14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 30, 2025
in Khas
Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara  sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampur tipis dengan wangi dupa di depan rumah warga. Tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah kegiatan penting sedang berlangsung, kecuali beberapa motor yang terparkir agak rapat di depan sebuah rumah di Jalan Pertulaka Timur No. 15.

Ruangan di dalam rumah itu sederhana. Dinding putih, kursi plastik membentuk lingkaran, cahaya matahari masuk dari jendela timur, dan udara pagi membawa keteduhan. Tidak ada spanduk, tidak ada papan nama, tidak ada peralatan khusus. Tetapi suasana itu terasa seperti sebuah undangan untuk duduk dan bernapas lebih tenang.

Di rumah kecil itulah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali kembali menggelar Peer Support, setelah sekian lama aktivitas komunitas berjalan dalam ritme yang pelan. Kehadiran kembali ruang ini bukan hanya tentang melanjutkan program, tetapi tentang membangun ulang tempat aman bagi orang-orang yang sedang merawat luka mentalnya.

KPSI Simpul Bali sendiri tidak muncul begitu saja. Komunitas ini tumbuh dari gerakan nasional yang lahir pada tahun 2009, pada masa ketika percakapan tentang skizofrenia masih lebih banyak berlangsung sebagai bisik-bisik dan rasa takut. Di sebuah grup Facebook, keluarga, penyintas, dan caregiver mulai saling berbagi cerita. Dari ruang maya itu, terbentuk simpul-simpul KPSI di berbagai daerah, termasuk Bali.

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di Bali, gerakan ini kemudian berkolaborasi dengan komunitas seni dan Dinas Sosial Kota Denpasar hingga lahirlah Rumah Berdaya, sebuah tempat yang mempertemukan kreativitas, pemulihan, kehangatan sosial, dan kesempatan bagi penyintas untuk berdaya.

Pada 31 Agustus 2024, KPSI Simpul Bali meresmikan sekretariat kecilnya di rumah yang pagi itu dipakai untuk Peer Support. Tempat yang tidak glamor, tetapi penting bagi puluhan orang yang tengah belajar menata hidup pelan-pelan.

Ketua KPSI Simpul Bali, Yohannes Herdiyanto, duduk di tengah lingkaran. Tatapannya lembut, seolah ia sudah cukup lama mendengar cerita manusia yang patah dan sedang mencoba menyambungkan dirinya kembali. Dengan nada pelan, ia membuka kegiatan.

“Hari ini kita melakukan Peer Support sebagai bagian dari upaya untuk memahami kembali kebutuhan para penyintas. Kami ingin tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan dan kami mulai dengan assessment sederhana. Setelah itu tema-tema yang muncul akan kami bahas dalam pertemuan rutin,” ujarnya membuka pertemuan.

Peserta yang hadir sekitar belasan orang. Mereka duduk dengan berbagai ekspresi. Cemas, lega, hati-hati, tetapi juga ingin didengar. Dalam lingkaran itu, seseorang berkata bahwa keluarganya sering salah paham ketika ia sedang mengalami gejala. Yang lain mengatakan ia berhenti minum obat ketika merasa sehat, lalu kambuh dua bulan kemudian. Ada pula yang merasa jenuh menghadapi rutinitas pengobatan yang tak kunjung selesai.

Yohannes mendengarkan dengan sabar. Ia tahu bahwa hal yang tampak sederhana, seperti minum obat setiap hari, kadang justru menjadi tantangan paling besar bagi seseorang yang sedang berjuang mengendalikan pikirannya.

“Orang dengan gangguan jiwa memang harus minum obat, tetapi obat saja tidak selalu cukup. Ada hari ketika seseorang malas minum obat, bosan, takut efek samping, atau kehilangan motivasi. Dalam kondisi seperti itu dukungan sebaya menjadi sangat penting. Sesama penyintas bisa saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menjaga,” kata dosen Psikologi Universitas Udayana ini.

Ia menambahkan bahwa Peer Support tidak berhenti di pertemuan itu saja. “Peer Support akan rutin digelar sebulan sekali untuk penyintas dan sebulan sekali untuk keluarga. Keluarga juga harus belajar. Banyak hal yang tampak sederhana ternyata tidak sederhana bagi penyintas. Dan banyak hal yang tampak rumit ternyata bisa dipahami jika keluarga mau membuka pintu sedikit lebih lebar.”

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di antara peserta, seorang laki-laki bernama Bagus Subagia duduk dengan raut wajah yang tenang. Pada tatapannya terdapat jejak perjalanan panjang dengan skizofrenia yang tidak semua orang mampu membayangkan. Ketika dirinya dipersilakan berbicara, ia menarik napas pelan.

“Kalau dihitung dari 2009 saya sudah enam belas tahun hidup dengan skizofrenia. Itu waktu yang panjang. Ada hari-hari ketika saya tidak percaya pada diri sendiri. Ada hari ketika suara-suara muncul tanpa bisa saya kendalikan. Ada malam ketika saya tidak tahu harus berpegang pada apa,” ucapnya.

Cerita itu mengalir tanpa perlu ditinggikan emosinya. Bagus bercerita tentang masa-masa ketika ia sering menutup diri, tidak makan, atau mengunci kamar karena pikirannya sendiri terasa seperti ancaman. Ia bercerita tentang masa-masa berat itu seperti seseorang yang akhirnya mampu melihat luka lamanya dengan jarak yang cukup aman.

Sejak 2018, ketika ia masuk KPSI Simpul Bali, semuanya mulai berubah. Ia perlahan menemukan ritme baru untuk menjalani hidup.

Dalam pertemuan itu, ia membuka tas kecilnya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning yang sampulnya sudah agak lusuh. Dengan senyum kecil ia mengangkat buku itu.

“Ini buku yang saya baca sekarang, Pak. Saya baca ulang. Ini membantu sekali menjaga saya tetap kuat,” tukasnya.

Buku itu adalah Filosofi Teras. Ia mengenang kembali bagaimana ia mendapatkannya. “Waktu itu dr Yudi menyarankan saya membaca Filosofi Teras. Awalnya saya tidak terlalu menanggapi. Tetapi ketika saya membaca dengan sungguh-sungguh, saya mulai memahami bagaimana stres bekerja, bagaimana depresi muncul, bagaimana kecemasan tumbuh, dan bagaimana saya bisa merespons semuanya dengan lebih tenang,” tambah dia.

Dari buku itu ia belajar mengurai pikirannya sendiri. Ia belajar mengukur jarak antara perasaan dan kenyataan. Ia belajar berhenti sebelum pikiran buruknya berlari tak terkendali.

Tidak hanya itu, komunitas memberi ia arah ketika hari-harinya berat.

“Komunitas sangat membantu saya mencari teman yang bisa menguatkan. Komunitas membuat saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika hari terasa berat. Komunitas mengajari saya bahwa pemulihan tidak pernah cepat. Tidak bisa tiba-tiba sembuh. Semuanya harus dilalui pelan-pelan. Tetapi kalau ada teman, semuanya terasa lebih ringan,” katanya.

Ia kemudian menyebut keluarganya. Ada nada syukur dalam suaranya. “Mereka menerima saya tanpa syarat. Itu penting sekali, karena tidak semua penyintas punya dukungan seperti itu.”

Kalimat penutupnya membuat suasana ruangan berubah lebih hening. “Yang penting kita jalan terus. Pelan pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Yang penting tetap jalan,” sebutnya.

Yohannes lalu memberi gambaran lebih luas tentang kondisi penyintas di Bali. “Di Denpasar ada sekitar delapan ribu orang yang mengakses layanan kesehatan jiwa. Dan di puskesmas tempat kegiatan berlangsung terdapat seratus dua puluh penyintas. Angka itu yang tertinggi di Denpasar. Angka yang besar. Angka yang membuat obat saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan pemulihan,” paparnya.

Di akhir acara, satu per satu peserta bangkit. Ada yang menepuk bahu peserta lain. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang berdiri cukup lama di teras sebelum beranjak pulang, seperti ingin menyimpan sedikit kehangatan dari percakapan yang terjadi pagi itu.

Di rumah kecil itu, komunitas menjadi obat kedua. Obat yang tidak dibeli dari apotek mana pun. Obat yang tidak bekerja di tubuh, tetapi di hati. Obat yang hadir lewat percakapan, tatapan, tepukan bahu, dan keberanian untuk duduk bersama dalam satu lingkaran.

Pemulihan memang tidak perlu cepat. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu selalu kuat.

Yang penting, seperti kata Bagus, adalah tetap berjalan.

“Pelan-pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Karena manusia, serapuh apa pun, selalu bisa menemukan jalannya kembali,” tutupnya, dengan nada filosofis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkomunitasKomunitas Peduli Skizofrenia Indonesiaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Semua Semakin Cepat, Rilisan Fisik Kembali Jadi Pilihan?

Next Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya ---Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co