3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Mahijasena by Mahijasena
October 31, 2025
in Esai
Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Foto-foto: Dok. Mahijasena

Di Antara Cahaya dan Realitas

MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nyata yang dipenuhi sistem yang belum selalu siap menampung semangat itu.

Setiap tahun, pulau ini penuh dengan acara seni dari pentas kecil yang digelar oleh komunitas hingga festival berskala internasional. Bali tampak gemerlap, seperti tidak pernah kehabisan panggung. Tapi di balik cahaya itu, ada sisi lain yang lebih sunyi dan tak seindah narasi brosur. Sisi di mana para seniman, terutama yang masih muda, belajar menghadapi ketidakteraturan, kesalahpahaman, dan perbedaan perlakuan.

Sebagai pelaku seni yang masih haus belajar dan terus mencari ruang untuk berkarya, saya sering menjadikan setiap panggung besar atau kecil sebagai tempat belajar tentang bagaimana dunia seni bekerja di balik tirainya.

Saya mengingat satu peristiwa belum lama ini terjadi ketika jadwal gladi yang semula dijanjikan pukul satu siang baru terlaksana setelah jam empat lewat. Kami sudah siap sejak lama, kami sebenarnya ingin mencoba kostum baru yang sebelumnya saya eksplorasi sekadar memastikan apakah bahan dan potongannya tidak mengganggu gerak di atas panggung.

Tapi ketika gladi dimulai, kami hanya diminta untuk blocking, tanpa musik dan tanpa pencahayaan, mapping yang teman saya buat pun tidak dapat kami usahakan dengan maksimal.

Mahijasena dalam sebuah aksi seni di Bali

Kami menari dalam ruang yang hening, mencoba membayangkan irama dan cahaya yang belum hadir. Dari situ saya belajar bahwa kesiapan teknis tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan batin. Hal ini menjadi semacam tamparan bagi saya pribadi, sebab karya yang saya tampilkan bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari proses kolektif bersama beberapa teman lintas disiplin yang sebaya.

Kami berproses dengan semangat belajar, berdiskusi, dan saling menumbuhkan dalam penciptaan karya ini. Bagi saya, semangat itu bukan hanya tentang menari atau mencipta, tetapi juga tentang membangun ekosistem kecil yang sehat.

Antara Energi Kolektif dan Komunikasi yang Pincang

Saya sering melihat bagaimana semangat kolektif yang seharusnya jadi kekuatan justru bisa goyah hanya karena hal sederhana: komunikasi yang tersendat. Dalam satu acara, panitia tampak sibuk mengatur tamu, soundman berjibaku dengan kabel dan peralatan, sementara kami para penampil menunggu kepastian kapan bisa mulai gladi. Setiap orang bekerja keras dengan niat baik, tapi arah kerja itu seperti tak pernah benar-benar bertemu.

Situasi seperti ini tidak jarang terjadi. Kadang semua terlihat rapi di atas kertas, tapi di lapangan justru seperti kehilangan koordinasi. Di tengah kelelahan, suara-suara saling tumpang tindih, bukan menyatu. Energi yang semestinya mengalir dari semangat bersama malah pecah di tengah jalan.

Padahal, seni adalah kerja rasa. Ia bukan mesin yang bisa diatur hanya dengan jadwal dan sistem. Namun, dalam banyak kesempatan, struktur kerja yang terlalu kaku justru membuat suasana jadi kering. Seolah panggung lebih sibuk mengejar ketepatan rundown daripada mendengar degup para penarinya.

Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa profesionalisme tidak selalu berarti ketat pada waktu atau aturan. Ia justru tumbuh dari empati dan kesediaan untuk memahami ritme satu sama lain. Karena pada akhirnya, komunikasi yang hangat sering kali lebih menenangkan daripada sistem yang sempurna.

Tentang Perlakuan yang Tidak Sama

Pengalaman itu akhirnya membuka mata saya terhadap banyak hal yang sebelumnya luput saya sadari. Baik ketika saya menjadi pengkarya, penari, maupun pendukung karya orang lain, saya mulai mengenali pola yang berulang hal-hal kecil yang diam-diam membentuk cara kita memandang dunia seni di sekitar kita.

Mahijasena (belakang) bersama Amrita belajar gambuh

Salah satunya adalah isu yang sering terasa namun jarang dibicarakan: perbedaan cara memperlakukan pelaku seni lokal dan non-lokal. Saya pernah menyaksikan bagaimana seniman dari luar negeri disambut dengan segala kelengkapan: ruang istirahat yang nyaman, jadwal teknis yang tertata, bahkan sesi diskusi yang disiapkan dengan rapi. Sementara di sisi lain, seniman lokal harus menunggu giliran, mencari ruang ganti seadanya, atau menerima perubahan jadwal tanpa penjelasan yang jelas.

Tidak ada yang salah memberi perhatian lebih kepada tamu. Tapi menjadi persoalan ketika mereka yang “dari dalam” justru harus menurunkan ekspektasi. Pelan-pelan, hal seperti ini menciptakan rasa hierarki dalam dunia seni semacam mentalitas kolonial baru, seperti paribahasa gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Padahal seni adalah wilayah setara; semua orang datang dengan niat yang sama: mempersembahkan sesuatu dari dirinya. Menghormati seniman lokal bukan semata karena mereka orang Bali, tetapi karena mereka adalah akar dari kehidupan seni itu sendiri. Dari mereka, panggung di pulau ini tumbuh dan bertahan.

Makan dan Administrasi

Ada hal-hal yang tampak kecil tapi menentukan: urusan makan, saya dan teman teman pernah menunggu lama di area prasmanan dalam suatu acara di Bali berskala internasional hanya untuk memastikan boleh makan. Ternyata nama kami, para penampil lokal, tidak tercantum dalam daftar administrasi. Akhirnya kami tetap makan, tapi dengan rasa kikuk seolah menjadi tamu di rumah sendiri.

Mungkin tampak remeh, tapi penghargaan kadang justru tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini. Bagi seorang pengkarya, setiap detail kecil adalah bagian dari pengalaman batin yang memengaruhi cara mereka hadir di panggung. Mungkin penghargaan itu memang tidak selalu berupa tepuk tangan; kadang cukup dengan memastikan semua orang bisa makan dengan tenang.

Ruang Akademik dan Tanggung Jawab Keteladanan

Semua pengalaman ini tidak saya tulis untuk menyalahkan siapa pun. Saya tahu betul, mengelola acara seni bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus disiapkan dari teknis, komunikasi, hingga menjaga suasana kerja tetap hangat di tengah tekanan waktu. Namun, justru karena kompleksitas itulah, ruang-ruang yang memiliki sumber daya dan wacana, termasuk ruang pendidikan seni, seharusnya dapat menjadi contoh dalam pengelolaan dan etika bekerja.

Melatih anak-anak menari

Barangkali sudah saatnya ruang pendidikan seni kita dilihat bukan semata sebagai tempat mengasah kemampuan teknis, melainkan juga sebagai ruang pembentukan nilai tempat belajar tentang empati, disiplin, dan tanggung jawab. Di sanalah, nilai-nilai itu tidak berhenti pada teori, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari melalui cara berproses, berkomunikasi, dan saling menghargai.

Apabila kampus, lembaga seni, dan institusi budaya mampu terus menumbuhkan budaya kerja yang saling menghargai dan terbuka terhadap dialog, maka dunia seni di Bali akan bergerak ke arah yang lebih sehat.

Dari ruang belajar yang sadar akan nilai dan proses, akan lahir generasi seniman yang tidak hanya terampil berkarya, tetapi juga peka terhadap manusia dan lingkungan kerja di sekitarnya. Dengan begitu, ekosistem seni dapat berkembang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi semua untuk tumbuh bersama.

Belajar dari Panggung Sendiri

Bali sering disebut sebagai “panggung dunia” tempat di mana budaya hidup dalam keseharian. Tapi panggung, betapapun megahnya, tetaplah ruang yang rapuh jika tidak diisi dengan rasa saling menghargai. Seni tidak tumbuh dari kesempurnaan sistem, melainkan dari kesadaran bersama untuk menjaga kemanusiaan di tengah kerja kreatif.

Dalam sesi latihan bersama anak-anak

Kami, para pengkarya muda, tentu masih banyak belajar. Tapi semestinya, lembaga-lembaga yang menaungi kami juga terus belajar: belajar untuk mendengar, memperbaiki, dan menjadi ruang yang menumbuhkan, bukan melemahkan. Karena setiap panggung, sekecil apa pun, adalah tempat belajar tentang bagaimana manusia berhubungan satu sama lain.

Dan mungkin, dari pengalaman-pengalaman kecil yang kadang melelahkan tapi jujur itu, kita semua bisa mengerti makna kalimat sederhana ini: belajar dari panggung sendiri. [T]

Penulis: Mahijasena
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliSeniseniman bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Next Post

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup -- Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co