24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingkah Pendidikan Tinggi bagi Wanita?

Isran Kamal by Isran Kamal
November 15, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di banyak keluarga Indonesia, pendidikan tinggi untuk perempuan masih sering dianggap “opsional.” Ada yang berkata, “yang penting bisa jadi ibu yang baik,” seolah-olah kemampuan mengasuh akan tumbuh otomatis tanpa bekal intelektual apa pun. Padahal, dalam psikologi perkembangan modern, kapasitas seorang ibu untuk mendidik dan menumbuhkan potensi anak sangat ditentukan oleh wawasan, literasi, dan kedalaman refleksi yang ia miliki dan hal tersebut terbentuk melalui pendidikan.

Fenomena ini semakin menarik ketika muncul narasi populer bahwa kecerdasan anak diwariskan terutama dari ibu. Narasi ini kemudian dijadikan alasan bahwa perempuan “harus pintar dulu sebelum punya anak.” Namun, secara ilmiah gagasan ini tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak mengubah gen, tetapi pendidikan mengubah cara seorang ibu berpikir, berinteraksi, memproses stres, dan menciptakan lingkungan rumah. Dan justru lingkungan inilah yang memiliki dampak terbesar pada perkembangan otak anak di tahun-tahun awal kehidupan.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan “perempuan juga berhak berkarier.” Pembicaraan ini perlu bergerak ke ranah yang lebih fundamental, yaitu bahwa kualitas pendidikan seorang ibu menentukan kualitas stimulasi kognitif, emosional, dan sosial yang diterima anak yang pada akhirnya memengaruhi kecerdasan dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perempuan bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan; ini adalah investasi lintas generasi dalam kualitas manusia. Dan untuk memahami mengapa hal ini begitu krusial, kita perlu terlebih dahulu meluruskan kesalahpahaman tentang warisan genetika kecerdasan, sebelum melihat bagaimana pendidikan ibu benar-benar memengaruhi perkembangan anak.

Mitos vs Fakta: “IQ Diwarisi dari Ibu?”

Narasi bahwa kecerdasan “sepenuhnya diturunkan dari ibu” sering muncul dari salah tafsir terhadap penelitian tentang gen yang berada pada kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, mitos ini berkembang menjadi kesimpulan sederhana, “Berarti kecerdasan anak terutama berasal dari ibu.” Sayangnya, realitas genetika jauh lebih kompleks daripada itu.

Pertama, meskipun beberapa gen terkait fungsi kognitif memang berada di kromosom X, kecerdasan adalah sifat poligenik yang dipengaruhi ratusan hingga ribuan gen yang tersebar di berbagai bagian genom, bukan di satu kromosom saja. Studi kembar dan studi GWAS (genome-wide association studies) menunjukkan bahwa pewarisan intelegensi berasal dari kedua orang tua secara proporsional, bukan hanya ibu.

Kedua, memiliki gen tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi cerdas. Gen bekerja dalam konteks lingkungan, sebuah prinsip dalam psikologi genetika yang disebut gene–environment interaction. Artinya anak bisa memiliki predisposisi kecerdasan tinggi, tetapi tanpa lingkungan kognitif yang kaya (stimulasi, dukungan emosional, kesempatan belajar), potensi itu tidak akan muncul.

Ketiga, pendidikan ibu tidak mengubah gen, tetapi mengubah cara gen anak diekspresikan melalui epigenetik. Perilaku sehari-hari ibu misalnya pola komunikasi, respons terhadap stres, kebiasaan membaca, atau gaya pengasuhan mampu menguatkan atau melemahkan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan memori, bahasa, dan kontrol diri.

Dengan kata lain, mitos bahwa kecerdasan “hanya berasal dari ibu” boleh dinikmati sebagai obrolan warung kopi, tapi tidak bisa dijadikan pijakan ilmiah. Yang benar adalah anak mewarisi gen kecerdasan dari kedua orang tuanya, tapi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan kapasitas pengasuhan ibu.

Dan di sinilah letak urgensinya, bukan apakah sang ibu “pintar secara genetis,” melainkan apakah sang ibu memiliki kompetensi kognitif, emosional, dan sosial yang memadai untuk membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya kecerdasan anak. Untuk memahami mekanisme itu, kita perlu melihat mengapa pendidikan tinggi memiliki efek jangka panjang terhadap kualitas pengasuhan.

Mengapa Pendidikan Tinggi Perempuan Berdampak Besar pada Kualitas Perkembangan Anak?

Pendidikan tinggi pada perempuan memberikan efek berlapis yang secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas perkembangan anak, baik pada aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki literasi kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih mampu memahami kebutuhan gizi, imunisasi, pola tidur, dan stimulasi perkembangan anak. Pengetahuan ini penting karena fase awal kehidupan merupakan periode kritis bagi perkembangan saraf, dan keputusan-keputusan sederhana seperti pola makan atau akses layanan kesehatan yang dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kemampuan kognitif jangka panjang.

Kemudian perempuan yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki keterampilan kognitif dan linguistik yang lebih matang, sehingga mampu menyediakan lingkungan rumah yang lebih kaya stimulasi. Komunikasi yang lebih kompleks, interaksi yang lebih responsif, serta iklim emosional yang lebih stabil. Faktor-faktor ini telah berulang kali dikaitkan dengan peningkatan kemampuan bahasa, kontrol emosi, serta kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Selain itu pendidikan tinggi berperan sebagai penyangga psikososial. Perempuan dengan pendidikan tinggi yang memadai cenderung memiliki efikasi diri yang lebih besar dalam mengasuh anak, mampu mengambil keputusan secara lebih otonom, dan lebih mampu mengelola stres. Penyesuaian psikologis ibu yang baik terbukti menjadi salah satu prediktor utama stabilitas emosional anak, terutama selama masa perkembangan awal.

Tidak hanya itu, perempuan dengan pendidikan tinggi biasanya memiliki peluang ekonomi lebih baik dan akses pada jaringan sosial maupun profesional yang lebih luas. Kondisi ini berkontribusi pada keamanan ekonomi rumah tangga, yang merupakan salah satu fondasi perkembangan anak yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya membuka akses pada sumber daya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mengurangi stres keluarga yang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, efek-efek positif pendidikan tinggi perempuan terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan bukan sekadar persoalan tradisi atau naluri, tetapi sangat terkait dengan kapasitas kognitif, emosional, dan sosial yang dimiliki ibu. Namun, untuk memahami pengaruh tersebut pada tingkat yang lebih mendalam, kita perlu melihat bagaimana perilaku pengasuhan sehari-hari secara langsung membentuk otak anak. Di sinilah perspektif neuropsikologi memainkan peran penting dalam menjelaskan mekanisme biologis yang menghubungkan perilaku ibu dengan perkembangan neural anak.

Neuropsikologi: Bagaimana Perilaku Ibu Mempengaruhi Otak Anak

Dari sudut pandang neuropsikologi, perilaku ibu selama masa perkembangan awal anak memiliki dampak yang mendalam terhadap struktur dan fungsi otak. Interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten antara ibu dan anak diketahui mendorong perkembangan optimal pada sistem limbik, terutama pada area seperti amigdala dan hipokampus yang berperan dalam regulasi emosi, memori, dan respons stres.

Pengasuhan yang sensitif membantu membentuk pola konektivitas neural yang stabil, yang kemudian mendukung kemampuan anak untuk mengendalikan emosi, membangun rasa aman, dan mengembangkan kapasitas kognitif. Selain itu, pengalaman sosial awal yang positif seperti sentuhan lembut, komunikasi verbal yang kaya, dan respons cepat terhadap kebutuhan anak akan mengaktifkan sistem reward dopaminergik dan sistem oksitosin.

Aktivasi ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional ibu-anak tetapi juga mempercepat perkembangan jalur prefrontal, termasuk medial prefrontal cortex, yang terkait dengan fungsi eksekutif, empati, dan kemampuan mengambil perspektif. Pengasuhan responsif juga mengurangi aktivasi berlebihan pada sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal axis), sehingga menurunkan risiko perkembangan pola stres kronis yang berdampak negatif pada pembelajaran dan kesehatan mental jangka panjang.

Sebaliknya, perilaku pengasuhan yang kurang responsif, tidak konsisten, atau penuh tekanan dapat menghasilkan dampak neuropsikologis yang signifikan. Stres berulang yang dialami anak, terutama pada tahun-tahun awal, berpotensi meningkatkan produksi kortisol pada tingkat yang tidak adaptif. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan dendrit pada hipokampus dan menghambat plastisitas sinaptik, yang berpengaruh pada kemampuan memori dan regulasi emosi.

Faktor-faktor seperti konflik keluarga, depresi ibu, atau kurangnya stimulasi juga dapat menghambat perkembangan konektivitas prefrontal, yang secara jangka panjang terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, impulsivitas, dan kesulitan akademik. Otak anak tumbuh melalui proses interaksi antara gen dan lingkungan, dan perilaku ibu merupakan salah satu lingkungan paling signifikan di tahap awal kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman neuropsikologi memperlihatkan bagaimana kualitas pengasuhan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan kondisi sosial ibu secara langsung membentuk fondasi biologis yang menentukan arah perkembangan anak di tahun-tahun berikutnya.

Mendidik Perempuan = Mendidik Generasi

Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar pencapaian individu, tetapi investasi strategis yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Dari perspektif psikologis dan neurokognitif, perempuan yang berpendidikan memiliki kapasitas lebih kuat dalam menyediakan lingkungan pengasuhan yang aman, terstimulasi, dan responsif, tiga pilar yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak pada masa-masa paling kritis dalam hidupnya. Dengan kata lain, efek pendidikan perempuan tidak berhenti pada peningkatan mobilitas sosial atau kemandirian ekonomi, tetapi meluas hingga membentuk fondasi biologis dan psikologis anak sejak usia dini.

Di level sosial, perempuan yang terdidik cenderung lebih mampu menyaring informasi, memahami isu perkembangan anak, serta mengambil keputusan pengasuhan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar norma turun-temurun.

Mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi emosional, serta metode stimulasi kognitif yang sesuai tahap perkembangan. Kombinasi antara literasi ilmiah dan stabilitas psikologis ini menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memperkuat resiliensi anak dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi perempuan adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk meningkatkan kualitas populasi secara jangka panjang. Ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan yang baik, dia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri tetapi secara langsung mempengaruhi kualitas perkembangan anak, struktur otak mereka, kapasitas belajar, dan kemampuan adaptasi mereka di masa depan. Maka ungkapan “mendidik perempuan berarti mendidik generasi” bukanlah slogan moral, melainkan kesimpulan empiris yang didukung berbagai bidang ilmu, mulai dari psikologi perkembangan hingga neurobiologi.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerempuanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Next Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co