2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Aktor, Satu Bencana

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, ada kalanya,  sebuah bencana ekologis tidak hanya menguji kesiapan infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kesiapan pemerintah, tapi di sisi lain juga menguji kejujuran pejabat publik dalam berbicara kepada rakyat. Duka nasional dalam banjir besar di Sumatra beberapa hari lalu adalah salah satunya.

Rumah-rumah hanyut, sawah rusak, jalan amblas, dan yang paling memukul adalah kehilangan nyawa saudara-saudara kita di sana. Tapi, di republik ini bencana tidak pernah sekadar urusan alam. Selalu ada urusan sosial politik yang menyusup seperti genangan air banjir rob yang muncul tiba-tiba di titik yang tak kita duga-duga.

Mungkin kita sekalian banyak yang melihat, bahwa di tengah kekacauan ini, muncul tiga aktor yang mewarnai wacana publik. Pertama, anak Menteri Purbaya yang berani menyebut PT Toba Pulp sebagai biang kerusakan; kedua adalah Menteri Zulhas yang benar datang ke lokasi bencana tapi justru dianggap pencitraan;  dan ketiga tampil Cak Imin yang mengajak pemerintah melakukan “taubat nasuha.”

Ada tiga figur, tiga gaya komunikasi, serta tiga resonansi berbeda di hati publik. Di era media sosial yang hiperaktif ini , saya rasa ketiganya menjadi bahan bacaan berbau politik yang tampaknya lebih menarik daripada pernyataan resmi pemerintah yang gayanya seolah ambil dari template saja.

Ketika Penyambung Lidah Rakyat Justru Bukan Pejabat

Mari kita mulai dari tokoh paling tidak terduga yaitu Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Purbaya. Ia muncul, lewat platform yang paling demokratis hari ini yaitu media sosial. Dengan bahasa yang lugas, tanpa basa-basi, ia menembak langsung tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya kerusakan lingkungan di Sumatra akibat industri ekstraktif, khususnya PT Toba Pulp Lestari. Mak jleb!

Kalau ingat film Harry Pottter, Indonesia mirip seperti negeri sihir itu. Sebenarnya, nama TPL sudah lama menjadi semacam Voldemort lokal yang namanya tidak boleh disebut dalam narasi resmi pemerintah. Ada catatan panjang di sini, sebutlah  konflik agraria, deforestasi, perusakan DAS, hingga ketegangan dengan komunitas adat. Tapi pejabat publik biasanya memilih jalan aman dengan menyebut cuaca ekstrem, anomali iklim, dan situasi force majeure.

Maka ketika anak menteri membuka pintu rahasia itu, publik langsung bertepuk tangan. Sebenarnya bukan karena ia ahli lingkungan dan juga bukan karena ia pejabat. Tapi karena ia berani bicara dan bersuara.  Dalam teori Stuart Hall, ini disebut articulation yaitu tindakan menghubungkan keluhan publik dengan suara yang memiliki legitimasi simbolik.

Dan anak dari Menteri Purbaya ini, berhasil menjadi saluran kejujuran yang tidak mampu diberikan oleh pejabat-pejabat lain. Ia memberi apa yang dicari publik, yaitu pengakuan bahwa kerusakan ekologis adalah produk kebijakan, bukan sekadar diakibatkan hujan. Di era ketika kementerian senang  menyalahkan cuaca, suara Yudo ini menjadi semacam  air dingin di tengah panasnya kemarahan warga. Autentik dan tidak defensif karena tidak terjebak dalam jargon birokrasi.  Tidak heran ia mendapat banyak komen positif.

Menteri Zul: Ketika Pencitraan Gagal Menemukan Penontonnya

Berbeda nasib dan cerita jika kita tengok ke Menteri Zul yang datang ke lokasi bencana. Dia  melintasi rumah warga, memakai sepatu bot dan memanggul sekarung beras. Bukannya mendapat apresiasi, ia justru diserbu komentar sinis. Netizen mencatat bahwa gestur, timing, dan narasinya terasa sebagai kosmetik, orang Jawa bilang abang-abang lambe. Di media sosial, publik bahkan menyandingkan foto-foto kunjungannya dengan meme dan komentar pedas tentang event liputan dan kedatangan rombongan pejabat yang hanya buat formalitas.

Masalahnya bukan karena ia datang, karena toh dia hadir di sana, saya yakin publik pasti menghargai upaya semacam itu.  Masalahnya banyak yang merasa yang ia bawa bukan empati, tapi performativitas.  Dalam perspektif Erving Goffman, ada momen yang disebut discrepant performance, yaitu ketika apa yang ditampilkan tidak sinkron dengan realitas. Di hadapan korban banjir, pidato teknokratis terasa seperti membaca buku manual petunjuk penggunaan magic com. Tidak ada resonansi emosional.

Mengapa netizen begitu keras? Karena saat publik ingin penjelasan soal rusaknya lingkungan dan penyebab bencana. Bahkan akhirnya menteri satu ini dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan masa lalunya yang terkait dengan banyaknya pembebasan hutan untuk lahan sawit. Tidak ada pengakuan kesalahan, tidak ada kejujuran soal tata ruang berantakan, tidak ada sentuhan manusiawi. Hanya retorika standar yang dulu mungkin bisa berhasil, tapi kini tentu gagal total di era digital. 

Di media sosial, komunikasi para pejabat diuji dalam hitungan detik. Dan Menteri Zul kita ini mengalami backfire effect yang telak. Ketika pejabat tampil hanya untuk urusan kamera, nah, insting publik segera tahu. Dan publik menolak.

Ketika Bahasa Moral Mengalahkan Bahasa Birokrasi

Lalu datanglah Cak Imin dengan gaya khasnya. Tidak membawa peta, tidak membawa drone survei, tidak membawa data curah hujan, tak ula bawa sarung untuk menylepet.  Ia hanya membawa satu istilah yang sangat Indonesia, taubat nasuha.  Narasi ini langsung menggelitik ruang moral publik. Orang mungkin banyak yang mempertanyakan rekam jejaknya, tapi secara emosional banyak yang diam-diam mengangguk-angguk.

Di sini kita bisa melihat strategi yang cerdas. Cak Imin memasuki ruang kosong yang tidak dimasuki pejabat lain yaitu ruang moralitas kolektif.  Dalam budaya kita di Indonesia, istilah seperti “taubat nasuha” bukan hanya religius tapi itu adalah kode budaya. Sebuah ajakan untuk mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan faktor eksternal, dan kembali ke nilai dasar yaitu menantang kejujuran masing-masing, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang bersih. 

Itu sebabnya publik, bukan pejabat,  lebih menerima pernyataannya ketimbang pidato teknokratis menteri yang lain. Walaupun secara struktural dan personal hal itu dianggap tidak pada tempatnya, namun ia menyentuh keresahan masyarakat yang nyata.  Cak Imin di sini memang tidak menawarkan solusi. Tapi ia menawarkan suatu  penilaian moral. Dan itu, dalam komunikasi publik, adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan pejabat. 

Tiga Aktor Ini Menunjukkan Satu Hal: Negara Kehilangan Monopoli atas Narasi Bencana

Dari tiga aktor ini ada  pesan yang bisa kita petik.  Dulu, ketika bencana terjadi, pemerintah adalah selalu sumber narasi tunggal. Apa yang dikatakan pejabat adalah kebenaran. Media yang kebetulan masih analog mengulang, warga mendengar, dan selesai.  Hari ini, segalanya terbalik. Seorang anak pejabat bisa menjadi whistleblower, menteri bisa jadi bulan-bulanan bahan sindiran dalam hitungan menit, dan politisi bisa memenangkan pubik  hanya dengan satu istilah moral.

Narasi bencana kini adalah arena demokratisasi wacana. Media sosial menjadi  semacam parlemen liar tempat rakyat merasa lebih bebas mengadili, menilai, dan mengkritik.  Dalam konteks banjir Sumatra, tiga aktor ini menunjukkan transformasi besar, bahwa kejujuran lebih dipercaya daripada jabatan, empati lebih penting daripada prosedur, moralitas ternyata lebih efektif daripada jargon birokrasi, dan publik kini lebih cerdas daripada yang dibayangkan para pejabat. Yang paling telak
rakyat sudah tidak percaya bahwa kerusakan lingkungan adalah takdir alam.

Banjir Sumatera sebagai Cermin Bangsa

Bencana ekologis kita bukan hanya urusan debit air, curah hujan, dan kontur tanah. Ia adalah ujian bagi kejujuran pejabat, tafsir publik terhadap kekuasaan, dan seberapa jauh negara berani menatap kegagalannya sendiri. Lepas dari apakah berbasis  versi resmi atau tidak, anak Menteri Purbaya menampar dengan kejujuran, Cak Imin menegur dengan moral, dan publik menilai Menteri Zul dengan cermat. 

Dan negara, lagi-lagi, selalu terlihat gagap dalam membaca situasi. Jika pemerintah memang tidak bisa menguasai narasi, minimal bisa menguasai empati. Jika tidak bisa menguasai empati, maka minimal menguasai data atau mengakui kesalahan. Jika tidak bisa juga, ya, seperti kata Cak Imin, suka tak suka sudah saatnya taubat nasuha.  Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirbanjir sumatera
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Lilin hingga Dimsum: Gebyar Kreativitas Siswa pada Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, Kewirausahaan —Cerita Ujian Blok II SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails
Next Post
Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co