23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Percakapan yang Hilang dari Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 14, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

DI banyak tempat, demokrasi tumbuh dan berkembang melalui percakapan—bukan dari panggung, bukan juga dari seremoni yang menebar janji-janji populis satu arah. Demokrasi yang sehat lahir di saat warga negara dan pemimpinnya terlibat dialog secara terbuka, memberikan argumen, dan menyusun keputusan politik berdasarkan proses komunikasi yang setara. Inilah sejatinya esensi dari demokrasi deliberatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Habermas (1996) bahwa legitimasi politik tidak hanya dihasilkan dari prosedur elektoral, melainkan juga dari kualitas percakapan dalam ruang publik.

Sayangnya, ironi tampak di Pulau Dewata, Bali—percakapan justru semakin memudar, tenggelam oleh tradisi seremoni elit politik lokal dan menguatnya pola patronase.

Corak Politik Zohran dan Agus Mahayastra

Fenomena ini tampak semakin kontras tatkala membandingkan gaya politik Zohran Mamdani di New York City dan I Made Agus Mahayastra di Gianyar. Zohran memulai kampanyenya dengan mengetuk pintu rumah warga, membangun percakapan, membahas persoalan sehari-hari—mulai dari harga sewa rumah yang semakin tidak terjangkau, buruknya transportasi publik, hingga pelbagai tekanan hidup yang meningkat.

Dalam logika deliberatif, inilah praktik politik ideal—pertukaran argumen langsung dalam jaringan sosial yang egaliter. Zohran tidak mengarusutamakan panggung, kamera, atau seremoni dalam membangun pendekatannya kepada warga, ia lebih mengandalkan percakapan. Dan hal ini sejalan dengan gagasan Gutmann & Thompson (2004) bahwa deliberasi memungkinkan warga dan pemimpin membentuk justifikasi publik terhadap gagasan politik melalui dialog yang rasional dan inklusif. Pelibatan warga semacam ini memperkuat kualitas keputusan politik, sebab pengalaman warga menjadi bahan baku utama dalam penyusunan kebijakan.

Strategi Zohran juga mencerminkan teori civic voluntarism, yang menekankan bahwa partisipasi politik lahir tatkala warga memiliki kesempatan, motivasi, dan fasilitas untuk berpartisipasi (Verba et all., 1985). Ratusan relawan yang mendukungnya tidak dibayar, tidak pula dimobilisasi oleh patron, apalagi digerakkan janji timbal balik—tidak sama sekali. Mereka bergerak karena Zohran menganggap penting suara mereka. Modal sosial yang terbentuk dari percakapan langsung itu menciptakan kepercayaan publik, sesuatu yang menurut Putnam (2000) menjadi inti dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Berbeda dengan New York City, di Gianyar situasinya sungguh berlawanan. Politik tidak dibangun melalui percakapan, melainkan melalui seremoni. Dokumentasi publik menunjukkan betapa intens kegiatan pemerintah ditampilkan secara seremoni. Dan teranyar, Bupati Gianyar menyerahkan bantuan puluhan juta untuk Sekaa Teruna, Banjar, dan kelompok komunitas lain—tentu dengan sorot kamera mengarah kepadanya. Seremoni ini disusun sebagai panggung simbolik—dengan pejabat berada pada posisi memberi dan warga berada pada posisi menerima. Tidak ada ruang bagi warga untuk mempertanyatak prioritas anggaran, tidak pula ada wadah untuk mendiskusikan mengapa hibah diberikan kepada kelompok tertentu dan bukan yang lain. Politik semacam ini bukanlah dialog, melainkan monolog yang hanya menguatkan struktur kekuatan vertikal.

Ketergantungan Warga

Gaya-gaya politik yang mengutamakan seremoni dan penyerahan hibah tinimbang dialog memperlihatkan gejala-gejala klientelisme—hubungan pertukaran antara patron dan klien yang diikat oleh distribusi barang (Kitschelt & Wilkinson, 2007). Barang atau bantuan diberikan kepada kelompok tertentu yang kemudian diharapkan memberikan loyalitas politik sebagai balasannya. Dalam banyak kasus di Bali, posisi kelompok adat dan pemuda sebagai penerima hibah telah menciptakan ketergantungan politik yang menghambat kemampuan mereka untuk kritis dalam bersuara.

Stokes (2013) mencatat bahwa klientelisme bertahan bukan hanya karena patron yang kuat, tetapi juga karena struktur sosial menyediakan middle man—orang atau lembaga yang mendistribusikan bantuan sekaligus mengawasi loyalitas. Di Bali pada umumnya, banjar dan kelompok adat dapat dengan mudah berperan sebagai middle man karena struktur sosialnya yang komunal.

Kondisinya semakin parah tatkala figur keluarga pemimpin ikut tampil dalam kegiatan pemerintahan dan kemudian maju dalam kontestasi politik. Choi (2018) menunjukkan bahwa praktik dinasti politik tumbuh ketika keluarga penguasa memiliki akses pada sumber daya material dan simbolik negara, lalu mengkonversinya sebagai alat untuk membangun popularitas elektoral.

Di Gianyar, kemunculan anggota keluarga bupati dalam seremoni penyerahan hibah kepada warga menjadi gejala-gejala praktik dinasti politik. Semakin jelas, ketika putri Agus Mahayastra turut serta ke dalam kontestasi politik dan berhasil meraih kursi DPRD Bali dengan jumlah suara yang fantastis. Dan tentu sulit untuk memisahkan keberhasilan elektoral yang diperoleh dengan sorot publik yang diterimanya melalui kegiatan resmi pemerintah yang dipimpin sang ayah.

Berdiri di Atas Demokrasi Semu

Politik percakapan ala Zohran dan politik seremoni yang dianut Agus Mahayastra menunjukkan dua arah demokrasi yang bertolak belakang. Politik percakapan memperkuat ruang deliberasi, memproduksi kebijakan programatik yang berlaku untuk semua, dan mengembalikan warga sebagai aktor utama demokrasi. Sebaliknya, politik seremoni menciptakan demokrasi yang dangkal, hal ini dikarenakan warga diperlakukan hanya sebagai penerima, bukan sebagai mitra dialog. Memang patronase akan menghasilkan stabilitas jangka pendek, tetapi yang mengkhawatirkan, pola ini dapat melemahkan kapasitas warga untuk melakukan pengawasan terhadap kekuasaan dalam jangka panjang.

Apabila tren ini terus berlanjut, maka masa depan demokrasi Bali akan menghadapi risiko serius. Pertama, ruang publik akan tereduksi menjadi panggung seremoni, bukan forum kritik terbuka. Kedua, regenerasi kepemimpinan akan tersumbat oleh pengaruh dinasti politik karena sirkulasi elit hanya akan berkelindan di lingkaran yang sama. Dan ketiga, warga akan semakin bergantung pada bantuan material, bukan pada partisipasi deliberatif yang sejati. Padahal, seperti apa yang dikatakan oleh Levitsky & Ziblat (2018) menegaskan bahwa demokrasi adalah usaha bersama—nasibnya sangat bergantung dengan rakyatnya. Lantas, apa jadinya kalau warga negara tidak memiliki keberanian untuk berbicara dan pemerintah enggan menggunakan telinganya untuk mendengar?

Sejatinya Bali memiliki modal sosial yang kuat untuk menghidupkan kembali politik percakapan. Tradisi sangkep atau paruman dalam banjar dan desa adat seharusnya dapat menjadi basis deliberasi publik yang kuat. Namun modal sosial ini dapat dengan mudah diputarbalikkan menjadi alat patronase bila elit politik memanfaatkannya sebagai jaringan distribusi “bantuan elektoral”. Menjadi pertanyaan krusial saat ini adalah, apakah Bali akan membiarkan politik percakapan hilang begitu saja, atau sebaliknya, warga akan menuntut ruang dialog yang lebih otentik?

Pada akhirnya, demokrasi hanya dapat dipertahankan apabila percakapan dipulihkan. Politik yang sehat bukan bicara soal siapa yang memberi bantuan paling banyak, tetapi siapa yang paling bersedia mendengar. Dan selama percakapan masih absen dari politik keseharian di Bali, maka demokrasi akan berjalan tanpa pondasi yang ringkih. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Politikpolitik bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Next Post

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co