PAGI yang cerah menerpa Desa Ambengan di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, tepatnya di Dusun Bukit Balu. Embun baru saja menguap dari pucuk-pucuk cengkeh, meninggalkan aroma segar yang menenangkan. Suara bambu yang bergesekan di tepi jalan mengiringi langkah menuju rumah perbekel (kepala desa)—rumah yang menjadi saksi pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Di sanalah tersimpan lima lontar warisa desa, peninggalan yang telah berpindah tangan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hari itu, rombongan dari penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Sukasada yang berakar dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali datang, bersamaan dengan para mahasiswa IAHN Mpu Kuturan, khususnya dari program Studi Bahasa Bali yang sedang menjalankan KKN di desa tersebut. Tujuannya sederhana tapi tersirat sakral, membersihkan lontar-lontar yang mulai rapuh dimakan waktu.
Rumah perbekel bak ruang sakral kecil, beralaskan karpet hijau dan koran bekas. Di meja kayu, peralatan tertata rapih, minyak sereh yang harum menyengat di hidung, kuas kecil, tissue, dan kemiri yang biasa dikenal orang Bali yaitu tingkih yang sudah dibakar dicampur minyak sereh—digunakan untuk menghitamkan kembali tulisan lontar yang mulai memudar.
Satu per satu, lembar per-lembar lontar dibuka dengah hati-hati. Tangan dan kuku yang mulai menghitam imbas kemiri yang sudah terbakar digiling bercampur minyak sereh, diiringi suara rindik yang dimainkan oleh perbekel sebagai tuan rumahnya, ada getar halus di setiap sapuan kuas, seolah daun lontar itu menyimpan napas panjang sejarah yang tak ingin tergesa dibangunkan.


“Pertama kita buka dulu lontarnya, lihat kondisinya. Kalau tulisannya mulai pudar, kita isi tingkih supaya lebih jelas,” kata I Wayan Sutapayasa, Koordinator Baga Lontar Kecamatan Sukasada.
Sembari mengelus permukaan lontar yang sudah menua, gerakannya pelan nyaris seperti doa. Proses yang bukan sekedar membersihkan, ini adalah cara manusia berbincang dengan masa lalu—dengan leluhur yang menitipkan pengetahuan dan doa di balik aksara-aksara Bali yang diukir di atas daun lontar.
Satu demi satu naskah diidentifikasi menggunakan formular kertas. Beberapa lontar berjudul Kadiatmikan berukuran 22 centimeter dengan tebal 21 halaman beraksara Bali bahasa Kawi dan Lontar berjudul Kaweruhan dengan kondisinya yang kering dan tak utuh, namun tetap disucikan seperti tubuh yang renta tapi bermartabat.

Semua lontar difoto dan dianalisis dan pada akhirnya akan di digitalisasi agar lebih mudah dibaca dan dipahami. Proses ini bisa memakan waktu hingga lima bulan lamanya—sebuah kesabaran yang jarang kita temui di zaman yang serba cepat ini.
“Lontar-lontar di Ambengan sebenarnya masih sangat banyak, tapi banyak juga yang belum terawat. Lontar ini kan peninggalan nenek moyang kita, sakral sifatnya, jadi orang kadang takut untuk menyentuhnya, padahal, di sana tersimpan ilmu ketuhanan, pengobatan, tuntunan menuju moksa, semua ada disitu,” ujar Nyoman Seri, selaku Perbekel (Kepala Desa) Ambengan.
Kata-kata itu menggema di benak, menyentuh sisi batin yang jarang diajak bicara. Di balik selembar lontar, tersimpan bukan hanya aksara, melainkan cahaya pengetahuan yang pernah menerangi jiwa-jiwa leluhur.

Mereka yang hadir—para penyuluh, mahasiswa seolah sedang menapaki jembatan antara dunia modern dan dunia lampau. Tangan muda yang memegang kuas dan tisu bukan sekedar belajar teknik konservasi, tetapi juga belajar menghormati keheningan yang hidup di dalam benda-benda tua.
Suatu yang menyengat seperti bau minyak sereh bercampur kemiri dan aroma lontar tua, mengingatkan, mungkin di masa lalu, seorang penulis lontar di desa ini pernah duduk seperti itu juga, menulis aksara dengan sangat sabar, sinar matahari yang menyorot pelipis memancing keringat bercucuran. Dan kini, ratusan tahun kemudian, generasi baru hadir untuk menjaga tulisan-tulisan kuno itu kembali tampak hitam di atas permukaan yang menguning.
Sejatinya, setiap kita membersihkan lontar, kita juga membersihkan bagian dari diri kita sendiri—bagian yang terlupakan, tertimbun debu waktu dan kesibukan di era modern ini. Ada upaya kecil untuk kembali memahami siapa kita dan dari mana kita berasal.


Siang mulai menerik, sinar merambat ke sela-sela batang cengkeh di area sekitar, lontar-lontar yang tadinya kusam kini tampak berkilau, seperti baru saja disapa oleh masa depan. Dan di Ambengan, kita belajar bahwa menjaga warisan bukan hanya soal benda—tetapi soal hati yang tak ingin putus dari akarnya. [T]
- Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Ambengan, Sukasada, Buleleng
Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor: Adnyana Ole
![[Tuturangan Ambengan 1]: Menyentuh Lontar, Menyentuh Ingatan Leluhur](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/10/arix.-lontar1-750x375.jpeg)


























