4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 18, 2025
in Esai
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

DALAM berbagai kesempatan, saat sedang berada lama di sebuah warung atau kafe, bekerja dengan menggunakan laptop; menulis berita, esai, atau puisi, saya bukan hanya pelanggan yang pasif. Apalagi, sebagai “Rojali”, Rombongan Jarang Beli, menikmati fasilitas tanpa melakukan pembelian. Bekerja dari warung atau kafe, saya biasanya memesan kopi panas bahkan hingga dua cangkir, disela dengan es teh. Saya jarang memesan makanan, sebab setelah makan biasanya saya mengantuk dan itu bisa menganggu semangat menulis.

Pada sebuah kafe kecil, ketika saya memesan kopi untuk kedua kalinya, terdengar tawa dari staf kafe dilanjutkan percakapan dengan staf lain. Awalnya saya berpikir positif, namun setelah saya perhatikan dengan seksama, saya tahu bahwa sayalah yang dibicarakan. Rupanya di Bali, bekerja dengan laptop berjam-jam di kafe masih dianggap “kurang umum”.

Saya sadar, berlama-lama di kafe memang menambah beban listrik untuk re-charge laptop atau ponsel. Karena itu, saya membayar lebih dengan memesan kopi dan es teh seharga total 30 ribu rupiah. Itu saya hitung setara dengan bila saya memesan makanan ditambah minuman. Saya tidak mau kafe merasa rugi hanya karena saya duduk lama..

Namun, celetukan dan obrolan staf tidak hanya terjadi sekali dua kali. Di tempat lain pun tak jauh berbeda, apalagi jika pemilik atau manajer tidak ada. Para staf, jika tidak bermain ponsel, biasanya mengobrol, mengomentari tamu, mencari sesuatu yang janggal. Padahal, tak ada yang aneh. Apa hak mereka untuk mengomentari pembeli, kecuali jika ada pelanggaran hukum misalnya mencuri, melakukan pelecehan, atau berkelahi? Dari pengalaman itu saya sampai pada satu kesadaran: kebiasaan ingin tahu urusan orang lain ini sudah terlalu biasa, seakan menjadi “budaya”.

Tapi apakah pantas disebut budaya? Saya meragukannya. Kata budaya berasal dari bahasa Sanskerta buddhi—berkaitan dengan budi, sesuatu yang luhur, mulia, dan baik. Korupsi, misalnya, sering disebut “budaya korupsi”. Padahal jelas itu bukan sesuatu yang patut dimuliakan. Karena itu, ketimbang menyebutnya budaya, lebih tepat jika kita menyebutnya kebiasaan sosial.

Dari Penasaran ke Kepo

Dalam bahasa gaul Indonesia, kebiasaan ingin tahu urusan orang lain disebut kepo. Kata ini sebenarnya serapan dari bahasa Hokkien kaypoh, yang berarti cerewet atau suka ikut campur. Bedanya dengan “penasaran” cukup tipis, namun penting. Penasaran sifatnya netral, bahkan positif, rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang wajar, misalnya jalan cerita film atau isi sebuah buku. Sementara kepo cenderung negatif, yakni ingin tahu berlebihan, terutama menyangkut kehidupan pribadi orang lain.

Pengalaman saya di kafe itu bukan hal besar, tapi cukup menggambarkan bagaimana “kepo” sering bekerja, yakni melihat sesuatu yang dianggap janggal, lalu menjadikannya bahan obrolan. Dari gosip ringan, komentar tak penting, sampai prasangka.

Dengan hadirnya internet dan media sosial, kepo menemukan rumah barunya. Jika dulu orang hanya bisa kepo lewat obrolan tatap muka, kini kepo cukup dilakukan dengan membuka layar ponsel.

Facebook, Instagram, TikTok, atau bahkan WhatsApp Story menjadi ladang subur. Mau tahu kegiatan seseorang? Tinggal klik. Mau tahu siapa pacarnya? Lihat foto yang di-tag. Mau tahu kabar tetangga? Periksa status WhatsApp. Semua seolah tersedia untuk kepentingan rasa ingin tahu.

Di satu sisi, media sosial memberi ruang berbagi. Di sisi lain, ia membuka celah bagi perilaku kepo yang mengikis privasi. Kita mungkin hanya ingin tahu kabar seorang kawan, tapi ada juga yang menjadikannya bahan gosip. Dari sekadar komentar, kepo bisa berubah menjadi stalking, perundungan, atau bahkan ancaman nyata terhadap keamanan seseorang.

Seperti dua sisi mata uang, kepo tak melulu buruk. Ada sisi positif yang jarang disadari, yaitu, rasa ingin tahu bisa mendorong kita belajar, mencari informasi, dan memahami dunia lebih luas. Dalam jurnalisme, misalnya, rasa kepo adalah modal awal. Wartawan harus kepo terhadap fakta, data, dan cerita tersembunyi.

Namun, kepo yang sehat berbeda dari kepo yang mengganggu. Kepo yang sehat berorientasi pada pengetahuan, sementara kepo yang mengganggu berorientasi pada kehidupan pribadi orang lain. Bedanya terletak pada etika.

Kepo negatif sering berujung gosip, perundungan, dan prasangka. Contoh paling nyata adalah budaya komentar di media sosial, setiap unggahan publik figur selalu ada yang mengaitkan dengan kehidupan pribadi, bahkan yang tidak relevan sekalipun. Seolah-olah publik berhak ikut campur.

Perspektif Psikologi

Dari perspektif psikologi, rasa ingin tahu (curiosity) adalah bagian alami dari perkembangan manusia. Anak-anak belajar karena rasa ingin tahu. Ilmuwan menemukan hal-hal baru juga karena didorong rasa ingin tahu. Namun, ketika curiosity bergeser menjadi kepo, masalah mulai muncul.

Psikolog menjelaskan bahwa kepo berlebihan bisa muncul karena rasa tidak aman dalam diri seseorang, atau insecure. Orang yang tidak percaya diri dengan hidupnya sendiri cenderung lebih banyak mencari celah dalam hidup orang lain. Ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kontrol sosial—ingin merasa lebih baik dengan menilai kehidupan orang lain. Dalam kasus yang lebih ekstrem, kepo bisa menjadi obsesi, dorongan ingin tahu yang tidak terkendali, menyerupai perilaku kompulsif.

Apakah kepo bisa disebut tanda gangguan mental? Tidak selalu. Sebagian besar kepo hanyalah pola sosial yang umum. Namun, bila kepo sudah mengarah pada perilaku obsesif, menguntit, atau bahkan merusak privasi orang lain, ia bisa menjadi gejala masalah psikologis yang lebih serius.

Wajar jika manusia ingin tahu tentang sesamanya. Itu bagian dari kodrat kita sebagai makhluk sosial. Tetapi wajar tidak berarti boleh tanpa batas. Di sinilah pentingnya menata rasa ingin tahu.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah informasi itu memang kita butuhkan, atau hanya sekadar memuaskan rasa kepo? Apakah pertanyaan kita membuat orang lain nyaman, atau justru membuatnya merasa diselidiki? Apakah kita ingin tahu karena peduli, atau sekadar mencari bahan gosip?

Dalam hidup modern yang serba terbuka, menjaga batas privasi menjadi semakin penting. Media sosial membuat kita mudah mengakses kehidupan orang lain, tapi itu tidak berarti kita berhak mengomentari semuanya. Etika, empati, dan rasa hormat tetap harus menjadi pegangan.

Pengalaman saya di kafe itu, mungkin tampak sepele. Tapi ia memberi gambaran tentang bagaimana rasa ingin tahu bisa dengan mudah bergeser menjadi sikap mengganggu. Dari obrolan ringan, menjadi gosip, lalu mengikis batas antara kepedulian dan perundungan.

Kepo, pada akhirnya, adalah soal bagaimana kita mengelola rasa ingin tahu. Ia bisa menjadi energi positif bila diarahkan pada hal-hal produktif. Tapi ia juga bisa berubah menjadi racun sosial bila digunakan untuk mencampuri urusan pribadi orang lain. Privasi, meski semakin tipis di era digital, tetaplah hak setiap orang. Dan setiap kali kita tergoda untuk kepo, barangkali ada baiknya kita mengingat satu hal sederhana, bahwa, tidak semua yang kita ingin tahu, memang pantas untuk kita ketahui. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: media sosialPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [33]: Nenek Penyapu Halaman Kampus

Next Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co