat terbuka jika namanya disamarkan.

Malam ini Damas melakukan inventarisasi data yang ia peroleh dari informan Kliwon. Ia masukkan data-data itu di laptopnya. Kliwon kini berusia 70 tahun. Saat peristiwa 1965 ia baru berusia 10 tahun. Namun ia masih ingat ketika ayahnya dinaikkan truk untuk dibawa ke tempat eksekusi. Kakaknya yang telah berusia 12 tahun menceritakan juga tentang ayahnya yang konon dieksekusi mati.

Ketika sedang asyik mengetik, keanehan yang menyeramkan terjadi. Setiap kata yang Damas ketik berwarna merah darah. Padahal ia tidak memencet font color warna merah. Bukan hanya itu, Damas dibuat merinding saat muncul bayangan laki-laki terluka dan berdarah di layar monitor. Damas ketakutan. Segera ia tutup laptopnya. Ia putuskan untuk berhenti mengetik.

Merasa ketakutan, Damas menghubungi dosen pembimbing Aldo Nugroho lewat chat WA. Ia ceritakan kejadian misterius yang dialami. Aldo Nugroho termasuk dosen yang fast response, setiap pesan yang masuk WA-nya akan segera dibalas, meskipun malam hari.

“Mungkin kamu capek, jadi halu..,” balas Aldo Nugroho. Tak lupa ia sertakan emoticon tertawa.

                                                                        ***

Esok harinya, Damas Rahardian ragu-ragu untuk membuka laptopnya. Ia masih penasaran dan ketakutan atas kejadian semalam. Siapakah bayangan laki-laki terluka dan berdarah yang muncul di layar monitor laptopnya? Ataukah ia hanya berhalusinasi lantaran terlalu capai mengetik sebagaimana dikatakan Aldo Nugroho?

 Suasana tempat kos yang sepi membuat Damas ingin kembali mengerjakan skripsinya. Ada beberapa data dari informan Wage dan Legi terkait kronologi kejadian tahun 1965 yang belum ia ketik di laptop. Sebagian informan memang tidak ingat persis kronologi, karena saat itu mereka masih kecil. Namun mereka mendapat tambahan informasi dari ibu mereka, kakak, maupun para tetangga.

Laptop dibuka. Damas mulai mengetik kronologi peristiwa tahun 1965 versi para informan. Tengah asyik mengetik, Damas dikejutkan oleh tetesan darah yang jatuh dari atas ke keyboard laptopnya. Jantung Damas berdegup kencang.

“Darah siapa ini?” tanya Damas lirih dan gemetaran.

Suasana mistis menyelimuti kamar kosnya. Tangannya gemetar menghapus darah dengan tisu. Belum usai rasa takutnya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki mengerang kesakitan yang keluar dari speaker di laptopnya. Keringat dingin mulai keluar dari leher Damas. Bulu kuduknya merinding. Wajah Damas pucat ketakutan.

“Suara siapa itu?” tanya Damas dalam hati.

Suara erangan itu begitu jelas. Seolah laki-laki yang entah ada di mana itu begitu kesakitan dan minta pertolongan Damas. Kamar kosnya semakin mencekam. Damas tak habis pikir. Mengapa setiap ia mengetik skripsi di laptop selalu muncul peristiwa mistis dan menyeramkan? Sedangkan saat ia mengetik yang lain atau membuka Youtube di laptop tak pernah ada hal yang aneh. Apakah semua ini ada kaitan dengan tema penelitiannya tentang korban pembantaian tahun 1965?

Cukup lama terdengar suara orang mengerang kesakitan. Damas berusaha mematikan volume suara di laptopnya. Tetapi suara erangan itu tetap terdengar. Damas hampir menangis karena ketakutan. Perlahan suara erangan laki-laki di laptopnya menghilang. Damas menarik napas lega, meskipun ia tetap diselimuti perasaan mencekam.

Kebingungan dan kengerian dirasakan Damas. Ia bingung apakah harus melanjutkan mengetik skripsinya atau berhenti saja. Kalau ia lanjutkan mengetik khawatir akan muncul kejadian lain yang lebih menyeramkan. Namun bila tak dilanjutkan, ia khawatir lupa untuk verifikasi data penelitian.

Bahkan terpikir oleh Damas untuk membatalkan penelitian dan menghentikan skripsinya. Terlintas di benaknya untuk mengubah tema skripsinya. Artinya ia harus ganti judul skripsi. Itu berarti pula ia harus mengulang kembali mengajukan outline proposal baru kepada komisi skripsi di jurusan. Damas benar-benar bingung.

Damas Rahardian berencana konsultasi kepada dosen pembimbing Aldo Nugroho. Ia membawa draft skripsi yang sudah dicetak. Pagi hari ia sudah berada di kampus, karena Aldo Nugroho dosen yang sangat rajin ke kampus. Kalau pun Aldo Nugroho tidak tampak di kampus pagi hari, berarti sedang ada tugas mengajar, dan siangnya dapat ditemui di ruangannya.

Ketika Damas sedang berjalan ke ruangan Aldo Nugroho, terdengar langkah orang di belakangnya. Ia menengok. Tidak tampak seorang pun di belakangnya. Suara langkah itu juga tidak terdengar lagi. Namun saat Damas kembali berjalan, suara langkah orang yang mengikutinya terdengar lagi. Damas merinding. “Sepagi ini apakah ada hantu di kampus?” tanya Damas dalam hati.

Suara langkah orang di belakang Damas semakin terasa dekat ketika ia sampai di depan pintu ruang Aldo Nugroho. Dibayangi makhluk tak kasat mata membuat Damas mengetuk pintu ruang Aldo Nugroho dengan keras. Damas ketakutan. Ia ingin segera bertemu dosen pembimbingnya.

“Kamu kenapa, seperti orang ketakutan?” tanya Aldo Nugroho begitu Damas masuk ke ruang dosen.

“Seperti ada yang mengikuti saya, Pak. Tapi tidak kelihatan,” jawab Damas dengan nada takut.

Suasana ruangan Aldo Nugroho terasa agak berbeda dari biasanya. Ruang dosen yang biasanya sejuk dengan lagu-lagu yang diputar dari laptopnya kini menjadi menyeramkan sejak Damas datang untuk bimbingan. Angin semilir masuk ke ruangan Aldo Nugroho. Bulu kuduknya berdiri. Damas juga tampak merinding ketakutan.

“Coba mana draft skripsimu,” ujar Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas segera membuka tas punggungnya dan mengeluarkan draft skripsi. Betapa terkejut Damas dan Aldo Nugroho. Draft skripsi Damas terdapat bercak-bercak darah di sampul depannya. Padahal saat dibawa dari tempat kos tidak tampak ada bercak darah itu.

“Darah siapa ini…???” tanya Aldo Nugroho heran.

Damas tak mampu menjawab. Ia gemetaran di hadapan dosen pembimbingnya. Mengapa selalu terjadi keanehan yang menyeramkan? Apakah ada yang tidak berkenan dengan penelitiannya? Apakah roh para korban tragedi 1965 tidak ingin ditulis dalam skripsinya? Damas sama sekali tak mengerti. Namun Aldo Nugroho sepertinya paham apa yang dialami Damas. Ia merenung sejenak.

“Sepertinya kamu harus ziarah ke makam para korban 1965, untuk mendoakan sekaligus minta restu untuk menuliskannya di skripsi,” saran Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas Rahardian mengangguk lemah. Ia pasrah dan sangat setuju saran dosen pembimbing skripsinya. Barangkali selama ini roh para korban 1965 kurang berkenan Damas menuliskan dalam skripsi. Karenanya ia harus ziarah ke makam mereka, dengan harapan para korban damai di alam keabadian dan memberi restu Damas menuliskan kisah mereka dalam skripsi.

Tak ingin menunda-nunda, dengan arahan dari para informan penelitiannya Damas segera ziarah ke makam para korban 1965. Damas merasa lega dan tenang. Ia tak lagi dibayangi ketakutan. Skripsinya kembali dikerjakan tanpa ada lagi kejadian yang aneh dan menyeramkan.

Damas Rahardian menyelesaikan skripsi dengan tuntas. Saat ujian pendadaran sempat terjadi suasana mistis di ruang ujian. Ia dan semua dosen penguji merasakan hawa dingin dan aroma bunga melati di ruangan. Meski demikian tak menyurutkan semua dosen untuk memberikan nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Next Post

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co