13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Hartanto by Hartanto
October 14, 2025
in Ulas Rupa
“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Di sebuah sudut keriuhan kota Kupang, kita bisa sejenak melepas penat sembari minum kopi hangat di D’Art Cafe and Gallery – Kupang. Tepatnya, di Jalan Lingkar Luar No.40, Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT

Di sana, saat ini, bukan hanya minuman dan makanan saja yang bisa kita nikmati – tapi juga lukisan yang terpajang dengan apik. Yang bisa kita nikmati bukanlah sekedar 55 karya rupa dan 3 buah buku dari 22 partisipan. Melainkan jiwa-jiwa yang pernah retak.

Dan kini, dari tanggal 10 Oktober 2025 dan berakhir 24 Oktober 2025 – mereka  bicara tanpa kata, lewat pameran karya rupa. Tajuk pameran adalah “Catatan Luka”.  Ini bukan sekadar perayaan estetika, melainkan peristiwa batin yang mengguncang sunyi dari 22 penyintas gangguan jiwa. Mereka menorehkan kisahnya, dengan garis, bentuk, bidang, tekstur, coretan, dan cahaya yang temaram.

Mereka bukan seniman biasa. Mereka adalah penyintas yang pernah tenggelam dalam gelap, namun kini berupaya menyalakan lentera dari dalam. Setiap karya adalah catatan luka – bukan untuk dikasihani, tetapi untuk dipahami.

Di balik isi kepala yang dikelilingi mata-mata asing, di balik lanskap kelam yang hanya diterangi satu cahaya – tersimpan harapan yang tak padam. Mereka tidak meminta simpati. Mereka menawarkan kejujuran dari ekspresi jiwanya.

Kurator pameran, Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa – membuka ruang ini bukan sekedar sebagai galeri, tetapi juga sebagai altar pemulihan. Terutama, para penyintas dan pasien gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare. Di sini, seni rupa menjadi medium yang menyambung jiwa yang pernah terpatah.

Di sini, stigma diluruhkan, dan potensi diangkat ke permukaan. Para penyintas tidak lagi dipandang sebagai pasien, tetapi sebagai pencipta – yang karyanya lahir dari kedalaman yang tak bisa dijangkau oleh teori.

Mereka adalah bagian dari sejarah panjang yang disebut Outsider-Art, atau Art Brut – seni mentah yang lahir dari naluri, bukan dari akademi. Seperti Adolf Wolfli, Ni Nyoman Tanjung, atau Dwi Putro.

Menurut Dewa Putu Sahadewa, Art Brut seringkali mengedepankan karya seniman dengan gangguan seperti skizofrenia. Lukisan mereka kerap mencerminkan pribadi yang obsesif, meluapkan naluri purba yang muncul di bawah rundungan delirium.

Delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Mereka, tambah Sahadewa, mencipta bukan untuk sekedar pameran, tetapi untuk bertahan. Kini, karya mereka berdiri sejajar dengan seniman kontemporer di Museum Collection d’Art Brut di Laussane, Switzerland. Bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai penegasan, bahwa kreativitas tidak mengenal batas.

Sejak abad ke-19, para dokter dan filsuf telah memperdebatkan batas antara jenius dan kegilaan.  Beberapa ahli menyimpulkan, batas keduanya amat tipis. Namun di ruang ini, batas itu tidak lagi penting.

Hal itu, dijelaskan Sahadewa – bahwa kaitan antara daya cipta luar biasa dan kondisi kejiwaan sudah lama menjadi perdebatan. Pada tahun 1857, dr. W.A. Browne (Skotlandia) menerbitkan Art In Madnes. Kemudian, Sahadewa menambahkan –  dokter Italia Cesare Lombroso melahirkan Genio e Folia (Genius and Madness), yang meyakini adanya batas tipis antara jenius kreatif dan gangguan jiwa.

Yang penting, ujar Sahadewa – adalah keberanian untuk mencipta, untuk mengekspresikan, untuk menyembuhkan diri melalui seni. Lukisan-lukisan mereka bukan sekadar visual, tetapi pelampiasan naluri purba, obsesi yang jujur, dan delirium yang menjadi bentuk.

Pada pameran Catatan Luka ini, bukan hanya seni rupa yang di pertunjukkan. Puisi dan cerpen mereka, juga berteriak dengan indah – kadang seperti bisikan yang tajam, kadang seperti pelukan yang hangat.

Craf atau kerajinan tangan mereka juga menunjukkan ketekunan, sensitivitas, dan kemampuan yang tak kalah dari seniman formal. Mereka seperti sedang berkata, apa yang pernah dipikirkan oleh filsuf asall Perancis, Descrates – Cogito Ergo Sum “aku berpikir maka aku ada”

Dahulu kala, di dinding gua-gua purba, manusia mulai mengguratkan dunia batinnya dengan torehan  arang , torehan benda tajam atau tanah liat. Di sana, lahirlah bahasa sebelum kata – nyanyian sebelum suara, dan doa sebelum agama. Sejak itu, seni rupa tak pernah berhenti menjadi cermin zaman – berubah bentuk, namun tetap menjadi jendela jiwa.

Dari altar pemujaan hingga galeri kontemporer –  dari simbol sakral hingga fragmen dunia profan, seni rupa adalah napas yang menghidupkan makna. Ia bukan sekadar bentuk, tetapi jejak batin yang tak terucap. Dalam setiap garis dan warna, tersimpan perasaan yang tak bisa dijelaskan, luka yang tak bisa dituturkan, dan harapan yang tak bisa dihambat.

Dr Dewa Ayu Putu Shinta Widari SpKJ, MARS – Psikiater pada Klinik Utama Jiwa DMH dan RSIA Dedari, serta Dosen Ilmu Psikiatri pada FK   UNDANA  – menyebutkan di pengantarnya, bahwa para filsuf besar – Aristoteles, Kant, Nietzsche – telah menatap seni sebagai cermin eksistensi.

Para psikolog – tambah dr Shinta – Freud, Jung, Maslow – menyentuhnya sebagai jalan penyembuhan. Namun lebih dari teori, para senimanlah yang merasakannya, bahwa seni adalah bahasa jiwa, tempat manusia berbicara kepada dunia dan kepada dirinya sendiri.

Dan kini, pada pameran “Catatan Luka” ini, di tengah riuhnya zaman yang sering melupakan kedalaman, seni rupa kembali menawarkan pelukan, sebagai terapi, sebagai ruang aman, sebagai jalan pulang, menuju kesembuhan yang membahagiakan.

Senirupa adalah bahasa visual. Ia tak menuntut kata-kata. Ia menerima tangisan dalam warna, kemarahan dalam bentuk, dan kerinduan dalam tekstur. Ia menjadi saluran bagi yang tak terucap, ruang bagi yang tersembunyi.

Seni rupa mengajak kita semua untuk hadir, untuk melihat diri sendiri tanpa cermin, untuk menyentuh luka tanpa takut, dan untuk berbicara tanpa suara. Ia bukan sekadar aktivitas, tetapi ritual pemulihan.

Menurut Dr. Sinta, di ruang terapi, terapis bukan hakim, melainkan penjaga taman. Ia menyediakan tanah, air, dan cahaya. Individu datang dengan benih-benih rasa, lalu menanamnya dalam kanvas, tanah liat, atau kertas. Mereka menyiramnya dengan imajinasi, dan menunggu ‘bunga-bunga makna’ tumbuh. Cahaya pun, kian benderang.

Seni rupa tak menyembuhkan dengan obat, tapi dengan kehadiran. Ia mengurangi kecemasan seperti embun yang menenangkan daun. Ia meningkatkan harga diri seperti matahari yang menyapa pagi.

Ia membangun koneksi sosial seperti akar yang saling merangkul di bawah tanah. Ia melatih fokus, kepekaan, dan keberanian untuk melihat diri sendiri. Ia bukan pelarian, tapi perjalanan pulang.

Seni rupa bukan sekadar hobi. Ia adalah doa yang tak terucap, pelukan yang tak terlihat, dan jalan yang tak beraspal. Ia adalah ruang di mana manusia bisa menjadi utuh, meski retak. Ia adalah terapi yang tak memaksa, hanya mengundang.

Dalam garis, tekstur, coretan, cipratan, warna, dan bentuk, kita menemukan bukan hanya keindahan, tapi juga pemulihan. Kita menemukan bahwa seni bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan – sebagai cermin, sebagai teman, sebagai penyembuh. Mungkin saja, dalam satu goresan kecil di sudut kanvas, kita menemukan dunia yang selama ini kita cari – dunia di dalam diri.

Mari, sejenak kita nikmati beberapa karya mereka. Tercatat, yang paling produktif adalah Sadiyah Handayani dengan 17 karya. Saya tertarik dengan salah satu karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”. Mari simak karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”.

Dalam karya tiga panel ini, Sadiyah menghadirkan lanskap gurun yang bukan sekadar ruang kosong atau tandus, melainkan medan harapan yang dipenuhi motif, jejak, dan narasi visual.

Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian – sebuah padang spiritual di mana manusia berdiri di atas bukit-bukit harapan, menatap langit yang berputar dalam pusaran mimpi.

Penggunaan gradasi warna dan garis yang tajam, menunjukkan ketelitian dan kepekaan artistik. Warna-warna hangat yang mendominasi – kuning pasir, oranye lembut, dan coklat tanah – menghadirkan suasana yang tidak gersang, melainkan hangat dan penuh potensi. Teknik ini memperkuat kesan bahwa gurun bukanlah tempat kematian, melainkan tempat kelahiran makna.

Menurut saya, karya ini adalah ruang kontemplatif yang mengajak kita untuk merenung tentang posisi kita dalam dunia. Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian.

Harapan bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang dibangun – dengan berdiri, dengan menatap, dan dengan percaya bahwa bahkan dalam kesunyian, makna bisa tumbuh.

Yang juga cukup produktif berikutnya adalah Diana Rifda Hanifa dengan 8 karya rupa dan 3 buah buku. Saya tertarik dengan karyanya yang bertajuk Green Trees Riverside. Di antara hijau yang tak bersuara dan langit yang mengalir pelan, Diana Rifda Hanifa menenun lanskap yang bukan sekadar pemandangan.

Tafsir saya, karya ini bukan sekedar pemandangan, melainkan perasaan yang tak terucap. Green Trees Riverside bukan hanya lukisan tentang alam, melainkan tentang waktu yang berhenti sejenak untuk bernapas.

Pohon-pohon berdiri seperti penjaga sunyi, menyaksikan aliran sungai yang memantulkan langit dan diri mereka sendiri. Dalam pantulan itu, kita melihat bukan hanya bentuk, tapi juga bayangan dari sesuatu yang lebih dalam – kerinduan, ketenangan, atau mungkin kenangan yang belum selesai.

Garis-garis halus dan warna-warna yang menyatu membentuk ritme yang lembut, seperti napas pagi yang belum terganggu oleh hiruk pikuk dunia. Pagar kayu yang sederhana di tepi rumput menjadi penanda manusia, tapi bukan pengganggu. Ia hadir seperti bisikan, bukan teriakan.

Sungai dalam karya ini bukan sekadar air yang mengalir, melainkan cermin waktu. Ia memantulkan langit dan pohon, tapi juga memantulkan kita – penonton yang diam-diam mencari makna dalam lanskap yang tenang.

Langit biru dengan awan yang berserak tidak mendominasi, tapi menyertai. Ia seperti teman lama yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Dalam kehadirannya, kita merasa diterima, bukan dihakimi. Warna-warna bumi – hijau, coklat, kuning, berbicara dalam nada rendah. Mereka tidak memaksa mata untuk kagum, tapi mengundang hati untuk ‘tinggal serta’ di dalam.

Green Trees Riverside adalah doa tanpa kata. Ia adalah meditasi dalam bentuk visual, tempat di mana kita bisa duduk sejenak, menatap air, dan merasa bahwa dunia tidak selalu harus bergerak cepat.

Bahwa keindahan bisa hadir dalam diam, dan harapan bisa tumbuh di antara bayangan pohon dan langit yang bersahaja. Diana Rifda Hanifa tidak hanya melukis alam, ia melukis ketenangan yang kita cari dalam diri sendiri.

Yang tak kalah menariknya adalah karya Winesyah Primona Bria Seran yang menghadirkan 3 buah karya. Salah satu karyanya yang saya suka adalah Me, My Self & I. Bagi saya, karya ini merupakan refleksi yang mendalam oleh pelukisnya.

Di tengah latar hitam yang pekat, sebuah sosok muncul – kepala kuning bundar dengan mata dan senyum merah, tubuh putih yang tak berbentuk, dan jejak-jejak tangan merah yang mengambang di sekelilingnya.

Ini bukan sekadar figure – ini adalah medan eksistensial. Lukisan karya Winesyah Primona Bria Seran ini bukan hanya visual, melainkan sebuah pernyataan tentang keberadaan yang retak, tentang identitas yang tak pernah utuh, dan tentang tubuh yang terus-menerus dinegosiasikan.

Kepala kuning dengan ekspresi senyum merah adalah topeng yang familiar. Ia mengingatkan kita pada ikonografi digital – emoji, avatar, representasi diri yang dikonstruksi.

Tapi senyum itu tidak menyentuh tubuh. Ia melayang, terpisah dari bentuk yang seharusnya menopangnya. Di sini, Me adalah tubuh yang hadir, My Self adalah konstruksi sosial yang tersenyum, dan I adalah kesadaran yang mengamati keterpisahan itu. Lukisan ini menjadi ruang di mana ketiganya saling menatap, tapi tak pernah menyatu.

Cap tangan merah di latar bukan sekadar ornamen. Ia adalah jejak – mungkin dari orang lain, mungkin dari diri sendiri yang terpecah. Tangan-tangan ini tidak menyentuh sosok utama, tapi mengelilinginya seperti kenangan yang tak bisa dihapus.

Mereka bisa dibaca sebagai trauma kolektif, sebagai tekanan sosial, atau sebagai intervensi terhadap proses menjadi. Dalam konteks kuratorial, elemen ini membuka ruang untuk membaca karya sebagai bagian dari narasi “Tubuh dan Jejak Sosial”, di mana tubuh bukan entitas tunggal, melainkan hasil dari interaksi dan benturan.

Selanjutnya, yang juga menarik perhatian saya adalah karya dr. CIN dan Ilmiyati Nurfaizah. Ilmiyati (15) adalah peserta termuda pada perhelatan ini. CIN yang punya kecerdas ekstra, kali ini mengetengahkan karyanya yang bertajuk “Harapan Yang Tumbuh Di Tengah Ketidakberdayaan”.

Pohon dalam lukisan ini bukan simbol kehidupan yang subur, melainkan tubuh yang telah melewati musim gugur panjang. Ia berdiri dalam ketelanjangan, memperlihatkan luka-luka waktu.

Namun justru dari tubuh yang nyaris tak berdaya itu, tumbuh daun-daun kecil – tanda bahwa hidup belum selesai. Dalam konteks eksistensial, pohon ini adalah metafora tubuh manusia yang terus mencoba, meski dunia tak memberi jaminan.

Judul lukisan ini menyatakan dengan jujur – harapan yang tumbuh di tengah ketidakberdayaan. Bukan harapan yang lahir dari kemenangan, melainkan dari keterbatasan. Ini adalah harapan yang tidak berteriak, tapi berbisik.

Ia tumbuh pelan, seperti daun-daun kecil di ranting kering. Dalam dunia yang sering memuja kekuatan dan produktivitas, lukisan ini mengingatkan kita bahwa harapan sejati justru muncul ketika kita tak punya apa-apa selain keberanian untuk bertahan.

Karya ini berbicara dalam bahasa yang sunyi, namun kuat. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, lukisan ini bisa menjadi refleksi atas kondisi sosial, ekologis, dan spiritual yang sering membuat kita merasa kecil. Tapi justru dari rasa kecil itulah, tumbuh kemungkinan untuk melihat dunia dengan cara baru.

Menyimak karya Ilmiyati yang bertajuk : Tanpa Judul – cukup menarik. Karyanya ini, justru memiliki narasi yang jelas. Di atas jembatan yang membentang melintasi air, seorang figur kecil berjalan sendirian.

Di kiri, sebuah pohon berdiri tegak, akarnya menyentuh tanah yang ditumbuhi bunga merah. Langit biru membentang luas, menyimpan awan-awan yang tak terbentuk sempurna. Ini bukan sekadar lanskap, ini adalah narasi tentang perjalanan, tentang keberanian untuk melangkah meski arah belum pasti.

Di tengah gambar, sebuah kalimat ditulis dengan tangan:

“Orang yang terus berusaha, ke-adaaan pun berusaha mewujudkannya.”

Kalimat ini bukan hanya motivasi, melainkan sebuah pernyataan ontologis. Ia menyiratkan bahwa semesta bukan entitas pasif, melainkan medan yang merespons niat dan gerak. Dalam dunia yang sering terasa acuh, kalimat ini mengusulkan bahwa usaha manusia memiliki getar kosmis.

Jembatan dalam gambar bukan hanya struktur fisik, tapi simbol transisi. Ia menghubungkan dua sisi yang tak terlihat – mungkin masa lalu dan masa depan, mungkin keraguan dan harapan.

Figur yang berjalan di atasnya adalah kita semua,  individu yang menyeberangi hidup dengan langkah-langkah kecil, membawa beban, harapan, dan ketakutan. Dalam konteks seni pelajar, jembatan ini juga bisa dibaca sebagai simbol pendidikan – sebuah proses yang menghubungkan potensi dengan kenyataan, mimpi dengan harapan masa depan.

Karya ini berbicara dalam bahasa sederhana, tapi menyimpan kedalaman filosofis. Dalam konteks generasi Z, karya ini menunjukkan bahwa refleksi eksistensial tidak harus rumit – ia bisa muncul dari goresan tangan dan kalimat yang jujur.

Di dunia yang sering kali membungkam suara-suara dari tepian, pameran ini hadir sebagai ruang keberanian. “Catatan Luka” bukan sekadar pameran seni rupa. Ia adalah peristiwa batin, tempat di mana 22 penyintas gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare menyalakan lentera dari dalam.

Melalui lukisan, puisi, cerpen, dan kerajinan tangan, mereka bicara. Bukan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan bahasa yang lahir dari luka, dari harapan, dari keberanian untuk tetap ada. [T]

Tags: KupangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa Pendidikan: Ketika Kearifan Lokal Bertemu Pembelajaran Mendalam

Next Post

Antropologi di Balik Selingkuh

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails

Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

by Made Chandra
June 8, 2026
0
Stasiun Buraq : Arsitektur Mimpi Seorang Ilham Gusti Syahadat

DERAP langkah beranjak naik, kain tirai perlahan mulai disingkapkan, lalu dengan segera bunyi-bunyian kendang, tembang dan segala perangkat kesenian jaranan,...

Read moreDetails
Next Post
Antropologi di Balik Selingkuh

Antropologi di Balik Selingkuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co