3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aji Mumpung: Mumpung Berkuasa, Mumpung Segalanya

Chusmeru by Chusmeru
November 16, 2025
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PEMILU telah lama usai. Presiden dan wakil presiden terpilih sudah lebih setahun bekerja. Semua telah selesai. Namun masih ada yang menyisakan tanda tanya. Masih banyak yang menyangsikan prosesnya. Mereka yang terpilih meninggalkan catatan kelam dalam proses demokrasi di Tanah Air.

Betapa tidak. Hanya dalam hitungan bulan sebelum Pemilu berlangsung, drama politik dan hukum menjadi tontonan rakyat. Apalagi, kalau bukan persoalan batas minimal usia calon wakil presiden saat itu. Sim salabim, Mahkamah Konstitusi memutuskan calon wakil presiden yang tadinya tak memenuhi syarat dari segi usia, menjadikannya lolos memenuhi syarat.

Mengapa bisa terjadi? Aji mumpung jawabannya. Mumpung Pemilu tinggal menunggu waktu. Mumpung masih berkuasa. Mumpung sedang terjadi dinamika politik dan hukum. Selagi semua bisa diatur. Maka, dengan sentuhan kekuasaan apa yang tak mungkin menjadi bisa. Kapan lagi dapat membangun oligarki bila tidak sekarang. Itulah aji mumpung.

Aji mumpung berasal dari frasa bahasa Jawa. Aji berarti harga atau nilai diri. Mumpung bermakna selagi ada kesempatan. Kata aji mumpung acapkali mendapat konotasi yang negatif dan selalu dikaitkan dengan penyalahgunaan jabatan maupun kepercayaan. Aji mumpung dianggap sebagai pemanfaatan peluang tanpa mempertimbangkan kejujuran, keadilan, dan etika; hanya demi kepentingan diri sendiri maupun kelompok.

 Bukan hanya dalam urusan politik. Aji mumpung bisa dalam segalanya. Tengoklah kehidupan sebagian para remaja. Mereka ada yang berperilaku hedon, ugal-ugalan, mabuk, dan terlibat kenakalan remaja. Jika ditanya mengapa mereka berperilaku seperti itu, jawabnya mumpung masih muda.

Tidak cuma ada di jagat nyata. Aji mumpung juga bisa terjadi di jagat maya. Begitu mudah orang memanfaatkan media sosial untuk bergunjing, flexing, menyebarkan ujaran kebencian, maupun hoaks. Bila ditanya alasan mereka berbuat seperti itu, jawabnya mumpung era digital memberi kebebasan. Bahkan, doa pun bisa dijual dan dibeli secara online, mumpung era digital.

Karenanya, aji mumpung berkaitan dengan tiga dimensi. Pertama, dimensi waktu saat ini. Kedua, dimensi keadaan seperti sepi, ramai, bebas, dan berkuasa. Ketiga, dimensi tindakan, berupa perilaku melanggar, melawan, menerabas, mengumbar, dan sebagainya. Aji mumpung adalah persoalan mentalitas memanfaatkan ketiga dimensi tersebut.

Mumpung

Orang-orang yang memanfaatkan aji mumpung memang dilandasi oleh adanya sumber daya, baik sumber daya sosial, politik, maupun ekonomi; serta upaya untuk menjadikan sumber daya itu sebagai keuntungan pribadi dan kelompoknya. Siapa pun dapat terjangkit aji mumpung selagi ada kesempatan.

Anggaran pemerintah yang begitu melimpah bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), mendorong orang untuk aji mumpung menikmati anggaran ratusan triliun rupiah itu. Banyak orang lantas mendirikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Persoalan profesionalitas kadang diabaikan. Mereka berpikir, jika kenyataannya terjadi kasus keracunan akibat MBG, itu urusan dokter dan rumah sakit yang akan mengatasinya.

Mumpung jadi anggota DPR, ajukan gaji dan tunjangan yang setinggi mungkin. Kapan lagi. Itu mungkin isi pikiran mereka. Bagaimana dengan masih banyaknya masyarakat yang miskin dan menganggur? Sudah ada menteri yang mengurus masalah tenaga kerja dan masalah kemiskinan. Barangkali itu jawaban mereka.

Rezim yang sedang berkuasa acapkali memanfaatkan aji mumpung ini untuk berbagai kepentingan. Selagi berkuasa, seseorang yang oleh sebagian besar rakyat dianggap sebagai diktator diangkat sebagai pahlawan nasional. Penguasa yang dilengserkan rakyat secara beramai-ramai itu, justru mendapat gelar pahlawan.

Mumpung sedang berkuasa, orang-orang terdekatnya diangkat menduduki berbagai jabatan. Tak peduli dengan kelayakan. Ukurannya selalu mumpung saat ini berkuasa. Esok mungkin tak lagi. Perkara tudingan kolusi dan nepotisme dianggap sebagai kicauan orang-orang yang tak menikmati kekuasaan.

Orang yang berkuasa memang cenderung berperilaku aji mumpung dengan kekuasaannya. Mumpung berkuasa, seseorang dapat eksploitatif, menindas, atau berbuat zalim kepada orang lain. Kekuasaan yang dimilikinya dimanfaatkan untuk meraup dan menumpuk harta dengan cara korupsi.

Mereka yang menggunakan kekuasaan untuk korupsi sedikit pun tidak pernah merasa bersalah. Bahkan ketika rakyat hidup dalam penderitaan akibat kemiskinan, oknum penguasa yang korup itu tak pernah merasa bersalah. Begitu pun saat korupsinya terbongkar dan oknum itu ditahan, dia tetap tidak merasa bersalah.

Nyaris tidak dijumpai pejabat yang menyesali tindak korupsinya. Bahkan mantan terpidana korupsi yang telah bebas, suatu ketika kembali ditangkap KPK karena kasus korupsi juga. Aji mumpung telah menutup mata dan telinga; bahkan hati, rasa malu, dan rasa bersalah mereka.

Eling

Masyarakat Jawa memiliki pepatah yang juga dijadikan ajaran dan filosofi dalam kehidupan, yaitu urip mung mampir ngombe. Hidup itu ibarat orang yang hanya singgah untuk minum. Hanya sebentar. Oleh karenanya hidup ini mesti penuh makna.

Namun demikian, filosofi urip mung mampir ngombe ini diterjemahkan secara berbeda oleh masing-masing orang. Ada yang mengartikan sebagai hidup yang sejenak, sehingga harus diisi dengan berbuat kebajikan kepada orang lain. Ada pula yang memaknai sebagai hidup yang sebentar dan perlu dinikmati dengan senang hati. Mumpung ada kesempatan memiliki jabatan dan kekayaan, harus dimanfaatkan untuk kesenangan diri dan keluarga.

Memanfaatkan waktu yang tidak lama dalam hidup ini sangat tergantung pada kesadaran orang tentang hakikat eling marang dumadi, yaitu selalu ingat pada proses terjadinya segala sesuatu. Hidup ini selalu ada sebab-musabab, ada awal dan akhir. Eling adalah kesadaran diri, sebentuk komunikasi intrapersonal untuk selalu ingat pada proses awal dan akhir dari segalanya. Dumadi adalah proses mengada, proses menjadi, semacam komunikasi eksistensial.

Menjadi manusia yang sadar akan makna kehidupan memerlukan pemahaman tentang sangkaning dumadi, tataraning dumadi, dan paraning dumadi. Ketiga hal itu seringkali menjadi filosofi dan pedoman hidup masyarakat Jawa di masa lalu (Chusmeru, 2023).

Semua yang berkaitan dengan eksistensi awal sesuatu adalah sangkaning dumadi. Dalam perspektif lebih luas, sangkaning dumadi dapat digunakan untuk menelisik asal-muasal harta, kekayaan, maupun jabatan seseorang. Dari mana seseorang mendapatkan harta, kekayaan, maupun jabatan?. Apakah dari hasil kerja keras yang panjang, sehingga ia layak mendapatkan semua itu?. Ataukah dari hasil korupsi, kolusi, dan nepotisme?

 Tataraning dumadi berkaitan dengan martabat seseorang dalam kehidupannya. Jabatan atau kekuasaan yang dimiliki seseorang seyogyanya dapat mengangkat harkat dan martabatnya. Namun tidak jarang, dengan kekuasaan yang dimiliki orang justru bertindak semena-mena kepada orang lain. Orang menjadi kehilangan kesadaran untuk eling.

 Begitu pun harta dan kekayaan yang dimiliki semestinya dapat menjaga martabatnya. Pamer harta dan kekayaan di media sosial bukanlah contoh perilaku yang menjunjung tinggi martabat, sementara banyak orang yang hidup dalam himpitan kesulitan ekonomi. Apalagi harta dan kekayaan itu diperolehnya dari cara-cara yang tidak bermartabat.

Akan seperti apa harta, kekayaan, dan jabatan orang di kemudian hari merupakan pertanyaan dari paraning dumadi. Konsepsi ini lebih bersifat futuristik. Artinya, orang diajak untuk berpikir jauh ke depan tentang apa yang kini dimiliki. Apakah jabatan yang ia emban akan membawa kebaikan buat orang banyak. Apakah harta dan kekayaan yang ia miliki tidak membuatnya semakin rakus untuk menimbun lebih banyak lagi.

 Banyak ajaran nenek moyang yang bernilai luhur. Namun tidak banyak yang melaksanakannya. Sebagaimana Pancasila yang sungguh bernilai luhur sebagai dasar bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Tetapi nyatanya, makin banyak orang yang mempertuhankan harta dan kekuasaan. Makin banyak yang berperilaku biadab, memancing perpecahan, membuat keputusan yang tak bijak, dan bertindak yang jauh dari rasa keadilan. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: kekuasaankomunikasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Adu Enak Racik Lawar Sekaa Teruna-Teruni Se-Desa Guwang dalam Suasana Hari Pahlawan

Next Post

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Albert Einstein, Vegetarianisme: Etika dan Kesehatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co