14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 30, 2025
in Khas
Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara  sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampur tipis dengan wangi dupa di depan rumah warga. Tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah kegiatan penting sedang berlangsung, kecuali beberapa motor yang terparkir agak rapat di depan sebuah rumah di Jalan Pertulaka Timur No. 15.

Ruangan di dalam rumah itu sederhana. Dinding putih, kursi plastik membentuk lingkaran, cahaya matahari masuk dari jendela timur, dan udara pagi membawa keteduhan. Tidak ada spanduk, tidak ada papan nama, tidak ada peralatan khusus. Tetapi suasana itu terasa seperti sebuah undangan untuk duduk dan bernapas lebih tenang.

Di rumah kecil itulah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali kembali menggelar Peer Support, setelah sekian lama aktivitas komunitas berjalan dalam ritme yang pelan. Kehadiran kembali ruang ini bukan hanya tentang melanjutkan program, tetapi tentang membangun ulang tempat aman bagi orang-orang yang sedang merawat luka mentalnya.

KPSI Simpul Bali sendiri tidak muncul begitu saja. Komunitas ini tumbuh dari gerakan nasional yang lahir pada tahun 2009, pada masa ketika percakapan tentang skizofrenia masih lebih banyak berlangsung sebagai bisik-bisik dan rasa takut. Di sebuah grup Facebook, keluarga, penyintas, dan caregiver mulai saling berbagi cerita. Dari ruang maya itu, terbentuk simpul-simpul KPSI di berbagai daerah, termasuk Bali.

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di Bali, gerakan ini kemudian berkolaborasi dengan komunitas seni dan Dinas Sosial Kota Denpasar hingga lahirlah Rumah Berdaya, sebuah tempat yang mempertemukan kreativitas, pemulihan, kehangatan sosial, dan kesempatan bagi penyintas untuk berdaya.

Pada 31 Agustus 2024, KPSI Simpul Bali meresmikan sekretariat kecilnya di rumah yang pagi itu dipakai untuk Peer Support. Tempat yang tidak glamor, tetapi penting bagi puluhan orang yang tengah belajar menata hidup pelan-pelan.

Ketua KPSI Simpul Bali, Yohannes Herdiyanto, duduk di tengah lingkaran. Tatapannya lembut, seolah ia sudah cukup lama mendengar cerita manusia yang patah dan sedang mencoba menyambungkan dirinya kembali. Dengan nada pelan, ia membuka kegiatan.

“Hari ini kita melakukan Peer Support sebagai bagian dari upaya untuk memahami kembali kebutuhan para penyintas. Kami ingin tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan dan kami mulai dengan assessment sederhana. Setelah itu tema-tema yang muncul akan kami bahas dalam pertemuan rutin,” ujarnya membuka pertemuan.

Peserta yang hadir sekitar belasan orang. Mereka duduk dengan berbagai ekspresi. Cemas, lega, hati-hati, tetapi juga ingin didengar. Dalam lingkaran itu, seseorang berkata bahwa keluarganya sering salah paham ketika ia sedang mengalami gejala. Yang lain mengatakan ia berhenti minum obat ketika merasa sehat, lalu kambuh dua bulan kemudian. Ada pula yang merasa jenuh menghadapi rutinitas pengobatan yang tak kunjung selesai.

Yohannes mendengarkan dengan sabar. Ia tahu bahwa hal yang tampak sederhana, seperti minum obat setiap hari, kadang justru menjadi tantangan paling besar bagi seseorang yang sedang berjuang mengendalikan pikirannya.

“Orang dengan gangguan jiwa memang harus minum obat, tetapi obat saja tidak selalu cukup. Ada hari ketika seseorang malas minum obat, bosan, takut efek samping, atau kehilangan motivasi. Dalam kondisi seperti itu dukungan sebaya menjadi sangat penting. Sesama penyintas bisa saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menjaga,” kata dosen Psikologi Universitas Udayana ini.

Ia menambahkan bahwa Peer Support tidak berhenti di pertemuan itu saja. “Peer Support akan rutin digelar sebulan sekali untuk penyintas dan sebulan sekali untuk keluarga. Keluarga juga harus belajar. Banyak hal yang tampak sederhana ternyata tidak sederhana bagi penyintas. Dan banyak hal yang tampak rumit ternyata bisa dipahami jika keluarga mau membuka pintu sedikit lebih lebar.”

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di antara peserta, seorang laki-laki bernama Bagus Subagia duduk dengan raut wajah yang tenang. Pada tatapannya terdapat jejak perjalanan panjang dengan skizofrenia yang tidak semua orang mampu membayangkan. Ketika dirinya dipersilakan berbicara, ia menarik napas pelan.

“Kalau dihitung dari 2009 saya sudah enam belas tahun hidup dengan skizofrenia. Itu waktu yang panjang. Ada hari-hari ketika saya tidak percaya pada diri sendiri. Ada hari ketika suara-suara muncul tanpa bisa saya kendalikan. Ada malam ketika saya tidak tahu harus berpegang pada apa,” ucapnya.

Cerita itu mengalir tanpa perlu ditinggikan emosinya. Bagus bercerita tentang masa-masa ketika ia sering menutup diri, tidak makan, atau mengunci kamar karena pikirannya sendiri terasa seperti ancaman. Ia bercerita tentang masa-masa berat itu seperti seseorang yang akhirnya mampu melihat luka lamanya dengan jarak yang cukup aman.

Sejak 2018, ketika ia masuk KPSI Simpul Bali, semuanya mulai berubah. Ia perlahan menemukan ritme baru untuk menjalani hidup.

Dalam pertemuan itu, ia membuka tas kecilnya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning yang sampulnya sudah agak lusuh. Dengan senyum kecil ia mengangkat buku itu.

“Ini buku yang saya baca sekarang, Pak. Saya baca ulang. Ini membantu sekali menjaga saya tetap kuat,” tukasnya.

Buku itu adalah Filosofi Teras. Ia mengenang kembali bagaimana ia mendapatkannya. “Waktu itu dr Yudi menyarankan saya membaca Filosofi Teras. Awalnya saya tidak terlalu menanggapi. Tetapi ketika saya membaca dengan sungguh-sungguh, saya mulai memahami bagaimana stres bekerja, bagaimana depresi muncul, bagaimana kecemasan tumbuh, dan bagaimana saya bisa merespons semuanya dengan lebih tenang,” tambah dia.

Dari buku itu ia belajar mengurai pikirannya sendiri. Ia belajar mengukur jarak antara perasaan dan kenyataan. Ia belajar berhenti sebelum pikiran buruknya berlari tak terkendali.

Tidak hanya itu, komunitas memberi ia arah ketika hari-harinya berat.

“Komunitas sangat membantu saya mencari teman yang bisa menguatkan. Komunitas membuat saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika hari terasa berat. Komunitas mengajari saya bahwa pemulihan tidak pernah cepat. Tidak bisa tiba-tiba sembuh. Semuanya harus dilalui pelan-pelan. Tetapi kalau ada teman, semuanya terasa lebih ringan,” katanya.

Ia kemudian menyebut keluarganya. Ada nada syukur dalam suaranya. “Mereka menerima saya tanpa syarat. Itu penting sekali, karena tidak semua penyintas punya dukungan seperti itu.”

Kalimat penutupnya membuat suasana ruangan berubah lebih hening. “Yang penting kita jalan terus. Pelan pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Yang penting tetap jalan,” sebutnya.

Yohannes lalu memberi gambaran lebih luas tentang kondisi penyintas di Bali. “Di Denpasar ada sekitar delapan ribu orang yang mengakses layanan kesehatan jiwa. Dan di puskesmas tempat kegiatan berlangsung terdapat seratus dua puluh penyintas. Angka itu yang tertinggi di Denpasar. Angka yang besar. Angka yang membuat obat saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan pemulihan,” paparnya.

Di akhir acara, satu per satu peserta bangkit. Ada yang menepuk bahu peserta lain. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang berdiri cukup lama di teras sebelum beranjak pulang, seperti ingin menyimpan sedikit kehangatan dari percakapan yang terjadi pagi itu.

Di rumah kecil itu, komunitas menjadi obat kedua. Obat yang tidak dibeli dari apotek mana pun. Obat yang tidak bekerja di tubuh, tetapi di hati. Obat yang hadir lewat percakapan, tatapan, tepukan bahu, dan keberanian untuk duduk bersama dalam satu lingkaran.

Pemulihan memang tidak perlu cepat. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu selalu kuat.

Yang penting, seperti kata Bagus, adalah tetap berjalan.

“Pelan-pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Karena manusia, serapuh apa pun, selalu bisa menemukan jalannya kembali,” tutupnya, dengan nada filosofis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkomunitasKomunitas Peduli Skizofrenia Indonesiaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Semua Semakin Cepat, Rilisan Fisik Kembali Jadi Pilihan?

Next Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya ---Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co