13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampusku Sarang Hantu [44]: Skripsi Berdarah

Chusmeru by Chusmeru
December 11, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

SEMESTER tujuh bagi mahasiswa merupakan saat harap-harap cemas. Semester ini mahasiswa mulai akan memasuki tahap pembuatan proposal untuk skripsi. Mahasiswa yang sudah siap dengan tema penelitian tentu tidak terlalu sulit. Namun bagi mahasiswa yang belum menemukan ide untuk skripsinya, semester ini akan membuatnya cemas.

Sebenarnya skripsi bukan satu-satunya bentuk tugas akhir mahasiswa untuk menyelesaikan studi sarjananya. Mahasiswa juga dapat membuat tugas akhir non skripsi, seperti proyek kolaboratif, portofolio, magang, prototipe produk, maupun publikasi ilmiah. Namun menulis skripsi masih banyak diminati mahasiswa, karena memiliki keasyikan tersendiri dalam menulis hasil penelitian.

 Meski demikian, cepat atau lambatnya mahasiswa menyelesaikan kuliah bukan hanya ditentukan oleh kesiapan mahasiswa dalam menulis skripsi. Banyak faktor yang membuat mahasiswa lulus dengan cepat atau lambat. Mereka yang sudah menghabiskan teori di kelas acapkali bersantai-santai, meski sudah memiliki ide skripsinya.

Merasa sudah selesai duduk di bangku kelas, mahasiswa sering menganggap perlu jeda waktu untuk rehat sejenak. Menulis skripsi bisa kapan saja dan di mana saja. Hal itu yang kerap membuat mahasiswa terlena dan terlupa untuk menggarap skripsinya secepat mungkin.

Faktor dosen pembimbing juga menentukan dalam pembuatan skripsi. Jika mendapatkan dosen pembimbing yang mudah ditemui tentu menyenangkan. Namun ada pula dosen pembimbing yang sulit untuk ditemui, karena kesibukan pekerjaannya. Dosen seperti ini biasanya jarang berada di kampus, sibuk mengajar di perguruan tinggi lain, maupun sibuk menggarap proyek penelitian. Menghadapi dosen yang sibuk diperlukan kesabaran bagi mahasiswa untuk cepat-cepat menyelesaikan skripsinya.

Perbedaan persepsi maupun sudut pandang antara dosen pembimbing 1 dan pembimbing 2 sering pula menghambat skripsi mahasiswa. Lolos dan di Acc oleh dosen pembimbing skripsi 1 belum tentu disetujui dosen pembimbing 2. Ada saja perbedaan pandangan di antara dosen pembimbing. Jika salah atu dosen berbaik hati tentu cepat beres. Tetapi bila ada dosen pembimbing yang ngotot pada pendapatnya, maka penyelesaian skripsi bisa berlarut-larut.

Maka, mahasiswa selalu juga berharap-harap cemas dalam penentuan dosen pembimbing skripsi. Semua berharap mendapat dosen pembimbing yang baik, yang tidak terlalu sibuk; syukur-syukur bersedia untuk bimbingan skripsi di rumah kalau memang dosen itu sibuk.

                                                                        ***

Banyak mahasiswa yang menganggap skripsi adalah horor. Hantu yang menakutkan bagi mahasiswa untuk meraih gelar sarjana. Namun tidak demikian dengan Damas Rahardian, mahasiswa yang sudah menyelesaikan semua teori. Ia sudah mulai mempersiapkan untuk membuat proposal penelitian untuk skripsinya.

Damas Rahardian tertarik untuk mengangkat masalah stigma negatif yang dialami keluarga korban pembantaian tahun 1965. Saat itu konon terjadi pembunuhan dan pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh pendukung komunisme di Indonesia. Hingga kini keluarga korban mendapat stigma yang negatif di masayarakat. Padahal para keluarga korban tidak tahu-menahu tentang kegiatan politik di masa lalu.

Pendekatan fenomenologi dan konstruksi sosial digunakan oleh Damas Rahardian untuk meneliti. Ia ingin mendapat informasi tentang perasaan dan pengalaman para keluarga korban atas tragedi di tahun 1965 itu. Konstruksi sosial ia gunakan untuk melihat sejauh mana masyarakat memberikan stigma lewat perspektif masa kini.

Beruntung Damas Rahardian mendapat dua dosen pembimbing skripsi yang baik. Dosen pembimbing 1, Aldo Nugroho yang mengajar Metode Penelitian Kualitatif. Damas berharap dapat masukan terkait metode penelitian skripsinya dari Aldo Nugroho. Sedangkan dosen pembimbing 2, Wisnawan Wijaya yang mengajar Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga. Harapan Damas masalah stigma keluarga korban 1965 mendapat wawasan teoritis dari Wisnawan Wijaya.

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Jadi kerjakan dengan serius, jangan terburu-buru,” pesan Aldo Nugroho kepada Damas.

Pesan itu membuat Damas Rahardian menjadi semangat mengerjakan skripsinya. Ia memang tidak ingin buru-buru selesai dan ujian dengan cepat. Apalagi masalah yang ia teliti cukup berat dan sensitif. Ia harus serius menggali data dan informasi dari para keluarga korban 1965.

Narasumber sekaligus informan penelitian Damas berjumlah empat orang. Mereka adalah anak-anak korban pembantaian tahun 1965. Orang tua mereka dibunuh entah oleh siapa dan dengan kesalahan apa, lantaran tidak melalui proses pengadilan. Orang tua mereka hanya dituduh sebagai pendukung komunisme.

Untuk melindungi privasi informannya, Damas menggunakan nama samaran anak-anak korban itu dengan Kliwon, Wage, Legi, dan Pahing. Itu adalah nama-nama weton dalam kalender Jawa. Damas berharap para informan lebih bersifat terbuka jika namanya disamarkan.

Malam ini Damas melakukan inventarisasi data yang ia peroleh dari informan Kliwon. Ia masukkan data-data itu di laptopnya. Kliwon kini berusia 70 tahun. Saat peristiwa 1965 ia baru berusia 10 tahun. Namun ia masih ingat ketika ayahnya dinaikkan truk untuk dibawa ke tempat eksekusi. Kakaknya yang telah berusia 12 tahun menceritakan juga tentang ayahnya yang konon dieksekusi mati.

Ketika sedang asyik mengetik, keanehan yang menyeramkan terjadi. Setiap kata yang Damas ketik berwarna merah darah. Padahal ia tidak memencet font color warna merah. Bukan hanya itu, Damas dibuat merinding saat muncul bayangan laki-laki terluka dan berdarah di layar monitor. Damas ketakutan. Segera ia tutup laptopnya. Ia putuskan untuk berhenti mengetik.

Merasa ketakutan, Damas menghubungi dosen pembimbing Aldo Nugroho lewat chat WA. Ia ceritakan kejadian misterius yang dialami. Aldo Nugroho termasuk dosen yang fast response, setiap pesan yang masuk WA-nya akan segera dibalas, meskipun malam hari.

“Mungkin kamu capek, jadi halu..,” balas Aldo Nugroho. Tak lupa ia sertakan emoticon tertawa.

                                                                        ***

Esok harinya, Damas Rahardian ragu-ragu untuk membuka laptopnya. Ia masih penasaran dan ketakutan atas kejadian semalam. Siapakah bayangan laki-laki terluka dan berdarah yang muncul di layar monitor laptopnya? Ataukah ia hanya berhalusinasi lantaran terlalu capai mengetik sebagaimana dikatakan Aldo Nugroho?

 Suasana tempat kos yang sepi membuat Damas ingin kembali mengerjakan skripsinya. Ada beberapa data dari informan Wage dan Legi terkait kronologi kejadian tahun 1965 yang belum ia ketik di laptop. Sebagian informan memang tidak ingat persis kronologi, karena saat itu mereka masih kecil. Namun mereka mendapat tambahan informasi dari ibu mereka, kakak, maupun para tetangga.

Laptop dibuka. Damas mulai mengetik kronologi peristiwa tahun 1965 versi para informan. Tengah asyik mengetik, Damas dikejutkan oleh tetesan darah yang jatuh dari atas ke keyboard laptopnya. Jantung Damas berdegup kencang.

“Darah siapa ini?” tanya Damas lirih dan gemetaran.

Suasana mistis menyelimuti kamar kosnya. Tangannya gemetar menghapus darah dengan tisu. Belum usai rasa takutnya, tiba-tiba terdengar suara laki-laki mengerang kesakitan yang keluar dari speaker di laptopnya. Keringat dingin mulai keluar dari leher Damas. Bulu kuduknya merinding. Wajah Damas pucat ketakutan.

“Suara siapa itu?” tanya Damas dalam hati.

Suara erangan itu begitu jelas. Seolah laki-laki yang entah ada di mana itu begitu kesakitan dan minta pertolongan Damas. Kamar kosnya semakin mencekam. Damas tak habis pikir. Mengapa setiap ia mengetik skripsi di laptop selalu muncul peristiwa mistis dan menyeramkan? Sedangkan saat ia mengetik yang lain atau membuka Youtube di laptop tak pernah ada hal yang aneh. Apakah semua ini ada kaitan dengan tema penelitiannya tentang korban pembantaian tahun 1965?

Cukup lama terdengar suara orang mengerang kesakitan. Damas berusaha mematikan volume suara di laptopnya. Tetapi suara erangan itu tetap terdengar. Damas hampir menangis karena ketakutan. Perlahan suara erangan laki-laki di laptopnya menghilang. Damas menarik napas lega, meskipun ia tetap diselimuti perasaan mencekam.

Kebingungan dan kengerian dirasakan Damas. Ia bingung apakah harus melanjutkan mengetik skripsinya atau berhenti saja. Kalau ia lanjutkan mengetik khawatir akan muncul kejadian lain yang lebih menyeramkan. Namun bila tak dilanjutkan, ia khawatir lupa untuk verifikasi data penelitian.

Bahkan terpikir oleh Damas untuk membatalkan penelitian dan menghentikan skripsinya. Terlintas di benaknya untuk mengubah tema skripsinya. Artinya ia harus ganti judul skripsi. Itu berarti pula ia harus mengulang kembali mengajukan outline proposal baru kepada komisi skripsi di jurusan. Damas benar-benar bingung.

Damas Rahardian berencana konsultasi kepada dosen pembimbing Aldo Nugroho. Ia membawa draft skripsi yang sudah dicetak. Pagi hari ia sudah berada di kampus, karena Aldo Nugroho dosen yang sangat rajin ke kampus. Kalau pun Aldo Nugroho tidak tampak di kampus pagi hari, berarti sedang ada tugas mengajar, dan siangnya dapat ditemui di ruangannya.

Ketika Damas sedang berjalan ke ruangan Aldo Nugroho, terdengar langkah orang di belakangnya. Ia menengok. Tidak tampak seorang pun di belakangnya. Suara langkah itu juga tidak terdengar lagi. Namun saat Damas kembali berjalan, suara langkah orang yang mengikutinya terdengar lagi. Damas merinding. “Sepagi ini apakah ada hantu di kampus?” tanya Damas dalam hati.

Suara langkah orang di belakang Damas semakin terasa dekat ketika ia sampai di depan pintu ruang Aldo Nugroho. Dibayangi makhluk tak kasat mata membuat Damas mengetuk pintu ruang Aldo Nugroho dengan keras. Damas ketakutan. Ia ingin segera bertemu dosen pembimbingnya.

“Kamu kenapa, seperti orang ketakutan?” tanya Aldo Nugroho begitu Damas masuk ke ruang dosen.

“Seperti ada yang mengikuti saya, Pak. Tapi tidak kelihatan,” jawab Damas dengan nada takut.

Suasana ruangan Aldo Nugroho terasa agak berbeda dari biasanya. Ruang dosen yang biasanya sejuk dengan lagu-lagu yang diputar dari laptopnya kini menjadi menyeramkan sejak Damas datang untuk bimbingan. Angin semilir masuk ke ruangan Aldo Nugroho. Bulu kuduknya berdiri. Damas juga tampak merinding ketakutan.

“Coba mana draft skripsimu,” ujar Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas segera membuka tas punggungnya dan mengeluarkan draft skripsi. Betapa terkejut Damas dan Aldo Nugroho. Draft skripsi Damas terdapat bercak-bercak darah di sampul depannya. Padahal saat dibawa dari tempat kos tidak tampak ada bercak darah itu.

“Darah siapa ini…???” tanya Aldo Nugroho heran.

Damas tak mampu menjawab. Ia gemetaran di hadapan dosen pembimbingnya. Mengapa selalu terjadi keanehan yang menyeramkan? Apakah ada yang tidak berkenan dengan penelitiannya? Apakah roh para korban tragedi 1965 tidak ingin ditulis dalam skripsinya? Damas sama sekali tak mengerti. Namun Aldo Nugroho sepertinya paham apa yang dialami Damas. Ia merenung sejenak.

“Sepertinya kamu harus ziarah ke makam para korban 1965, untuk mendoakan sekaligus minta restu untuk menuliskannya di skripsi,” saran Aldo Nugroho kepada Damas.

Damas Rahardian mengangguk lemah. Ia pasrah dan sangat setuju saran dosen pembimbing skripsinya. Barangkali selama ini roh para korban 1965 kurang berkenan Damas menuliskan dalam skripsi. Karenanya ia harus ziarah ke makam mereka, dengan harapan para korban damai di alam keabadian dan memberi restu Damas menuliskan kisah mereka dalam skripsi.

Tak ingin menunda-nunda, dengan arahan dari para informan penelitiannya Damas segera ziarah ke makam para korban 1965. Damas merasa lega dan tenang. Ia tak lagi dibayangi ketakutan. Skripsinya kembali dikerjakan tanpa ada lagi kejadian yang aneh dan menyeramkan.

Damas Rahardian menyelesaikan skripsi dengan tuntas. Saat ujian pendadaran sempat terjadi suasana mistis di ruang ujian. Ia dan semua dosen penguji merasakan hawa dingin dan aroma bunga melati di ruangan. Meski demikian tak menyurutkan semua dosen untuk memberikan nilai A untuk skripsinya. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegog Spirit Fest 2025 Siap Digelar di Jembrana, Hadirkan 90 Sekhe Jegog dan 1.500 Seniman

Next Post

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Ketika Kata Menemukan Jalannya Sendiri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co