24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 18, 2025
in Esai
Kepo, Saat Rasa Ingin Tahu Begitu Menganggu

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

DALAM berbagai kesempatan, saat sedang berada lama di sebuah warung atau kafe, bekerja dengan menggunakan laptop; menulis berita, esai, atau puisi, saya bukan hanya pelanggan yang pasif. Apalagi, sebagai “Rojali”, Rombongan Jarang Beli, menikmati fasilitas tanpa melakukan pembelian. Bekerja dari warung atau kafe, saya biasanya memesan kopi panas bahkan hingga dua cangkir, disela dengan es teh. Saya jarang memesan makanan, sebab setelah makan biasanya saya mengantuk dan itu bisa menganggu semangat menulis.

Pada sebuah kafe kecil, ketika saya memesan kopi untuk kedua kalinya, terdengar tawa dari staf kafe dilanjutkan percakapan dengan staf lain. Awalnya saya berpikir positif, namun setelah saya perhatikan dengan seksama, saya tahu bahwa sayalah yang dibicarakan. Rupanya di Bali, bekerja dengan laptop berjam-jam di kafe masih dianggap “kurang umum”.

Saya sadar, berlama-lama di kafe memang menambah beban listrik untuk re-charge laptop atau ponsel. Karena itu, saya membayar lebih dengan memesan kopi dan es teh seharga total 30 ribu rupiah. Itu saya hitung setara dengan bila saya memesan makanan ditambah minuman. Saya tidak mau kafe merasa rugi hanya karena saya duduk lama..

Namun, celetukan dan obrolan staf tidak hanya terjadi sekali dua kali. Di tempat lain pun tak jauh berbeda, apalagi jika pemilik atau manajer tidak ada. Para staf, jika tidak bermain ponsel, biasanya mengobrol, mengomentari tamu, mencari sesuatu yang janggal. Padahal, tak ada yang aneh. Apa hak mereka untuk mengomentari pembeli, kecuali jika ada pelanggaran hukum misalnya mencuri, melakukan pelecehan, atau berkelahi? Dari pengalaman itu saya sampai pada satu kesadaran: kebiasaan ingin tahu urusan orang lain ini sudah terlalu biasa, seakan menjadi “budaya”.

Tapi apakah pantas disebut budaya? Saya meragukannya. Kata budaya berasal dari bahasa Sanskerta buddhi—berkaitan dengan budi, sesuatu yang luhur, mulia, dan baik. Korupsi, misalnya, sering disebut “budaya korupsi”. Padahal jelas itu bukan sesuatu yang patut dimuliakan. Karena itu, ketimbang menyebutnya budaya, lebih tepat jika kita menyebutnya kebiasaan sosial.

Dari Penasaran ke Kepo

Dalam bahasa gaul Indonesia, kebiasaan ingin tahu urusan orang lain disebut kepo. Kata ini sebenarnya serapan dari bahasa Hokkien kaypoh, yang berarti cerewet atau suka ikut campur. Bedanya dengan “penasaran” cukup tipis, namun penting. Penasaran sifatnya netral, bahkan positif, rasa ingin tahu terhadap sesuatu yang wajar, misalnya jalan cerita film atau isi sebuah buku. Sementara kepo cenderung negatif, yakni ingin tahu berlebihan, terutama menyangkut kehidupan pribadi orang lain.

Pengalaman saya di kafe itu bukan hal besar, tapi cukup menggambarkan bagaimana “kepo” sering bekerja, yakni melihat sesuatu yang dianggap janggal, lalu menjadikannya bahan obrolan. Dari gosip ringan, komentar tak penting, sampai prasangka.

Dengan hadirnya internet dan media sosial, kepo menemukan rumah barunya. Jika dulu orang hanya bisa kepo lewat obrolan tatap muka, kini kepo cukup dilakukan dengan membuka layar ponsel.

Facebook, Instagram, TikTok, atau bahkan WhatsApp Story menjadi ladang subur. Mau tahu kegiatan seseorang? Tinggal klik. Mau tahu siapa pacarnya? Lihat foto yang di-tag. Mau tahu kabar tetangga? Periksa status WhatsApp. Semua seolah tersedia untuk kepentingan rasa ingin tahu.

Di satu sisi, media sosial memberi ruang berbagi. Di sisi lain, ia membuka celah bagi perilaku kepo yang mengikis privasi. Kita mungkin hanya ingin tahu kabar seorang kawan, tapi ada juga yang menjadikannya bahan gosip. Dari sekadar komentar, kepo bisa berubah menjadi stalking, perundungan, atau bahkan ancaman nyata terhadap keamanan seseorang.

Seperti dua sisi mata uang, kepo tak melulu buruk. Ada sisi positif yang jarang disadari, yaitu, rasa ingin tahu bisa mendorong kita belajar, mencari informasi, dan memahami dunia lebih luas. Dalam jurnalisme, misalnya, rasa kepo adalah modal awal. Wartawan harus kepo terhadap fakta, data, dan cerita tersembunyi.

Namun, kepo yang sehat berbeda dari kepo yang mengganggu. Kepo yang sehat berorientasi pada pengetahuan, sementara kepo yang mengganggu berorientasi pada kehidupan pribadi orang lain. Bedanya terletak pada etika.

Kepo negatif sering berujung gosip, perundungan, dan prasangka. Contoh paling nyata adalah budaya komentar di media sosial, setiap unggahan publik figur selalu ada yang mengaitkan dengan kehidupan pribadi, bahkan yang tidak relevan sekalipun. Seolah-olah publik berhak ikut campur.

Perspektif Psikologi

Dari perspektif psikologi, rasa ingin tahu (curiosity) adalah bagian alami dari perkembangan manusia. Anak-anak belajar karena rasa ingin tahu. Ilmuwan menemukan hal-hal baru juga karena didorong rasa ingin tahu. Namun, ketika curiosity bergeser menjadi kepo, masalah mulai muncul.

Psikolog menjelaskan bahwa kepo berlebihan bisa muncul karena rasa tidak aman dalam diri seseorang, atau insecure. Orang yang tidak percaya diri dengan hidupnya sendiri cenderung lebih banyak mencari celah dalam hidup orang lain. Ada juga yang melakukannya sebagai bentuk kontrol sosial—ingin merasa lebih baik dengan menilai kehidupan orang lain. Dalam kasus yang lebih ekstrem, kepo bisa menjadi obsesi, dorongan ingin tahu yang tidak terkendali, menyerupai perilaku kompulsif.

Apakah kepo bisa disebut tanda gangguan mental? Tidak selalu. Sebagian besar kepo hanyalah pola sosial yang umum. Namun, bila kepo sudah mengarah pada perilaku obsesif, menguntit, atau bahkan merusak privasi orang lain, ia bisa menjadi gejala masalah psikologis yang lebih serius.

Wajar jika manusia ingin tahu tentang sesamanya. Itu bagian dari kodrat kita sebagai makhluk sosial. Tetapi wajar tidak berarti boleh tanpa batas. Di sinilah pentingnya menata rasa ingin tahu.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri, apakah informasi itu memang kita butuhkan, atau hanya sekadar memuaskan rasa kepo? Apakah pertanyaan kita membuat orang lain nyaman, atau justru membuatnya merasa diselidiki? Apakah kita ingin tahu karena peduli, atau sekadar mencari bahan gosip?

Dalam hidup modern yang serba terbuka, menjaga batas privasi menjadi semakin penting. Media sosial membuat kita mudah mengakses kehidupan orang lain, tapi itu tidak berarti kita berhak mengomentari semuanya. Etika, empati, dan rasa hormat tetap harus menjadi pegangan.

Pengalaman saya di kafe itu, mungkin tampak sepele. Tapi ia memberi gambaran tentang bagaimana rasa ingin tahu bisa dengan mudah bergeser menjadi sikap mengganggu. Dari obrolan ringan, menjadi gosip, lalu mengikis batas antara kepedulian dan perundungan.

Kepo, pada akhirnya, adalah soal bagaimana kita mengelola rasa ingin tahu. Ia bisa menjadi energi positif bila diarahkan pada hal-hal produktif. Tapi ia juga bisa berubah menjadi racun sosial bila digunakan untuk mencampuri urusan pribadi orang lain. Privasi, meski semakin tipis di era digital, tetaplah hak setiap orang. Dan setiap kali kita tergoda untuk kepo, barangkali ada baiknya kita mengingat satu hal sederhana, bahwa, tidak semua yang kita ingin tahu, memang pantas untuk kita ketahui. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: media sosialPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [33]: Nenek Penyapu Halaman Kampus

Next Post

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Di Bawah Dukungan Sang Ibu, Oky Septiani Sabet Medali Emas Woodball Porprov Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co