13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antropologi di Balik Selingkuh

Angga Wijaya by Angga Wijaya
October 15, 2025
in Esai
Antropologi di Balik Selingkuh

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DALAM novel Selingkuh (judul asli: Adultery) Paulo Coelho, kita bertemu dengan Linda, seorang jurnalis di Swiss yang hidupnya tampak sempurna. Ia punya suami yang mapan, dua anak, rumah bagus, dan karier yang stabil. Tapi di balik kemapanan itu, ada kekosongan yang ia rasakan. Setiap pagi Linda bangun dengan perasaan asing terhadap dirinya sendiri, seolah hidupnya dijalankan oleh orang lain.

Ketika ia bertemu kembali dengan Jacob, mantan kekasih masa mudanya, gairah lama muncul. Mereka berselingkuh. Namun Coelho tak sedang menulis kisah tentang dosa, melainkan tentang kegelisahan eksistensial manusia modern. Linda merasa hidupnya terlalu tertib, terlalu benar, hingga kehilangan rasa hidup itu sendiri. Ia menukar keteraturan dengan risiko, menukar kedamaian dengan rasa bersalah, demi merasakan kembali denyut kehidupan.

Membaca Coelho, kita seperti bercermin pada zaman kita sendiri; zaman yang menjadikan kesetiaan sebagai norma, tapi sekaligus memproduksi begitu banyak kebosanan. Zaman ketika cinta diukur lewat unggahan, dan keintiman bisa berakhir di kolom komentar.

Pekan ini, linimasa di Bali kembali riuh oleh kabar perselingkuhan. Nama-nama disebut, foto dan video disebar, rekaman suara dikutip, dan masyarakat bersorak seperti sedang menonton sinetron tanpa jeda iklan. Perselingkuhan di Bali, seperti di tempat lain, selalu menggoda. Ia menyentuh wilayah yang paling tabu sekaligus paling manusiawi.

Kita hidup di era di mana pelanggaran pribadi menjadi tontonan publik. Dulu, skandal semacam itu dibicarakan di warung kopi; kini, diunggah di media sosial dan menjadi “peristiwa budaya” yang mengundang komentar moral, tawa, cemooh, hingga simpati. Setiap orang merasa berhak menilai, seolah tidak ada rahasia lagi yang boleh disembunyikan.

Namun, jika kita meminjam kacamata antropologi, peristiwa ini bisa dibaca lebih dalam. Mengapa manusia berselingkuh? Mengapa masyarakat begitu terobsesi pada pelanggaran moral orang lain?

Bagi antropologi, selingkuh bukan semata pelanggaran norma, melainkan fenomena sosial yang kompleks. Ia berbicara tentang relasi kuasa, ekonomi, gender, bahkan struktur kekerabatan. Dalam banyak masyarakat, hubungan di luar pernikahan tidak selalu dianggap dosa, kadang justru diatur dengan cara-cara tertentu agar tidak merusak tatanan sosial.

Claude Lévi-Strauss dalam The Elementary Structures of Kinship menulis bahwa perkawinan adalah sistem pertukaran, bukan hanya ikatan cinta. Dalam kerangka itu, selingkuh bisa dibaca sebagai bentuk “pertukaran liar”, upaya individu untuk keluar dari sistem yang mengekang. Ia menjadi jalan bagi seseorang untuk merasakan otonomi, sekaligus risiko.

Bronislaw Malinowski, saat meneliti masyarakat Kepulauan Trobriand di Papua Nugini, menemukan bahwa hubungan seksual di luar ikatan formal seringkali diatur oleh norma adat yang lentur. Tidak semua bentuk hubungan dianggap salah; yang penting adalah keseimbangan sosialnya terjaga.

Antropologi tidak membenarkan selingkuh, tapi mengajarkan kita melihat konteks di balik perilaku. Bahwa setiap tindakan manusia adalah hasil dari tarik-menarik antara nilai, hasrat, dan struktur sosial yang melingkupinya.

“Mamitra” di Bali

Di Bali, ada istilah lama yang jarang disebut di ruang publik, yakni, mamitra. Secara harfiah, artinya memiliki “teman dekat”, tetapi dalam konteks tertentu, ia bermakna hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan di luar pernikahan. Istilah ini hidup dalam bisik-bisik, dalam percakapan yang penuh tanda, dalam bahasa tubuh yang lebih sering disembunyikan daripada diucapkan.

Mamitra tidak selalu diartikan negatif. Dalam beberapa lapisan masyarakat tradisional, ia pernah dimaklumi, terutama ketika melibatkan relasi ekonomi atau patronase. Seorang bangsawan bisa memiliki mitra dari kalangan rakyat biasa; seorang perempuan bisa menjadi mitra seorang pria berstatus sosial tinggi, tanpa keharusan menikah. Hubungan ini kadang didasari rasa, kadang karena kebutuhan.

Tentu, dalam konteks Bali modern yang kental dengan norma agama dan adat, istilah itu jarang muncul. Tapi jejaknya masih terasa. Dalam kehidupan sosial yang tertib, mamitra menjadi wilayah abu-abu antara rahasia dan gosip, antara cinta dan aib.

Antropolog Bali pernah mencatat gejala ini sebagai bentuk “adaptasi kultural terhadap tekanan moral”, cara masyarakat menegosiasikan hasrat tanpa harus mengguncang struktur adat yang ketat. Selingkuh, dalam pengertian ini, bukan sekadar tindakan personal, tapi juga simbol perlawanan halus terhadap sistem sosial yang menuntut kesempurnaan moral.

Jika kita perhatikan, sebagian besar kasus selingkuh yang viral di Bali selain dilakukan oleh orang biasa, juga melibatkan orang-orang berstatus sosial tertentu, seperti tokoh publik, artis, atau pengusaha. Itu menunjukkan bahwa perselingkuhan juga terkait dengan relasi kekuasaan dan status.

Dalam masyarakat tradisional, memiliki lebih dari satu pasangan bisa menjadi tanda kehormatan; dalam masyarakat modern, ia menjadi skandal. Namun esensinya sama, yaitu, tubuh dan cinta sering menjadi arena pertukaran simbolik. Sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu mungkin akan menyebutnya sebagai bentuk capital erotis, di mana daya tarik seksual menjadi modal sosial yang bisa dipertukarkan dengan status, uang, atau rasa aman.

Maka, ketika publik menghakimi pelaku selingkuh, sesungguhnya mereka sedang mengafirmasi nilai-nilai sosial yang ingin mereka pertahankan. Kita menghukum bukan hanya individu, tapi juga bayangan diri kita yang pernah, atau bisa saja, melakukan hal yang sama.

Dari Coelho ke Bali

Paulo Coelho menulis kisah Linda di Swiss, tapi kisah itu mudah kita temukan di Denpasar, Jembrana, Gianyar, atau Singaraja. Bedanya hanya latar, bukan rasa. Hasrat yang membara di balik rumah tangga yang hening, rasa bosan pada rutinitas, dan keinginan untuk merasa hidup kembali. Semuanya adalah bagian dari kodrat manusia yang tak lekang oleh adat.

Namun, budaya menentukan cara kita menghadapinya. Di Bali, rasa bersalah tidak hanya ditanggung secara pribadi, tapi juga sosial. Seseorang yang ketahuan berselingkuh bukan hanya melukai pasangan, tapi juga memalukan keluarga, banjar, bahkan desa adat. Di sini, moralitas menjadi urusan kolektif.

Karenanya, fenomena mamitra sering kali hidup di bawah permukaan. Bukan karena orang Bali tidak tahu itu salah, tapi karena mereka tahu dunia ini tidak sesederhana hitam-putih. Ada ruang abu-abu tempat manusia bersembunyi dari hukuman, sekaligus mencari pengampunan.

Jika kita tarik ke dalam, mungkin inti dari semua ini bukan pada pelanggaran, tapi pada rasa sepi. Dalam dunia yang serba terukur, di mana cinta harus diabadikan dalam foto dan moral dijaga lewat caption, manusia kehilangan ruang intim untuk merasa rapuh. Selingkuh, dalam kacamata tertentu, adalah bentuk pelarian dari kesunyian yang tak tertahankan.

Linda, tokoh Coelho, akhirnya sadar bahwa pelarian itu tak membawa kebahagiaan. Begitu pula banyak orang di dunia nyata. Selingkuh tak menyembuhkan luka; ia hanya menunda pertemuan dengan diri sendiri. Tapi dari luka itu, manusia belajar tentang batas, tentang rasa, dan tentang betapa sulitnya menjadi setia. Bukan kepada orang lain, tapi kepada makna hidup itu sendiri

Antropologi mengajarkan kita bahwa manusia tak bisa dilepaskan dari konteks budayanya. Selingkuh bisa berbeda makna di tiap masyarakat, tapi di balik semua perbedaan itu, selalu ada hal yang sama: kerinduan akan pengakuan dan rasa hidup.

Di Bali, di tengah masyarakat yang menjunjung harmoni, kisah-kisah mamitra diam-diam menunjukkan sisi lain dari kemanusiaan—bahwa harmoni kadang harus dinegosiasikan dengan rahasia. Bahwa di balik upacara dan tatanan adat yang rapi, ada denyut hasrat yang tak bisa sepenuhnya dijinakkan.

Dari Swiss hingga Bali, dari Linda hingga siapa pun yang kini viral di linimasa, manusia tetap makhluk yang rapuh dan mencari. Mungkin, seperti kata Coelho, “Kita tidak selingkuh karena ingin meninggalkan seseorang, tapi karena ingin menemukan diri kita yang hilang”. Dan barangkali, di titik itu, kita baru sadar, bahwa yang paling sering kita khianati bukan pasangan, melainkan kesadaran kita sendiri tentang cinta. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu
Tags: antropologiperselingkuhanselingkuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Catatan Luka” : Goresan yang Menyembuhkan

Next Post

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

”Pak Pos” Riwayatmu Kini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co