2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingkah Pendidikan Tinggi bagi Wanita?

Isran Kamal by Isran Kamal
November 15, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di banyak keluarga Indonesia, pendidikan tinggi untuk perempuan masih sering dianggap “opsional.” Ada yang berkata, “yang penting bisa jadi ibu yang baik,” seolah-olah kemampuan mengasuh akan tumbuh otomatis tanpa bekal intelektual apa pun. Padahal, dalam psikologi perkembangan modern, kapasitas seorang ibu untuk mendidik dan menumbuhkan potensi anak sangat ditentukan oleh wawasan, literasi, dan kedalaman refleksi yang ia miliki dan hal tersebut terbentuk melalui pendidikan.

Fenomena ini semakin menarik ketika muncul narasi populer bahwa kecerdasan anak diwariskan terutama dari ibu. Narasi ini kemudian dijadikan alasan bahwa perempuan “harus pintar dulu sebelum punya anak.” Namun, secara ilmiah gagasan ini tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak mengubah gen, tetapi pendidikan mengubah cara seorang ibu berpikir, berinteraksi, memproses stres, dan menciptakan lingkungan rumah. Dan justru lingkungan inilah yang memiliki dampak terbesar pada perkembangan otak anak di tahun-tahun awal kehidupan.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan “perempuan juga berhak berkarier.” Pembicaraan ini perlu bergerak ke ranah yang lebih fundamental, yaitu bahwa kualitas pendidikan seorang ibu menentukan kualitas stimulasi kognitif, emosional, dan sosial yang diterima anak yang pada akhirnya memengaruhi kecerdasan dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perempuan bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan; ini adalah investasi lintas generasi dalam kualitas manusia. Dan untuk memahami mengapa hal ini begitu krusial, kita perlu terlebih dahulu meluruskan kesalahpahaman tentang warisan genetika kecerdasan, sebelum melihat bagaimana pendidikan ibu benar-benar memengaruhi perkembangan anak.

Mitos vs Fakta: “IQ Diwarisi dari Ibu?”

Narasi bahwa kecerdasan “sepenuhnya diturunkan dari ibu” sering muncul dari salah tafsir terhadap penelitian tentang gen yang berada pada kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, mitos ini berkembang menjadi kesimpulan sederhana, “Berarti kecerdasan anak terutama berasal dari ibu.” Sayangnya, realitas genetika jauh lebih kompleks daripada itu.

Pertama, meskipun beberapa gen terkait fungsi kognitif memang berada di kromosom X, kecerdasan adalah sifat poligenik yang dipengaruhi ratusan hingga ribuan gen yang tersebar di berbagai bagian genom, bukan di satu kromosom saja. Studi kembar dan studi GWAS (genome-wide association studies) menunjukkan bahwa pewarisan intelegensi berasal dari kedua orang tua secara proporsional, bukan hanya ibu.

Kedua, memiliki gen tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi cerdas. Gen bekerja dalam konteks lingkungan, sebuah prinsip dalam psikologi genetika yang disebut gene–environment interaction. Artinya anak bisa memiliki predisposisi kecerdasan tinggi, tetapi tanpa lingkungan kognitif yang kaya (stimulasi, dukungan emosional, kesempatan belajar), potensi itu tidak akan muncul.

Ketiga, pendidikan ibu tidak mengubah gen, tetapi mengubah cara gen anak diekspresikan melalui epigenetik. Perilaku sehari-hari ibu misalnya pola komunikasi, respons terhadap stres, kebiasaan membaca, atau gaya pengasuhan mampu menguatkan atau melemahkan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan memori, bahasa, dan kontrol diri.

Dengan kata lain, mitos bahwa kecerdasan “hanya berasal dari ibu” boleh dinikmati sebagai obrolan warung kopi, tapi tidak bisa dijadikan pijakan ilmiah. Yang benar adalah anak mewarisi gen kecerdasan dari kedua orang tuanya, tapi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan kapasitas pengasuhan ibu.

Dan di sinilah letak urgensinya, bukan apakah sang ibu “pintar secara genetis,” melainkan apakah sang ibu memiliki kompetensi kognitif, emosional, dan sosial yang memadai untuk membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya kecerdasan anak. Untuk memahami mekanisme itu, kita perlu melihat mengapa pendidikan tinggi memiliki efek jangka panjang terhadap kualitas pengasuhan.

Mengapa Pendidikan Tinggi Perempuan Berdampak Besar pada Kualitas Perkembangan Anak?

Pendidikan tinggi pada perempuan memberikan efek berlapis yang secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas perkembangan anak, baik pada aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki literasi kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih mampu memahami kebutuhan gizi, imunisasi, pola tidur, dan stimulasi perkembangan anak. Pengetahuan ini penting karena fase awal kehidupan merupakan periode kritis bagi perkembangan saraf, dan keputusan-keputusan sederhana seperti pola makan atau akses layanan kesehatan yang dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kemampuan kognitif jangka panjang.

Kemudian perempuan yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki keterampilan kognitif dan linguistik yang lebih matang, sehingga mampu menyediakan lingkungan rumah yang lebih kaya stimulasi. Komunikasi yang lebih kompleks, interaksi yang lebih responsif, serta iklim emosional yang lebih stabil. Faktor-faktor ini telah berulang kali dikaitkan dengan peningkatan kemampuan bahasa, kontrol emosi, serta kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Selain itu pendidikan tinggi berperan sebagai penyangga psikososial. Perempuan dengan pendidikan tinggi yang memadai cenderung memiliki efikasi diri yang lebih besar dalam mengasuh anak, mampu mengambil keputusan secara lebih otonom, dan lebih mampu mengelola stres. Penyesuaian psikologis ibu yang baik terbukti menjadi salah satu prediktor utama stabilitas emosional anak, terutama selama masa perkembangan awal.

Tidak hanya itu, perempuan dengan pendidikan tinggi biasanya memiliki peluang ekonomi lebih baik dan akses pada jaringan sosial maupun profesional yang lebih luas. Kondisi ini berkontribusi pada keamanan ekonomi rumah tangga, yang merupakan salah satu fondasi perkembangan anak yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya membuka akses pada sumber daya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mengurangi stres keluarga yang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, efek-efek positif pendidikan tinggi perempuan terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan bukan sekadar persoalan tradisi atau naluri, tetapi sangat terkait dengan kapasitas kognitif, emosional, dan sosial yang dimiliki ibu. Namun, untuk memahami pengaruh tersebut pada tingkat yang lebih mendalam, kita perlu melihat bagaimana perilaku pengasuhan sehari-hari secara langsung membentuk otak anak. Di sinilah perspektif neuropsikologi memainkan peran penting dalam menjelaskan mekanisme biologis yang menghubungkan perilaku ibu dengan perkembangan neural anak.

Neuropsikologi: Bagaimana Perilaku Ibu Mempengaruhi Otak Anak

Dari sudut pandang neuropsikologi, perilaku ibu selama masa perkembangan awal anak memiliki dampak yang mendalam terhadap struktur dan fungsi otak. Interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten antara ibu dan anak diketahui mendorong perkembangan optimal pada sistem limbik, terutama pada area seperti amigdala dan hipokampus yang berperan dalam regulasi emosi, memori, dan respons stres.

Pengasuhan yang sensitif membantu membentuk pola konektivitas neural yang stabil, yang kemudian mendukung kemampuan anak untuk mengendalikan emosi, membangun rasa aman, dan mengembangkan kapasitas kognitif. Selain itu, pengalaman sosial awal yang positif seperti sentuhan lembut, komunikasi verbal yang kaya, dan respons cepat terhadap kebutuhan anak akan mengaktifkan sistem reward dopaminergik dan sistem oksitosin.

Aktivasi ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional ibu-anak tetapi juga mempercepat perkembangan jalur prefrontal, termasuk medial prefrontal cortex, yang terkait dengan fungsi eksekutif, empati, dan kemampuan mengambil perspektif. Pengasuhan responsif juga mengurangi aktivasi berlebihan pada sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal axis), sehingga menurunkan risiko perkembangan pola stres kronis yang berdampak negatif pada pembelajaran dan kesehatan mental jangka panjang.

Sebaliknya, perilaku pengasuhan yang kurang responsif, tidak konsisten, atau penuh tekanan dapat menghasilkan dampak neuropsikologis yang signifikan. Stres berulang yang dialami anak, terutama pada tahun-tahun awal, berpotensi meningkatkan produksi kortisol pada tingkat yang tidak adaptif. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan dendrit pada hipokampus dan menghambat plastisitas sinaptik, yang berpengaruh pada kemampuan memori dan regulasi emosi.

Faktor-faktor seperti konflik keluarga, depresi ibu, atau kurangnya stimulasi juga dapat menghambat perkembangan konektivitas prefrontal, yang secara jangka panjang terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, impulsivitas, dan kesulitan akademik. Otak anak tumbuh melalui proses interaksi antara gen dan lingkungan, dan perilaku ibu merupakan salah satu lingkungan paling signifikan di tahap awal kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman neuropsikologi memperlihatkan bagaimana kualitas pengasuhan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan kondisi sosial ibu secara langsung membentuk fondasi biologis yang menentukan arah perkembangan anak di tahun-tahun berikutnya.

Mendidik Perempuan = Mendidik Generasi

Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar pencapaian individu, tetapi investasi strategis yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Dari perspektif psikologis dan neurokognitif, perempuan yang berpendidikan memiliki kapasitas lebih kuat dalam menyediakan lingkungan pengasuhan yang aman, terstimulasi, dan responsif, tiga pilar yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak pada masa-masa paling kritis dalam hidupnya. Dengan kata lain, efek pendidikan perempuan tidak berhenti pada peningkatan mobilitas sosial atau kemandirian ekonomi, tetapi meluas hingga membentuk fondasi biologis dan psikologis anak sejak usia dini.

Di level sosial, perempuan yang terdidik cenderung lebih mampu menyaring informasi, memahami isu perkembangan anak, serta mengambil keputusan pengasuhan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar norma turun-temurun.

Mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi emosional, serta metode stimulasi kognitif yang sesuai tahap perkembangan. Kombinasi antara literasi ilmiah dan stabilitas psikologis ini menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memperkuat resiliensi anak dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi perempuan adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk meningkatkan kualitas populasi secara jangka panjang. Ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan yang baik, dia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri tetapi secara langsung mempengaruhi kualitas perkembangan anak, struktur otak mereka, kapasitas belajar, dan kemampuan adaptasi mereka di masa depan. Maka ungkapan “mendidik perempuan berarti mendidik generasi” bukanlah slogan moral, melainkan kesimpulan empiris yang didukung berbagai bidang ilmu, mulai dari psikologi perkembangan hingga neurobiologi.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerempuanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Next Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co