23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aji Mumpung: Mumpung Berkuasa, Mumpung Segalanya

Chusmeru by Chusmeru
November 16, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PEMILU telah lama usai. Presiden dan wakil presiden terpilih sudah lebih setahun bekerja. Semua telah selesai. Namun masih ada yang menyisakan tanda tanya. Masih banyak yang menyangsikan prosesnya. Mereka yang terpilih meninggalkan catatan kelam dalam proses demokrasi di Tanah Air.

Betapa tidak. Hanya dalam hitungan bulan sebelum Pemilu berlangsung, drama politik dan hukum menjadi tontonan rakyat. Apalagi, kalau bukan persoalan batas minimal usia calon wakil presiden saat itu. Sim salabim, Mahkamah Konstitusi memutuskan calon wakil presiden yang tadinya tak memenuhi syarat dari segi usia, menjadikannya lolos memenuhi syarat.

Mengapa bisa terjadi? Aji mumpung jawabannya. Mumpung Pemilu tinggal menunggu waktu. Mumpung masih berkuasa. Mumpung sedang terjadi dinamika politik dan hukum. Selagi semua bisa diatur. Maka, dengan sentuhan kekuasaan apa yang tak mungkin menjadi bisa. Kapan lagi dapat membangun oligarki bila tidak sekarang. Itulah aji mumpung.

Aji mumpung berasal dari frasa bahasa Jawa. Aji berarti harga atau nilai diri. Mumpung bermakna selagi ada kesempatan. Kata aji mumpung acapkali mendapat konotasi yang negatif dan selalu dikaitkan dengan penyalahgunaan jabatan maupun kepercayaan. Aji mumpung dianggap sebagai pemanfaatan peluang tanpa mempertimbangkan kejujuran, keadilan, dan etika; hanya demi kepentingan diri sendiri maupun kelompok.

 Bukan hanya dalam urusan politik. Aji mumpung bisa dalam segalanya. Tengoklah kehidupan sebagian para remaja. Mereka ada yang berperilaku hedon, ugal-ugalan, mabuk, dan terlibat kenakalan remaja. Jika ditanya mengapa mereka berperilaku seperti itu, jawabnya mumpung masih muda.

Tidak cuma ada di jagat nyata. Aji mumpung juga bisa terjadi di jagat maya. Begitu mudah orang memanfaatkan media sosial untuk bergunjing, flexing, menyebarkan ujaran kebencian, maupun hoaks. Bila ditanya alasan mereka berbuat seperti itu, jawabnya mumpung era digital memberi kebebasan. Bahkan, doa pun bisa dijual dan dibeli secara online, mumpung era digital.

Karenanya, aji mumpung berkaitan dengan tiga dimensi. Pertama, dimensi waktu saat ini. Kedua, dimensi keadaan seperti sepi, ramai, bebas, dan berkuasa. Ketiga, dimensi tindakan, berupa perilaku melanggar, melawan, menerabas, mengumbar, dan sebagainya. Aji mumpung adalah persoalan mentalitas memanfaatkan ketiga dimensi tersebut.

Mumpung

Orang-orang yang memanfaatkan aji mumpung memang dilandasi oleh adanya sumber daya, baik sumber daya sosial, politik, maupun ekonomi; serta upaya untuk menjadikan sumber daya itu sebagai keuntungan pribadi dan kelompoknya. Siapa pun dapat terjangkit aji mumpung selagi ada kesempatan.

Anggaran pemerintah yang begitu melimpah bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), mendorong orang untuk aji mumpung menikmati anggaran ratusan triliun rupiah itu. Banyak orang lantas mendirikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Persoalan profesionalitas kadang diabaikan. Mereka berpikir, jika kenyataannya terjadi kasus keracunan akibat MBG, itu urusan dokter dan rumah sakit yang akan mengatasinya.

Mumpung jadi anggota DPR, ajukan gaji dan tunjangan yang setinggi mungkin. Kapan lagi. Itu mungkin isi pikiran mereka. Bagaimana dengan masih banyaknya masyarakat yang miskin dan menganggur? Sudah ada menteri yang mengurus masalah tenaga kerja dan masalah kemiskinan. Barangkali itu jawaban mereka.

Rezim yang sedang berkuasa acapkali memanfaatkan aji mumpung ini untuk berbagai kepentingan. Selagi berkuasa, seseorang yang oleh sebagian besar rakyat dianggap sebagai diktator diangkat sebagai pahlawan nasional. Penguasa yang dilengserkan rakyat secara beramai-ramai itu, justru mendapat gelar pahlawan.

Mumpung sedang berkuasa, orang-orang terdekatnya diangkat menduduki berbagai jabatan. Tak peduli dengan kelayakan. Ukurannya selalu mumpung saat ini berkuasa. Esok mungkin tak lagi. Perkara tudingan kolusi dan nepotisme dianggap sebagai kicauan orang-orang yang tak menikmati kekuasaan.

Orang yang berkuasa memang cenderung berperilaku aji mumpung dengan kekuasaannya. Mumpung berkuasa, seseorang dapat eksploitatif, menindas, atau berbuat zalim kepada orang lain. Kekuasaan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk meraup dan menumpuk harta dengan cara korupsi.

Mereka yang menggunakan kekuasaan untuk korupsi sedikit pun tidak pernah merasa bersalah. Bahkan ketika rakyat hidup dalam penderitaan akibat kemiskinan, oknum penguasa yang korup itu tak pernah merasa bersalah. Begitu pun saat korupsinya terbongkar dan oknum itu ditahan, dia tetap tidak merasa bersalah.

Nyaris tidak dijumpai pejabat yang menyesali tindak korupsinya. Bahkan mantan terpidana korupsi yang telah bebas, suatu ketika kembali ditangkap KPK karena kasus korupsi juga. Aji mumpung telah menutup mata dan telinga; bahkan hati, rasa malu, dan rasa bersalah mereka.

Eling

Masyarakat Jawa memiliki pepatah yang juga dijadikan ajaran dan filosofi dalam kehidupan, yaitu urip mung mampir ngombe. Hidup itu ibarat orang yang hanya singgah untuk minum. Hanya sebentar. Oleh karenanya hidup ini mesti penuh makna.

Namun demikian, filosofi urip mung mampir ngombe ini diterjemahkan secara berbeda oleh masing-masing orang. Ada yang mengartikan sebagai hidup yang sejenak, sehingga harus diisi dengan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ada pula yang memaknai sebagai hidup yang sebentar dan perlu dinikmati dengan senang hati. Mumpung ada kesempatan memiliki jabatan dan kekayaan, harus dimanfaatkan untuk kesenangan diri dan keluarga.

Memanfaatkan waktu yang tidak lama dalam hidup ini sangat tergantung pada kesadaran orang tentang hakikat eling marang dumadi, yaitu selalu ingat pada proses terjadinya segala sesuatu. Hidup ini selalu ada sebab-musabab, ada awal dan akhir. Eling adalah kesadaran diri, sebentuk komunikasi intrapersonal untuk selalu ingat pada proses awal dan akhir dari segalanya. Dumadi adalah proses mengada, proses menjadi, semacam komunikasi eksistensial.

Menjadi manusia yang sadar akan makna kehidupan memerlukan pemahaman tentang sangkaning dumadi, tataraning dumadi, dan paraning dumadi. Ketiga hal itu seringkali menjadi filosofi dan pedoman hidup masyarakat Jawa di masa lalu (Chusmeru, 2023).

Semua yang berkaitan dengan eksistensi awal sesuatu adalah sangkaning dumadi. Dalam perspektif lebih luas, sangkaning dumadi dapat digunakan untuk menelisik asal-muasal harta, kekayaan, maupun jabatan seseorang. Dari mana seseorang mendapatkan harta, kekayaan, maupun jabatan?. Apakah dari hasil kerja keras yang panjang, sehingga ia layak mendapatkan semua itu?. Ataukah dari hasil korupsi, kolusi, dan nepotisme?

 Tataraning dumadi berkaitan dengan martabat seseorang dalam kehidupannya. Jabatan atau kekuasaan yang dimiliki seseorang seyogyanya dapat mengangkat harkat dan martabatnya. Namun tidak jarang, dengan kekuasaan yang dimiliki orang justru bertindak semena-mena kepada orang lain. Orang menjadi kehilangan kesadaran untuk eling.

 Begitu pun harta dan kekayaan yang dimiliki semestinya dapat menjaga martabatnya. Pamer harta dan kekayaan di media sosial bukanlah contoh perilaku yang menjunjung tinggi martabat, sementara banyak orang yang hidup dalam himpitan kesulitan ekonomi. Apalagi harta dan kekayaan itu diperolehnya dari cara-cara yang tidak bermartabat.

Akan seperti apa harta, kekayaan, dan jabatan orang di kemudian hari merupakan pertanyaan dari paraning dumadi. Konsepsi ini lebih bersifat futuristik. Artinya, orang diajak untuk berpikir jauh ke depan tentang apa yang kini dimiliki. Apakah jabatan yang ia emban akan membawa kebaikan buat orang banyak. Apakah harta dan kekayaan yang ia miliki tidak membuatnya semakin rakus untuk menimbun lebih banyak lagi.

 Banyak ajaran nenek moyang yang bernilai luhur. Namun tidak banyak yang melaksanakannya. Sebagaimana Pancasila yang sungguh bernilai luhur sebagai dasar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Tetapi nyatanya, makin banyak orang yang mempertuhankan harta dan kekuasaan. Makin banyak yang berperilaku biadab, memancing perpecahan, membuat keputusan yang tak bijak, dan bertindak yang jauh dari rasa keadilan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Next Post

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co