23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
October 17, 2025
in Persona
Lumpia Pak Dewa di Kampus UPMI Bali: Kisah Hidup Tentang Ketekunan pada Zaman yang Berubah-ubah

Pak Dewa dan lumpia di UPMI Bali

DI tengah hiruk-pikuk kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, aroma lumpia goreng yang renyah dan gurih selalu menjadi magnet bagi para mahasiswa yang lapar. Penjualnya? Bapak yang akrab disapa Pak Dewa di kampus. Di kampung halamannya di Klungkung, ia dikenal sebagai Aji Sanes. Lahir tahun 1975 dan kini berusia 50 tahun, Pak Dewa bukan sekadar pedagang lumpia. Ia adalah cerita hidup tentang ketekunan, keluarga, dan rasa yang tak tergantikan, yang telah mewarnai rutinitas kampus sejak 2001.

Perjalanan Pak Dewa dimulai jauh sebelum ia menetap di halaman UPMI. Sejak 1992, ia sudah bergelut dengan dunia lumpia, tapi hidupnya penuh percobaan. Pernah jadi bawangkot di Batu Bulan, Klungkung, sempat merantau ke Jawa sebagai kenek bus, hingga keliling Denpasar jualan lumpia sebelum menetap di ibu kota Bali itu pada 2000.

“Dulu saya coba pekerjaan ini-itu, tapi yang bikin betah ya itu, jualan lumpia karena nggak ada yang mengikat,” ceritanya dengan tawa khasnya.

Di desa, tanggung jawab adat sebagai klian banjar dan bekerja di BPD membuatnya sulit terikat jadwal kerja kantor. Berjualan lumpia memberinya kebebasan: pulang-pergi dari Klungkung ke Denpasar setiap hari, sambil mengurus ternak babi satu-dua ekor di kampung sebagai sambilan. Istri tercintanya pun ikut berjuang, berjualan lumpia di Pasar Galiran Klungkung dari pagi lalu sekitar pukul sembilan atau sepuluh langsung balik ke rumah, meski dulu sempat jadi tukang jarit.

Keempat anak Pak Dewa, semuanya perempuan, menjadi motivasi utama. Satu sudah wisuda, satu lagi kuliah perhotelan, sisanya masih sekolah.

“Saya cuma mau mereka sekolah tinggi,” ujarnya sederhana.

Mira, mahasiswa UPMI Bali, pelanggan lumpia Pak Dewa

Pak Dewa sendiri hanya tamat SD karena jarak SMP 15 kilometer dulu terlalu jauh, angkot berdesak-desakan, dan ekonomi keluarga minim. SMA? 20 kilometer lagi, mustahil. Merantau ke Denpasar justru membuka mata: ada SMP dekat, 2 kilometer saja. Kini, melihat mahasiswa UPMI, ia tersenyum bangga.

“Melihat adik-adik mahasiswa, saya juga harus mampu membuat anak-anak masuk perguruan tinggi semua.”

Rahasia lumpia Pak Dewa? Bukan sulap, tapi ketulusan dan kesegaran bahan. Kulitnya dibuat dari 80% tepung terigu, dicampur air dan sedikit garam hingga adonan tipis dan elastis, lalu diisi sayur segar seperti kol, wortel, dan tauge yang ditumis ringan. Bumbunya khas: gula Bali yang manis legit, bawang putih halus, petis udang pekat, serta tauco yang asin gurih—semua direbus jadi sambal kental yang meresap sempurna. Dulu ia belajar resep ini selama setahun dari senior, tapi puluhan tahun berlalu, kini ia buat sendiri di rumah bersama istri.

“Bahan harus asli, jangan pemanis buatan, dan jangan diinapkan. Lumpia nggak boleh diinapkan, harus baru semua biar renyah dan enak,” tegasnya.

Hari biasa di kampus, dagangan bisa terjual 500-600 ribu rupiah dari lumpia, tahu, tempe—semua ludes, tanpa hitung-hitungan ketat karena dibuat hati-hati. Tapi berjualan tak selalu mulus. Tantangan terbesar? Cuaca. Musim hujan, terutama akhir tahun, bikin jualan keliling di pantai sepi total. “Lumayan berat,” akunya.

Pak Dewa menjelaskan tantangan berjualan di luar kampus, jualan keliling, pasti lah tantangannya itu cuaca apalagi mau mendekati akhir tahun pasti hujan dan itu sangat menjadi tantangannya. Karena jualan di pantai pasti jarang bahkan tidak ada yang membeli pada musim hujan. Kalau di kampus tantangannya adalah, semenjak usai corona (maksudnya pandemi Covid19) itu sedikit ada yang datang, biasanya kadang-kadang mahasiswa diberitahu ada kelas besoknya tetapi mendadak online, jadilah tidak jadi datang ke kampus, Pak Dewa sebagai pedagang lumayan merasakan sepi.

“Dulu sebelum 2019, saya hapal jadwal kuliah. Mereka tetap datang meski dosen tiba-tiba tidak jadi mengajar, karena belum ada online. Sekarang untungnya kembali ramai,” ujarnya.

Kejadian lucu sampai pedih pun pernah ia alami. Ia bercerita sambil mengingat kembali. Ketika hujan deras di kampus, ia terjatuh, punggung tersiram bumbu panas, lumpianya berserakan sampai mengganggu aktivitas mahasiswa olahraga. Atau saat upacara ngaben di Desa Siangan, ia juga tergelincir ke kali—lumpia hanyut, uang hilang, ditonton ribuan orang. “Dibilang lucu iya sedih jugaiya,” candanya sambil tertawa, menunjukkan keramahannya yang terbuka terhadap semua pengalaman yang ia pernah alami.

Interaksi dengan orang-orang di kampus jadi obat penawar. Pak Dewa sudah kenal dosen dan mahasiswa lama, ngobrol santai sambil melihat mahasiswa yang sibuk skripsian atau bimbingan.

“Enaknya, lumpia ludes, lalu bergurau bareng. Plong rasanya, nggak ada beban,” katanya. Ia tak muluk: umur 50, nasib begini, cukup sehat dan anak-anak sekolah. Pesan untuk mahasiswa? “Jangan tiru Pak jualan seperti ini. Rajin belajar, capai cita-cita!”

Mahasiswa pun tak kalah antusias. Ni Made Satyawati, mahasiswi Bahasa Indonesia, bilang Pak Dewa bukan pedagang biasa, tapi “bagian cerita keseharian kami.” Ramah, murah senyum, beli lumpia rasanya beli semangat juga. “Renyah gurih, bumbu pas, tempe bikin nambah terus. Rasa rumahan, tulus dari tangan sabar.” Ia doakan Pak Dewa sehat, rezeki lancar, dan saran yang Tya sampaikan, yaitu tambah varian pedas—tapi jangan ubah rasa sederhana yang bikin kampus hidup.

Sabina Sanji Putri, alumni baru lulus, kagum dengan keunikannya: lumpia biasa di pantai atau lapangan, jarang di kampus. “Pak Dewa sosok pekerja keras, sabar melayani pelanggan, bumbu manisnya pas buat pecinta seperti saya.”

Lalu staf perpustakaan Fakultas Bahasa dan Seni juga menambahkan, “Langganan seluruh kampus, murah, gurih, bumbunya lezat!”

Mira, salah satu mahasiswi jurusan matematika ini juga menyampaikan pendapat tentang Pak Dewa seorang penjual lumpia di kampus bahwa ia adalah sosok yang konsisten dalam berjualan lumpia dan dia bisa menguliahkan anak-anaknya melalui jualan lumpia ini.

Pak Dewa dan lumpianya bukan cuma makanan—ia simbol ketangguhan, yang renyah di luar, hangat di hati. Di era serba online ini, kehadirannya ingatkan kita: rasa autentik lahir dari perjuangan nyata. [T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: kulinerUPMI Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

UWRF 2025: Keseimbangan Potensi Kreatif Manusia dengan Kekuatan Kosmik

Next Post

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Absurditas dan Ketabahan Orang Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co