2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Politik Percakapan yang Hilang dari Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
November 14, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

DI banyak tempat, demokrasi tumbuh dan berkembang melalui percakapan—bukan dari panggung, bukan juga dari seremoni yang menebar janji-janji populis satu arah. Demokrasi yang sehat lahir di saat warga negara dan pemimpinnya terlibat dialog secara terbuka, memberikan argumen, dan menyusun keputusan politik berdasarkan proses komunikasi yang setara. Inilah sejatinya esensi dari demokrasi deliberatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Habermas (1996) bahwa legitimasi politik tidak hanya dihasilkan dari prosedur elektoral, melainkan juga dari kualitas percakapan dalam ruang publik.

Sayangnya, ironi tampak di Pulau Dewata, Bali—percakapan justru semakin memudar, tenggelam oleh tradisi seremoni elit politik lokal dan menguatnya pola patronase.

Corak Politik Zohran dan Agus Mahayastra

Fenomena ini tampak semakin kontras tatkala membandingkan gaya politik Zohran Mamdani di New York City dan I Made Agus Mahayastra di Gianyar. Zohran memulai kampanyenya dengan mengetuk pintu rumah warga, membangun percakapan, membahas persoalan sehari-hari—mulai dari harga sewa rumah yang semakin tidak terjangkau, buruknya transportasi publik, hingga pelbagai tekanan hidup yang meningkat.

Dalam logika deliberatif, inilah praktik politik ideal—pertukaran argumen langsung dalam jaringan sosial yang egaliter. Zohran tidak mengarusutamakan panggung, kamera, atau seremoni dalam membangun pendekatannya kepada warga, ia lebih mengandalkan percakapan. Dan hal ini sejalan dengan gagasan Gutmann & Thompson (2004) bahwa deliberasi memungkinkan warga dan pemimpin membentuk justifikasi publik terhadap gagasan politik melalui dialog yang rasional dan inklusif. Pelibatan warga semacam ini memperkuat kualitas keputusan politik, sebab pengalaman warga menjadi bahan baku utama dalam penyusunan kebijakan.

Strategi Zohran juga mencerminkan teori civic voluntarism, yang menekankan bahwa partisipasi politik lahir tatkala warga memiliki kesempatan, motivasi, dan fasilitas untuk berpartisipasi (Verba et all., 1985). Ratusan relawan yang mendukungnya tidak dibayar, tidak pula dimobilisasi oleh patron, apalagi digerakkan janji timbal balik—tidak sama sekali. Mereka bergerak karena Zohran menganggap penting suara mereka. Modal sosial yang terbentuk dari percakapan langsung itu menciptakan kepercayaan publik, sesuatu yang menurut Putnam (2000) menjadi inti dari kehidupan demokrasi yang sehat.

Berbeda dengan New York City, di Gianyar situasinya sungguh berlawanan. Politik tidak dibangun melalui percakapan, melainkan melalui seremoni. Dokumentasi publik menunjukkan betapa intens kegiatan pemerintah ditampilkan secara seremoni. Dan teranyar, Bupati Gianyar menyerahkan bantuan puluhan juta untuk Sekaa Teruna, Banjar, dan kelompok komunitas lain—tentu dengan sorot kamera mengarah kepadanya. Seremoni ini disusun sebagai panggung simbolik—dengan pejabat berada pada posisi memberi dan warga berada pada posisi menerima. Tidak ada ruang bagi warga untuk mempertanyatak prioritas anggaran, tidak pula ada wadah untuk mendiskusikan mengapa hibah diberikan kepada kelompok tertentu dan bukan yang lain. Politik semacam ini bukanlah dialog, melainkan monolog yang hanya menguatkan struktur kekuatan vertikal.

Ketergantungan Warga

Gaya-gaya politik yang mengutamakan seremoni dan penyerahan hibah tinimbang dialog memperlihatkan gejala-gejala klientelisme—hubungan pertukaran antara patron dan klien yang diikat oleh distribusi barang (Kitschelt & Wilkinson, 2007). Barang atau bantuan diberikan kepada kelompok tertentu yang kemudian diharapkan memberikan loyalitas politik sebagai balasannya. Dalam banyak kasus di Bali, posisi kelompok adat dan pemuda sebagai penerima hibah telah menciptakan ketergantungan politik yang menghambat kemampuan mereka untuk kritis dalam bersuara.

Stokes (2013) mencatat bahwa klientelisme bertahan bukan hanya karena patron yang kuat, tetapi juga karena struktur sosial menyediakan middle man—orang atau lembaga yang mendistribusikan bantuan sekaligus mengawasi loyalitas. Di Bali pada umumnya, banjar dan kelompok adat dapat dengan mudah berperan sebagai middle man karena struktur sosialnya yang komunal.

Kondisinya semakin parah tatkala figur keluarga pemimpin ikut tampil dalam kegiatan pemerintahan dan kemudian maju dalam kontestasi politik. Choi (2018) menunjukkan bahwa praktik dinasti politik tumbuh ketika keluarga penguasa memiliki akses pada sumber daya material dan simbolik negara, lalu mengkonversinya sebagai alat untuk membangun popularitas elektoral.

Di Gianyar, kemunculan anggota keluarga bupati dalam seremoni penyerahan hibah kepada warga menjadi gejala-gejala praktik dinasti politik. Semakin jelas, ketika putri Agus Mahayastra turut serta ke dalam kontestasi politik dan berhasil meraih kursi DPRD Bali dengan jumlah suara yang fantastis. Dan tentu sulit untuk memisahkan keberhasilan elektoral yang diperoleh dengan sorot publik yang diterimanya melalui kegiatan resmi pemerintah yang dipimpin sang ayah.

Berdiri di Atas Demokrasi Semu

Politik percakapan ala Zohran dan politik seremoni yang dianut Agus Mahayastra menunjukkan dua arah demokrasi yang bertolak belakang. Politik percakapan memperkuat ruang deliberasi, memproduksi kebijakan programatik yang berlaku untuk semua, dan mengembalikan warga sebagai aktor utama demokrasi. Sebaliknya, politik seremoni menciptakan demokrasi yang dangkal, hal ini dikarenakan warga diperlakukan hanya sebagai penerima, bukan sebagai mitra dialog. Memang patronase akan menghasilkan stabilitas jangka pendek, tetapi yang mengkhawatirkan, pola ini dapat melemahkan kapasitas warga untuk melakukan pengawasan terhadap kekuasaan dalam jangka panjang.

Apabila tren ini terus berlanjut, maka masa depan demokrasi Bali akan menghadapi risiko serius. Pertama, ruang publik akan tereduksi menjadi panggung seremoni, bukan forum kritik terbuka. Kedua, regenerasi kepemimpinan akan tersumbat oleh pengaruh dinasti politik karena sirkulasi elit hanya akan berkelindan di lingkaran yang sama. Dan ketiga, warga akan semakin bergantung pada bantuan material, bukan pada partisipasi deliberatif yang sejati. Padahal, seperti apa yang dikatakan oleh Levitsky & Ziblat (2018) menegaskan bahwa demokrasi adalah usaha bersama—nasibnya sangat bergantung dengan rakyatnya. Lantas, apa jadinya kalau warga negara tidak memiliki keberanian untuk berbicara dan pemerintah enggan menggunakan telinganya untuk mendengar?

Sejatinya Bali memiliki modal sosial yang kuat untuk menghidupkan kembali politik percakapan. Tradisi sangkep atau paruman dalam banjar dan desa adat seharusnya dapat menjadi basis deliberasi publik yang kuat. Namun modal sosial ini dapat dengan mudah diputarbalikkan menjadi alat patronase bila elit politik memanfaatkannya sebagai jaringan distribusi “bantuan elektoral”. Menjadi pertanyaan krusial saat ini adalah, apakah Bali akan membiarkan politik percakapan hilang begitu saja, atau sebaliknya, warga akan menuntut ruang dialog yang lebih otentik?

Pada akhirnya, demokrasi hanya dapat dipertahankan apabila percakapan dipulihkan. Politik yang sehat bukan bicara soal siapa yang memberi bantuan paling banyak, tetapi siapa yang paling bersedia mendengar. Dan selama percakapan masih absen dari politik keseharian di Bali, maka demokrasi akan berjalan tanpa pondasi yang ringkih. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Politikpolitik bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Next Post

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MK Membatalkan Karpet Merah Perolehan Hak dan Pengusaan Tanah oleh Investor di “Ibukota Negara Nusantara”  Tak Lagi Dua Siklus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co