3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 30, 2025
in Khas
Ketika Komunitas Menjadi Obat Kedua

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Minggu pagi di penghujung November 2025. Cuaca di Denpasar Utara  sangat cerah. Jalan kecil di Peguyangan Kangin masih basah oleh embun, aroma bunga dari canang pagi bercampur tipis dengan wangi dupa di depan rumah warga. Tidak ada tanda-tanda bahwa sebuah kegiatan penting sedang berlangsung, kecuali beberapa motor yang terparkir agak rapat di depan sebuah rumah di Jalan Pertulaka Timur No. 15.

Ruangan di dalam rumah itu sederhana. Dinding putih, kursi plastik membentuk lingkaran, cahaya matahari masuk dari jendela timur, dan udara pagi membawa keteduhan. Tidak ada spanduk, tidak ada papan nama, tidak ada peralatan khusus. Tetapi suasana itu terasa seperti sebuah undangan untuk duduk dan bernapas lebih tenang.

Di rumah kecil itulah Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali kembali menggelar Peer Support, setelah sekian lama aktivitas komunitas berjalan dalam ritme yang pelan. Kehadiran kembali ruang ini bukan hanya tentang melanjutkan program, tetapi tentang membangun ulang tempat aman bagi orang-orang yang sedang merawat luka mentalnya.

KPSI Simpul Bali sendiri tidak muncul begitu saja. Komunitas ini tumbuh dari gerakan nasional yang lahir pada tahun 2009, pada masa ketika percakapan tentang skizofrenia masih lebih banyak berlangsung sebagai bisik-bisik dan rasa takut. Di sebuah grup Facebook, keluarga, penyintas, dan caregiver mulai saling berbagi cerita. Dari ruang maya itu, terbentuk simpul-simpul KPSI di berbagai daerah, termasuk Bali.

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di Bali, gerakan ini kemudian berkolaborasi dengan komunitas seni dan Dinas Sosial Kota Denpasar hingga lahirlah Rumah Berdaya, sebuah tempat yang mempertemukan kreativitas, pemulihan, kehangatan sosial, dan kesempatan bagi penyintas untuk berdaya.

Pada 31 Agustus 2024, KPSI Simpul Bali meresmikan sekretariat kecilnya di rumah yang pagi itu dipakai untuk Peer Support. Tempat yang tidak glamor, tetapi penting bagi puluhan orang yang tengah belajar menata hidup pelan-pelan.

Ketua KPSI Simpul Bali, Yohannes Herdiyanto, duduk di tengah lingkaran. Tatapannya lembut, seolah ia sudah cukup lama mendengar cerita manusia yang patah dan sedang mencoba menyambungkan dirinya kembali. Dengan nada pelan, ia membuka kegiatan.

“Hari ini kita melakukan Peer Support sebagai bagian dari upaya untuk memahami kembali kebutuhan para penyintas. Kami ingin tahu apa yang benar-benar mereka butuhkan dan kami mulai dengan assessment sederhana. Setelah itu tema-tema yang muncul akan kami bahas dalam pertemuan rutin,” ujarnya membuka pertemuan.

Peserta yang hadir sekitar belasan orang. Mereka duduk dengan berbagai ekspresi. Cemas, lega, hati-hati, tetapi juga ingin didengar. Dalam lingkaran itu, seseorang berkata bahwa keluarganya sering salah paham ketika ia sedang mengalami gejala. Yang lain mengatakan ia berhenti minum obat ketika merasa sehat, lalu kambuh dua bulan kemudian. Ada pula yang merasa jenuh menghadapi rutinitas pengobatan yang tak kunjung selesai.

Yohannes mendengarkan dengan sabar. Ia tahu bahwa hal yang tampak sederhana, seperti minum obat setiap hari, kadang justru menjadi tantangan paling besar bagi seseorang yang sedang berjuang mengendalikan pikirannya.

“Orang dengan gangguan jiwa memang harus minum obat, tetapi obat saja tidak selalu cukup. Ada hari ketika seseorang malas minum obat, bosan, takut efek samping, atau kehilangan motivasi. Dalam kondisi seperti itu dukungan sebaya menjadi sangat penting. Sesama penyintas bisa saling mengingatkan, saling menguatkan, dan saling menjaga,” kata dosen Psikologi Universitas Udayana ini.

Ia menambahkan bahwa Peer Support tidak berhenti di pertemuan itu saja. “Peer Support akan rutin digelar sebulan sekali untuk penyintas dan sebulan sekali untuk keluarga. Keluarga juga harus belajar. Banyak hal yang tampak sederhana ternyata tidak sederhana bagi penyintas. Dan banyak hal yang tampak rumit ternyata bisa dipahami jika keluarga mau membuka pintu sedikit lebih lebar.”

Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali | Foto: Angga Wijaya

Di antara peserta, seorang laki-laki bernama Bagus Subagia duduk dengan raut wajah yang tenang. Pada tatapannya terdapat jejak perjalanan panjang dengan skizofrenia yang tidak semua orang mampu membayangkan. Ketika dirinya dipersilakan berbicara, ia menarik napas pelan.

“Kalau dihitung dari 2009 saya sudah enam belas tahun hidup dengan skizofrenia. Itu waktu yang panjang. Ada hari-hari ketika saya tidak percaya pada diri sendiri. Ada hari ketika suara-suara muncul tanpa bisa saya kendalikan. Ada malam ketika saya tidak tahu harus berpegang pada apa,” ucapnya.

Cerita itu mengalir tanpa perlu ditinggikan emosinya. Bagus bercerita tentang masa-masa ketika ia sering menutup diri, tidak makan, atau mengunci kamar karena pikirannya sendiri terasa seperti ancaman. Ia bercerita tentang masa-masa berat itu seperti seseorang yang akhirnya mampu melihat luka lamanya dengan jarak yang cukup aman.

Sejak 2018, ketika ia masuk KPSI Simpul Bali, semuanya mulai berubah. Ia perlahan menemukan ritme baru untuk menjalani hidup.

Dalam pertemuan itu, ia membuka tas kecilnya. Dari dalam ia mengeluarkan sebuah buku berwarna kuning yang sampulnya sudah agak lusuh. Dengan senyum kecil ia mengangkat buku itu.

“Ini buku yang saya baca sekarang, Pak. Saya baca ulang. Ini membantu sekali menjaga saya tetap kuat,” tukasnya.

Buku itu adalah Filosofi Teras. Ia mengenang kembali bagaimana ia mendapatkannya. “Waktu itu dr Yudi menyarankan saya membaca Filosofi Teras. Awalnya saya tidak terlalu menanggapi. Tetapi ketika saya membaca dengan sungguh-sungguh, saya mulai memahami bagaimana stres bekerja, bagaimana depresi muncul, bagaimana kecemasan tumbuh, dan bagaimana saya bisa merespons semuanya dengan lebih tenang,” tambah dia.

Dari buku itu ia belajar mengurai pikirannya sendiri. Ia belajar mengukur jarak antara perasaan dan kenyataan. Ia belajar berhenti sebelum pikiran buruknya berlari tak terkendali.

Tidak hanya itu, komunitas memberi ia arah ketika hari-harinya berat.

“Komunitas sangat membantu saya mencari teman yang bisa menguatkan. Komunitas membuat saya tahu apa yang harus saya lakukan ketika hari terasa berat. Komunitas mengajari saya bahwa pemulihan tidak pernah cepat. Tidak bisa tiba-tiba sembuh. Semuanya harus dilalui pelan-pelan. Tetapi kalau ada teman, semuanya terasa lebih ringan,” katanya.

Ia kemudian menyebut keluarganya. Ada nada syukur dalam suaranya. “Mereka menerima saya tanpa syarat. Itu penting sekali, karena tidak semua penyintas punya dukungan seperti itu.”

Kalimat penutupnya membuat suasana ruangan berubah lebih hening. “Yang penting kita jalan terus. Pelan pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Yang penting tetap jalan,” sebutnya.

Yohannes lalu memberi gambaran lebih luas tentang kondisi penyintas di Bali. “Di Denpasar ada sekitar delapan ribu orang yang mengakses layanan kesehatan jiwa. Dan di puskesmas tempat kegiatan berlangsung terdapat seratus dua puluh penyintas. Angka itu yang tertinggi di Denpasar. Angka yang besar. Angka yang membuat obat saja tidak cukup untuk menjawab kebutuhan pemulihan,” paparnya.

Di akhir acara, satu per satu peserta bangkit. Ada yang menepuk bahu peserta lain. Ada yang tersenyum kecil. Ada yang berdiri cukup lama di teras sebelum beranjak pulang, seperti ingin menyimpan sedikit kehangatan dari percakapan yang terjadi pagi itu.

Di rumah kecil itu, komunitas menjadi obat kedua. Obat yang tidak dibeli dari apotek mana pun. Obat yang tidak bekerja di tubuh, tetapi di hati. Obat yang hadir lewat percakapan, tatapan, tepukan bahu, dan keberanian untuk duduk bersama dalam satu lingkaran.

Pemulihan memang tidak perlu cepat. Tidak perlu sempurna. Tidak perlu selalu kuat.

Yang penting, seperti kata Bagus, adalah tetap berjalan.

“Pelan-pelan. Tidak apa apa pelan pelan. Karena manusia, serapuh apa pun, selalu bisa menemukan jalannya kembali,” tutupnya, dengan nada filosofis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarkomunitasKomunitas Peduli Skizofrenia Indonesiaskizofrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Semua Semakin Cepat, Rilisan Fisik Kembali Jadi Pilihan?

Next Post

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya —Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Ketika Sang Nahkoda Telah Meninggalkan Kapalnya ---Selamat Purna Tugas, Pak Boy

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co