2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antropologi di Balik Selingkuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 15, 2025
in Esai
Antropologi di Balik Selingkuh

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DALAM novel Selingkuh (judul asli: Adultery) Paulo Coelho, kita bertemu dengan Linda, seorang jurnalis di Swiss yang hidupnya tampak sempurna. Ia punya suami yang mapan, dua anak, rumah bagus, dan karier yang stabil. Tapi di balik kemapanan itu, ada kekosongan yang ia rasakan. Setiap pagi Linda bangun dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri, seolah hidupnya dijalankan oleh orang lain.

Ketika ia bertemu kembali dengan Jacob, mantan kekasih masa mudanya, gairah lama muncul. Mereka berselingkuh. Namun Coelho tak sedang menulis kisah tentang dosa, melainkan tentang kegelisahan eksistensial manusia modern. Linda merasa hidupnya terlalu tertib, terlalu benar, hingga kehilangan rasa hidup itu sendiri. Ia menukar keteraturan dengan risiko, menukar kedamaian dengan rasa bersalah, demi merasakan kembali denyut kehidupan.

Membaca Coelho, kita seperti bercermin pada zaman kita sendiri; zaman yang menjadikan kesetiaan sebagai norma, tapi sekaligus memproduksi begitu banyak kebosanan. Zaman ketika cinta diukur lewat unggahan, dan keintiman bisa berakhir di kolom komentar.

Pekan ini, linimasa di Bali kembali riuh oleh kabar perselingkuhan. Nama-nama disebut, foto dan video disebar, rekaman suara dikutip, dan masyarakat bersorak seperti sedang menonton sinetron tanpa jeda iklan. Perselingkuhan di Bali, seperti di tempat lain, selalu menggoda. Ia menyentuh wilayah yang paling tabu sekaligus paling manusiawi.

Kita hidup di era di mana pelanggaran pribadi menjadi tontonan publik. Dulu, skandal semacam itu dibicarakan di warung kopi; kini, diunggah di media sosial dan menjadi “peristiwa budaya” yang mengundang komentar moral, tawa, cemooh, hingga simpati. Setiap orang merasa berhak menilai, seolah tidak ada rahasia lagi yang boleh disembunyikan.

Namun, jika kita meminjam kacamata antropologi, peristiwa ini bisa dibaca lebih dalam. Mengapa manusia berselingkuh? Mengapa masyarakat begitu terobsesi pada pelanggaran moral orang lain?

Bagi antropologi, selingkuh bukan semata pelanggaran norma, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang relasi kuasa, ekonomi, gender, bahkan struktur kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, hubungan di luar pernikahan tidak selalu dianggap dosa, kadang justru diatur dengan cara-cara tertentu agar tidak merusak tatanan sosial.

Claude Lévi-Strauss dalam The Elementary Structures of Kinship menulis bahwa perkawinan adalah sistem pertukaran, bukan hanya ikatan cinta. Dalam kerangka itu, selingkuh bisa dibaca sebagai bentuk “pertukaran liar”, upaya individu untuk keluar dari sistem yang mengekang. Ia menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan otonomi, sekaligus risiko.

Bronislaw Malinowski, saat meneliti masyarakat Kepulauan Trobriand di Papua Nugini, menemukan bahwa hubungan seksual di luar ikatan formal seringkali diatur oleh norma adat yang lentur. Tidak semua bentuk hubungan dianggap salah; yang penting adalah keseimbangan sosialnya terjaga.

Antropologi tidak membenarkan selingkuh, tapi mengajarkan kita melihat konteks di balik perilaku. Bahwa setiap tindakan manusia adalah hasil dari tarik-menarik antara nilai, hasrat, dan struktur sosial yang melingkupinya.

“Mamitra” di Bali

Di Bali, ada istilah lama yang jarang disebut di ruang publik, yakni, mamitra. Secara harfiah, artinya memiliki “teman dekat”, tetapi dalam konteks tertentu, ia bermakna hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Istilah ini hidup dalam bisik-bisik, dalam percakapan yang penuh tanda, dalam bahasa tubuh yang lebih sering disembunyikan daripada diucapkan.

Mamitra tidak selalu diartikan negatif. Dalam beberapa lapisan masyarakat tradisional, ia pernah dimaklumi, terutama ketika melibatkan relasi ekonomi atau patronase. Seorang bangsawan bisa memiliki mitra dari kalangan rakyat biasa; seorang perempuan bisa menjadi mitra seorang pria berstatus sosial tinggi, tanpa keharusan menikah. Hubungan ini kadang didasari rasa, kadang karena kebutuhan.

Tentu, dalam konteks Bali modern yang kental dengan norma agama dan adat, istilah itu jarang muncul. Tapi jejaknya masih terasa. Dalam kehidupan sosial yang tertib, mamitra menjadi wilayah abu-abu antara rahasia dan gosip, antara cinta dan aib.

Antropolog Bali pernah mencatat gejala ini sebagai bentuk “adaptasi kultural terhadap tekanan moral”, cara masyarakat menegosiasikan hasrat tanpa harus mengguncang struktur adat yang ketat. Selingkuh, dalam pengertian ini, bukan sekadar tindakan personal, tapi juga simbol perlawanan halus terhadap sistem sosial yang menuntut kesempurnaan moral.

Jika kita perhatikan, sebagian besar kasus selingkuh yang viral di Bali selain dilakukan oleh orang biasa, juga melibatkan orang-orang berstatus sosial tertentu, seperti tokoh publik, artis, atau pengusaha. Itu menunjukkan bahwa perselingkuhan juga terkait dengan relasi kekuasaan dan status.

Dalam masyarakat tradisional, memiliki lebih dari satu pasangan bisa menjadi tanda kehormatan; dalam masyarakat modern, ia menjadi skandal. Namun esensinya sama, yaitu, tubuh dan cinta sering menjadi arena pertukaran simbolik. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai bentuk capital erotis, di mana daya tarik seksual menjadi modal sosial yang bisa dipertukarkan dengan status, uang, atau rasa aman.

Maka, ketika publik menghakimi pelaku selingkuh, sesungguhnya mereka sedang mengafirmasi nilai-nilai sosial yang ingin mereka pertahankan. Kita menghukum bukan hanya individu, tapi juga bayangan diri kita yang pernah, atau bisa saja, melakukan hal yang sama.

Dari Coelho ke Bali

Paulo Coelho menulis kisah Linda di Swiss, tapi kisah itu mudah kita temukan di Denpasar, Jembrana, Gianyar, atau Singaraja. Bedanya hanya latar, bukan rasa. Hasrat yang membara di balik rumah tangga yang hening, rasa bosan pada rutinitas, dan keinginan untuk merasa hidup kembali. Semuanya adalah bagian dari kodrat manusia yang tak lekang oleh adat.

Namun, budaya menentukan cara kita menghadapinya. Di Bali, rasa bersalah tidak hanya ditanggung secara pribadi, tapi juga sosial. Seseorang yang ketahuan berselingkuh bukan hanya melukai pasangan, tapi juga memalukan keluarga, banjar, bahkan desa adat. Di sini, moralitas menjadi urusan kolektif.

Karenanya, fenomena mamitra sering kali hidup di bawah permukaan. Bukan karena orang Bali tidak tahu itu salah, tapi karena mereka tahu dunia ini tidak sesederhana hitam-putih. Ada ruang abu-abu tempat manusia bersembunyi dari hukuman, sekaligus mencari pengampunan.

Jika kita tarik ke dalam, mungkin inti dari semua ini bukan pada pelanggaran, tapi pada rasa sepi. Dalam dunia yang serba terukur, di mana cinta harus diabadikan dalam foto dan moral dijaga lewat caption, manusia kehilangan ruang intim untuk merasa rapuh. Selingkuh, dalam kacamata tertentu, adalah bentuk pelarian dari kesunyian yang tak tertahankan.

Linda, tokoh Coelho, akhirnya sadar bahwa pelarian itu tak membawa kebahagiaan. Begitu pula banyak orang di dunia nyata. Selingkuh tak menyembuhkan luka; ia hanya menunda pertemuan dengan diri sendiri. Tapi dari luka itu, manusia belajar tentang batas, tentang rasa, dan tentang betapa sulitnya menjadi setia. Bukan kepada orang lain, tapi kepada makna hidup itu sendiri

Antropologi mengajarkan kita bahwa manusia tak bisa dilepaskan dari konteks budayanya. Selingkuh bisa berbeda makna di tiap masyarakat, tapi di balik semua perbedaan itu, selalu ada hal yang sama: kerinduan akan pengakuan dan rasa hidup.

Di Bali, di tengah masyarakat yang menjunjung harmoni, kisah-kisah mamitra diam-diam menunjukkan sisi lain dari kemanusiaan—bahwa harmoni kadang harus dinegosiasikan dengan rahasia. Bahwa di balik upacara dan tatanan adat yang rapi, ada denyut hasrat yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan.

Dari Swiss hingga Bali, dari Linda hingga siapa pun yang kini viral di linimasa, manusia tetap makhluk yang rapuh dan mencari. Mungkin, seperti kata Coelho, “Kita tidak selingkuh karena ingin meninggalkan seseorang, tapi karena ingin menemukan diri kita yang hilang”. Dan barangkali, di titik itu, kita baru sadar, bahwa yang paling sering kita khianati bukan pasangan, melainkan kesadaran kita sendiri tentang cinta. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu
Tags: antropologiperselingkuhanselingkuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Next Post

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co