LANGKAH-langkah kecil penari Condong cilik membuka opening gala Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2025 di Puri Agung Ubud, Selasa malam, (29/30). Tanpa kemegahan berlebihan, pembukaan festival berlangsung hangat dan bersahaja, menghadirkan penulis, seniman, dan aktivis dari berbagai negara untuk berbagi kisah dan gagasan di bawah tema “Aham Brahmasmi” — I am the Universe.
Tahun ini, festival yang memasuki edisi ke-22 tersebut menghadirkan lebih dari 180 pembicara dari 30 negara, dengan lebih dari 200 program yang akan berlangsung selama empat hari. Sebagai salah satu festival sastra paling berpengaruh di Asia Tenggara, UWRF kembali menjadi ruang pertemuan bagi beragam perspektif budaya, seni, dan pemikiran global.


Acara pembukaan dimulai dengan penampilan anak-anak Sanggar Kerta Art Ubud yang membawakan Tari Condong. Gerak mereka yang luwes dan penuh percaya diri membuat penonton berdecak kagum. Tampak sejumlah gawai terangkat merekam momen itu, menjadikannya pembuka yang manis bagi malam festival. Setelah itu, Pendiri dan Direktur Festival, Janet DeNeefe menyampaikan sambutannya. Janet mengatakan, festival ini lahir dari keyakinan bahwa kata-kata dapat menjembatani perbedaan dan menyembuhkan luka dunia, sebuah semangat yang tetap dipegang sejak festival pertama digelar lebih dari dua dekade lalu.
Pengelingsir Puri Agung Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace), juga turut menegaskan pentingnya menjaga Ubud sebagai rumah bagi kebudayaan dan dialog.
“Sejak awal, Ubud tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi karena jiwanya — jiwa yang terbuka terhadap ide, seni, dan percakapan lintas budaya. Melalui festival ini, kita merayakan warisan itu: bahwa kebudayaan tumbuh bukan dari keseragaman, melainkan dari pertemuan,” ujar Cok Ace.


Tema “Aham Brahmasmi” sendiri adalah sebuah konsep Sansekerta dari kebijaksanaan Hindu kuno yang berasal dari Brihadaranyaka Upanishad. Diterjemahkan sebagai I am the Universe, tema ini menandai kesatuan antara manusia dan semesta — sebuah pengakuan bahwa setiap individu memiliki potensi kreatif yang sama luasnya dengan alam raya. Dalam konteks modern, konsep ini berdialog dengan gagasan Homo Deus — manusia sebagai Tuhan — yang menggambarkan bagaimana teknologi dapat menciptakan sekaligus menghancurkan. Aham Brahmasmi mengingatkan kita bahwa kecerdasan, setinggi apa pun, harus berakar pada kesadaran dan keterhubungan.
Seusai serangkaian sambutan, suasana malam berubah khusyuk ketika dua penyair tampil bergantian di atas panggung: Ni Made Purnamasari (Indonesia) dan Neal Hall (Amerika Serikat). Keduanya membacakan puisi yang menyinggung kemanusiaan, identitas, dan empati — gema yang sejalan dengan semangat festival tahun ini.


Setelah itu, puncak acara pun tiba saat Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, secara resmi membuka festival dengan pemukulan gong. Dentumannya menggema di halaman puri, menandai dimulainya empat hari perayaan literasi, sastra, dan kebudayaan dunia di Ubud.
Usai prosesi pembukaan, Dessy Fridayanthi selaku MC memperkenalkan Program Penulis Emerging Indonesia dan Patron Program, dua inisiatif yang membuka jalan bagi generasi muda penulis Indonesia untuk tampil di panggung internasional. Kemudian, acara malam ditutup dengan Tari Maliang-Liang dari Sanggar Kerta Art dan pertunjukan “Perempuan Pengkaji Seni”, yang memadukan tradisi dan ekspresi kontemporer dalam karya kolaboratif.


Dalam sambutannya, Janet DeNeefe turut mengajak publik untuk merasakan semangat festival. “Jika Anda mencintai cerita, terbuka pada ide-ide baru, dan percaya pada kekuatan kreativitas untuk membawa perubahan, maka datanglah ke Ubud. Bagi banyak orang, festival ini telah menjadi pengalaman yang mengubah hidup. Semoga tahun ini pun demikian,” ujarnya.
Malam pun berakhir dengan tepuk tangan panjang di Puri Ubud. Dari tempat inilah, UWRF 2025 memulai perjalanannya — ruang pertemuan antara kata dan semesta, antara manusia dan kemanusiaan itu sendiri. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























