24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 2, 2025
in Persona
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Menot Sukadana | Foto: Dok pribadi

SUDAH lewat tengah malam, tapi kami masih duduk di teras belakang kantor media di Denpasar Utara. Di bawah cahaya redup lampu sepuluh watt, dua cangkir kopi hitam perlahan mendingin. Suara jangkrik dari sela tembok lebih sering terdengar daripada tawa kami. Kadang-kadang hanya ada diam, dan di antara diam itulah kalimat-kalimat Bli Menot tiba, pendek tapi tajam, seperti anak panah yang dilepaskan tanpa banyak tenaga.

“Menulis itu bukan cuma soal cepat, tapi soal apa yang kita perjuangkan ketika orang lain sibuk berlari,” katanya suatu malam.

Ia tidak sedang berpetuah. Hanya melanjutkan obrolan yang sebelumnya mengalir tentang liputan hari itu, tentang berita yang batal tayang, tentang redaktur yang kelelahan, tentang kualitas berita yang buruk, walau telah lama menjadi wartawan.  Tapi dari cara ia menatap kopi dan menimbang kalimat, saya tahu ia tidak sedang bicara soal berita. Ia sedang bicara tentang hidup.

Bli Menot, I Nyoman Sukadana, bukan tipe atasan yang suka berteriak di ruang redaksi. Ia lebih sering duduk tenang di pojok, membaca pelan naskah yang baru masuk, menghapus satu dua kata, lalu menuliskan catatan kecil di tepi kertas “Tanya lagi narasumbernya.” atau “Jangan terburu memutuskan.” Kadang ia tak memberi catatan sama sekali, hanya menyerahkan naskah dengan tatapan yang membuat saya menimbang ulang isi kepala sendiri.

Saya mengenalnya pada 2015, ketika kembali ke dunia media setelah beberapa tahun menepi. Ia menjadi redaktur di harian Fajar Bali, dan saya wartawan yang baru belajar menata ritme setelah lama absen dari hiruk. Dalam kesibukan redaksi yang sempit dan gaduh, ia seperti ruang jeda, tenang tapi tegas, membiarkan kami belajar tanpa merasa diajari.

Dari ruang itu pula saya pertama kali mendengar istilah yang kemudian menjadi judul bukunya, JEDA. Sebuah kumpulan tulisan yang lahir dari sela-sela pekerjaan, dari keheningan yang dijaga di tengah gaduh media digital. Buku itu, katanya, bukan kumpulan opini, tapi “catatan kecil seseorang yang mencoba memahami dunia dan dirinya sendiri.”

Ruang redaksi PodiumNews.com

Bli Menot lahir pada 1977, tumbuh di keluarga sederhana di Denpasar. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana, aktif di gerakan mahasiswa ’98, pernah menjadi Ketua BPM FH Unud dan Wakil Presiden BEM Unud. “Saya belajar bersuara di masa itu,” tulisnya dalam salah satu esai di bukunya. “Bersama ribuan mahasiswa lain, bukan sebagai penonton sejarah, tapi bagian dari denyutnya.”

Dari kampus hukum, ia berbelok ke dunia yang lebih cair, jurnalisme. Ia memulai kariernya dari tabloid mingguan, lalu ke koran harian lokal. Selama dua dekade ia mengerjakan hampir semua posisi redaksi, reporter, redaktur politik, koordinator liputan, hingga redpel. Tapi barangkali, yang paling lama ia kerjakan adalah menimbang makna di antara kata-kata.

“Kadang saya merasa, dunia ini terlalu cepat untuk wartawan yang ingin mendengar,” tulisnya dalam Menulis di Tengah Klik (1). “Yang cepat jadi benar. Yang viral jadi patokan. Dalam laju yang gegas ini, saya rindu satu hal, waktu untuk menyimak.”

Kata “menyimak” tampaknya menjadi inti dari semua yang ia kerjakan. Ia percaya bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan mendengarkan kenyataan. Bahwa berita yang baik tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari keberanian untuk melambat.

Di saat banyak media lokal berusaha menyesuaikan diri dengan ritme algoritma, Menot justru menepi. Ia mendirikan PodiumNews.com, sebuah media daring kecil yang tidak mengejar sensasi. Dari ruang 140 meter persegi di kawasan Dalung, Badung, ia dan beberapa kawan membangun apa yang ia sebut sebagai “ekosistem kecil yang manusiawi.” Dari sana lahirlah kanal gaya hidup UrbanBali, unit pelatihan Podium Kreatif, dan rencananya, sebuah kedai kopi di pinggir kota yang diberi nama Redaksi.

“Media ini lahir bukan karena visi besar yang ditulis di proposal bisnis,” tulisnya dalam esai Catatan Redaksi di Ujung Tahun Kedelapan. “Kami memulainya karena tak ada pilihan lain. Satu orang pensiun, dua kehilangan pekerjaan. Lalu kami duduk, menatap halaman kosong, dan berkata, mari kita menulis.”

Mungkin karena lahir dari keterbatasan itulah Podium tumbuh seperti tanaman liar di pinggir jalan, pelan tapi tahan lama. Ia tidak dibangun dengan dana besar, melainkan dengan keyakinan kecil yang dirawat setiap hari. Menot menyebutnya “keberanian untuk pelan.”

Saya masih ingat percakapan kami suatu sore di ruang redaksi yang pengap. Di luar, hujan turun, dan aroma kopi bercampur dengan bau tinta printer. Ia baru selesai menyunting berita tentang proyek pemerintah daerah yang tak selesai, lalu berkata lirih, “Media lokal kini terlalu sering tergoda oleh yang dekat.”

Saya menatapnya bingung. “Dekat dengan kekuasaan,” lanjutnya. “Padahal tugas kita bukan dekat, tapi jernih.” Kalimat itu kelak muncul kembali dalam esainya Cerita yang Tak Punya Sponsor. Di sana ia menulis,

“Lima tahun ke depan, media online lokal akan berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi jalan berdebu dengan rambu anggaran Pemda. Di sisi lain jalan baru yang masih gelap, tapi menjanjikan kemandirian dan marwah yang lebih luhur.”

Menulis yang jujur baginya adalah perlawanan. Ia menyebutnya “menulis yang memihak, menyeruput yang jujur.” Dalam esai dengan judul itu, ia menulis,

“Kopi tak pernah bicara soal netralitas. Ia selalu punya rasa, pahit, asam, kadang getir. Mungkin seperti itulah menulis dan menjadi jurnalis, bukan perkara netral, tapi keberanian memilih dan bertanggung jawab atas rasa.”

Barangkali itu sebabnya ia begitu mencintai kopi. Dalam hampir semua tulisannya, kopi hadir sebagai kiasan, kadang sebagai teman, kadang sebagai perantara. Dalam pengantar bukunya, ia menulis, “Saya percaya, seperti halnya kopi yang paling baik dinikmati ketika tidak tergesa, hidup pun sebaiknya diseruput perlahan.”

Bagi Menot, kopi bukan hanya minuman, melainkan cara berpikir. Ia menjadi metafora bagi jurnalisme yang perlahan, reflektif, dan jujur pada rasa.

Di usia empat puluh delapan, ketika banyak wartawan seangkatannya memilih pensiun atau berpindah profesi, Bli Menot justru membangun sesuatu yang baru. Ia menyebutnya Podium Ecosystem, bukan kerajaan media, tapi “rumah yang dibangun dari kata.” Di dalamnya ada situs berita, kanal gaya hidup, unit kreatif, dan kedai kopi. “Saya tidak sedang membangun menara,” tulisnya dalam esai Merancang Rumah dari Kata. “Saya sedang membuat tempat tinggal. Tempat orang bisa menulis, menyeruput kopi, berbagi cerita, atau sekadar duduk diam.”

Yang menarik, ia tidak menulis tentang keberhasilan, melainkan tentang kesabaran. Tentang proses kecil yang sering diabaikan oleh dunia digital yang terburu. “Saya tahu, saya sedang membangun akar,” katanya. “Akar yang kuat tak tumbuh dalam semalam.”

Kata-kata itu mengingatkan saya pada banyak malam di ruang redaksi, saat listrik mati dan kami tetap menulis dengan cahaya ponsel, atau ketika berita batal tayang karena tak ada iklan yang masuk. Tapi di tengah semua itu, ia tetap tenang. Ia mengajarkan kami bahwa jurnalisme bukan soal bertahan hidup, tapi soal tetap hidup dengan cara yang benar.

“Jangan takut pelan,” katanya suatu kali. “Yang penting, jangan berhenti mendengar.”

Buku JEDA menandai perjalanannya sebagai penulis dan jurnalis yang memilih berjalan di antara batas. Tidak terlalu cepat untuk disebut modern, tidak terlalu lambat untuk disebut usang. Ia menulis dari ruang yang tak banyak dibicarakan, ruang sunyi di antara tugas, ruang permenungan selepas subuh, atau obrolan yang menggantung di warung kopi kampung.

Membaca tulisannya seperti menatap permukaan air yang tenang. Tapi di bawah ketenangan itu, banyak arus mengalir, kegelisahan atas media yang kehilangan arah, kekecewaan pada politik yang berubah jadi panggung badut, juga rasa iba pada masyarakat yang kehilangan ruang dengar. Dalam esainya Saat Kata Tak Lagi Didengar, ia menulis,

“Kita hidup dalam banjir kata. Berita datang silih berganti. Tapi semakin banyak yang bicara, semakin sedikit yang mendengar. Dalam dunia yang dibanjiri suara, tulisan yang jujur adalah yang tetap bertahan.”

Ia tidak menulis untuk viral. Ia menulis agar kata-kata tetap punya tempat.

Beberapa bulan lalu, saya kembali bertemu dengannya di sebuah warung kopi di pinggir sawah, tempat yang kelak akan menjadi Kedai Kopi Redaksi. Kami duduk di bawah pohon mangga yang masih muda, membicarakan rencana memindahkan kantor ke tempat yang lebih sepi. Ia bercerita pelan tentang lahan enam belas are yang sedang ia tanami pohon, agar lima tahun lagi rimbun dan teduh.

“Media juga butuh tempat teduh,” katanya. “Biar orang bisa menulis tanpa tergesa.” Saya hanya mengangguk. Dalam kepala saya, kalimat itu terdengar seperti doa.

Kini, ketika saya membaca ulang naskah-naskah di JEDA, saya merasa seperti kembali ke malam-malam di teras belakang kantor, lampu 10 watt, aroma kopi, dan suara yang tidak pernah meninggi. Ia menulis tentang banyak hal; media, sosial, diri sendiri, tapi semua berangkat dari satu sumber yang sama, kesadaran untuk pelan.

Kantor PodiumNews.com

Dalam salah satu esainya yang paling pribadi, Selembar yang Tertunda, ia menulis tentang pertemuan kami, tentang dua nasi bungkus di pagi hari, tentang percakapan di warung kecil, tentang rencana menerbitkan buku yang sempat tertunda. “Kadang,” tulisnya, “menunda justru bentuk paling jujur dari kesadaran. Bahwa hidup punya musimnya sendiri. Seperti kopi yang baik, beberapa niat memang perlu dibiarkan mengendap.”

Membaca kalimat itu, saya teringat wajahnya pagi itu, tenang, sedikit lelah, tapi penuh cahaya. Mungkin memang begitu cara Bli Menot menjalani hidup; tidak tergesa, tidak mengejar, tapi tetap setia pada yang diyakini.

Di dunia media yang serba cepat, ia memilih menjadi jurnalis yang pelan. Tapi dari pelan itu ia justru menemukan kedalaman. Ia menulis bukan untuk menjadi yang pertama, melainkan agar kata-katanya bertahan paling lama.

Kini, setiap kali saya menulis berita atau esai, saya selalu teringat suaranya yang lembut tapi tegas,

“Menulis bukan soal dikenang. Tapi tentang meninggalkan sesuatu yang diam-diam bisa menyala di hati orang lain,” ujarnya. Barangkali di situlah letak makna jurnalisme pelan, bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling jujur dalam mendengarkan. Dan Bli Menot, dengan secangkir kopi dan jeda yang panjang, sudah lebih dulu memberi teladan itu. [T]

Denpasar, Akhir Oktober 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jurnalisjurnalismemedia massamedia online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Next Post

Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran 'Jele Melah Gumi Gelah'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co