3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingkah Pendidikan Tinggi bagi Wanita?

Isran Kamal by Isran Kamal
November 15, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

Di banyak keluarga Indonesia, pendidikan tinggi untuk perempuan masih sering dianggap “opsional.” Ada yang berkata, “yang penting bisa jadi ibu yang baik,” seolah-olah kemampuan mengasuh akan tumbuh otomatis tanpa bekal intelektual apa pun. Padahal, dalam psikologi perkembangan modern, kapasitas seorang ibu untuk mendidik dan menumbuhkan potensi anak sangat ditentukan oleh wawasan, literasi, dan kedalaman refleksi yang ia miliki dan hal tersebut terbentuk melalui pendidikan.

Fenomena ini semakin menarik ketika muncul narasi populer bahwa kecerdasan anak diwariskan terutama dari ibu. Narasi ini kemudian dijadikan alasan bahwa perempuan “harus pintar dulu sebelum punya anak.” Namun, secara ilmiah gagasan ini tidak sesederhana itu. Pendidikan tidak mengubah gen, tetapi pendidikan mengubah cara seorang ibu berpikir, berinteraksi, memproses stres, dan menciptakan lingkungan rumah. Dan justru lingkungan inilah yang memiliki dampak terbesar pada perkembangan otak anak di tahun-tahun awal kehidupan.

Karena itu, pembicaraan tentang pendidikan perempuan tidak boleh berhenti pada slogan “perempuan juga berhak berkarier.” Pembicaraan ini perlu bergerak ke ranah yang lebih fundamental, yaitu bahwa kualitas pendidikan seorang ibu menentukan kualitas stimulasi kognitif, emosional, dan sosial yang diterima anak yang pada akhirnya memengaruhi kecerdasan dan masa depan mereka.

Dengan kata lain, pendidikan tinggi perempuan bukan hanya tentang pemberdayaan perempuan; ini adalah investasi lintas generasi dalam kualitas manusia. Dan untuk memahami mengapa hal ini begitu krusial, kita perlu terlebih dahulu meluruskan kesalahpahaman tentang warisan genetika kecerdasan, sebelum melihat bagaimana pendidikan ibu benar-benar memengaruhi perkembangan anak.

Mitos vs Fakta: “IQ Diwarisi dari Ibu?”

Narasi bahwa kecerdasan “sepenuhnya diturunkan dari ibu” sering muncul dari salah tafsir terhadap penelitian tentang gen yang berada pada kromosom X. Karena perempuan memiliki dua kromosom X, mitos ini berkembang menjadi kesimpulan sederhana, “Berarti kecerdasan anak terutama berasal dari ibu.” Sayangnya, realitas genetika jauh lebih kompleks daripada itu.

Pertama, meskipun beberapa gen terkait fungsi kognitif memang berada di kromosom X, kecerdasan adalah sifat poligenik yang dipengaruhi ratusan hingga ribuan gen yang tersebar di berbagai bagian genom, bukan di satu kromosom saja. Studi kembar dan studi GWAS (genome-wide association studies) menunjukkan bahwa pewarisan intelegensi berasal dari kedua orang tua secara proporsional, bukan hanya ibu.

Kedua, memiliki gen tertentu tidak otomatis membuat seseorang menjadi cerdas. Gen bekerja dalam konteks lingkungan, sebuah prinsip dalam psikologi genetika yang disebut gene–environment interaction. Artinya anak bisa memiliki predisposisi kecerdasan tinggi, tetapi tanpa lingkungan kognitif yang kaya (stimulasi, dukungan emosional, kesempatan belajar), potensi itu tidak akan muncul.

Ketiga, pendidikan ibu tidak mengubah gen, tetapi mengubah cara gen anak diekspresikan melalui epigenetik. Perilaku sehari-hari ibu misalnya pola komunikasi, respons terhadap stres, kebiasaan membaca, atau gaya pengasuhan mampu menguatkan atau melemahkan ekspresi gen yang berperan dalam pembentukan memori, bahasa, dan kontrol diri.

Dengan kata lain, mitos bahwa kecerdasan “hanya berasal dari ibu” boleh dinikmati sebagai obrolan warung kopi, tapi tidak bisa dijadikan pijakan ilmiah. Yang benar adalah anak mewarisi gen kecerdasan dari kedua orang tuanya, tapi potensi tersebut sangat ditentukan oleh pendidikan dan kapasitas pengasuhan ibu.

Dan di sinilah letak urgensinya, bukan apakah sang ibu “pintar secara genetis,” melainkan apakah sang ibu memiliki kompetensi kognitif, emosional, dan sosial yang memadai untuk membentuk lingkungan yang mendorong tumbuhnya kecerdasan anak. Untuk memahami mekanisme itu, kita perlu melihat mengapa pendidikan tinggi memiliki efek jangka panjang terhadap kualitas pengasuhan.

Mengapa Pendidikan Tinggi Perempuan Berdampak Besar pada Kualitas Perkembangan Anak?

Pendidikan tinggi pada perempuan memberikan efek berlapis yang secara konsisten terbukti meningkatkan kualitas perkembangan anak, baik pada aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Perempuan dengan pendidikan tinggi cenderung memiliki literasi kesehatan yang lebih baik, sehingga lebih mampu memahami kebutuhan gizi, imunisasi, pola tidur, dan stimulasi perkembangan anak. Pengetahuan ini penting karena fase awal kehidupan merupakan periode kritis bagi perkembangan saraf, dan keputusan-keputusan sederhana seperti pola makan atau akses layanan kesehatan yang dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kemampuan kognitif jangka panjang.

Kemudian perempuan yang berpendidikan tinggi biasanya memiliki keterampilan kognitif dan linguistik yang lebih matang, sehingga mampu menyediakan lingkungan rumah yang lebih kaya stimulasi. Komunikasi yang lebih kompleks, interaksi yang lebih responsif, serta iklim emosional yang lebih stabil. Faktor-faktor ini telah berulang kali dikaitkan dengan peningkatan kemampuan bahasa, kontrol emosi, serta kemampuan memecahkan masalah pada anak.

Selain itu pendidikan tinggi berperan sebagai penyangga psikososial. Perempuan dengan pendidikan tinggi yang memadai cenderung memiliki efikasi diri yang lebih besar dalam mengasuh anak, mampu mengambil keputusan secara lebih otonom, dan lebih mampu mengelola stres. Penyesuaian psikologis ibu yang baik terbukti menjadi salah satu prediktor utama stabilitas emosional anak, terutama selama masa perkembangan awal.

Tidak hanya itu, perempuan dengan pendidikan tinggi biasanya memiliki peluang ekonomi lebih baik dan akses pada jaringan sosial maupun profesional yang lebih luas. Kondisi ini berkontribusi pada keamanan ekonomi rumah tangga, yang merupakan salah satu fondasi perkembangan anak yang sehat. Stabilitas ekonomi tidak hanya membuka akses pada sumber daya pendidikan dan kesehatan, tetapi juga mengurangi stres keluarga yang dapat menghambat perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, efek-efek positif pendidikan tinggi perempuan terhadap perkembangan anak menunjukkan bahwa kualitas pengasuhan bukan sekadar persoalan tradisi atau naluri, tetapi sangat terkait dengan kapasitas kognitif, emosional, dan sosial yang dimiliki ibu. Namun, untuk memahami pengaruh tersebut pada tingkat yang lebih mendalam, kita perlu melihat bagaimana perilaku pengasuhan sehari-hari secara langsung membentuk otak anak. Di sinilah perspektif neuropsikologi memainkan peran penting dalam menjelaskan mekanisme biologis yang menghubungkan perilaku ibu dengan perkembangan neural anak.

Neuropsikologi: Bagaimana Perilaku Ibu Mempengaruhi Otak Anak

Dari sudut pandang neuropsikologi, perilaku ibu selama masa perkembangan awal anak memiliki dampak yang mendalam terhadap struktur dan fungsi otak. Interaksi yang hangat, responsif, dan konsisten antara ibu dan anak diketahui mendorong perkembangan optimal pada sistem limbik, terutama pada area seperti amigdala dan hipokampus yang berperan dalam regulasi emosi, memori, dan respons stres.

Pengasuhan yang sensitif membantu membentuk pola konektivitas neural yang stabil, yang kemudian mendukung kemampuan anak untuk mengendalikan emosi, membangun rasa aman, dan mengembangkan kapasitas kognitif. Selain itu, pengalaman sosial awal yang positif seperti sentuhan lembut, komunikasi verbal yang kaya, dan respons cepat terhadap kebutuhan anak akan mengaktifkan sistem reward dopaminergik dan sistem oksitosin.

Aktivasi ini tidak hanya memperkuat ikatan emosional ibu-anak tetapi juga mempercepat perkembangan jalur prefrontal, termasuk medial prefrontal cortex, yang terkait dengan fungsi eksekutif, empati, dan kemampuan mengambil perspektif. Pengasuhan responsif juga mengurangi aktivasi berlebihan pada sumbu HPA (hypothalamic–pituitary–adrenal axis), sehingga menurunkan risiko perkembangan pola stres kronis yang berdampak negatif pada pembelajaran dan kesehatan mental jangka panjang.

Sebaliknya, perilaku pengasuhan yang kurang responsif, tidak konsisten, atau penuh tekanan dapat menghasilkan dampak neuropsikologis yang signifikan. Stres berulang yang dialami anak, terutama pada tahun-tahun awal, berpotensi meningkatkan produksi kortisol pada tingkat yang tidak adaptif. Kondisi ini dapat mengganggu perkembangan dendrit pada hipokampus dan menghambat plastisitas sinaptik, yang berpengaruh pada kemampuan memori dan regulasi emosi.

Faktor-faktor seperti konflik keluarga, depresi ibu, atau kurangnya stimulasi juga dapat menghambat perkembangan konektivitas prefrontal, yang secara jangka panjang terkait dengan risiko lebih tinggi terhadap gangguan kecemasan, impulsivitas, dan kesulitan akademik. Otak anak tumbuh melalui proses interaksi antara gen dan lingkungan, dan perilaku ibu merupakan salah satu lingkungan paling signifikan di tahap awal kehidupan.

Dengan demikian, pemahaman neuropsikologi memperlihatkan bagaimana kualitas pengasuhan yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan, kesejahteraan psikologis, dan kondisi sosial ibu secara langsung membentuk fondasi biologis yang menentukan arah perkembangan anak di tahun-tahun berikutnya.

Mendidik Perempuan = Mendidik Generasi

Pendidikan tinggi bagi perempuan bukan sekadar pencapaian individu, tetapi investasi strategis yang menentukan kualitas generasi berikutnya. Dari perspektif psikologis dan neurokognitif, perempuan yang berpendidikan memiliki kapasitas lebih kuat dalam menyediakan lingkungan pengasuhan yang aman, terstimulasi, dan responsif, tiga pilar yang sangat diperlukan untuk perkembangan otak anak pada masa-masa paling kritis dalam hidupnya. Dengan kata lain, efek pendidikan perempuan tidak berhenti pada peningkatan mobilitas sosial atau kemandirian ekonomi, tetapi meluas hingga membentuk fondasi biologis dan psikologis anak sejak usia dini.

Di level sosial, perempuan yang terdidik cenderung lebih mampu menyaring informasi, memahami isu perkembangan anak, serta mengambil keputusan pengasuhan dengan dasar pengetahuan, bukan sekadar norma turun-temurun.

Mereka lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental, komunikasi emosional, serta metode stimulasi kognitif yang sesuai tahap perkembangan. Kombinasi antara literasi ilmiah dan stabilitas psikologis ini menciptakan pola pengasuhan yang tidak hanya adaptif, tetapi juga memperkuat resiliensi anak dalam menghadapi dinamika dunia modern.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi perempuan adalah salah satu mekanisme paling efektif untuk meningkatkan kualitas populasi secara jangka panjang. Ketika seorang perempuan memperoleh pendidikan yang baik, dia tidak hanya mengubah hidupnya sendiri tetapi secara langsung mempengaruhi kualitas perkembangan anak, struktur otak mereka, kapasitas belajar, dan kemampuan adaptasi mereka di masa depan. Maka ungkapan “mendidik perempuan berarti mendidik generasi” bukanlah slogan moral, melainkan kesimpulan empiris yang didukung berbagai bidang ilmu, mulai dari psikologi perkembangan hingga neurobiologi.[T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanPerempuanPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dasa Wara, Reinkarnasi, dan Past Life

Next Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co