23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Aktor, Satu Bencana

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, ada kalanya,  sebuah bencana ekologis tidak hanya menguji kesiapan infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kesiapan pemerintah, tapi di sisi lain juga menguji kejujuran pejabat publik dalam berbicara kepada rakyat. Duka nasional dalam banjir besar di Sumatra beberapa hari lalu adalah salah satunya.

Rumah-rumah hanyut, sawah rusak, jalan amblas, dan yang paling memukul adalah kehilangan nyawa saudara-saudara kita di sana. Tapi, di republik ini bencana tidak pernah sekadar urusan alam. Selalu ada urusan sosial politik yang menyusup seperti genangan air banjir rob yang muncul tiba-tiba di titik yang tak kita duga-duga.

Mungkin kita sekalian banyak yang melihat, bahwa di tengah kekacauan ini, muncul tiga aktor yang mewarnai wacana publik. Pertama, anak Menteri Purbaya yang berani menyebut PT Toba Pulp sebagai biang kerusakan; kedua adalah Menteri Zulhas yang benar datang ke lokasi bencana tapi justru dianggap pencitraan;  dan ketiga tampil Cak Imin yang mengajak pemerintah melakukan “taubat nasuha.”

Ada tiga figur, tiga gaya komunikasi, serta tiga resonansi berbeda di hati publik. Di era media sosial yang hiperaktif ini , saya rasa ketiganya menjadi bahan bacaan berbau politik yang tampaknya lebih menarik daripada pernyataan resmi pemerintah yang gayanya seolah ambil dari template saja.

Ketika Penyambung Lidah Rakyat Justru Bukan Pejabat

Mari kita mulai dari tokoh paling tidak terduga yaitu Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Purbaya. Ia muncul, lewat platform yang paling demokratis hari ini yaitu media sosial. Dengan bahasa yang lugas, tanpa basa-basi, ia menembak langsung tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya kerusakan lingkungan di Sumatra akibat industri ekstraktif, khususnya PT Toba Pulp Lestari. Mak jleb!

Kalau ingat film Harry Pottter, Indonesia mirip seperti negeri sihir itu. Sebenarnya, nama TPL sudah lama menjadi semacam Voldemort lokal yang namanya tidak boleh disebut dalam narasi resmi pemerintah. Ada catatan panjang di sini, sebutlah  konflik agraria, deforestasi, perusakan DAS, hingga ketegangan dengan komunitas adat. Tapi pejabat publik biasanya memilih jalan aman dengan menyebut cuaca ekstrem, anomali iklim, dan situasi force majeure.

Maka ketika anak menteri membuka pintu rahasia itu, publik langsung bertepuk tangan. Sebenarnya bukan karena ia ahli lingkungan dan juga bukan karena ia pejabat. Tapi karena ia berani bicara dan bersuara.  Dalam teori Stuart Hall, ini disebut articulation yaitu tindakan menghubungkan keluhan publik dengan suara yang memiliki legitimasi simbolik.

Dan anak dari Menteri Purbaya ini, berhasil menjadi saluran kejujuran yang tidak mampu diberikan oleh pejabat-pejabat lain. Ia memberi apa yang dicari publik, yaitu pengakuan bahwa kerusakan ekologis adalah produk kebijakan, bukan sekadar diakibatkan hujan. Di era ketika kementerian senang  menyalahkan cuaca, suara Yudo ini menjadi semacam  air dingin di tengah panasnya kemarahan warga. Autentik dan tidak defensif karena tidak terjebak dalam jargon birokrasi.  Tidak heran ia mendapat banyak komen positif.

Menteri Zul: Ketika Pencitraan Gagal Menemukan Penontonnya

Berbeda nasib dan cerita jika kita tengok ke Menteri Zul yang datang ke lokasi bencana. Dia  melintasi rumah warga, memakai sepatu bot dan memanggul sekarung beras. Bukannya mendapat apresiasi, ia justru diserbu komentar sinis. Netizen mencatat bahwa gestur, timing, dan narasinya terasa sebagai kosmetik, orang Jawa bilang abang-abang lambe. Di media sosial, publik bahkan menyandingkan foto-foto kunjungannya dengan meme dan komentar pedas tentang event liputan dan kedatangan rombongan pejabat yang hanya buat formalitas.

Masalahnya bukan karena ia datang, karena toh dia hadir di sana, saya yakin publik pasti menghargai upaya semacam itu.  Masalahnya banyak yang merasa yang ia bawa bukan empati, tapi performativitas.  Dalam perspektif Erving Goffman, ada momen yang disebut discrepant performance, yaitu ketika apa yang ditampilkan tidak sinkron dengan realitas. Di hadapan korban banjir, pidato teknokratis terasa seperti membaca buku manual petunjuk penggunaan magic com. Tidak ada resonansi emosional.

Mengapa netizen begitu keras? Karena saat publik ingin penjelasan soal rusaknya lingkungan dan penyebab bencana. Bahkan akhirnya menteri satu ini dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan masa lalunya yang terkait dengan banyaknya pembebasan hutan untuk lahan sawit. Tidak ada pengakuan kesalahan, tidak ada kejujuran soal tata ruang berantakan, tidak ada sentuhan manusiawi. Hanya retorika standar yang dulu mungkin bisa berhasil, tapi kini tentu gagal total di era digital. 

Di media sosial, komunikasi para pejabat diuji dalam hitungan detik. Dan Menteri Zul kita ini mengalami backfire effect yang telak. Ketika pejabat tampil hanya untuk urusan kamera, nah, insting publik segera tahu. Dan publik menolak.

Ketika Bahasa Moral Mengalahkan Bahasa Birokrasi

Lalu datanglah Cak Imin dengan gaya khasnya. Tidak membawa peta, tidak membawa drone survei, tidak membawa data curah hujan, tak ula bawa sarung untuk menylepet.  Ia hanya membawa satu istilah yang sangat Indonesia, taubat nasuha.  Narasi ini langsung menggelitik ruang moral publik. Orang mungkin banyak yang mempertanyakan rekam jejaknya, tapi secara emosional banyak yang diam-diam mengangguk-angguk.

Di sini kita bisa melihat strategi yang cerdas. Cak Imin memasuki ruang kosong yang tidak dimasuki pejabat lain yaitu ruang moralitas kolektif.  Dalam budaya kita di Indonesia, istilah seperti “taubat nasuha” bukan hanya religius tapi itu adalah kode budaya. Sebuah ajakan untuk mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan faktor eksternal, dan kembali ke nilai dasar yaitu menantang kejujuran masing-masing, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang bersih. 

Itu sebabnya publik, bukan pejabat,  lebih menerima pernyataannya ketimbang pidato teknokratis menteri yang lain. Walaupun secara struktural dan personal hal itu dianggap tidak pada tempatnya, namun ia menyentuh keresahan masyarakat yang nyata.  Cak Imin di sini memang tidak menawarkan solusi. Tapi ia menawarkan suatu  penilaian moral. Dan itu, dalam komunikasi publik, adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan pejabat. 

Tiga Aktor Ini Menunjukkan Satu Hal: Negara Kehilangan Monopoli atas Narasi Bencana

Dari tiga aktor ini ada  pesan yang bisa kita petik.  Dulu, ketika bencana terjadi, pemerintah adalah selalu sumber narasi tunggal. Apa yang dikatakan pejabat adalah kebenaran. Media yang kebetulan masih analog mengulang, warga mendengar, dan selesai.  Hari ini, segalanya terbalik. Seorang anak pejabat bisa menjadi whistleblower, menteri bisa jadi bulan-bulanan bahan sindiran dalam hitungan menit, dan politisi bisa memenangkan pubik  hanya dengan satu istilah moral.

Narasi bencana kini adalah arena demokratisasi wacana. Media sosial menjadi  semacam parlemen liar tempat rakyat merasa lebih bebas mengadili, menilai, dan mengkritik.  Dalam konteks banjir Sumatra, tiga aktor ini menunjukkan transformasi besar, bahwa kejujuran lebih dipercaya daripada jabatan, empati lebih penting daripada prosedur, moralitas ternyata lebih efektif daripada jargon birokrasi, dan publik kini lebih cerdas daripada yang dibayangkan para pejabat. Yang paling telak
rakyat sudah tidak percaya bahwa kerusakan lingkungan adalah takdir alam.

Banjir Sumatera sebagai Cermin Bangsa

Bencana ekologis kita bukan hanya urusan debit air, curah hujan, dan kontur tanah. Ia adalah ujian bagi kejujuran pejabat, tafsir publik terhadap kekuasaan, dan seberapa jauh negara berani menatap kegagalannya sendiri. Lepas dari apakah berbasis  versi resmi atau tidak, anak Menteri Purbaya menampar dengan kejujuran, Cak Imin menegur dengan moral, dan publik menilai Menteri Zul dengan cermat. 

Dan negara, lagi-lagi, selalu terlihat gagap dalam membaca situasi. Jika pemerintah memang tidak bisa menguasai narasi, minimal bisa menguasai empati. Jika tidak bisa menguasai empati, maka minimal menguasai data atau mengakui kesalahan. Jika tidak bisa juga, ya, seperti kata Cak Imin, suka tak suka sudah saatnya taubat nasuha.  Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirbanjir sumatera
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Lilin hingga Dimsum: Gebyar Kreativitas Siswa pada Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, Kewirausahaan —Cerita Ujian Blok II SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co