MUSIM hujan sudah dan sedang tiba dan sesekali istirahat di Desa Les, Tejakula, Buleleng. Di belahan desa tetangga hujan, bahkan di pusat desa basah, tapi di daerah pesisir tak jarang masih cerah. Begitulah cuaca hari ini. Sebagian menyebut fenomena, ada yang menyebut krisis iklim (cuaca tak menentu), pancaroba.
Minggu lalu, menjelang pergantian bulan menuju Desember, saya menyusuri punggung Bukit Mendeha. Ini tak hanya sekadar trekking, jalan-jalan, atau cati keringat; tapi lebih pada kembali melihat, merasakan sebuah jalur lama yang menjadi saksi bagaimana keterbubungan komunitas di Desa Les dengan Desa Subaya, Kintamani, Bangli.
Target saya sampai Batu Payung, sebuah batu di punggung bukit yang meyerupai payung. Dari kaki Desa Les, butuh waktu 40 menit untuk mencapai tempat ini. Saya berjalan sambil mengingat rumah polisi hutan yang sudah hilang―hilang karena usia, saya melihatnya masih utuh ketika saya masih SMA, tahun 2006 lalu.

Pohon bibit, begitu orang lokal menyebutnya, tampak masih terus tumbuh dan jalan setapak masih terlihat. Jalan ini menjadi jejak ingatan ekonomi bagi masyarakat di hulu. Desa Subaya, Kintamani, memang menjadikan ini sebagai jalur utama perdagangan. Seingat saya, waktu saya SD sampai SMP, setiap pukul 11 malam sampai dini hari, punggung bukit ini terlihat lebih seperti punggung bukit yang penuh cahaya obor (bobok).
Masyarakat Desa Subaya akan membawa hasil kebunnya untuk dijual di pasar Desa Les dan akan balik ketika barang dagangannya habis dengan membawa kebutuhan pokok sehari-hari. Jarak yang ditempuh sejauh kurang lebih 17 km. Bisa dibayangkan, ada yang setiap hari naik-turun bukit; ada yang setiap dua kali seminggu. Sungguh tak terbayangkan.
***
Sebelum memasuki Desa Subaya, tepat di puncak, Anda akan sampai pada titik puncak di Bukit Mendeha, tepatnya di tebing Pura Mendeha, Desa Subaya. Saya mengingat kembali, kalau tidak ada halangan, setiap tahun masyarakat Desa Les akan beramai-ramai menaiki bukit untuk sembahyang ke Pura Mendeha. Dan jalur ini juga sebagai penghubung budaya.

Garam dan ikan dari Les akan ditukar dengan pisang, base buah (sirih dan pinang) dari saudara kita di atas. Begitulah, tetua terdahulu menjalain hubungan antara hulu dan hilir, ulu dan teben, segara dan bukit.
Selain itu, selain jalur ekonomi dan budaya, berdasarkan ingatan bapak saya, jalur ini juga sebagai jalur utama untuk ngarit (pengaritan), mencari rumput dan dedaunan untuk hewan peliharaan.
Namun, setelah banyak jalan diaspal, bukit ini hening dan hanya menyisakan memori, kenangan bagi siapa saja yang pernah menjajakinya.
Sepanjang perjalanan saya terus mengingat, mengambil beberapa foto, dan akhirnya saya sampai di wilayah Batu Payung. Di sini, pusat Desa Les sudah terlihat jelas. Begitupun desa tetangga, kanan ada Desa Penuktukan, kiri teronggok Desa Tejakula, dan Bukit Mendeha seakan seperti tenda yang menunggu untuk dimasuki.
***
Jalur ini bagi saya adalah jalur mengingat, merasa, dan memelihara. Beberapa tahun silam saya dan komunitas pemuda melakukan penanaman pohon beringin di puncak dan tebing daerah ini. Ada sedikit yang tumbuh, dan hutan tampak mulai menghijau. Setidaknya itu yang saya lihat dari bawah.

Dari kacamata pariwisata, ini juga menarik. Bagaimana menjalin, bersinergi kembali merawat ingatan dan menjaga kesadaran bahwa untuk menjaga hilir, hulu harus terus di jaga. Setidaknya, itu yang menjadi tujuan jika ada teman, saudara, pelancong yang akan ikut mendaki bukit ini.
Sore tiba dan berawan, membuat matahari terbenam tak begitu jelas terlihat―meski warna merahnya tetap mempesona berbalut abu dan putih.
Pohon-pohon sudah menghijau, pertanda hujan sudah menyambut. Saya bergegas turun biar tidak terlalu telat dan petang. Keringat bercucuran meski saya tak membawa dagangan. Saya bisa merasakan betapa kuatnya orang-orang di masa lalu secara fisik, bisa naik turun bukit ini dengan segala rupa barang dan benda. Menyatu dan berbagi dengan alam adalah kuncinya. Mengambil secukupnya dan juga memberi kembali.
Tetapi semenjak kota hidup serba modern, hutan banyak berganti fungsi menjadi kebun atau ladang. Di tanami pisang, cabai, dan tomat. Ada yang tersenyum ketika panen, ada yang tak mampu tidur nyenyak ketika hujan tiba.[T]
Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto
- BACA artikel lain tentang DESA LES



























