13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Hartanto by Hartanto
October 14, 2025
in Ulas Rupa
“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Di sebuah sudut keriuhan kota Kupang, kita bisa sejenak melepas penat sembari minum kopi hangat di D’Art Cafe and Gallery – Kupang. Tepatnya, di Jalan Lingkar Luar No.40, Sikumana, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, NTT

Di sana, saat ini, bukan hanya minuman dan makanan saja yang bisa kita nikmati – tapi juga lukisan yang terpajang dengan apik. Yang bisa kita nikmati bukanlah sekedar 55 karya rupa dan 3 buah buku dari 22 partisipan. Melainkan jiwa-jiwa yang pernah retak.

Dan kini, dari tanggal 10 Oktober 2025 dan berakhir 24 Oktober 2025 – mereka  bicara tanpa kata, lewat pameran karya rupa. Tajuk pameran adalah “Catatan Luka”.  Ini bukan sekadar perayaan estetika, melainkan peristiwa batin yang mengguncang sunyi dari 22 penyintas gangguan jiwa. Mereka menorehkan kisahnya, dengan garis, bentuk, bidang, tekstur, coretan, dan cahaya yang temaram.

Mereka bukan seniman biasa. Mereka adalah penyintas yang pernah tenggelam dalam gelap, namun kini berupaya menyalakan lentera dari dalam. Setiap karya adalah catatan luka – bukan untuk dikasihani, tetapi untuk dipahami.

Di balik isi kepala yang dikelilingi mata-mata asing, di balik lanskap kelam yang hanya diterangi satu cahaya – tersimpan harapan yang tak padam. Mereka tidak meminta simpati. Mereka menawarkan kejujuran dari ekspresi jiwanya.

Kurator pameran, Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa – membuka ruang ini bukan sekedar sebagai galeri, tetapi juga sebagai altar pemulihan. Terutama, para penyintas dan pasien gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare. Di sini, seni rupa menjadi medium yang menyambung jiwa yang pernah terpatah.

Di sini, stigma diluruhkan, dan potensi diangkat ke permukaan. Para penyintas tidak lagi dipandang sebagai pasien, tetapi sebagai pencipta – yang karyanya lahir dari kedalaman yang tak bisa dijangkau oleh teori.

Mereka adalah bagian dari sejarah panjang yang disebut Outsider-Art, atau Art Brut – seni mentah yang lahir dari naluri, bukan dari akademi. Seperti Adolf Wolfli, Ni Nyoman Tanjung, atau Dwi Putro.

Menurut Dewa Putu Sahadewa, Art Brut seringkali mengedepankan karya seniman dengan gangguan seperti skizofrenia. Lukisan mereka kerap mencerminkan pribadi yang obsesif, meluapkan naluri purba yang muncul di bawah rundungan delirium.

Delirium adalah kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif. Pengidap mengalami kebingungan parah dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan sekitar.

Mereka, tambah Sahadewa, mencipta bukan untuk sekedar pameran, tetapi untuk bertahan. Kini, karya mereka berdiri sejajar dengan seniman kontemporer di Museum Collection d’Art Brut di Laussane, Switzerland. Bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai penegasan, bahwa kreativitas tidak mengenal batas.

Sejak abad ke-19, para dokter dan filsuf telah memperdebatkan batas antara jenius dan kegilaan.  Beberapa ahli menyimpulkan, batas keduanya amat tipis. Namun di ruang ini, batas itu tidak lagi penting.

Hal itu, dijelaskan Sahadewa – bahwa kaitan antara daya cipta luar biasa dan kondisi kejiwaan sudah lama menjadi perdebatan. Pada tahun 1857, dr. W.A. Browne (Skotlandia) menerbitkan Art In Madnes. Kemudian, Sahadewa menambahkan –  dokter Italia Cesare Lombroso melahirkan Genio e Folia (Genius and Madness), yang meyakini adanya batas tipis antara jenius kreatif dan gangguan jiwa.

Yang penting, ujar Sahadewa – adalah keberanian untuk mencipta, untuk mengekspresikan, untuk menyembuhkan diri melalui seni. Lukisan-lukisan mereka bukan sekadar visual, tetapi pelampiasan naluri purba, obsesi yang jujur, dan delirium yang menjadi bentuk.

Pada pameran Catatan Luka ini, bukan hanya seni rupa yang di pertunjukkan. Puisi dan cerpen mereka, juga berteriak dengan indah – kadang seperti bisikan yang tajam, kadang seperti pelukan yang hangat.

Craf atau kerajinan tangan mereka juga menunjukkan ketekunan, sensitivitas, dan kemampuan yang tak kalah dari seniman formal. Mereka seperti sedang berkata, apa yang pernah dipikirkan oleh filsuf asall Perancis, Descrates – Cogito Ergo Sum “aku berpikir maka aku ada”

Dahulu kala, di dinding gua-gua purba, manusia mulai mengguratkan dunia batinnya dengan torehan  arang , torehan benda tajam atau tanah liat. Di sana, lahirlah bahasa sebelum kata – nyanyian sebelum suara, dan doa sebelum agama. Sejak itu, seni rupa tak pernah berhenti menjadi cermin zaman – berubah bentuk, namun tetap menjadi jendela jiwa.

Dari altar pemujaan hingga galeri kontemporer –  dari simbol sakral hingga fragmen dunia profan, seni rupa adalah napas yang menghidupkan makna. Ia bukan sekadar bentuk, tetapi jejak batin yang tak terucap. Dalam setiap garis dan warna, tersimpan perasaan yang tak bisa dijelaskan, luka yang tak bisa dituturkan, dan harapan yang tak bisa dihambat.

Dr Dewa Ayu Putu Shinta Widari SpKJ, MARS – Psikiater pada Klinik Utama Jiwa DMH dan RSIA Dedari, serta Dosen Ilmu Psikiatri pada FK   UNDANA  – menyebutkan di pengantarnya, bahwa para filsuf besar – Aristoteles, Kant, Nietzsche – telah menatap seni sebagai cermin eksistensi.

Para psikolog – tambah dr Shinta – Freud, Jung, Maslow – menyentuhnya sebagai jalan penyembuhan. Namun lebih dari teori, para senimanlah yang merasakannya, bahwa seni adalah bahasa jiwa, tempat manusia berbicara kepada dunia dan kepada dirinya sendiri.

Dan kini, pada pameran “Catatan Luka” ini, di tengah riuhnya zaman yang sering melupakan kedalaman, seni rupa kembali menawarkan pelukan, sebagai terapi, sebagai ruang aman, sebagai jalan pulang, menuju kesembuhan yang membahagiakan.

Senirupa adalah bahasa visual. Ia tak menuntut kata-kata. Ia menerima tangisan dalam warna, kemarahan dalam bentuk, dan kerinduan dalam tekstur. Ia menjadi saluran bagi yang tak terucap, ruang bagi yang tersembunyi.

Seni rupa mengajak kita semua untuk hadir, untuk melihat diri sendiri tanpa cermin, untuk menyentuh luka tanpa takut, dan untuk berbicara tanpa suara. Ia bukan sekadar aktivitas, tetapi ritual pemulihan.

Menurut Dr. Sinta, di ruang terapi, terapis bukan hakim, melainkan penjaga taman. Ia menyediakan tanah, air, dan cahaya. Individu datang dengan benih-benih rasa, lalu menanamnya dalam kanvas, tanah liat, atau kertas. Mereka menyiramnya dengan imajinasi, dan menunggu ‘bunga-bunga makna’ tumbuh. Cahaya pun, kian benderang.

Seni rupa tak menyembuhkan dengan obat, tapi dengan kehadiran. Ia mengurangi kecemasan seperti embun yang menenangkan daun. Ia meningkatkan harga diri seperti matahari yang menyapa pagi.

Ia membangun koneksi sosial seperti akar yang saling merangkul di bawah tanah. Ia melatih fokus, kepekaan, dan keberanian untuk melihat diri sendiri. Ia bukan pelarian, tapi perjalanan pulang.

Seni rupa bukan sekadar hobi. Ia adalah doa yang tak terucap, pelukan yang tak terlihat, dan jalan yang tak beraspal. Ia adalah ruang di mana manusia bisa menjadi utuh, meski retak. Ia adalah terapi yang tak memaksa, hanya mengundang.

Dalam garis, tekstur, coretan, cipratan, warna, dan bentuk, kita menemukan bukan hanya keindahan, tapi juga pemulihan. Kita menemukan bahwa seni bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan – sebagai cermin, sebagai teman, sebagai penyembuh. Mungkin saja, dalam satu goresan kecil di sudut kanvas, kita menemukan dunia yang selama ini kita cari – dunia di dalam diri.

Mari, sejenak kita nikmati beberapa karya mereka. Tercatat, yang paling produktif adalah Sadiyah Handayani dengan 17 karya. Saya tertarik dengan salah satu karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”. Mari simak karyanya yang berjudul : “Padang Pasir Harapan”.

Dalam karya tiga panel ini, Sadiyah menghadirkan lanskap gurun yang bukan sekadar ruang kosong atau tandus, melainkan medan harapan yang dipenuhi motif, jejak, dan narasi visual.

Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian – sebuah padang spiritual di mana manusia berdiri di atas bukit-bukit harapan, menatap langit yang berputar dalam pusaran mimpi.

Penggunaan gradasi warna dan garis yang tajam, menunjukkan ketelitian dan kepekaan artistik. Warna-warna hangat yang mendominasi – kuning pasir, oranye lembut, dan coklat tanah – menghadirkan suasana yang tidak gersang, melainkan hangat dan penuh potensi. Teknik ini memperkuat kesan bahwa gurun bukanlah tempat kematian, melainkan tempat kelahiran makna.

Menurut saya, karya ini adalah ruang kontemplatif yang mengajak kita untuk merenung tentang posisi kita dalam dunia. Gurun dalam karya ini bukan tempat kehilangan, melainkan tempat pencarian.

Harapan bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang dibangun – dengan berdiri, dengan menatap, dan dengan percaya bahwa bahkan dalam kesunyian, makna bisa tumbuh.

Yang juga cukup produktif berikutnya adalah Diana Rifda Hanifa dengan 8 karya rupa dan 3 buah buku. Saya tertarik dengan karyanya yang bertajuk Green Trees Riverside. Di antara hijau yang tak bersuara dan langit yang mengalir pelan, Diana Rifda Hanifa menenun lanskap yang bukan sekadar pemandangan.

Tafsir saya, karya ini bukan sekedar pemandangan, melainkan perasaan yang tak terucap. Green Trees Riverside bukan hanya lukisan tentang alam, melainkan tentang waktu yang berhenti sejenak untuk bernapas.

Pohon-pohon berdiri seperti penjaga sunyi, menyaksikan aliran sungai yang memantulkan langit dan diri mereka sendiri. Dalam pantulan itu, kita melihat bukan hanya bentuk, tapi juga bayangan dari sesuatu yang lebih dalam – kerinduan, ketenangan, atau mungkin kenangan yang belum selesai.

Garis-garis halus dan warna-warna yang menyatu membentuk ritme yang lembut, seperti napas pagi yang belum terganggu oleh hiruk pikuk dunia. Pagar kayu yang sederhana di tepi rumput menjadi penanda manusia, tapi bukan pengganggu. Ia hadir seperti bisikan, bukan teriakan.

Sungai dalam karya ini bukan sekadar air yang mengalir, melainkan cermin waktu. Ia memantulkan langit dan pohon, tapi juga memantulkan kita – penonton yang diam-diam mencari makna dalam lanskap yang tenang.

Langit biru dengan awan yang berserak tidak mendominasi, tapi menyertai. Ia seperti teman lama yang tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Dalam kehadirannya, kita merasa diterima, bukan dihakimi. Warna-warna bumi – hijau, coklat, kuning, berbicara dalam nada rendah. Mereka tidak memaksa mata untuk kagum, tapi mengundang hati untuk ‘tinggal serta’ di dalam.

Green Trees Riverside adalah doa tanpa kata. Ia adalah meditasi dalam bentuk visual, tempat di mana kita bisa duduk sejenak, menatap air, dan merasa bahwa dunia tidak selalu harus bergerak cepat.

Bahwa keindahan bisa hadir dalam diam, dan harapan bisa tumbuh di antara bayangan pohon dan langit yang bersahaja. Diana Rifda Hanifa tidak hanya melukis alam, ia melukis ketenangan yang kita cari dalam diri sendiri.

Yang tak kalah menariknya adalah karya Winesyah Primona Bria Seran yang menghadirkan 3 buah karya. Salah satu karyanya yang saya suka adalah Me, My Self & I. Bagi saya, karya ini merupakan refleksi yang mendalam oleh pelukisnya.

Di tengah latar hitam yang pekat, sebuah sosok muncul – kepala kuning bundar dengan mata dan senyum merah, tubuh putih yang tak berbentuk, dan jejak-jejak tangan merah yang mengambang di sekelilingnya.

Ini bukan sekadar figure – ini adalah medan eksistensial. Lukisan karya Winesyah Primona Bria Seran ini bukan hanya visual, melainkan sebuah pernyataan tentang keberadaan yang retak, tentang identitas yang tak pernah utuh, dan tentang tubuh yang terus-menerus dinegosiasikan.

Kepala kuning dengan ekspresi senyum merah adalah topeng yang familiar. Ia mengingatkan kita pada ikonografi digital – emoji, avatar, representasi diri yang dikonstruksi.

Tapi senyum itu tidak menyentuh tubuh. Ia melayang, terpisah dari bentuk yang seharusnya menopangnya. Di sini, Me adalah tubuh yang hadir, My Self adalah konstruksi sosial yang tersenyum, dan I adalah kesadaran yang mengamati keterpisahan itu. Lukisan ini menjadi ruang di mana ketiganya saling menatap, tapi tak pernah menyatu.

Cap tangan merah di latar bukan sekadar ornamen. Ia adalah jejak – mungkin dari orang lain, mungkin dari diri sendiri yang terpecah. Tangan-tangan ini tidak menyentuh sosok utama, tapi mengelilinginya seperti kenangan yang tak bisa dihapus.

Mereka bisa dibaca sebagai trauma kolektif, sebagai tekanan sosial, atau sebagai intervensi terhadap proses menjadi. Dalam konteks kuratorial, elemen ini membuka ruang untuk membaca karya sebagai bagian dari narasi “Tubuh dan Jejak Sosial”, di mana tubuh bukan entitas tunggal, melainkan hasil dari interaksi dan benturan.

Selanjutnya, yang juga menarik perhatian saya adalah karya dr. CIN dan Ilmiyati Nurfaizah. Ilmiyati (15) adalah peserta termuda pada perhelatan ini. CIN yang punya kecerdas ekstra, kali ini mengetengahkan karyanya yang bertajuk “Harapan Yang Tumbuh Di Tengah Ketidakberdayaan”.

Pohon dalam lukisan ini bukan simbol kehidupan yang subur, melainkan tubuh yang telah melewati musim gugur panjang. Ia berdiri dalam ketelanjangan, memperlihatkan luka-luka waktu.

Namun justru dari tubuh yang nyaris tak berdaya itu, tumbuh daun-daun kecil – tanda bahwa hidup belum selesai. Dalam konteks eksistensial, pohon ini adalah metafora tubuh manusia yang terus mencoba, meski dunia tak memberi jaminan.

Judul lukisan ini menyatakan dengan jujur – harapan yang tumbuh di tengah ketidakberdayaan. Bukan harapan yang lahir dari kemenangan, melainkan dari keterbatasan. Ini adalah harapan yang tidak berteriak, tapi berbisik.

Ia tumbuh pelan, seperti daun-daun kecil di ranting kering. Dalam dunia yang sering memuja kekuatan dan produktivitas, lukisan ini mengingatkan kita bahwa harapan sejati justru muncul ketika kita tak punya apa-apa selain keberanian untuk bertahan.

Karya ini berbicara dalam bahasa yang sunyi, namun kuat. Dalam konteks seni kontemporer Indonesia, lukisan ini bisa menjadi refleksi atas kondisi sosial, ekologis, dan spiritual yang sering membuat kita merasa kecil. Tapi justru dari rasa kecil itulah, tumbuh kemungkinan untuk melihat dunia dengan cara baru.

Menyimak karya Ilmiyati yang bertajuk : Tanpa Judul – cukup menarik. Karyanya ini, justru memiliki narasi yang jelas. Di atas jembatan yang membentang melintasi air, seorang figur kecil berjalan sendirian.

Di kiri, sebuah pohon berdiri tegak, akarnya menyentuh tanah yang ditumbuhi bunga merah. Langit biru membentang luas, menyimpan awan-awan yang tak terbentuk sempurna. Ini bukan sekadar lanskap, ini adalah narasi tentang perjalanan, tentang keberanian untuk melangkah meski arah belum pasti.

Di tengah gambar, sebuah kalimat ditulis dengan tangan:

“Orang yang terus berusaha, ke-adaaan pun berusaha mewujudkannya.”

Kalimat ini bukan hanya motivasi, melainkan sebuah pernyataan ontologis. Ia menyiratkan bahwa semesta bukan entitas pasif, melainkan medan yang merespons niat dan gerak. Dalam dunia yang sering terasa acuh, kalimat ini mengusulkan bahwa usaha manusia memiliki getar kosmis.

Jembatan dalam gambar bukan hanya struktur fisik, tapi simbol transisi. Ia menghubungkan dua sisi yang tak terlihat – mungkin masa lalu dan masa depan, mungkin keraguan dan harapan.

Figur yang berjalan di atasnya adalah kita semua,  individu yang menyeberangi hidup dengan langkah-langkah kecil, membawa beban, harapan, dan ketakutan. Dalam konteks seni pelajar, jembatan ini juga bisa dibaca sebagai simbol pendidikan – sebuah proses yang menghubungkan potensi dengan kenyataan, mimpi dengan harapan masa depan.

Karya ini berbicara dalam bahasa sederhana, tapi menyimpan kedalaman filosofis. Dalam konteks generasi Z, karya ini menunjukkan bahwa refleksi eksistensial tidak harus rumit – ia bisa muncul dari goresan tangan dan kalimat yang jujur.

Di dunia yang sering kali membungkam suara-suara dari tepian, pameran ini hadir sebagai ruang keberanian. “Catatan Luka” bukan sekadar pameran seni rupa. Ia adalah peristiwa batin, tempat di mana 22 penyintas gangguan jiwa dari Klinik Utama Jiwa Dewanta Mental Healthcare menyalakan lentera dari dalam.

Melalui lukisan, puisi, cerpen, dan kerajinan tangan, mereka bicara. Bukan dengan kata-kata biasa, tetapi dengan bahasa yang lahir dari luka, dari harapan, dari keberanian untuk tetap ada. [T]

Tags: KupangPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membasuh Jiwa Pendidikan: Ketika Kearifan Lokal Bertemu Pembelajaran Mendalam

Next Post

Antropologi di Balik Selingkuh

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
Antropologi di Balik Selingkuh

Antropologi di Balik Selingkuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co