13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Aktor, Satu Bencana

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, ada kalanya,  sebuah bencana ekologis tidak hanya menguji kesiapan infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kesiapan pemerintah, tapi di sisi lain juga menguji kejujuran pejabat publik dalam berbicara kepada rakyat. Duka nasional dalam banjir besar di Sumatra beberapa hari lalu adalah salah satunya.

Rumah-rumah hanyut, sawah rusak, jalan amblas, dan yang paling memukul adalah kehilangan nyawa saudara-saudara kita di sana. Tapi, di republik ini bencana tidak pernah sekadar urusan alam. Selalu ada urusan sosial politik yang menyusup seperti genangan air banjir rob yang muncul tiba-tiba di titik yang tak kita duga-duga.

Mungkin kita sekalian banyak yang melihat, bahwa di tengah kekacauan ini, muncul tiga aktor yang mewarnai wacana publik. Pertama, anak Menteri Purbaya yang berani menyebut PT Toba Pulp sebagai biang kerusakan; kedua adalah Menteri Zulhas yang benar datang ke lokasi bencana tapi justru dianggap pencitraan;  dan ketiga tampil Cak Imin yang mengajak pemerintah melakukan “taubat nasuha.”

Ada tiga figur, tiga gaya komunikasi, serta tiga resonansi berbeda di hati publik. Di era media sosial yang hiperaktif ini , saya rasa ketiganya menjadi bahan bacaan berbau politik yang tampaknya lebih menarik daripada pernyataan resmi pemerintah yang gayanya seolah ambil dari template saja.

Ketika Penyambung Lidah Rakyat Justru Bukan Pejabat

Mari kita mulai dari tokoh paling tidak terduga yaitu Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Purbaya. Ia muncul, lewat platform yang paling demokratis hari ini yaitu media sosial. Dengan bahasa yang lugas, tanpa basa-basi, ia menembak langsung tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya kerusakan lingkungan di Sumatra akibat industri ekstraktif, khususnya PT Toba Pulp Lestari. Mak jleb!

Kalau ingat film Harry Pottter, Indonesia mirip seperti negeri sihir itu. Sebenarnya, nama TPL sudah lama menjadi semacam Voldemort lokal yang namanya tidak boleh disebut dalam narasi resmi pemerintah. Ada catatan panjang di sini, sebutlah  konflik agraria, deforestasi, perusakan DAS, hingga ketegangan dengan komunitas adat. Tapi pejabat publik biasanya memilih jalan aman dengan menyebut cuaca ekstrem, anomali iklim, dan situasi force majeure.

Maka ketika anak menteri membuka pintu rahasia itu, publik langsung bertepuk tangan. Sebenarnya bukan karena ia ahli lingkungan dan juga bukan karena ia pejabat. Tapi karena ia berani bicara dan bersuara.  Dalam teori Stuart Hall, ini disebut articulation yaitu tindakan menghubungkan keluhan publik dengan suara yang memiliki legitimasi simbolik.

Dan anak dari Menteri Purbaya ini, berhasil menjadi saluran kejujuran yang tidak mampu diberikan oleh pejabat-pejabat lain. Ia memberi apa yang dicari publik, yaitu pengakuan bahwa kerusakan ekologis adalah produk kebijakan, bukan sekadar diakibatkan hujan. Di era ketika kementerian senang  menyalahkan cuaca, suara Yudo ini menjadi semacam  air dingin di tengah panasnya kemarahan warga. Autentik dan tidak defensif karena tidak terjebak dalam jargon birokrasi.  Tidak heran ia mendapat banyak komen positif.

Menteri Zul: Ketika Pencitraan Gagal Menemukan Penontonnya

Berbeda nasib dan cerita jika kita tengok ke Menteri Zul yang datang ke lokasi bencana. Dia  melintasi rumah warga, memakai sepatu bot dan memanggul sekarung beras. Bukannya mendapat apresiasi, ia justru diserbu komentar sinis. Netizen mencatat bahwa gestur, timing, dan narasinya terasa sebagai kosmetik, orang Jawa bilang abang-abang lambe. Di media sosial, publik bahkan menyandingkan foto-foto kunjungannya dengan meme dan komentar pedas tentang event liputan dan kedatangan rombongan pejabat yang hanya buat formalitas.

Masalahnya bukan karena ia datang, karena toh dia hadir di sana, saya yakin publik pasti menghargai upaya semacam itu.  Masalahnya banyak yang merasa yang ia bawa bukan empati, tapi performativitas.  Dalam perspektif Erving Goffman, ada momen yang disebut discrepant performance, yaitu ketika apa yang ditampilkan tidak sinkron dengan realitas. Di hadapan korban banjir, pidato teknokratis terasa seperti membaca buku manual petunjuk penggunaan magic com. Tidak ada resonansi emosional.

Mengapa netizen begitu keras? Karena saat publik ingin penjelasan soal rusaknya lingkungan dan penyebab bencana. Bahkan akhirnya menteri satu ini dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan masa lalunya yang terkait dengan banyaknya pembebasan hutan untuk lahan sawit. Tidak ada pengakuan kesalahan, tidak ada kejujuran soal tata ruang berantakan, tidak ada sentuhan manusiawi. Hanya retorika standar yang dulu mungkin bisa berhasil, tapi kini tentu gagal total di era digital. 

Di media sosial, komunikasi para pejabat diuji dalam hitungan detik. Dan Menteri Zul kita ini mengalami backfire effect yang telak. Ketika pejabat tampil hanya untuk urusan kamera, nah, insting publik segera tahu. Dan publik menolak.

Ketika Bahasa Moral Mengalahkan Bahasa Birokrasi

Lalu datanglah Cak Imin dengan gaya khasnya. Tidak membawa peta, tidak membawa drone survei, tidak membawa data curah hujan, tak ula bawa sarung untuk menylepet.  Ia hanya membawa satu istilah yang sangat Indonesia, taubat nasuha.  Narasi ini langsung menggelitik ruang moral publik. Orang mungkin banyak yang mempertanyakan rekam jejaknya, tapi secara emosional banyak yang diam-diam mengangguk-angguk.

Di sini kita bisa melihat strategi yang cerdas. Cak Imin memasuki ruang kosong yang tidak dimasuki pejabat lain yaitu ruang moralitas kolektif.  Dalam budaya kita di Indonesia, istilah seperti “taubat nasuha” bukan hanya religius tapi itu adalah kode budaya. Sebuah ajakan untuk mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan faktor eksternal, dan kembali ke nilai dasar yaitu menantang kejujuran masing-masing, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang bersih. 

Itu sebabnya publik, bukan pejabat,  lebih menerima pernyataannya ketimbang pidato teknokratis menteri yang lain. Walaupun secara struktural dan personal hal itu dianggap tidak pada tempatnya, namun ia menyentuh keresahan masyarakat yang nyata.  Cak Imin di sini memang tidak menawarkan solusi. Tapi ia menawarkan suatu  penilaian moral. Dan itu, dalam komunikasi publik, adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan pejabat. 

Tiga Aktor Ini Menunjukkan Satu Hal: Negara Kehilangan Monopoli atas Narasi Bencana

Dari tiga aktor ini ada  pesan yang bisa kita petik.  Dulu, ketika bencana terjadi, pemerintah adalah selalu sumber narasi tunggal. Apa yang dikatakan pejabat adalah kebenaran. Media yang kebetulan masih analog mengulang, warga mendengar, dan selesai.  Hari ini, segalanya terbalik. Seorang anak pejabat bisa menjadi whistleblower, menteri bisa jadi bulan-bulanan bahan sindiran dalam hitungan menit, dan politisi bisa memenangkan pubik  hanya dengan satu istilah moral.

Narasi bencana kini adalah arena demokratisasi wacana. Media sosial menjadi  semacam parlemen liar tempat rakyat merasa lebih bebas mengadili, menilai, dan mengkritik.  Dalam konteks banjir Sumatra, tiga aktor ini menunjukkan transformasi besar, bahwa kejujuran lebih dipercaya daripada jabatan, empati lebih penting daripada prosedur, moralitas ternyata lebih efektif daripada jargon birokrasi, dan publik kini lebih cerdas daripada yang dibayangkan para pejabat. Yang paling telak
rakyat sudah tidak percaya bahwa kerusakan lingkungan adalah takdir alam.

Banjir Sumatera sebagai Cermin Bangsa

Bencana ekologis kita bukan hanya urusan debit air, curah hujan, dan kontur tanah. Ia adalah ujian bagi kejujuran pejabat, tafsir publik terhadap kekuasaan, dan seberapa jauh negara berani menatap kegagalannya sendiri. Lepas dari apakah berbasis  versi resmi atau tidak, anak Menteri Purbaya menampar dengan kejujuran, Cak Imin menegur dengan moral, dan publik menilai Menteri Zul dengan cermat. 

Dan negara, lagi-lagi, selalu terlihat gagap dalam membaca situasi. Jika pemerintah memang tidak bisa menguasai narasi, minimal bisa menguasai empati. Jika tidak bisa menguasai empati, maka minimal menguasai data atau mengakui kesalahan. Jika tidak bisa juga, ya, seperti kata Cak Imin, suka tak suka sudah saatnya taubat nasuha.  Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirbanjir sumatera
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Lilin hingga Dimsum: Gebyar Kreativitas Siswa pada Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, Kewirausahaan —Cerita Ujian Blok II SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co