HARI itu, Balai Wantilan Pura Dalem Desa Adat Guwang terasa berbeda dari biasanya. Pada Minggu, 9 November 2025, sejak pukul 16.00 WITA, pemuda-pemudi dari tujuh banjar sudah berkumpul, membawa perlengkapan, bahan-bahan, dan semangat yang sama, yakni mengikuti lomba ngelawar antar sekaa teruna teruni (STT) se-Desa Guwang. Lomba yang diinisiasi oleh Karang Taruna Yowana Ayu Werdhi Desa Guwang ini mengangkat tema “SINARENGAN”, yang bermakna pentingnya kebersamaan dalam sebuah proses.
Begitu lomba dimulai, masing-masing tim langsung bergerak. Ada yang mulai menyiapkan bumbu, memotong bahan, hingga mengatur peralatan. Suara pisau dan talenan beradu, aroma rempah yang perlahan menguar, hingga percakapan kecil antaranggota tim membuat suasana menjadi hidup. Beberapa peserta tampak bekerja dengan pola yang sudah terbiasa mereka lakukan di rumah atau banjar, sementara yang lain mencoba bereksperimen dengan ciri khas masing-masing. Namun semuanya tetap menunjukkan kekompakan.

Lawar tentu tidak asing bagi warga Guwang. Hidangan ini sangat lekat dalam berbagai upacara, perayaan, hingga santapan sehari-hari. Tak sedikit yang menyebut Sukawati ─ termasuk Guwang ─ sebagai “bumi lawar”, terlebih dengan keberadaan lawar plek yang sangat khas. Karena itu, peserta tidak merasa benar-benar kesulitan saat mengikuti lomba. Sebagian besar dari mereka sudah pernah terlibat membuat lawar, baik saat membantu orang tua atau melihat prosesnya ketika ada upacara. Pengalaman itu tentu membuat mereka lebih percaya diri mengikuti lomba.
Penilaian lomba dipercayakan kepada Edo Saputra dari Warung Pan Dodol. Ia mengamati setiap proses dengan teliti, mulai dari teknik pengolahan, kebersihan, kreativitas, bumbu, hingga rasa akhir yang disajikan. Selain itu, Edo juga memperhatikan kekompakan setiap tim sebagai unsur penting dalam penilaian.

Bagi para peserta, lomba ini bukan hanya tentang menghasilkan lawar yang enak. Tak sedikit dari mereka mengaku baru kali ini menyelesaikan proses ngelawar dari awal sampai akhir secara penuh. Karena itu, secara tidak langsung, kompetisi ini juga menjadi ruang belajar untuk memahami bahan, meracik bumbu, serta menjaga ritme kerja dalam tim. Lawar, dengan segala kesederhanaannya, ternyata mampu menjadi jembatan bagi para peserta untuk mengenal tradisi lebih dalam.
Menjelang waktu berakhir, suasana semakin sibuk. Setiap tim mulai menata lawar sebaik mungkin. Ada yang memberi sentuhan sederhana agar tampilan lebih menarik, ada pula yang fokus memastikan cita rasa benar-benar pas sebelum disajikan kepada juri. Ketika akhirnya seluruh tim selesai, aroma lawar memenuhi wantilan, menandai selesainya proses panjang yang mereka jalani bersama.
Ketua Karang Taruna, I Komang Bisma Erlangga, menyampaikan bahwa lomba ini dirancang untuk menyambut Hari Pahlawan, serta menghidupkan kembali semangat kebersamaan melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Lomba ini bukan hanya soal membuat lawar, tetapi juga membangun kekompakan serta memperkuat rasa memiliki terhadap tradisi dan budaya,” ujarnya. Dengan cara seperti ini, menurutnya, tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diteruskan oleh generasi muda.

Setelah proses penilaian selesai, juri pun mengumumkan para pemenang. Banjar Danginjalan keluar sebagai Juara I berkat rasa dan kerapian olahan mereka. Di posisi berikutnya Banjar Manikan meraih Juara II, disusul Banjar Buluh sebagai Juara III. Sementara itu, Banjar Sakih mendapatkan predikat Juara Favorit.
Kendati ada pemenang, tidak ada yang benar-benar pulang dengan hampa. Setiap tim membawa pulang pengalaman, keterampilan, dan rasa kebersamaan yang terbangun melalui proses yang dijalani bersama. Hari itu, Wantilan Pura Dalem Guwang bukan hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga ruang merawat tradisi. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























