23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Percakapan yang Hilang dari Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 14, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

DI banyak tempat, demokrasi tumbuh dan berkembang melalui percakapan—bukan dari panggung, bukan juga dari seremoni yang menebar janji-janji populis satu arah. Demokrasi yang sehat lahir di saat warga negara dan pemimpinnya terlibat dialog secara terbuka, memberikan argumen, dan menyusun keputusan politik berdasarkan proses komunikasi yang setara. Inilah sejatinya esensi dari demokrasi deliberatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Habermas (1996) bahwa legitimasi politik tidak hanya dihasilkan dari prosedur elektoral, melainkan juga dari kualitas percakapan dalam ruang publik.

Sayangnya, ironi tampak di Pulau Dewata, Bali—percakapan justru semakin memudar, tenggelam oleh tradisi seremoni elit politik lokal dan menguatnya pola patronase.

Corak Politik Zohran dan Agus Mahayastra

Fenomena ini tampak semakin kontras tatkala membandingkan gaya politik Zohran Mamdani di New York City dan I Made Agus Mahayastra di Gianyar. Zohran memulai kampanyenya dengan mengetuk pintu rumah warga, membangun percakapan, membahas persoalan sehari-hari—mulai dari harga sewa rumah yang semakin tidak terjangkau, buruknya transportasi publik, hingga pelbagai tekanan hidup yang meningkat.

Dalam logika deliberatif, inilah praktik politik ideal—pertukaran argumen langsung dalam jaringan sosial yang egaliter. Zohran tidak mengarusutamakan panggung, kamera, atau seremoni dalam membangun pendekatannya kepada warga, ia lebih mengandalkan percakapan. Dan hal ini sejalan dengan gagasan Gutmann & Thompson (2004) bahwa deliberasi memungkinkan warga dan pemimpin membentuk justifikasi publik terhadap gagasan politik melalui dialog yang rasional dan inklusif. Pelibatan warga semacam ini memperkuat kualitas keputusan politik, sebab pengalaman warga menjadi bahan baku utama dalam penyusunan kebijakan.

Strategi Zohran juga mencerminkan teori civic voluntarism, yang menekankan bahwa partisipasi politik lahir tatkala warga memiliki kesempatan, motivasi, dan fasilitas untuk berpartisipasi (Verba et all., 1985). Ratusan relawan yang mendukungnya tidak dibayar, tidak pula dimobilisasi oleh patron, apalagi digerakkan janji timbal balik—tidak sama sekali. Mereka bergerak karena Zohran menganggap penting suara mereka. Modal sosial yang terbentuk dari percakapan langsung itu menciptakan kepercayaan publik, sesuatu yang menurut Putnam (2000) menjadi inti dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Berbeda dengan New York City, di Gianyar situasinya sungguh berlawanan. Politik tidak dibangun melalui percakapan, melainkan melalui seremoni. Dokumentasi publik menunjukkan betapa intens kegiatan pemerintah ditampilkan secara seremoni. Dan teranyar, Bupati Gianyar menyerahkan bantuan puluhan juta untuk Sekaa Teruna, Banjar, dan kelompok komunitas lain—tentu dengan sorot kamera mengarah kepadanya. Seremoni ini disusun sebagai panggung simbolik—dengan pejabat berada pada posisi memberi dan warga berada pada posisi menerima. Tidak ada ruang bagi warga untuk mempertanyatak prioritas anggaran, tidak pula ada wadah untuk mendiskusikan mengapa hibah diberikan kepada kelompok tertentu dan bukan yang lain. Politik semacam ini bukanlah dialog, melainkan monolog yang hanya menguatkan struktur kekuatan vertikal.

Ketergantungan Warga

Gaya-gaya politik yang mengutamakan seremoni dan penyerahan hibah tinimbang dialog memperlihatkan gejala-gejala klientelisme—hubungan pertukaran antara patron dan klien yang diikat oleh distribusi barang (Kitschelt & Wilkinson, 2007). Barang atau bantuan diberikan kepada kelompok tertentu yang kemudian diharapkan memberikan loyalitas politik sebagai balasannya. Dalam banyak kasus di Bali, posisi kelompok adat dan pemuda sebagai penerima hibah telah menciptakan ketergantungan politik yang menghambat kemampuan mereka untuk kritis dalam bersuara.

Stokes (2013) mencatat bahwa klientelisme bertahan bukan hanya karena patron yang kuat, tetapi juga karena struktur sosial menyediakan middle man—orang atau lembaga yang mendistribusikan bantuan sekaligus mengawasi loyalitas. Di Bali pada umumnya, banjar dan kelompok adat dapat dengan mudah berperan sebagai middle man karena struktur sosialnya yang komunal.

Kondisinya semakin parah tatkala figur keluarga pemimpin ikut tampil dalam kegiatan pemerintahan dan kemudian maju dalam kontestasi politik. Choi (2018) menunjukkan bahwa praktik dinasti politik tumbuh ketika keluarga penguasa memiliki akses pada sumber daya material dan simbolik negara, lalu mengkonversinya sebagai alat untuk membangun popularitas elektoral.

Di Gianyar, kemunculan anggota keluarga bupati dalam seremoni penyerahan hibah kepada warga menjadi gejala-gejala praktik dinasti politik. Semakin jelas, ketika putri Agus Mahayastra turut serta ke dalam kontestasi politik dan berhasil meraih kursi DPRD Bali dengan jumlah suara yang fantastis. Dan tentu sulit untuk memisahkan keberhasilan elektoral yang diperoleh dengan sorot publik yang diterimanya melalui kegiatan resmi pemerintah yang dipimpin sang ayah.

Berdiri di Atas Demokrasi Semu

Politik percakapan ala Zohran dan politik seremoni yang dianut Agus Mahayastra menunjukkan dua arah demokrasi yang bertolak belakang. Politik percakapan memperkuat ruang deliberasi, memproduksi kebijakan programatik yang berlaku untuk semua, dan mengembalikan warga sebagai aktor utama demokrasi. Sebaliknya, politik seremoni menciptakan demokrasi yang dangkal, hal ini dikarenakan warga diperlakukan hanya sebagai penerima, bukan sebagai mitra dialog. Memang patronase akan menghasilkan stabilitas jangka pendek, tetapi yang mengkhawatirkan, pola ini dapat melemahkan kapasitas warga untuk melakukan pengawasan terhadap kekuasaan dalam jangka panjang.

Apabila tren ini terus berlanjut, maka masa depan demokrasi Bali akan menghadapi risiko serius. Pertama, ruang publik akan tereduksi menjadi panggung seremoni, bukan forum kritik terbuka. Kedua, regenerasi kepemimpinan akan tersumbat oleh pengaruh dinasti politik karena sirkulasi elit hanya akan berkelindan di lingkaran yang sama. Dan ketiga, warga akan semakin bergantung pada bantuan material, bukan pada partisipasi deliberatif yang sejati. Padahal, seperti apa yang dikatakan oleh Levitsky & Ziblat (2018) menegaskan bahwa demokrasi adalah usaha bersama—nasibnya sangat bergantung dengan rakyatnya. Lantas, apa jadinya kalau warga negara tidak memiliki keberanian untuk berbicara dan pemerintah enggan menggunakan telinganya untuk mendengar?

Sejatinya Bali memiliki modal sosial yang kuat untuk menghidupkan kembali politik percakapan. Tradisi sangkep atau paruman dalam banjar dan desa adat seharusnya dapat menjadi basis deliberasi publik yang kuat. Namun modal sosial ini dapat dengan mudah diputarbalikkan menjadi alat patronase bila elit politik memanfaatkannya sebagai jaringan distribusi “bantuan elektoral”. Menjadi pertanyaan krusial saat ini adalah, apakah Bali akan membiarkan politik percakapan hilang begitu saja, atau sebaliknya, warga akan menuntut ruang dialog yang lebih otentik?

Pada akhirnya, demokrasi hanya dapat dipertahankan apabila percakapan dipulihkan. Politik yang sehat bukan bicara soal siapa yang memberi bantuan paling banyak, tetapi siapa yang paling bersedia mendengar. Dan selama percakapan masih absen dari politik keseharian di Bali, maka demokrasi akan berjalan tanpa pondasi yang ringkih. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Politikpolitik bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Next Post

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co