23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antropologi di Balik Selingkuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 15, 2025
in Esai
Antropologi di Balik Selingkuh

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DALAM novel Selingkuh (judul asli: Adultery) Paulo Coelho, kita bertemu dengan Linda, seorang jurnalis di Swiss yang hidupnya tampak sempurna. Ia punya suami yang mapan, dua anak, rumah bagus, dan karier yang stabil. Tapi di balik kemapanan itu, ada kekosongan yang ia rasakan. Setiap pagi Linda bangun dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri, seolah hidupnya dijalankan oleh orang lain.

Ketika ia bertemu kembali dengan Jacob, mantan kekasih masa mudanya, gairah lama muncul. Mereka berselingkuh. Namun Coelho tak sedang menulis kisah tentang dosa, melainkan tentang kegelisahan eksistensial manusia modern. Linda merasa hidupnya terlalu tertib, terlalu benar, hingga kehilangan rasa hidup itu sendiri. Ia menukar keteraturan dengan risiko, menukar kedamaian dengan rasa bersalah, demi merasakan kembali denyut kehidupan.

Membaca Coelho, kita seperti bercermin pada zaman kita sendiri; zaman yang menjadikan kesetiaan sebagai norma, tapi sekaligus memproduksi begitu banyak kebosanan. Zaman ketika cinta diukur lewat unggahan, dan keintiman bisa berakhir di kolom komentar.

Pekan ini, linimasa di Bali kembali riuh oleh kabar perselingkuhan. Nama-nama disebut, foto dan video disebar, rekaman suara dikutip, dan masyarakat bersorak seperti sedang menonton sinetron tanpa jeda iklan. Perselingkuhan di Bali, seperti di tempat lain, selalu menggoda. Ia menyentuh wilayah yang paling tabu sekaligus paling manusiawi.

Kita hidup di era di mana pelanggaran pribadi menjadi tontonan publik. Dulu, skandal semacam itu dibicarakan di warung kopi; kini, diunggah di media sosial dan menjadi “peristiwa budaya” yang mengundang komentar moral, tawa, cemooh, hingga simpati. Setiap orang merasa berhak menilai, seolah tidak ada rahasia lagi yang boleh disembunyikan.

Namun, jika kita meminjam kacamata antropologi, peristiwa ini bisa dibaca lebih dalam. Mengapa manusia berselingkuh? Mengapa masyarakat begitu terobsesi pada pelanggaran moral orang lain?

Bagi antropologi, selingkuh bukan semata pelanggaran norma, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang relasi kuasa, ekonomi, gender, bahkan struktur kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, hubungan di luar pernikahan tidak selalu dianggap dosa, kadang justru diatur dengan cara-cara tertentu agar tidak merusak tatanan sosial.

Claude Lévi-Strauss dalam The Elementary Structures of Kinship menulis bahwa perkawinan adalah sistem pertukaran, bukan hanya ikatan cinta. Dalam kerangka itu, selingkuh bisa dibaca sebagai bentuk “pertukaran liar”, upaya individu untuk keluar dari sistem yang mengekang. Ia menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan otonomi, sekaligus risiko.

Bronislaw Malinowski, saat meneliti masyarakat Kepulauan Trobriand di Papua Nugini, menemukan bahwa hubungan seksual di luar ikatan formal seringkali diatur oleh norma adat yang lentur. Tidak semua bentuk hubungan dianggap salah; yang penting adalah keseimbangan sosialnya terjaga.

Antropologi tidak membenarkan selingkuh, tapi mengajarkan kita melihat konteks di balik perilaku. Bahwa setiap tindakan manusia adalah hasil dari tarik-menarik antara nilai, hasrat, dan struktur sosial yang melingkupinya.

“Mamitra” di Bali

Di Bali, ada istilah lama yang jarang disebut di ruang publik, yakni, mamitra. Secara harfiah, artinya memiliki “teman dekat”, tetapi dalam konteks tertentu, ia bermakna hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Istilah ini hidup dalam bisik-bisik, dalam percakapan yang penuh tanda, dalam bahasa tubuh yang lebih sering disembunyikan daripada diucapkan.

Mamitra tidak selalu diartikan negatif. Dalam beberapa lapisan masyarakat tradisional, ia pernah dimaklumi, terutama ketika melibatkan relasi ekonomi atau patronase. Seorang bangsawan bisa memiliki mitra dari kalangan rakyat biasa; seorang perempuan bisa menjadi mitra seorang pria berstatus sosial tinggi, tanpa keharusan menikah. Hubungan ini kadang didasari rasa, kadang karena kebutuhan.

Tentu, dalam konteks Bali modern yang kental dengan norma agama dan adat, istilah itu jarang muncul. Tapi jejaknya masih terasa. Dalam kehidupan sosial yang tertib, mamitra menjadi wilayah abu-abu antara rahasia dan gosip, antara cinta dan aib.

Antropolog Bali pernah mencatat gejala ini sebagai bentuk “adaptasi kultural terhadap tekanan moral”, cara masyarakat menegosiasikan hasrat tanpa harus mengguncang struktur adat yang ketat. Selingkuh, dalam pengertian ini, bukan sekadar tindakan personal, tapi juga simbol perlawanan halus terhadap sistem sosial yang menuntut kesempurnaan moral.

Jika kita perhatikan, sebagian besar kasus selingkuh yang viral di Bali selain dilakukan oleh orang biasa, juga melibatkan orang-orang berstatus sosial tertentu, seperti tokoh publik, artis, atau pengusaha. Itu menunjukkan bahwa perselingkuhan juga terkait dengan relasi kekuasaan dan status.

Dalam masyarakat tradisional, memiliki lebih dari satu pasangan bisa menjadi tanda kehormatan; dalam masyarakat modern, ia menjadi skandal. Namun esensinya sama, yaitu, tubuh dan cinta sering menjadi arena pertukaran simbolik. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai bentuk capital erotis, di mana daya tarik seksual menjadi modal sosial yang bisa dipertukarkan dengan status, uang, atau rasa aman.

Maka, ketika publik menghakimi pelaku selingkuh, sesungguhnya mereka sedang mengafirmasi nilai-nilai sosial yang ingin mereka pertahankan. Kita menghukum bukan hanya individu, tapi juga bayangan diri kita yang pernah, atau bisa saja, melakukan hal yang sama.

Dari Coelho ke Bali

Paulo Coelho menulis kisah Linda di Swiss, tapi kisah itu mudah kita temukan di Denpasar, Jembrana, Gianyar, atau Singaraja. Bedanya hanya latar, bukan rasa. Hasrat yang membara di balik rumah tangga yang hening, rasa bosan pada rutinitas, dan keinginan untuk merasa hidup kembali. Semuanya adalah bagian dari kodrat manusia yang tak lekang oleh adat.

Namun, budaya menentukan cara kita menghadapinya. Di Bali, rasa bersalah tidak hanya ditanggung secara pribadi, tapi juga sosial. Seseorang yang ketahuan berselingkuh bukan hanya melukai pasangan, tapi juga memalukan keluarga, banjar, bahkan desa adat. Di sini, moralitas menjadi urusan kolektif.

Karenanya, fenomena mamitra sering kali hidup di bawah permukaan. Bukan karena orang Bali tidak tahu itu salah, tapi karena mereka tahu dunia ini tidak sesederhana hitam-putih. Ada ruang abu-abu tempat manusia bersembunyi dari hukuman, sekaligus mencari pengampunan.

Jika kita tarik ke dalam, mungkin inti dari semua ini bukan pada pelanggaran, tapi pada rasa sepi. Dalam dunia yang serba terukur, di mana cinta harus diabadikan dalam foto dan moral dijaga lewat caption, manusia kehilangan ruang intim untuk merasa rapuh. Selingkuh, dalam kacamata tertentu, adalah bentuk pelarian dari kesunyian yang tak tertahankan.

Linda, tokoh Coelho, akhirnya sadar bahwa pelarian itu tak membawa kebahagiaan. Begitu pula banyak orang di dunia nyata. Selingkuh tak menyembuhkan luka; ia hanya menunda pertemuan dengan diri sendiri. Tapi dari luka itu, manusia belajar tentang batas, tentang rasa, dan tentang betapa sulitnya menjadi setia. Bukan kepada orang lain, tapi kepada makna hidup itu sendiri

Antropologi mengajarkan kita bahwa manusia tak bisa dilepaskan dari konteks budayanya. Selingkuh bisa berbeda makna di tiap masyarakat, tapi di balik semua perbedaan itu, selalu ada hal yang sama: kerinduan akan pengakuan dan rasa hidup.

Di Bali, di tengah masyarakat yang menjunjung harmoni, kisah-kisah mamitra diam-diam menunjukkan sisi lain dari kemanusiaan—bahwa harmoni kadang harus dinegosiasikan dengan rahasia. Bahwa di balik upacara dan tatanan adat yang rapi, ada denyut hasrat yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan.

Dari Swiss hingga Bali, dari Linda hingga siapa pun yang kini viral di linimasa, manusia tetap makhluk yang rapuh dan mencari. Mungkin, seperti kata Coelho, “Kita tidak selingkuh karena ingin meninggalkan seseorang, tapi karena ingin menemukan diri kita yang hilang”. Dan barangkali, di titik itu, kita baru sadar, bahwa yang paling sering kita khianati bukan pasangan, melainkan kesadaran kita sendiri tentang cinta. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu
Tags: antropologiperselingkuhanselingkuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Next Post

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co