2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Mahijasena by Mahijasena
October 31, 2025
in Esai
Belajar dari Panggung Sendiri: Catatan Seorang Pengkarya Muda di Bali

Foto-foto: Dok. Mahijasena

Di Antara Cahaya dan Realitas

MENJADI pengkarya (seniman) di Bali seringkali berarti berjalan di antara dua dunia: dunia ideal yang dipenuhi semangat berkesenian, dan dunia nyata yang dipenuhi sistem yang belum selalu siap menampung semangat itu.

Setiap tahun, pulau ini penuh dengan acara seni dari pentas kecil yang digelar oleh komunitas hingga festival berskala internasional. Bali tampak gemerlap, seperti tidak pernah kehabisan panggung. Tapi di balik cahaya itu, ada sisi lain yang lebih sunyi dan tak seindah narasi brosur. Sisi di mana para seniman, terutama yang masih muda, belajar menghadapi ketidakteraturan, kesalahpahaman, dan perbedaan perlakuan.

Sebagai pelaku seni yang masih haus belajar dan terus mencari ruang untuk berkarya, saya sering menjadikan setiap panggung besar atau kecil sebagai tempat belajar tentang bagaimana dunia seni bekerja di balik tirainya.

Saya mengingat satu peristiwa belum lama ini terjadi ketika jadwal gladi yang semula dijanjikan pukul satu siang baru terlaksana setelah jam empat lewat. Kami sudah siap sejak lama, kami sebenarnya ingin mencoba kostum baru yang sebelumnya saya eksplorasi sekadar memastikan apakah bahan dan potongannya tidak mengganggu gerak di atas panggung.

Tapi ketika gladi dimulai, kami hanya diminta untuk blocking, tanpa musik dan tanpa pencahayaan, mapping yang teman saya buat pun tidak dapat kami usahakan dengan maksimal.

Mahijasena dalam sebuah aksi seni di Bali

Kami menari dalam ruang yang hening, mencoba membayangkan irama dan cahaya yang belum hadir. Dari situ saya belajar bahwa kesiapan teknis tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan batin. Hal ini menjadi semacam tamparan bagi saya pribadi, sebab karya yang saya tampilkan bukanlah hasil kerja individu, melainkan buah dari proses kolektif bersama beberapa teman lintas disiplin yang sebaya.

Kami berproses dengan semangat belajar, berdiskusi, dan saling menumbuhkan dalam penciptaan karya ini. Bagi saya, semangat itu bukan hanya tentang menari atau mencipta, tetapi juga tentang membangun ekosistem kecil yang sehat.

Antara Energi Kolektif dan Komunikasi yang Pincang

Saya sering melihat bagaimana semangat kolektif yang seharusnya jadi kekuatan justru bisa goyah hanya karena hal sederhana: komunikasi yang tersendat. Dalam satu acara, panitia tampak sibuk mengatur tamu, soundman berjibaku dengan kabel dan peralatan, sementara kami para penampil menunggu kepastian kapan bisa mulai gladi. Setiap orang bekerja keras dengan niat baik, tapi arah kerja itu seperti tak pernah benar-benar bertemu.

Situasi seperti ini tidak jarang terjadi. Kadang semua terlihat rapi di atas kertas, tapi di lapangan justru seperti kehilangan koordinasi. Di tengah kelelahan, suara-suara saling tumpang tindih, bukan menyatu. Energi yang semestinya mengalir dari semangat bersama malah pecah di tengah jalan.

Padahal, seni adalah kerja rasa. Ia bukan mesin yang bisa diatur hanya dengan jadwal dan sistem. Namun, dalam banyak kesempatan, struktur kerja yang terlalu kaku justru membuat suasana jadi kering. Seolah panggung lebih sibuk mengejar ketepatan rundown daripada mendengar degup para penarinya.

Dari pengalaman itu saya belajar, bahwa profesionalisme tidak selalu berarti ketat pada waktu atau aturan. Ia justru tumbuh dari empati dan kesediaan untuk memahami ritme satu sama lain. Karena pada akhirnya, komunikasi yang hangat sering kali lebih menenangkan daripada sistem yang sempurna.

Tentang Perlakuan yang Tidak Sama

Pengalaman itu akhirnya membuka mata saya terhadap banyak hal yang sebelumnya luput saya sadari. Baik ketika saya menjadi pengkarya, penari, maupun pendukung karya orang lain, saya mulai mengenali pola yang berulang hal-hal kecil yang diam-diam membentuk cara kita memandang dunia seni di sekitar kita.

Mahijasena (belakang) bersama Amrita belajar gambuh

Salah satunya adalah isu yang sering terasa namun jarang dibicarakan: perbedaan cara memperlakukan pelaku seni lokal dan non-lokal. Saya pernah menyaksikan bagaimana seniman dari luar negeri disambut dengan segala kelengkapan: ruang istirahat yang nyaman, jadwal teknis yang tertata, bahkan sesi diskusi yang disiapkan dengan rapi. Sementara di sisi lain, seniman lokal harus menunggu giliran, mencari ruang ganti seadanya, atau menerima perubahan jadwal tanpa penjelasan yang jelas.

Tidak ada yang salah memberi perhatian lebih kepada tamu. Tapi menjadi persoalan ketika mereka yang “dari dalam” justru harus menurunkan ekspektasi. Pelan-pelan, hal seperti ini menciptakan rasa hierarki dalam dunia seni semacam mentalitas kolonial baru, seperti paribahasa gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.

Padahal seni adalah wilayah setara; semua orang datang dengan niat yang sama: mempersembahkan sesuatu dari dirinya. Menghormati seniman lokal bukan semata karena mereka orang Bali, tetapi karena mereka adalah akar dari kehidupan seni itu sendiri. Dari mereka, panggung di pulau ini tumbuh dan bertahan.

Makan dan Administrasi

Ada hal-hal yang tampak kecil tapi menentukan: urusan makan, saya dan teman teman pernah menunggu lama di area prasmanan dalam suatu acara di Bali berskala internasional hanya untuk memastikan boleh makan. Ternyata nama kami, para penampil lokal, tidak tercantum dalam daftar administrasi. Akhirnya kami tetap makan, tapi dengan rasa kikuk seolah menjadi tamu di rumah sendiri.

Mungkin tampak remeh, tapi penghargaan kadang justru tumbuh dari hal-hal kecil seperti ini. Bagi seorang pengkarya, setiap detail kecil adalah bagian dari pengalaman batin yang memengaruhi cara mereka hadir di panggung. Mungkin penghargaan itu memang tidak selalu berupa tepuk tangan; kadang cukup dengan memastikan semua orang bisa makan dengan tenang.

Ruang Akademik dan Tanggung Jawab Keteladanan

Semua pengalaman ini tidak saya tulis untuk menyalahkan siapa pun. Saya tahu betul, mengelola acara seni bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus disiapkan dari teknis, komunikasi, hingga menjaga suasana kerja tetap hangat di tengah tekanan waktu. Namun, justru karena kompleksitas itulah, ruang-ruang yang memiliki sumber daya dan wacana, termasuk ruang pendidikan seni, seharusnya dapat menjadi contoh dalam pengelolaan dan etika bekerja.

Melatih anak-anak menari

Barangkali sudah saatnya ruang pendidikan seni kita dilihat bukan semata sebagai tempat mengasah kemampuan teknis, melainkan juga sebagai ruang pembentukan nilai tempat belajar tentang empati, disiplin, dan tanggung jawab. Di sanalah, nilai-nilai itu tidak berhenti pada teori, melainkan hidup dalam praktik sehari-hari melalui cara berproses, berkomunikasi, dan saling menghargai.

Apabila kampus, lembaga seni, dan institusi budaya mampu terus menumbuhkan budaya kerja yang saling menghargai dan terbuka terhadap dialog, maka dunia seni di Bali akan bergerak ke arah yang lebih sehat.

Dari ruang belajar yang sadar akan nilai dan proses, akan lahir generasi seniman yang tidak hanya terampil berkarya, tetapi juga peka terhadap manusia dan lingkungan kerja di sekitarnya. Dengan begitu, ekosistem seni dapat berkembang lebih manusiawi, berkelanjutan, dan memberi ruang bagi semua untuk tumbuh bersama.

Belajar dari Panggung Sendiri

Bali sering disebut sebagai “panggung dunia” tempat di mana budaya hidup dalam keseharian. Tapi panggung, betapapun megahnya, tetaplah ruang yang rapuh jika tidak diisi dengan rasa saling menghargai. Seni tidak tumbuh dari kesempurnaan sistem, melainkan dari kesadaran bersama untuk menjaga kemanusiaan di tengah kerja kreatif.

Dalam sesi latihan bersama anak-anak

Kami, para pengkarya muda, tentu masih banyak belajar. Tapi semestinya, lembaga-lembaga yang menaungi kami juga terus belajar: belajar untuk mendengar, memperbaiki, dan menjadi ruang yang menumbuhkan, bukan melemahkan. Karena setiap panggung, sekecil apa pun, adalah tempat belajar tentang bagaimana manusia berhubungan satu sama lain.

Dan mungkin, dari pengalaman-pengalaman kecil yang kadang melelahkan tapi jujur itu, kita semua bisa mengerti makna kalimat sederhana ini: belajar dari panggung sendiri. [T]

Penulis: Mahijasena
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesenian baliSeniseniman bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Sesi Dengar “Before It Burns”: Scared Of Bums Bangkit dengan Amarah yang Lebih Dalam

Next Post

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Mahijasena

Mahijasena

Nama panjangnya Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena yang kerap dipanggil Gus Sena, merupakan mahasiswa ISI Bali dalam disiplin Tari, yang hobi ngopi dan nongkrong

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup — Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Festival Ini Telah Menjadi Pengalaman yang Mengubah Hidup -- Dari Pembukaan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co