23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tiga Aktor, Satu Bencana

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 5, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SAUDARA, ada kalanya,  sebuah bencana ekologis tidak hanya menguji kesiapan infrastruktur, sistem peringatan dini, dan kesiapan pemerintah, tapi di sisi lain juga menguji kejujuran pejabat publik dalam berbicara kepada rakyat. Duka nasional dalam banjir besar di Sumatra beberapa hari lalu adalah salah satunya.

Rumah-rumah hanyut, sawah rusak, jalan amblas, dan yang paling memukul adalah kehilangan nyawa saudara-saudara kita di sana. Tapi, di republik ini bencana tidak pernah sekadar urusan alam. Selalu ada urusan sosial politik yang menyusup seperti genangan air banjir rob yang muncul tiba-tiba di titik yang tak kita duga-duga.

Mungkin kita sekalian banyak yang melihat, bahwa di tengah kekacauan ini, muncul tiga aktor yang mewarnai wacana publik. Pertama, anak Menteri Purbaya yang berani menyebut PT Toba Pulp sebagai biang kerusakan; kedua adalah Menteri Zulhas yang benar datang ke lokasi bencana tapi justru dianggap pencitraan;  dan ketiga tampil Cak Imin yang mengajak pemerintah melakukan “taubat nasuha.”

Ada tiga figur, tiga gaya komunikasi, serta tiga resonansi berbeda di hati publik. Di era media sosial yang hiperaktif ini , saya rasa ketiganya menjadi bahan bacaan berbau politik yang tampaknya lebih menarik daripada pernyataan resmi pemerintah yang gayanya seolah ambil dari template saja.

Ketika Penyambung Lidah Rakyat Justru Bukan Pejabat

Mari kita mulai dari tokoh paling tidak terduga yaitu Yudo Achilles Sadewa, anak Menteri Purbaya. Ia muncul, lewat platform yang paling demokratis hari ini yaitu media sosial. Dengan bahasa yang lugas, tanpa basa-basi, ia menembak langsung tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya kerusakan lingkungan di Sumatra akibat industri ekstraktif, khususnya PT Toba Pulp Lestari. Mak jleb!

Kalau ingat film Harry Pottter, Indonesia mirip seperti negeri sihir itu. Sebenarnya, nama TPL sudah lama menjadi semacam Voldemort lokal yang namanya tidak boleh disebut dalam narasi resmi pemerintah. Ada catatan panjang di sini, sebutlah  konflik agraria, deforestasi, perusakan DAS, hingga ketegangan dengan komunitas adat. Tapi pejabat publik biasanya memilih jalan aman dengan menyebut cuaca ekstrem, anomali iklim, dan situasi force majeure.

Maka ketika anak menteri membuka pintu rahasia itu, publik langsung bertepuk tangan. Sebenarnya bukan karena ia ahli lingkungan dan juga bukan karena ia pejabat. Tapi karena ia berani bicara dan bersuara.  Dalam teori Stuart Hall, ini disebut articulation yaitu tindakan menghubungkan keluhan publik dengan suara yang memiliki legitimasi simbolik.

Dan anak dari Menteri Purbaya ini, berhasil menjadi saluran kejujuran yang tidak mampu diberikan oleh pejabat-pejabat lain. Ia memberi apa yang dicari publik, yaitu pengakuan bahwa kerusakan ekologis adalah produk kebijakan, bukan sekadar diakibatkan hujan. Di era ketika kementerian senang  menyalahkan cuaca, suara Yudo ini menjadi semacam  air dingin di tengah panasnya kemarahan warga. Autentik dan tidak defensif karena tidak terjebak dalam jargon birokrasi.  Tidak heran ia mendapat banyak komen positif.

Menteri Zul: Ketika Pencitraan Gagal Menemukan Penontonnya

Berbeda nasib dan cerita jika kita tengok ke Menteri Zul yang datang ke lokasi bencana. Dia  melintasi rumah warga, memakai sepatu bot dan memanggul sekarung beras. Bukannya mendapat apresiasi, ia justru diserbu komentar sinis. Netizen mencatat bahwa gestur, timing, dan narasinya terasa sebagai kosmetik, orang Jawa bilang abang-abang lambe. Di media sosial, publik bahkan menyandingkan foto-foto kunjungannya dengan meme dan komentar pedas tentang event liputan dan kedatangan rombongan pejabat yang hanya buat formalitas.

Masalahnya bukan karena ia datang, karena toh dia hadir di sana, saya yakin publik pasti menghargai upaya semacam itu.  Masalahnya banyak yang merasa yang ia bawa bukan empati, tapi performativitas.  Dalam perspektif Erving Goffman, ada momen yang disebut discrepant performance, yaitu ketika apa yang ditampilkan tidak sinkron dengan realitas. Di hadapan korban banjir, pidato teknokratis terasa seperti membaca buku manual petunjuk penggunaan magic com. Tidak ada resonansi emosional.

Mengapa netizen begitu keras? Karena saat publik ingin penjelasan soal rusaknya lingkungan dan penyebab bencana. Bahkan akhirnya menteri satu ini dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan masa lalunya yang terkait dengan banyaknya pembebasan hutan untuk lahan sawit. Tidak ada pengakuan kesalahan, tidak ada kejujuran soal tata ruang berantakan, tidak ada sentuhan manusiawi. Hanya retorika standar yang dulu mungkin bisa berhasil, tapi kini tentu gagal total di era digital. 

Di media sosial, komunikasi para pejabat diuji dalam hitungan detik. Dan Menteri Zul kita ini mengalami backfire effect yang telak. Ketika pejabat tampil hanya untuk urusan kamera, nah, insting publik segera tahu. Dan publik menolak.

Ketika Bahasa Moral Mengalahkan Bahasa Birokrasi

Lalu datanglah Cak Imin dengan gaya khasnya. Tidak membawa peta, tidak membawa drone survei, tidak membawa data curah hujan, tak ula bawa sarung untuk menylepet.  Ia hanya membawa satu istilah yang sangat Indonesia, taubat nasuha.  Narasi ini langsung menggelitik ruang moral publik. Orang mungkin banyak yang mempertanyakan rekam jejaknya, tapi secara emosional banyak yang diam-diam mengangguk-angguk.

Di sini kita bisa melihat strategi yang cerdas. Cak Imin memasuki ruang kosong yang tidak dimasuki pejabat lain yaitu ruang moralitas kolektif.  Dalam budaya kita di Indonesia, istilah seperti “taubat nasuha” bukan hanya religius tapi itu adalah kode budaya. Sebuah ajakan untuk mengakui kesalahan, berhenti menyalahkan faktor eksternal, dan kembali ke nilai dasar yaitu menantang kejujuran masing-masing, tanggung jawab, dan kepemimpinan yang bersih. 

Itu sebabnya publik, bukan pejabat,  lebih menerima pernyataannya ketimbang pidato teknokratis menteri yang lain. Walaupun secara struktural dan personal hal itu dianggap tidak pada tempatnya, namun ia menyentuh keresahan masyarakat yang nyata.  Cak Imin di sini memang tidak menawarkan solusi. Tapi ia menawarkan suatu  penilaian moral. Dan itu, dalam komunikasi publik, adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan pejabat. 

Tiga Aktor Ini Menunjukkan Satu Hal: Negara Kehilangan Monopoli atas Narasi Bencana

Dari tiga aktor ini ada  pesan yang bisa kita petik.  Dulu, ketika bencana terjadi, pemerintah adalah selalu sumber narasi tunggal. Apa yang dikatakan pejabat adalah kebenaran. Media yang kebetulan masih analog mengulang, warga mendengar, dan selesai.  Hari ini, segalanya terbalik. Seorang anak pejabat bisa menjadi whistleblower, menteri bisa jadi bulan-bulanan bahan sindiran dalam hitungan menit, dan politisi bisa memenangkan pubik  hanya dengan satu istilah moral.

Narasi bencana kini adalah arena demokratisasi wacana. Media sosial menjadi  semacam parlemen liar tempat rakyat merasa lebih bebas mengadili, menilai, dan mengkritik.  Dalam konteks banjir Sumatra, tiga aktor ini menunjukkan transformasi besar, bahwa kejujuran lebih dipercaya daripada jabatan, empati lebih penting daripada prosedur, moralitas ternyata lebih efektif daripada jargon birokrasi, dan publik kini lebih cerdas daripada yang dibayangkan para pejabat. Yang paling telak
rakyat sudah tidak percaya bahwa kerusakan lingkungan adalah takdir alam.

Banjir Sumatera sebagai Cermin Bangsa

Bencana ekologis kita bukan hanya urusan debit air, curah hujan, dan kontur tanah. Ia adalah ujian bagi kejujuran pejabat, tafsir publik terhadap kekuasaan, dan seberapa jauh negara berani menatap kegagalannya sendiri. Lepas dari apakah berbasis  versi resmi atau tidak, anak Menteri Purbaya menampar dengan kejujuran, Cak Imin menegur dengan moral, dan publik menilai Menteri Zul dengan cermat. 

Dan negara, lagi-lagi, selalu terlihat gagap dalam membaca situasi. Jika pemerintah memang tidak bisa menguasai narasi, minimal bisa menguasai empati. Jika tidak bisa menguasai empati, maka minimal menguasai data atau mengakui kesalahan. Jika tidak bisa juga, ya, seperti kata Cak Imin, suka tak suka sudah saatnya taubat nasuha.  Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: banjirbanjir sumatera
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Lilin hingga Dimsum: Gebyar Kreativitas Siswa pada Mata Pelajaran Kreativitas, Inovasi, Kewirausahaan —Cerita Ujian Blok II SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

Next Post

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Naluri, Nurani, Manusia dan Mahluk Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co