12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antropologi di Balik Selingkuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 15, 2025
in Esai
Antropologi di Balik Selingkuh

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DALAM novel Selingkuh (judul asli: Adultery) Paulo Coelho, kita bertemu dengan Linda, seorang jurnalis di Swiss yang hidupnya tampak sempurna. Ia punya suami yang mapan, dua anak, rumah bagus, dan karier yang stabil. Tapi di balik kemapanan itu, ada kekosongan yang ia rasakan. Setiap pagi Linda bangun dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri, seolah hidupnya dijalankan oleh orang lain.

Ketika ia bertemu kembali dengan Jacob, mantan kekasih masa mudanya, gairah lama muncul. Mereka berselingkuh. Namun Coelho tak sedang menulis kisah tentang dosa, melainkan tentang kegelisahan eksistensial manusia modern. Linda merasa hidupnya terlalu tertib, terlalu benar, hingga kehilangan rasa hidup itu sendiri. Ia menukar keteraturan dengan risiko, menukar kedamaian dengan rasa bersalah, demi merasakan kembali denyut kehidupan.

Membaca Coelho, kita seperti bercermin pada zaman kita sendiri; zaman yang menjadikan kesetiaan sebagai norma, tapi sekaligus memproduksi begitu banyak kebosanan. Zaman ketika cinta diukur lewat unggahan, dan keintiman bisa berakhir di kolom komentar.

Pekan ini, linimasa di Bali kembali riuh oleh kabar perselingkuhan. Nama-nama disebut, foto dan video disebar, rekaman suara dikutip, dan masyarakat bersorak seperti sedang menonton sinetron tanpa jeda iklan. Perselingkuhan di Bali, seperti di tempat lain, selalu menggoda. Ia menyentuh wilayah yang paling tabu sekaligus paling manusiawi.

Kita hidup di era di mana pelanggaran pribadi menjadi tontonan publik. Dulu, skandal semacam itu dibicarakan di warung kopi; kini, diunggah di media sosial dan menjadi “peristiwa budaya” yang mengundang komentar moral, tawa, cemooh, hingga simpati. Setiap orang merasa berhak menilai, seolah tidak ada rahasia lagi yang boleh disembunyikan.

Namun, jika kita meminjam kacamata antropologi, peristiwa ini bisa dibaca lebih dalam. Mengapa manusia berselingkuh? Mengapa masyarakat begitu terobsesi pada pelanggaran moral orang lain?

Bagi antropologi, selingkuh bukan semata pelanggaran norma, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang relasi kuasa, ekonomi, gender, bahkan struktur kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, hubungan di luar pernikahan tidak selalu dianggap dosa, kadang justru diatur dengan cara-cara tertentu agar tidak merusak tatanan sosial.

Claude Lévi-Strauss dalam The Elementary Structures of Kinship menulis bahwa perkawinan adalah sistem pertukaran, bukan hanya ikatan cinta. Dalam kerangka itu, selingkuh bisa dibaca sebagai bentuk “pertukaran liar”, upaya individu untuk keluar dari sistem yang mengekang. Ia menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan otonomi, sekaligus risiko.

Bronislaw Malinowski, saat meneliti masyarakat Kepulauan Trobriand di Papua Nugini, menemukan bahwa hubungan seksual di luar ikatan formal seringkali diatur oleh norma adat yang lentur. Tidak semua bentuk hubungan dianggap salah; yang penting adalah keseimbangan sosialnya terjaga.

Antropologi tidak membenarkan selingkuh, tapi mengajarkan kita melihat konteks di balik perilaku. Bahwa setiap tindakan manusia adalah hasil dari tarik-menarik antara nilai, hasrat, dan struktur sosial yang melingkupinya.

“Mamitra” di Bali

Di Bali, ada istilah lama yang jarang disebut di ruang publik, yakni, mamitra. Secara harfiah, artinya memiliki “teman dekat”, tetapi dalam konteks tertentu, ia bermakna hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Istilah ini hidup dalam bisik-bisik, dalam percakapan yang penuh tanda, dalam bahasa tubuh yang lebih sering disembunyikan daripada diucapkan.

Mamitra tidak selalu diartikan negatif. Dalam beberapa lapisan masyarakat tradisional, ia pernah dimaklumi, terutama ketika melibatkan relasi ekonomi atau patronase. Seorang bangsawan bisa memiliki mitra dari kalangan rakyat biasa; seorang perempuan bisa menjadi mitra seorang pria berstatus sosial tinggi, tanpa keharusan menikah. Hubungan ini kadang didasari rasa, kadang karena kebutuhan.

Tentu, dalam konteks Bali modern yang kental dengan norma agama dan adat, istilah itu jarang muncul. Tapi jejaknya masih terasa. Dalam kehidupan sosial yang tertib, mamitra menjadi wilayah abu-abu antara rahasia dan gosip, antara cinta dan aib.

Antropolog Bali pernah mencatat gejala ini sebagai bentuk “adaptasi kultural terhadap tekanan moral”, cara masyarakat menegosiasikan hasrat tanpa harus mengguncang struktur adat yang ketat. Selingkuh, dalam pengertian ini, bukan sekadar tindakan personal, tapi juga simbol perlawanan halus terhadap sistem sosial yang menuntut kesempurnaan moral.

Jika kita perhatikan, sebagian besar kasus selingkuh yang viral di Bali selain dilakukan oleh orang biasa, juga melibatkan orang-orang berstatus sosial tertentu, seperti tokoh publik, artis, atau pengusaha. Itu menunjukkan bahwa perselingkuhan juga terkait dengan relasi kekuasaan dan status.

Dalam masyarakat tradisional, memiliki lebih dari satu pasangan bisa menjadi tanda kehormatan; dalam masyarakat modern, ia menjadi skandal. Namun esensinya sama, yaitu, tubuh dan cinta sering menjadi arena pertukaran simbolik. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai bentuk capital erotis, di mana daya tarik seksual menjadi modal sosial yang bisa dipertukarkan dengan status, uang, atau rasa aman.

Maka, ketika publik menghakimi pelaku selingkuh, sesungguhnya mereka sedang mengafirmasi nilai-nilai sosial yang ingin mereka pertahankan. Kita menghukum bukan hanya individu, tapi juga bayangan diri kita yang pernah, atau bisa saja, melakukan hal yang sama.

Dari Coelho ke Bali

Paulo Coelho menulis kisah Linda di Swiss, tapi kisah itu mudah kita temukan di Denpasar, Jembrana, Gianyar, atau Singaraja. Bedanya hanya latar, bukan rasa. Hasrat yang membara di balik rumah tangga yang hening, rasa bosan pada rutinitas, dan keinginan untuk merasa hidup kembali. Semuanya adalah bagian dari kodrat manusia yang tak lekang oleh adat.

Namun, budaya menentukan cara kita menghadapinya. Di Bali, rasa bersalah tidak hanya ditanggung secara pribadi, tapi juga sosial. Seseorang yang ketahuan berselingkuh bukan hanya melukai pasangan, tapi juga memalukan keluarga, banjar, bahkan desa adat. Di sini, moralitas menjadi urusan kolektif.

Karenanya, fenomena mamitra sering kali hidup di bawah permukaan. Bukan karena orang Bali tidak tahu itu salah, tapi karena mereka tahu dunia ini tidak sesederhana hitam-putih. Ada ruang abu-abu tempat manusia bersembunyi dari hukuman, sekaligus mencari pengampunan.

Jika kita tarik ke dalam, mungkin inti dari semua ini bukan pada pelanggaran, tapi pada rasa sepi. Dalam dunia yang serba terukur, di mana cinta harus diabadikan dalam foto dan moral dijaga lewat caption, manusia kehilangan ruang intim untuk merasa rapuh. Selingkuh, dalam kacamata tertentu, adalah bentuk pelarian dari kesunyian yang tak tertahankan.

Linda, tokoh Coelho, akhirnya sadar bahwa pelarian itu tak membawa kebahagiaan. Begitu pula banyak orang di dunia nyata. Selingkuh tak menyembuhkan luka; ia hanya menunda pertemuan dengan diri sendiri. Tapi dari luka itu, manusia belajar tentang batas, tentang rasa, dan tentang betapa sulitnya menjadi setia. Bukan kepada orang lain, tapi kepada makna hidup itu sendiri

Antropologi mengajarkan kita bahwa manusia tak bisa dilepaskan dari konteks budayanya. Selingkuh bisa berbeda makna di tiap masyarakat, tapi di balik semua perbedaan itu, selalu ada hal yang sama: kerinduan akan pengakuan dan rasa hidup.

Di Bali, di tengah masyarakat yang menjunjung harmoni, kisah-kisah mamitra diam-diam menunjukkan sisi lain dari kemanusiaan—bahwa harmoni kadang harus dinegosiasikan dengan rahasia. Bahwa di balik upacara dan tatanan adat yang rapi, ada denyut hasrat yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan.

Dari Swiss hingga Bali, dari Linda hingga siapa pun yang kini viral di linimasa, manusia tetap makhluk yang rapuh dan mencari. Mungkin, seperti kata Coelho, “Kita tidak selingkuh karena ingin meninggalkan seseorang, tapi karena ingin menemukan diri kita yang hilang”. Dan barangkali, di titik itu, kita baru sadar, bahwa yang paling sering kita khianati bukan pasangan, melainkan kesadaran kita sendiri tentang cinta. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu
Tags: antropologiperselingkuhanselingkuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Next Post

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co