DALAM novel Selingkuh (judul asli: Adultery) Paulo Coelho, kita bertemu dengan Linda, seorang jurnalis di Swiss yang hidupnya tampak sempurna. Ia punya suami yang mapan, dua anak, rumah bagus, dan karier yang stabil. Tapi di balik kemapanan itu, ada kekosongan yang ia rasakan. Setiap pagi Linda bangun dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri, seolah hidupnya dijalankan oleh orang lain.
Ketika ia bertemu kembali dengan Jacob, mantan kekasih masa mudanya, gairah lama muncul. Mereka berselingkuh. Namun Coelho tak sedang menulis kisah tentang dosa, melainkan tentang kegelisahan eksistensial manusia modern. Linda merasa hidupnya terlalu tertib, terlalu benar, hingga kehilangan rasa hidup itu sendiri. Ia menukar keteraturan dengan risiko, menukar kedamaian dengan rasa bersalah, demi merasakan kembali denyut kehidupan.
Membaca Coelho, kita seperti bercermin pada zaman kita sendiri; zaman yang menjadikan kesetiaan sebagai norma, tapi sekaligus memproduksi begitu banyak kebosanan. Zaman ketika cinta diukur lewat unggahan, dan keintiman bisa berakhir di kolom komentar.
Pekan ini, linimasa di Bali kembali riuh oleh kabar perselingkuhan. Nama-nama disebut, foto dan video disebar, rekaman suara dikutip, dan masyarakat bersorak seperti sedang menonton sinetron tanpa jeda iklan. Perselingkuhan di Bali, seperti di tempat lain, selalu menggoda. Ia menyentuh wilayah yang paling tabu sekaligus paling manusiawi.
Kita hidup di era di mana pelanggaran pribadi menjadi tontonan publik. Dulu, skandal semacam itu dibicarakan di warung kopi; kini, diunggah di media sosial dan menjadi “peristiwa budaya” yang mengundang komentar moral, tawa, cemooh, hingga simpati. Setiap orang merasa berhak menilai, seolah tidak ada rahasia lagi yang boleh disembunyikan.
Namun, jika kita meminjam kacamata antropologi, peristiwa ini bisa dibaca lebih dalam. Mengapa manusia berselingkuh? Mengapa masyarakat begitu terobsesi pada pelanggaran moral orang lain?
Bagi antropologi, selingkuh bukan semata pelanggaran norma, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang relasi kuasa, ekonomi, gender, bahkan struktur kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, hubungan di luar pernikahan tidak selalu dianggap dosa, kadang justru diatur dengan cara-cara tertentu agar tidak merusak tatanan sosial.
Claude Lévi-Strauss dalam The Elementary Structures of Kinship menulis bahwa perkawinan adalah sistem pertukaran, bukan hanya ikatan cinta. Dalam kerangka itu, selingkuh bisa dibaca sebagai bentuk “pertukaran liar”, upaya individu untuk keluar dari sistem yang mengekang. Ia menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan otonomi, sekaligus risiko.
Bronislaw Malinowski, saat meneliti masyarakat Kepulauan Trobriand di Papua Nugini, menemukan bahwa hubungan seksual di luar ikatan formal seringkali diatur oleh norma adat yang lentur. Tidak semua bentuk hubungan dianggap salah; yang penting adalah keseimbangan sosialnya terjaga.
Antropologi tidak membenarkan selingkuh, tapi mengajarkan kita melihat konteks di balik perilaku. Bahwa setiap tindakan manusia adalah hasil dari tarik-menarik antara nilai, hasrat, dan struktur sosial yang melingkupinya.
“Mamitra” di Bali
Di Bali, ada istilah lama yang jarang disebut di ruang publik, yakni, mamitra. Secara harfiah, artinya memiliki “teman dekat”, tetapi dalam konteks tertentu, ia bermakna hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Istilah ini hidup dalam bisik-bisik, dalam percakapan yang penuh tanda, dalam bahasa tubuh yang lebih sering disembunyikan daripada diucapkan.
Mamitra tidak selalu diartikan negatif. Dalam beberapa lapisan masyarakat tradisional, ia pernah dimaklumi, terutama ketika melibatkan relasi ekonomi atau patronase. Seorang bangsawan bisa memiliki mitra dari kalangan rakyat biasa; seorang perempuan bisa menjadi mitra seorang pria berstatus sosial tinggi, tanpa keharusan menikah. Hubungan ini kadang didasari rasa, kadang karena kebutuhan.
Tentu, dalam konteks Bali modern yang kental dengan norma agama dan adat, istilah itu jarang muncul. Tapi jejaknya masih terasa. Dalam kehidupan sosial yang tertib, mamitra menjadi wilayah abu-abu antara rahasia dan gosip, antara cinta dan aib.
Antropolog Bali pernah mencatat gejala ini sebagai bentuk “adaptasi kultural terhadap tekanan moral”, cara masyarakat menegosiasikan hasrat tanpa harus mengguncang struktur adat yang ketat. Selingkuh, dalam pengertian ini, bukan sekadar tindakan personal, tapi juga simbol perlawanan halus terhadap sistem sosial yang menuntut kesempurnaan moral.
Jika kita perhatikan, sebagian besar kasus selingkuh yang viral di Bali selain dilakukan oleh orang biasa, juga melibatkan orang-orang berstatus sosial tertentu, seperti tokoh publik, artis, atau pengusaha. Itu menunjukkan bahwa perselingkuhan juga terkait dengan relasi kekuasaan dan status.
Dalam masyarakat tradisional, memiliki lebih dari satu pasangan bisa menjadi tanda kehormatan; dalam masyarakat modern, ia menjadi skandal. Namun esensinya sama, yaitu, tubuh dan cinta sering menjadi arena pertukaran simbolik. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai bentuk capital erotis, di mana daya tarik seksual menjadi modal sosial yang bisa dipertukarkan dengan status, uang, atau rasa aman.
Maka, ketika publik menghakimi pelaku selingkuh, sesungguhnya mereka sedang mengafirmasi nilai-nilai sosial yang ingin mereka pertahankan. Kita menghukum bukan hanya individu, tapi juga bayangan diri kita yang pernah, atau bisa saja, melakukan hal yang sama.
Dari Coelho ke Bali
Paulo Coelho menulis kisah Linda di Swiss, tapi kisah itu mudah kita temukan di Denpasar, Jembrana, Gianyar, atau Singaraja. Bedanya hanya latar, bukan rasa. Hasrat yang membara di balik rumah tangga yang hening, rasa bosan pada rutinitas, dan keinginan untuk merasa hidup kembali. Semuanya adalah bagian dari kodrat manusia yang tak lekang oleh adat.
Namun, budaya menentukan cara kita menghadapinya. Di Bali, rasa bersalah tidak hanya ditanggung secara pribadi, tapi juga sosial. Seseorang yang ketahuan berselingkuh bukan hanya melukai pasangan, tapi juga memalukan keluarga, banjar, bahkan desa adat. Di sini, moralitas menjadi urusan kolektif.
Karenanya, fenomena mamitra sering kali hidup di bawah permukaan. Bukan karena orang Bali tidak tahu itu salah, tapi karena mereka tahu dunia ini tidak sesederhana hitam-putih. Ada ruang abu-abu tempat manusia bersembunyi dari hukuman, sekaligus mencari pengampunan.
Jika kita tarik ke dalam, mungkin inti dari semua ini bukan pada pelanggaran, tapi pada rasa sepi. Dalam dunia yang serba terukur, di mana cinta harus diabadikan dalam foto dan moral dijaga lewat caption, manusia kehilangan ruang intim untuk merasa rapuh. Selingkuh, dalam kacamata tertentu, adalah bentuk pelarian dari kesunyian yang tak tertahankan.
Linda, tokoh Coelho, akhirnya sadar bahwa pelarian itu tak membawa kebahagiaan. Begitu pula banyak orang di dunia nyata. Selingkuh tak menyembuhkan luka; ia hanya menunda pertemuan dengan diri sendiri. Tapi dari luka itu, manusia belajar tentang batas, tentang rasa, dan tentang betapa sulitnya menjadi setia. Bukan kepada orang lain, tapi kepada makna hidup itu sendiri
Antropologi mengajarkan kita bahwa manusia tak bisa dilepaskan dari konteks budayanya. Selingkuh bisa berbeda makna di tiap masyarakat, tapi di balik semua perbedaan itu, selalu ada hal yang sama: kerinduan akan pengakuan dan rasa hidup.
Di Bali, di tengah masyarakat yang menjunjung harmoni, kisah-kisah mamitra diam-diam menunjukkan sisi lain dari kemanusiaan—bahwa harmoni kadang harus dinegosiasikan dengan rahasia. Bahwa di balik upacara dan tatanan adat yang rapi, ada denyut hasrat yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan.
Dari Swiss hingga Bali, dari Linda hingga siapa pun yang kini viral di linimasa, manusia tetap makhluk yang rapuh dan mencari. Mungkin, seperti kata Coelho, “Kita tidak selingkuh karena ingin meninggalkan seseorang, tapi karena ingin menemukan diri kita yang hilang”. Dan barangkali, di titik itu, kita baru sadar, bahwa yang paling sering kita khianati bukan pasangan, melainkan kesadaran kita sendiri tentang cinta. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA


























