23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 30, 2025
in Khas
Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara  sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampur tipis dengan wangi dupa di depan rumah warga. Tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah kegiatan penting sedang berlangsung, kecuali beberapa motor yang terparkir agak rapat di depan sebuah rumah di Jalan Pertulaka Timur No. 15.

Ruangan di dalam rumah itu sederhana. Dinding putih, kursi plastik membentuk lingkaran, cahaya matahari masuk dari jendela timur, dan udara pagi membawa keteduhan. Tidak ada spanduk, tidak ada papan nama, tidak ada peralatan khusus. Tetapi suasana itu terasa seperti sebuah undangan untuk duduk dan bernapas lebih tenang.

Di rumah kecil itulah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali kembali menggelar Peer Support, setelah sekian lama aktivitas komunitas berjalan dalam ritme yang pelan. Kehadiran kembali ruang ini bukan hanya tentang melanjutkan program, tetapi tentang membangun ulang tempat aman bagi orang-orang yang sedang merawat luka mentalnya.

KPSI Simpul Bali sendiri tidak muncul begitu saja. Komunitas ini tumbuh dari gerakan nasional yang lahir pada tahun 2009, pada masa ketika percakapan tentang skizofrenia masih lebih banyak berlangsung sebagai bisik-bisik dan rasa takut. Di sebuah grup Facebook, keluarga, penyintas, dan caregiver mulai saling berbagi cerita. Dari ruang maya itu, terbentuk simpul-simpul KPSI di berbagai daerah, termasuk Bali.

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di Bali, gerakan ini kemudian berkolaborasi dengan komunitas seni dan Dinas Sosial Kota Denpasar hingga lahirlah Rumah Berdaya, sebuah tempat yang mempertemukan kreativitas, pemulihan, kehangatan sosial, dan kesempatan bagi penyintas untuk berdaya.

Pada 31 Agustus 2024, KPSI Simpul Bali meresmikan sekretariat kecilnya di rumah yang pagi itu dipakai untuk Peer Support. Tempat yang tidak glamor, tetapi penting bagi puluhan orang yang tengah belajar menata hidup pelan-pelan.

Ketua KPSI Simpul Bali, Yohannes Herdiyanto, duduk di tengah lingkaran. Tatapannya lembut, seolah ia sudah cukup lama mendengar cerita manusia yang patah dan sedang mencoba menyambungkan dirinya kembali. Dengan nada pelan, ia membuka kegiatan.

“Hari ini kita melakukan Peer Support sebagai bagian dari upaya untuk memahami kembali kebutuhan para penyintas. Kami ingin tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan dan kami mulai dengan assessment sederhana. Setelah itu tema-tema yang muncul akan kami bahas dalam pertemuan rutin,” ujarnya membuka pertemuan.

Peserta yang hadir sekitar belasan orang. Mereka duduk dengan berbagai ekspresi. Cemas, lega, hati-hati, tetapi juga ingin didengar. Dalam lingkaran itu, seseorang berkata bahwa keluarganya sering salah paham ketika ia sedang mengalami gejala. Yang lain mengatakan ia berhenti minum obat ketika merasa sehat, lalu kambuh dua bulan kemudian. Ada pula yang merasa jenuh menghadapi rutinitas pengobatan yang tak kunjung selesai.

Yohannes mendengarkan dengan sabar. Ia tahu bahwa hal yang tampak sederhana, seperti minum obat setiap hari, kadang justru menjadi tantangan paling besar bagi seseorang yang sedang berjuang mengendalikan pikirannya.

“Orang dengan gangguan jiwa memang harus minum obat, tetapi obat saja tidak selalu cukup. Ada hari ketika seseorang malas minum obat, bosan, takut efek samping, atau kehilangan motivasi. Dalam kondisi seperti itu dukungan sebaya menjadi sangat penting. Sesama penyintas bisa saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menjaga,” kata dosen Psikologi Universitas Udayana ini.

Ia menambahkan bahwa Peer Support tidak berhenti di pertemuan itu saja. “Peer Support akan rutin digelar sebulan sekali untuk penyintas dan sebulan sekali untuk keluarga. Keluarga juga harus belajar. Banyak hal yang tampak sederhana ternyata tidak sederhana bagi penyintas. Dan banyak hal yang tampak rumit ternyata bisa dipahami jika keluarga mau membuka pintu sedikit lebih lebar.”

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di antara peserta, seorang laki-laki bernama Bagus Subagia duduk dengan raut wajah yang tenang. Pada tatapannya terdapat jejak perjalanan panjang dengan skizofrenia yang tidak semua orang mampu membayangkan. Ketika dirinya dipersilakan berbicara, ia menarik napas pelan.

“Kalau dihitung dari 2009 saya sudah enam belas tahun hidup dengan skizofrenia. Itu waktu yang panjang. Ada hari-hari ketika saya tidak percaya pada diri sendiri. Ada hari ketika suara-suara muncul tanpa bisa saya kendalikan. Ada malam ketika saya tidak tahu harus berpegang pada apa,” ucapnya.

Cerita itu mengalir tanpa perlu ditinggikan emosinya. Bagus bercerita tentang masa-masa ketika ia sering menutup diri, tidak makan, atau mengunci kamar karena pikirannya sendiri terasa seperti ancaman. Ia bercerita tentang masa-masa berat itu seperti seseorang yang akhirnya mampu melihat luka lamanya dengan jarak yang cukup aman.

Sejak 2018, ketika ia masuk KPSI Simpul Bali, semuanya mulai berubah. Ia perlahan menemukan ritme baru untuk menjalani hidup.

Dalam pertemuan itu, ia membuka tas kecilnya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning yang sampulnya sudah agak lusuh. Dengan senyum kecil ia mengangkat buku itu.

“Ini buku yang saya baca sekarang, Pak. Saya baca ulang. Ini membantu sekali menjaga saya tetap kuat,” tukasnya.

Buku itu adalah Filosofi Teras. Ia mengenang kembali bagaimana ia mendapatkannya. “Waktu itu dr Yudi menyarankan saya membaca Filosofi Teras. Awalnya saya tidak terlalu menanggapi. Tetapi ketika saya membaca dengan sungguh-sungguh, saya mulai memahami bagaimana stres bekerja, bagaimana depresi muncul, bagaimana kecemasan tumbuh, dan bagaimana saya bisa merespons semuanya dengan lebih tenang,” tambah dia.

Dari buku itu ia belajar mengurai pikirannya sendiri. Ia belajar mengukur jarak antara perasaan dan kenyataan. Ia belajar berhenti sebelum pikiran buruknya berlari tak terkendali.

Tidak hanya itu, komunitas memberi ia arah ketika hari-harinya berat.

“Komunitas sangat membantu saya mencari teman yang bisa menguatkan. Komunitas membuat saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika hari terasa berat. Komunitas mengajari saya bahwa pemulihan tidak pernah cepat. Tidak bisa tiba-tiba sembuh. Semuanya harus dilalui pelan-pelan. Tetapi kalau ada teman, semuanya terasa lebih ringan,” katanya.

Ia kemudian menyebut keluarganya. Ada nada syukur dalam suaranya. “Mereka menerima saya tanpa syarat. Itu penting sekali, karena tidak semua penyintas punya dukungan seperti itu.”

Kalimat penutupnya membuat suasana ruangan berubah lebih hening. “Yang penting kita jalan terus. Pelan pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Yang penting tetap jalan,” sebutnya.

Yohannes lalu memberi gambaran lebih luas tentang kondisi penyintas di Bali. “Di Denpasar ada sekitar delapan ribu orang yang mengakses layanan kesehatan jiwa. Dan di puskesmas tempat kegiatan berlangsung terdapat seratus dua puluh penyintas. Angka itu yang tertinggi di Denpasar. Angka yang besar. Angka yang membuat obat saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan pemulihan,” paparnya.

Di akhir acara, satu per satu peserta bangkit. Ada yang menepuk bahu peserta lain. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang berdiri cukup lama di teras sebelum beranjak pulang, seperti ingin menyimpan sedikit kehangatan dari percakapan yang terjadi pagi itu.

Di rumah kecil itu, komunitas menjadi obat kedua. Obat yang tidak dibeli dari apotek mana pun. Obat yang tidak bekerja di tubuh, tetapi di hati. Obat yang hadir lewat percakapan, tatapan, tepukan bahu, dan keberanian untuk duduk bersama dalam satu lingkaran.

Pemulihan memang tidak perlu cepat. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu selalu kuat.

Yang penting, seperti kata Bagus, adalah tetap berjalan.

“Pelan-pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Karena manusia, serapuh apa pun, selalu bisa menemukan jalannya kembali,” tutupnya, dengan nada filosofis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkomunitasKomunitas Peduli Skizofrenia Indonesiaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Semua Semakin Cepat, Rilisan Fisik Kembali Jadi Pilihan?

Next Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya ---Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co