22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
December 5, 2025
in Esai
Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Ilustrasi tatkala.co

Manusia dapat dikatakan sebagai binatang yang berdiri tegak, yang bisa menciptakan budaya, yang bisa dinikmati oleh manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan.

Dalam ajaran Hindu, dikatakan bahwa manusia dilengkapi dianugrahi sabda (suara yang pendapat), bayu (tenaga yang jadi kekuatan) dan idep (pemahaman yang jadi kesadaran).

Pohon dan Binatang

Pohon yang dulu dikatakan tidak bersuara atau tidak bisa berpendapat, dalam perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi yang diciptakan manusia, kini kita bisa mendengar suara, pendapat pohon, melalui mesin maupun gambar.

Binatang yang dulu dikatakan tidak punya idep (pemahaman dan kesadaran ) dengan pengetahuan dan teknologi manusia, kini beberapa diantaranya telah pemiliki pemahaman dan kesadaran, secara naluri maupun karena dilatih, misalnya anjing, kucing, burung beo, lumba-lumba, gajah, macan, kera dan lain-lain.

Naluri, Pemahaman dan Kesadaran

Semua mahluk memiliki naluri untuk hidup, berkembang, aman dan nyaman.

Di musim panas, pohon-pohon yang besar dan tinggi merontokkan daun-daunnya agar air yang diisap akar bisa menghidupi batang dan ranting-ranting. Binatang-binatang akan menjauh saat merasakan gunung akan meletus.
Manusia Modern yang akrab dengan pengetahuan dan tehnologi kini, justru tanpa sadar telah membunuh nalurinya.

HP Membunuh Naluri

Misalnya HP, perangkat tehnologi modern kini sangat dekat (hampir melekat) dengan manusia (dari bayi sampai orang tua), yang sesungguhnya bisa sangat membantu manusia untuk mendapatkan pemahaman tentang sesuatu, sehingga memudahkan untuk mencapai kesadaran, ternyata menjadi pembunuh utama naluri manusia sebagai mahluk hidup.

Percobaan bisa kita lakukan binatang (anjing) dan manusia, saat seekor anjing kita putarkan film, lagu, gambar-gambar yang disukainya, dia akan bertahan beberapa lama, tapi setelah itu ia tetap akan minta makan karena merasa lapar. Berbeda dengan manusia, ia bisa lama memanfaatkan HP tanpa merasa kelaparan, sehingga makin lama-naluri perutnyalah yang akan aktif memberi peringatan sebagai sakit perut.

“

Awidya” Tanpa Pengetahuan

Kelebihan manusia yang mempunyai “idep”, pemahaman dan kesadaran dibandingkan dengan mahluk lain, akan menjatuhkan manusai pada jurang yang sangat dalam jika abai dan terbiasa mengabaikan nalurinya.

Naluri mahluk hidup, selain untuk bertahan hidup adalah juga untuk selalu belajar dari tempat, ruang, waktu, kondisi dan situasi hidupnya.

Manusia bisa belajar dirinya sendiri, lingkungan, manusia, binatang, pohon, alam, buku, media sosial dan lain-lain. Pengetahuan yang didapatkannya tentang sesuatu biasanya mampu membuatnya mengalahkan enam musuh-musuh dalam dirinya (sadtipu) berupa; keinginan hawa nafsu (kama), tamak (lobha), sifat marah (kroda), bingung (moha), iri hati (matsarya) dan mabuk (mada). Keenam musuh itu juga ada pada semua mahluk hidup yang membuatnya mengalami kegelapan/tidak berpengetahuan.

Dari eman musuh dalam diri manusia yang ada saat ini, yang paling hebat dan sangat berpotensi menghancurkan manusia dan kemanusiannya adalah “mada” (mabuk menghindari diri dari kenyataan dengan minuman, irupan, makanan, pekerjaan dan lain-lain). Kalau kondisi mabuk ini bersifat sementara akan tidak terlalu mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengalahkan musuhnya yang lain, tetapi jika sudah menjadi kebiasaan pasti juga akan membuatnya tak mampu mengalahkan musuh-musuh dirinya yang lain. Misalnya seorang peminum, walaupun ia bukan tipe pemarah, tapi saat tertentu, ia bisa jadi pemarah.

Kemabukan yang tak Terdeteksi

Keberadaan HP sebagai salah satu teknologi yang dekat dengan manusia, kini sangat potensian dipakai sebagai sarana untuk ” mabuk” (melarikan diri dari kenyataan) yang tak terdeteksi. Mabuk yang disebabkan oleh HP ini bisa berimplikasi jauh dan luas, karena menyangkut seluruh aspek kehidupan dengan segala kualitas dan kuantitasnya.

Hati-hati dan waspadalah, mabuk HP yang awalnya terbatas pada kegiatan untuk menghindari diri dari kejenuhan kenyataan, jika bersifat laten dan tanpa kontrol tanpa disadari akan menjelma jadi tujuh “kemabukan'” (Sapta Timira) yang diciptakan oleh pikiran yang bebas, tanpa batas dan bersifat non material.

Tujuh Kemabukan

Tujuh Kemabukan yang disebabkan oleh kegelapan, sehingga ” merasa paling” bukan yang sesungguhnya yang diproduksi oleh pikiran bukan karena pengetahuan, pemahaman dan kesadaran ; (1) Surupa atau Rupa, “merasa paling” rupawan, (2) Dhana atau Kekayaan/Harta “merasa paling” Kaya, (3)Guna atau Kecerdasan(Ilmu Pengetahuan) “merasa paling” cerdas, (4) Kulina atau Garis keturunan (Kasta) “merasa paling berkasta tinggi”, (5) Yowana atau Masa Muda (Usia Muda) “merasa masih muda” , (6)Sura atau kemabukan (Lupa daratan/ambisi) “merasa paling hebat”, (7) Kasuran atau Keberanian “merasa paling berani’.

HP Telah Menggerus Naluri Manusia

Perasaan-perasaan ini dengan mudah bisa didapat, disebarkan, dan ditularkan melalui HP, tanpa perlu upaya untuk mencari tahu, mengetahui, memahami kemudian untuk menyadarinya. Untuk pengetahuan yang bersifat umum, mungkin kita bisa menjeneralisirnya, misalnya seorang remaja laki yang akil balik, ditandai dengan suaranya, yang perempuan ditandai dengan menstruasi, tetapi mahluk hidup tidak semudah itu untuk disimpulkan selalu ada pengecualian, spesifikasi, yang bersifat khusus. Ilmu pengetahuan mengajarkan manusia untuk melakukan observasi, peneliti dengan seksama, mencari perbandingan-perbandingan sebelum bisa menyimpulkan sementara.

Kini, HP telah banyak menggerus naluri seseorang manusia untuk belajar mengenali sesuatu dengan indria-indrianya, sehingga dengan mudah menyimpulkan. Maka jangan heran jika kita, banyak anak-anak kita, generasi muda Indonesia yang kehilangan naluri untuk hidup, untuk menjalani kehidupan, jangankan untuk bis menjaga, merawat, dan memelihara orang lain, orang tua, anak, binatang maupun pohon.

HP telah banyak mengambil kemanusiaan kita, menjadi tanpa naluri, yang pada akhirnya akan menjadi tanpa nurani, melampaui naluri keganasan para binatang untuk mempertahan hidup dan menjalankan kehidupan. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: mahluk hidupmanusia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiga Aktor, Satu Bencana

Next Post

Menyusuri Ingatan di Jalur Bukit Mendeha

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menyusuri Ingatan di Jalur Bukit Mendeha

Menyusuri Ingatan di Jalur Bukit Mendeha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co